
Di rumah sakit. Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Isna dan Dani mendapat giliran untuk masuk ke ruang periksa.
Berbasa-basi sebentar, dokter kandungan perempuan itu pun lalu memeriksa kondisi Isna.
Tak berapa lama dokter itu memberikan pernyataan yang sebenarnya sudah diduga. Isna dinyatakan positif hamil.
Reaksi Dani sudah bisa di tebak. Wajah nya terlihat sangat bahagia. Matanya sedikit berair menahan haru, dan mungkin kalau saat itu mereka tidak sedang berada di ruang praktik dokter, Dani akan memeluk istrinya erat-erat.
Sedangkan Isna hanya bisa mengekspresikan bahagia yang membuncah dengan berucap alhamdulillah, sambil mengadu pandang dengan Dani. Ada pendar cinta yang terbalut kebahagiaan luar biasa,yang terpancar dari pandangan keduanya.
Setelah selesai dengan dokter, keduanyapun berpamitan.
" Aku akan jadi seorang ayah," Dani berbisik penuh rasa haru di telinga Isna, saat keduanya berjalan keluar dari rumah sakit, menuju parkiran .
Tangan Isna menggandeng erat tangan Dani. Senyum lebar berhias bahagia tergurat jelas di wajahnya.
" Aa bahagia?" Isna bertanya sambil memandang Dani.
" Jelas lah. Sangaaaaat bahagia, terharu... Alhamdulillah Ya Allah..."
Keduanya masuk ke mobil.
" Ini kado ulangtahun terindah yang pernah Aa terima."
Dani berucap sambil melajukan mobilnya perlahan, matanya sesekali memandang wajah istrinya.
" Alhamdulillah..." lagi-lagi Isna hanya bisa mengungkapkan bahagianya dengan mengucap syukur pada sang Khalik.
Dani meraih tangan Isna, menciumnya. Kemudian membiarkan tangan itu tetap berada dalam genggamannya, merapatkannya ke dada.
" Neng maunya punya anak perempuan atau lelaki?" pertanyaan biasa, yang akan diajukan pada pasangan yang akan memiliki anak.
" Kalau Isna inginnya mempunyai anak lelaki," Isna menjawab tanya yang diajukan oleh suaminya tadi.
" Kenapa?" Dani bertanya lagi.
" Tidak kenapa-kenapa . Hanya ingin seperti bapa sama mama, yang anak pertamanya lelaki."
" Kalau Aa maunya sih anak perempuan, lucu kali ya, imut dengan baju dan dandanan yang cantik." Dani tersenyum sendiri membayangkan gadis kecilnya nanti dengan kelucuan dan kecantikannya yang khas anak kecil.
" Iya, lucu..." Isna jadi ikut membayangkan keindahan yang sedang Dani bayangkan.
" Cantik, seperti ummanya."
Isna membalas pujian Dani dengan mengusap pipi lelaki itu.
Dalam hati Isna berharap, semoga bahagia ini akan selalu bersamanya. Walau sepertinya itu takkan mungkin. Karena bahagia dan sedih akan selalu menjadi pasangan yang saling bergantian mengisi cerita hidup seorang anak manusia. Tapi setidaknya saat sedih itu sedang mengambil peran dalam cerita hidupnya, Isna akan menghadapinya bersama orang yang mampu menguatkannya dengan cinta.
" Kita ke rumah bunda, mau ya?" Dani memberikan penawaran pada Isna untuk mampir ke rumah orangtuanya dulu.
" Hayu."
Perjalanan ke rumah sang bunda tidak memakan waktu lama.
Isna dan Dani sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Prasetyo, menunggu pintu dibuka, setelah sebelumnya mereka berdua mengucap salam.
Pintu terbuka, dibarengi sahutan "Wa'alaykumussalam."
" Eh, mas Dani, " mbak Pri, asisten rumahtangga keluarga orangtua Dani yang membukakan pintu.
" Bunda ada Mbak Pri?" tanpa menunggu dipersilakan Dani melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu yang tak berubah sejak Dani tinggalkan empat bulan lalu.
__ADS_1
" Bunda baru saja pergi, mas. Mas tidak memberi tahu kalau mau datang."
" Sengaja, biar bunda tidak tahu kalau kita mau datang."
" Sepertinya bunda pergi ke toko deh mas."
" Bukan ke kampus?"
" Bukan. Tadi bilang sama saya kalau ada mahasiswanya yang mencari beliau, silakan hubungi hp beliau saja."
" Kita pergi ke toko. Mau?" Dani bertanya sambil melihat ke arah Isna. Yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan.
" Ya sudah Mbak Pri, saya dan Isna menyusul ke toko deh. Eh, tapi ayah kemana ya?"
" Ke kantor dong mas. Sekarang kan bukan hari libur."
Iya ya, sejenak Dani merasa lupa kalau semua orang bekerja dengan jadwal, dan ada hari kerjanya. Bukan seperti dirinya yang bisa kerja kapan saja dan dimana saja. Asal sesuai deadline nya.
