Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Sudut Pandang Dani: Tentang Cinta Itu


__ADS_3

Acara yang Dani gelar di Surabaya menjadi ajang reuni buat temen-teman SMAnya. Setengah dari seluruh teman satu angkatannya saling bertemu, berkabar, dan bertukar cerita.


Buat Dani yang setelah lulus SMA tidak lagi tinggal di Surabaya, pertemuan itu tentu saja menghadirkan perasaan tersendiri dalam hatinya. Ditambah dengan pernah terjadi sesuatu yang istimewa dalam hidupnya,peristiwa jatuh cinta. Tentulah akan banyak cerita diputar kembali, seperti tayangan ulang, pada layar di ruang memorinya.


Cinta indah, penuh romansa, tapi juga menguras banyak emosi.


Dani mengingat kembali kejadian tiga bulan lalu, saat dirinya dan Isna mengadakan acara di Surabaya.


Tentu saja saat itu Dani mengundang teman SMA nya, tapi untuk satu nama itu Dani memang tidak memasukkan dalam list nya.


Adalah suatu dusta kalau Dani berkata bahwa dia sudah melupakan Dita sama sekali. Karena dahulu Dita pernah menempati ruang terdalam di hatinya, terjaga dengan sangat baik. Di ruang ingatan Dani pun rekaman kejadian yang pernah mereka lalui masih tersimpan dengan sangat baik.


Dalam nya kisah cinta mereka, dan saat mereka masih merajut asa bersama, angan mereka tentang masa depan sudah sebegitu besar. Dan Dani tidak sedang terserang amnesia sehingga mampu melupakan semuanya begitu saja.


Jadi tidak dimasukkannya Dita dalam daftar nama para undangan bukan karena Dani tidak menginginkannya, lebih kepada menjaga perasaan semua orang yang disayanginya.


Pertama tentu saja perasaan sang istri, Isna. Kemudian perasaan kedua orangtuanya, dan keluarga besarnya.


Jujur, kalau ditanya adakah keinginannya untuk bertemu Dita lagi, jawabnya, ada. Dani ingin melihat seperti apa Dita sekarang. Bukan untuk mengulang cerita lama, hanya sekedar nostalgia.


Pertanyaan yang banyak diajukan saat Dani bertemu teman SMA nya saat tiga bulan lalu itu adalah, " Mana Anindita? Kenapa dia tidak diundang?"


Ya,mana Anindita? Kabar terakhir yang Dani dengar Dita tinggal di Australia bersama kedua orangtuanya.


Salah seorang teman, Yudisthira namanya, berbisik memberi kabar kalau sudah beberapa bulan ini Anindita menghubungi emailnya.


Masih kisah Yudis, Dita yang ternyata sudah menjadi CEO sebuah perusahaan besar ternyata mempunyai kerjasama dengan hotel milik keluarga besar Yudis .


Dari situlah awal komunikasi mereka.


" Aku juga sempet bilang tentang acara kamu ini sama dia."


" Oh ya? Apa tanggapan dia?"


" Hanya bilang, ' Sampaikan sama Dani ' Happy Wedding'. Gitu saja."


Dan hari ini, setelah kemunculannya yang tiba-tiba di hadapan istrinya, Dani mulai berpikir, menimbang, dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dita.

__ADS_1


Dia menghubungi Yudis lewat WA. Tak menunggu lama Yudis membalas chatnya.


" Aku ngga punya nomer WA nya. Hanya punya alamat emailnya."


" Ya sudah, Alamat email juga boleh."


" Ada apa nih? Jangan bilang kamu kangen sama dia?"


" Kamu tahu dia sekarang ada di Indonesia?"


" Tahu. Baru kemarin dia kirim email, bilang dia ada di Jakarta. Dia janji mau ke Surabaya lusa."


" Makasih buat infonya lur."


" Sama-sama Lur. Memangnya ada apa sih?"


" Tak ada apa-apa. Sekali lagi thanks ya?"


" Anytime."


Yudis mengirimkan alamat email Anindita.


" Anindita, ini aku, Dani. Apa kabar? Sudah lama aku tidak dengar kabarmu, sampai tadi, saat aku dengar dari istriku tentang kedatanganmu di rumahku.


Aku terkejut, sekaligus tak menyangka, kok kamu bisa-bisanya tiba-tiba datang . Darimana kamu tahu rumahku?


Maaf Dita, kalau bicara lewat surat mungkin tidak nyaman. Aku mau ketemu, banyak yang mau aku bicarakan. Bisa ?


By the way, aku boleh minta sesuatu sama kamu? Jangan pernah cerita apapun tentang kita, yang terjadi di masa lalu kita, sama istriku. Please, Dita. Jangan pernah. Oke?"


