Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Mencari Alasan


__ADS_3

Isna mengintip suaminya yang masih duduk bersila di ruangan musholla rumahnya. Sudah duapuluh menit Dani duduk bersila di dalam musholla. Seolah enggan beranjak dari tempat itu.


Isna mendekati Dani, duduk disebelahnya, tanpa suara.


Dani menengok, berusaha tersenyum. " Belum tidur Neng?"


Isna hanya menggeleng.


Dani terlihat salah tingkah. Isna dapat melihat bahasa tubuhnya yang terlihat kikuk.


" Saya menunggu penjelasan," lirih suara Isna tapi tajam menusuk telinga Dani.


Dani tidak langsung menjawab. Sikap diamnya semakin menghadirkan tanya di benak Isna.


" Berbohong lah, kalau jujur malah akan menyakiti saya. Tapi yakinlah, rusaknya kepercayaan saya itu yang lebih menyakitkan daripada semua kebohongan yang Aa ceritakan."


Tajam, mengiris naluri Dani sebagai suami yang sejatinya sangat mencintai sang istri. Mencintai bahkan rela berkorban apapun.


Dani menarik napas panjang sebelum mulai bicara. Akhirnya dengan menguatkan hati Dani bicara ," Maaf Neng, Aa tidak bicara apa-apa, karena Aa takut kamu jadi memikirkan hal ini."


" Apakah kalau tidak mengatakan apapun tapi pulang tidak tepat waktu, hp susah dihubungi, tanpa kabar, itu semua tak akan membuat saya galau karena memikirkannya?"


" Maaf, sekali lagi maaf. Sebetulnya tadi memang Aa sudah ada di jalan waktu Isna tanya. Tapi terjebak macet. Akhirnya waktunya buka puasa tiba, Aa berhenti untuk beli air mineral dan makanan kecil. Pada saat itulah Aa ketemu Anindita."


Telinga Isna seketika menjadi panas. Nama itu lagi. Ya Tuhan.. Kenapa harus Kau takdir kan dia untuk kembali ke kehidupan suamiku? Batin Isna merintih.


Melihat Isna tak berkata apapun Dani melanjutkan bicaranya." Dia mengajak Aa bicara. Aa tak bisa menolak."


Jelaslah tak menolak, karena kamu juga merindukannya kan? Isna menebak dengan sangat yakin, seiring dengan pedihnya.


" Bukan nya Aa memang mau bicara dengannya, tapi Aa harus mau bicara dengannya, karena kalau tidak dia akan terus datang ke rumah ini, mengganggu kamu."


" Biarkan saja dia datang ke rumah ini. Daripada dia. bertemu suami saya, dibelakang saya, yang saya juga tidak tahu apa yang ada di hati kalian masing-masing. Siapa yang bisa menjamin kalau cinta lama itu tak akan bersemi lagi? Siapa yang bisa kasih garansi sama saya kalau suami saya tak akan tergoda lagi oleh kehadiran perempuan sempurna itu." Ada emosi tertahan di dada Isna.


" Tidak, Neng. Itu tidak akan pernah terjadi. Sungguh. Aa bisa menjadikan Allah sebagai jaminan."


" Jangan terlalu kalau bicara, Aa."


" Tapi ini jujur. Bagaimana caranya supaya Neng bisa yakin sama hati Aa?"


" Lewat perbuatan . Kita semakin jarang bicara, tidak seperti awal waktu masih pendekatan. Saya mulai merasakan perhatian Aa tak sebanyak dulu."

__ADS_1


Isna berhenti, sibuk mengatur napasnya.


" Saya ingin Aa bisa punya banyak waktu buat saya, sepertinya saya adalah dunianya Aa. Ingat waktu di rumah sakit? Tak pernah sedetikpun Aa membiarkan saya sendiri. Sampai mengurus urusan pernikahan pun harus dilakukan oleh Mas Arif."


Isna menerawang, ingatannya melayang ke saat sebelum mereka menikah. Ya, saat itu Isna merasa dia adalah puteri paling beruntung, yang dipinang pangeran tampan yang luar biasa penuh cinta dan perhatian.


Impian semua perempuan.


Begitu seringnya Dani menghujaninya dengan kata-kata sanjungan yang membuatnya melayang.


Tapi sekarang?


Dengan kondisi Isna yang sedang hamil muda, tanpa sadar Isna selalu ingin mendapat perhatian lebih dari sang suami. Isna merindukan Dani yang selalu bilang 'Kangen'. memuji nya sebagai ' Bidadari'. Menelponnya setiap saat, karena begitu mencintainya.


Tak Isna sadari sebutir air bening meleleh dari sudut matanya.


" Neng nangis? Ya Allah, Aa minta maaf Neng." Dani merengkuh Isna dalam pelukannya. Dan itu membuat tangis Isna semakin menjadi.