" Ya sudah. Kami pamit ya Mbak."
" Monggo mas."
Isna memberikan senyum pada Mbak Pri, yang dibalas dengan senyum juga oleh perempuan setengah baya itu.
Mereka berdua kembali menaiki mobil.
" Kita ke toko?" Dani mulai menyalakan mesin mobilnya. Melajukannya perlahan. Mengulang pertanyaan yang sama, yang tadi sudah ditanyakannya pada Isna.
" Kan tadi Aa sudah bertanya. Iya, hayu kita ke toko."
" Tokonya lumayan jauh dari sini, Neng."
" Ya tidak apa-apa. Kenapa? Capek?"
" Ya tidaklah. Isna kan hanya duduk saja."
" Nanti sajalah, kita ke rumah bunda lagi kalau bunda sudah pulang dari toko. Kalau kita tidak bilang pada bunda kita mau ke toko, takutnya bunda malah keburu pergi lagi dari toko. Bunda tidak pernah lama berada di tokonya. Nanti kita malah tak bisa bertemu dengan beliau."
" Iya juga sih."
Isna membenarkan perkataan suaminya. Sang mama mertua mempunyai sebuah toko oleh-oleh di daerah pinggiran Bogor. Toko yang bekerjasama dengan beberapa UMKM setempat itu dikelola oleh bunda dan temannya. Dan biasanya bunda datang ke toko itu hanya untuk mengecek beberapa hal. Sementara semua pengawasannya diserahkan pada temannya, yang setiap hari datang ke toko itu.
" Kita ke rumah Mama saja ya?" Isna akhirnya menawarkan tujuan selanjutnya.
" Baru Aa mau bilang."
" Ya sudah, ke rumah mama."
Sudah sebulan Isna tidak bertemu mama dan bapa. Sebetulnya rencananya beliau berdua akan ikut ke Surabaya, tapi karena kondisi kesehatan bapa menjelang keberangkatan mereka ternyata agak menurun, akhirnya mereka tak jadi ikut.
Tapi syukurlah, kemarin Isna mendengar kabar bapa sudah membaik.
Sesampainya di rumah tempat Isna dilahirkan dan dibesarkan, suasana sepi. Jelas lah, karena rumah itu sekarang hanya dihuni tiga orang, yang salah satunya sepertinya jarang berada di rumah.
" Assalamu'alaykum, mama," berucap Isna di depan pintu rumahnya.
Belum terdengar jawaban.
Sekali lagi salam diucapkan. Kali ini Dani yang mengucap salam.
Baru ada jawaban, suara bapa menyahut.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki menghampiri pintu, lalu handel pintu digerakkan.
" Bapa," Isna langsung mengambil tangan kanan bapa dan menciumnya dengan penuh hormat, saat pintu terbuka dan terlihat sosok bapa berdiri di balik pintu.
" Neng," bapa mengusap punggung anak perempuannya.
" Sehat ?"
" Alhamdulillah, bapa kumaha? ( gimana) Damang?( sehat)"
" Kieu we" ( Begini lah)
Gantian Dani yang memberi penghormatan dengan mencium tangan bapa.
" Hayu atuh masuk, jangan kayak tamu."
Bapa masuk, diikuti Isna dan Dani.
" Mama kemana,pa?"
" Pengajian. Sebentar lagi juga pulang."
" Aku ambil minum dulu. Sok bapa duduk aja."
Isna berlalu ke dalam.
Rumah ini sama sekali tak berubah, Isna membatin. Bahkan,menurut penuturan Wahid, sang kakak, kamar Isna pun masih sama seperti saat Isna tinggalkan, tiga bulan lalu.
Kegiatan bapa dan mama memang tak seperti dulu. Mereka sudah tak lagi berjualan makanan. Untuk kebutuhan sehari- hari mereka mendapatkannya dari sang anak lelaki. Dan buat mereka itu sudah cukup.
Isna masuk ke ruang tamu dengan membawa segelas air dingin untuk Dani.
Duduk dia disebelah bapa.
" Pa, Isna mau kasih bapa sesuatu ," Isna menyandarkan kepalanya di bahu sang bapa.
" Sesuatu apa?"
" Sesuatu yang pasti akan membuat bapa bahagia ." Dani yang menjawab.
" Apa?"
" Tebak dong." Isna sengaja menggoda bapa.
" Pasti bukan pesawat."
Dani tergelak," Bapa bisa saja."
" Geus atuh Neng, ulah ngajak tebak-tebakan"
" Nanti saja ya, kasih tahunya kalau mama sudah pulang."
" Kunaon? "( Kenapa?)
" Biar seru."
" Kok gitu?"
" Ya memang begitu."
Dan Dani malah mengajak bapa bicara tentang hal lain. Rasa penasaran bapa sama sekali tak dipedulikannya.
__ADS_1
******