
Tidak seharusnya suasana tak nyaman itu hadir diantara Isna dan bunda Anne. Tapi Isna sungguh merasakan menjadi orang yang tersingkir. Seolah mereka, suami dan mertuanya sendiri, menyembunyikan sesuatu yang Isna tak boleh tahu. Padahal jelas-jelas apa yang mereka ingin tidak Isna ketahui adalah sesuatu yang sangat penting buat Isna .
Hatinya berada dalam bimbang. Haruskah dia tanyakan tentang Anindita pada mertuanya?
Apakah Isna sudah siap kalau mertuanya akan membohonginya, tak membiarkannya mengetahui kejadian yang sebenarnya?
Akhirnya Isna memutuskan untuk mengajak bunda bicara tentang Anindita.
Sambil memotong motong coklat blok Isna mulai bicara tentang Anindita.
" Bund, Isna mau tanya. "
" Mau tanya apa, Sayang?"
" Mm... tentang Anindita."
Wajah bunda terlihat sedikit kaget. " Kamu pernah dengar tentang Anin?"
" Bukan hanya dengar,bund, Isna juga pernah bertemu dengannya."
Wajah bunda semakin terlihat kaget. " Kamu bertemu Anin?"
" Iya, dia menemui Isna di rumah. Apa dia pernah ke sini juga?"
Bunda memandang Isna,dengan pandangan yang susah Isna tafsirkan. " Mau apa dia ke rumah kalian?" Tak menjawab pertanyaan Isna, bunda malah balik bertanya.
Isna hanya menjawab dengan mengangkat bahu.
" Apa yang dia ceritakan waktu bertemu kamu?"
" Tidak menceritakan apapun, bahkan dia hanya menyebut Aa sebagai teman baiknya, tanpa menceritakan kalau mereka, Aa dan perempuan itu pernah hampir memiliki anak."
Dua kali bunda terlihat kaget. "Kamu tahu soal itu?"
" Iya, padahal sesungguhnya kalau Anindita itu tidak pernah muncul di hadapan Isna, mungkin takkan pernah Isna tahu tentang masa lalu Aa yang satu ini. Yang seharusnya Isna tahu atau tidak,Isna juga tidak tahu."
Isna berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan. "Maaf, bunda, kalau Isna boleh tahu nih, sedikit mengingat masa lalu, bunda sejujurnya menerima kehamilan Anin atau malah termasuk orang yang menganjurkan Anin untuk menggugurkan saja kandungannya?"'
Isna memperhatikan setiap detil perubahan wajah bunda Anne. Terlihat beliau mulai tidak nyaman dengan percakapan itu.
Sedari tadi sebetulnya sambil berbicara tangan Isna juga bekerja, kali ini dia mulai mengeluarkan biji kurma.
" Maaf bunda, kalau pertanyaan Isna membuat bunda kurang nyaman, Karena sejujurnya, kedatangan dia kembali ke kehidupan kami juga membuat Isna tidak nyaman. Tak adil rasanya kalau apa yang mereka lakukan di masa lalu mendatangkan akibat buat Isna di masa sekarang."
Bunda menarik napas dan berusaha menghembuskan kuat-kuat, dengan maksud mungkin agar terbang semua ketidaknyamanan itu dari rongga dadanya. Mungkin.
" Maaf sekali lagi bunda, ini bukan maunya Isna, tapi karena ulah Anin yang muncul lagi, seolah ingin menunjukkan sesuatu, atau mengambil kembali sesuatu yang luput dia miliki di masa lalu."
" Isna bisa saja diam, bersikap seolah tak tahu apa-apa, tapi Isna merasakan kalau Anin tidak menginginkan itu. Dia justru ingin sebaliknya, Isna tahu semuanya. Entah ada maksud apa dibalik semua yang dia lakukan itu. Yang jelas Isna jadi merasa tidak nyaman, Dan kalau memang itu tujuannya, dia berhasil."
Bunda masih diam. Dan Isna jadi merasa bersalah.
__ADS_1
Apakah yang dia lakukan ini sudah benar? Atau malah seharusnya dia tak pernah mengajak bunda untuk membicarakan tentang Anindita ?
" Bunda," terdengar suara Dani memanggil bundanya.
Bunda menengok ke arah Dani, tanpa berkata apapun.
Dani melihat ekspresi wajah bunda yang berbeda dari biasanya. " Ada apa, bund?"
" Anin, dia kemana?" tanya bunda.
Dani terlihat kaget mendengar bunda menyebut nama itu. Dia refleks melihat ke arah Isna.
" Anindita kesini?" Isna bertanya pada Dani.
Dani tak langsung menjawab. Keresahan terlihat jelas pada wajahnya yang biasanya tenang.
" Dani, jangan bohongi Isna." Bunda meminta Dani untuk jujur.
Isna menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Dani.
Beberapa menit menunggu, sambil meneruskan pekerjaannya membuat coklat kurma, Isna tak hentinya berdoa dalam hati, mohon diberi kesabaran.
" Anindita menghubungi Aa lagi."
Isna menanggapi masih dengan diamnya.
" Maaf, Neng. Dia hanya meminta pada Aa untuk mendoakan dia buat kesembuhan nya."