Selesai. Selanjutnya tinggal tunggu jawaban dari Dita.


Agak lama Dani menunggu, sampai menjelang malam. Akhirnya...


" Halo Dani, cinta, thanks udah menghubungi aku. Kamu kangen tidak sama aku? Kalau aku sih kangen sekali sama kamu.


Sorry, kita belum sempet ketemu ya? Aku hanya bisa ketemu your wife. She's pretty, you' re lucky man.

__ADS_1


Kamu mau ketemu aku? Wow! Of course aku mau. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Malam ini aku harus pulang ke Aussie, mami sakit, harus masuk rumah sakit. Mungkin seminggu aku baru bisa ke Indonesia lagi. Nanti aku pasti hubungin kamu lagi.


Permintaan kamu yang terakhir,kita lihat aja, tergantung kerjasama kamu. Oke?


Bye My Love, see you soon. I'm reallly miss you."


Itu email balasan dari Dita.


Anindita akan terbang menuju Australia nanti malam. Dani merasa sedikit lega, paling tidak sampai seminggu ke depan Dita tidak akan mendatangi Isna. Walau ada sedikit keraguan, karena pernyataan Dita yang tidak secara pasti mengatakan tidak akan menceritakan apapun pada Isna terkait masa lalu mereka. Dani merasa harus membungkam Dita, sampai kapanpun, karena Isna tak harus tahu tentang cerita cinta nya yang satu itu.


Masih di depan laptopnya. Dani teringat Isna. Dengan segera dia menghubungi Isna lewat ponselnya. Dia bilang dia akan menyusul Isna ke rumah orangtuanya. Saat Isna bilang dia akan bermalam, Dani menyatakan akan ikut. Dani tidak bisa membiarkan Isna dalam galau nya sendirian.


Bagaimanapun Isna pergi dengan perasaan kesal. Dani harus dapat membuat senyum dan wajah ceria itu kembali. Tak layak keceriaan dan senyum yang seharusnya sedang banyak terlihat di wajahnya karena hasil tes kehamilannya positif lagi itu menghilang karena kehadiran seorang yang hanya datang dari masa lalu.


' Hanya dari masa lalu'? Dani sendiri ngga pernah yakin apa kata 'hanya' itu layak tersemat pada cerita masa lalu mereka?


Kalau cinta pertama itu sekedar mencinta dengan sejuta cerita cinta yang terajut tanpa kedekatan yang berlebih, mungkin kala sudah tak lagi bersama semuanya tinggal akan jadi cerita dan akan ada 'hanya' mantan pacar.


Kenyataannya, cerita itu tak bisa Dani tuturkan pada siapapun. Enggan rasanya hati Dani membongkarnya lagi, karena itu bukan cerita biasa.


Isnaini Aisyah, perempuan yang terlalu indah untuk berhadapan dengan Dani Darmawan Prasetyo, lelaki yang tak seindah perkiraannya.


Cerita tentang Isna, kehidupannya, bahkan keluarganya, memang sederhana tapi bersahaja. Begitu damai. Itu salah satu alasan kenapa dulu, saat masih kuliah Dani sangat suka mengakrabkan diri dengan Wahid dan keluarganya itu. Bahkan sempat melamar adik perempuan Wahid yang saat itu baru saja menamatkan SMA nya. Karena Dani sangat ingin memperbaiki semuanya, belajar menjadi pribadi yang lebih baik. bahkan membangun rumahtangga yang baik dengan jodoh yang Dani tahu bagaimana latar belakang kehidupannya.


Sayangnya, lamarannya saat itu, lima tahun lalu, ditolak Isna.


Bertahun Dani berusaha melihat sekeliling, tapi tak pernah dia berhasil menemukan sosok serupa Isna, yang bisa meyakinkan hati Dani tentang baik dan soleha nya.


Pasti banyak perempuan serupa Isna diluar sana, tapi Dani tak pernah bisa melihatnya dengan hatinya. Dalam setiap doa malamnya disaat belum berjodoh dengan siapapun,Dani hanya mau menyampaikan pinta pada yang Kuasa untuk diberi jalan supaya berjodoh dengan Isna.


Keyakinannya pada gadis itu, bahwa dengannya akan bisa membentuk keluarga yang Sakinah, sesuai harapnya, begitu besar. Hingga akhirnya tenyata Allah Yang Maha Pengabul. mengabulkan doanya.


Saat ini Isna adalah pasangan jiwanya. Dan akan ada juniornya yang mulai tumbuh di rahim perempuan itu.


Dani tidak mau masa lalu itu datang dan membuat Isna kecewa. Salahkah kalau Dani ingin menutup cerita itu rapat-rapat dari Isna, bahkan dari semua orang?


Bersambung

__ADS_1


******


__ADS_2