Isna merasakan hangat pelukan Dani, seperti diawal mereka menikah.


Begitu erat, dan... terdengar suara isak lain selain isak dari bibirnya. Danikah yang menangis?


Suaminya menangis? Isna tiba-tiba merasa hatinya meleleh. Dani sedang menangisi dosanya? Apakah dengan begitu artinya takkan ada lagi kesalahan yang sama di waktu yang akan datang?


" Sekali lagi, Aa minta maaf, Neng. Takkan ada kebohongan di antara kita. Aa akan ceritakan apapun, supaya Isna yakin kalau di hati Aa hanya ada cinta buat Neng, dan calon anak kita."


Dani mengusap perut Isna. Hampir Isna mengira kalau Dani lupa bahwa Isna sedang hamil.


Isna mengukir senyum termanis di bibirnya. Dani menyentuhkan bibirnya pada kening Isna.


SUDUT PANDANG DANI


Dani masih terpekur memandang sajadah yang tehampar di tempat dia duduk. Entah bagaimana memulainya, dan apa yang harus dia ceritakan. Dani tidak pernah bisa mengawalinya. Karena Dani takut pada hasil akhirnya.


Saat sang istri mendekatinya pun Dani masih belum tahu akan menjawab apa.


Sesungguhnya yang terjadi adalah Dani mengikuti keinginan Anindita yang menjumpainya di kantor tadi sore, sebelum Dani pulang. Dita ingin ditemani berbuka puasa di restoran hotel tempatnya menginap, yang jaraknya memang tak jauh dari kantor Dani.


Menolak? Itu sudah Dani lakukan. Anindita sudah mendatanginya beberapa kali. Sudah sejak beberapa minggu lalu. Dan saat pertama kali datang ke kantornya Dani sudah menolak kemauannya. Berbagai alasan Dani katakan, sampai saat Dita mengatakan sesuatu, yang membuat Dani harus mau tak mau, menuruti keinginannya.


" Well, kalau Cintaku ngga mau mengikuti maunya aku, I can do anything I want. Aku akan datang ke rumahmu, bilang sama istrimu, tentang our secret. Are you okey with that?"

__ADS_1


Dani mendadak panas dingin. Ini hal yang paling Dani khawatirkan. Jangan, jangan biarkan Dita melakukannya!


" Please Dita, jangan ceritakan apapun pada Isna. Jangan katakan apapun padanya, bahkan juga jangan pernah lagi menemuinya, untuk alasan apapun."


" Baiklah Cintaku. Aku akan menuruti semua yang kamu minta dari aku. Dengan syarat, kamu harus juga mengikuti apa maunya aku. Deal?"


Anindita mendekati Dani, mendekatkan bibirnya ke telinga Dani , membisikan sesuatu. Wangi mint dari mulutnya menyeruak ke indra penciuman Dani. Dani tiba-tiba merasakan de javu.


" Don't you miss me?"


Beberapa detik Dani kehilangan akal sehatnya, karena Dita juga meraba bagian pangkal pahanya. Tapi untunglah secepat itu dia kehilangan akalnya, secepat itu pula akalnya kembali.


Dani buru-buru bangkit dari duduknya.


" Aku sepertinya tak punya pilihan."


Anindita tersenyum penuh kemenangan.


Itulah alasan kenapa Dani lebih sering berada di luar rumah ketimbang berada di rumahnya sendiri. Memang tidak setiap hari Anindita meminta waktunya. Dalam beberapa minggu itu beberapa kali Anin memintanya, dan Dani harus menurutinya.


Puncaknya adalah hari ini. Tadi sore Anindita membujuk Dani, meminta Dani menemaninya di kamar hotel. Mati-matian Dani menolak, dengan jumawanya Anin mengancamnya, sudah siap dengan ponselnya, akan menghubungi Isna.


Ancaman maut itu membuat Dani betul-betul tak bisa menolak.


Dan saat Dani sudah berada di kamarnya, entah apa yang Anin lakukan padanya, dia malah tertidur, tanpa menyadari apapun yang terjadi.


Jadi keterlambatan Dani pulang adalah karena dia tertidur di kamar hotel Anin.


Hanya itu? Ya, yang Dani rasakan memang hanya itu. Tapi apakah rencana Anin hanya sesederhana itu?


Membuat Dani tertidur di kamar hotelnya, tanpa ada apapun lagi?


Dani tidak tahu. Yang Dani tahu,dia sudah membohongi Isna. Menyakiti perempuan tulus itu.


Itulah sebabnya kenapa Dani sempat menitikkan air mata. Rasa bersalahnya begitu besar.


Dani mulai berpikir untuk mengakhiri intimidasi Anin atas dirinya. Harus! Isna tak boleh kena imbas dari persoalannya dengan Anin, yang sebenarnya sudah selesai belasan tahun lalu.


Bersambung


*****

__ADS_1


__ADS_2