" Iya, tadi dia hampir kesini. Tapi Aa cegah."
" Kenapa ?"
" Aa tidak mau kamu bertemu dia lagi."
" Tidak mau kalau aku bertemu dia, tapi mau kalau Aa yang bertemu dia."
" Tidak seperti itu,"
" Terus bagaimana?"
" Maaf, Neng. Ini bukan pilihan. Dia datang dalam keadaan sakit, dan rasanya tidak manusiawi kalau Aa tak mau menemui dia. Toh dia bilang hanya mau silaturahmi saja. Memutuskan silaturahmi itu kan tidak baik."
" Anindita sakit apa?"
" Kanker ovarium."
" Subhanallah..."
" Sekarang pun, habis dari sini dia harus ke rumah sakit lagi, untuk observasi lanjutan. Karena enam tahun lalu dia pernah menjalani pengobatan kanker sampai sembuh, tapi beberapa bulan lalu ditemukan sel kanker itu tumbuh lagi."
Isna mendengarkan dengan setengah hati.
__ADS_1
Jahatkah Isna?
Entahlah. Tapi yang Isna rasakan bukan karena dia tak punya empati, tapi lebih karena dia meragukan cerita Anindita tentang penyakitnya itu.
Isna terlanjur tak suka dengan segala yang Anin lakukan padanya.
Isna menyibukkan diri dengan pekerjaan yang memang sedari tadi sedang dia kerjakan. Membicarakan Anin hanya akan menguras energinya, juga emosinya. Karena ujungnya pasti tidak akan menyenangkan . Isna mampu menebaknya, dari sikap yang Anin tunjukkan pada Isna terlihat jelas kalau Anin ingin mengulang kembali kisahnya dengan Dani.
Perempuan mana yang akan bersikap welcome, menerima dengan ramah, perempuan lain yang jelas-jelas mau merebut suaminya?
" Neng," Dani memanggil Isna.
" Hmm," Isna menjawab dengan gumaman.
" Dita meminta Aa untuk menemani dia ke rumah sakit di Singapura."
Isna kaget, seketika emosinya naik ke ubun-ubun "Kenapa harus suamiku yang nemenin dia?" tanyanya dengan nada suara yang agak tinggi.
" Karena kedua orangtuanya ada di Australia, tak bisa menemani dia."
" Jadi? Harus kamu yang mendampingi dia? Tidak sekalian dia minta kamu jadi pendamping hidupnya? Oh, kayaknya saya hanya tinggal tunggu waktu sampai hal itu jadi kenyataan. Begitu?"
Isna bangkit dari posisi duduknya, lalu meninggalkan dapur dan pekerjaannya yang sedang dia kerjakan. Isna pergi keluar rumah, dengan emosi yang memuncak.
" Neng !" Dani mengejar Isna, menangkap tangannya.
Isna menghentikan langkahnya.
" Denger dulu, dia perlu teman yang bisa dukung dan kasih semangat buat dia. Kata dokternya ada kemungkinan rahimnya akan diangkat, walaupun itu belum pasti. Dia merasa putus asa dan perlu orang yang bisa menyemangatinya."
Mata Isna mulai digenangi air. " Silakan , temani dia, semangati dia, semoga dengan adanya mantan kekasih di sisinya dia bisa kuat. Tidak usah pikirkan perasaan orang yang ada di sampingmu, yang juga butuh dukungan kamu."
Isna menghentak tangan Dani sampai terlepas dari tangannya. Berlalu dia menjauhi Dani.
Bunda Anne yang menyaksikan itu semua ikut mengajak Isna bicara, berusaha menenangkan.
" Neng, ya sudah, Dani tidak akan kemana-mana. Dani akan nemenin Isna. tidak akan menemani Anin. Memang betul, tak ada kepentingan apapun Dani mendampingi Anin. Apapun yang terjadi sama Anin memang bukan jadi urusan kami lagi. Dani hanya iba melihat kondisinya. Bunda juga sebenarnya hanya merasakan empati pada nasibnya. Itu saja."
" Kalau saja persolannya sesederhana itu, bund. Masalahnya adalah perempuan itu sepertinya mau mendekati lagi suamiku. Mau mengambil A Dani. Masa sih Isna diam aja kalau ada perempuan yang mau melakukan hal itu? Istri mana yang mau suaminya dekat lagi sama mantannya?"
" Iya sayang. Bund mengerti. Ya sudah, kalau memang itu yang Isna rasakan. Walaupun Anin bilang kalau dia hanya mau menganggap kami sebagai keluarga, Dani sebagai saudara, kalau Isna tidak bisa menerimanya , kami akan menghargai itu."
Bunda Anne mengusap mata Isna yang sudah basah.
" Sudah, bunda tidam mau Neng jadi memikirkann hal ini. Lupakan saja ya? Dani pasti hanya mau yang terbaik buat istrinya. Kalau Dani salah, itu semua karena pengalamannya yang masih sedikit. Isna tinggal bilang kalau ada yang membuat Isna merasa terganggu. Oke sayang?"
Isna mengangguk. Tapi entah kenapa, hatinya belum merasa lega.
Bersambung
*****
__ADS_1