
Menjelang Ashar. Hujan mulai turun satu-satu. Isna dan Dani sudah dalam perjalanan pulang. Seperti yang terjadi sebelumnya, kalau Anindita muncul pasti suasana hati Isna akan tersaput mendung.
Ada satu pertanyaan yang mengganjal, tapi tak bisa Isna tanyakan, karena takut kalau kenyataan dari jawabannya akan mengecewakan.
Perjalanan pulang dari rumah bunda Anne terasa lama karena Isna memilih untuk diam, tak mau menghabiskan waktunya untuk berbincang, bahkan sekedar bicara hal kecil pun enggan. Rasanya memang lebih baik seperti itu.
" Neng, maaf ya?" Entah itu permintaan maaf yang keberapa kali dalam hari ini, yang sudah Dani sampaikan pada Isna.
Isna hanya menjawab dengan senyum tipis.
" Jawab dong Neng."
Isna tidak tahu sampai kapan hal seperti ini akan berakhir. Setiap kali perempuan mewah itu datang, setiap kali pula Isna merasa tidak nyaman, merasa terganggu dan ujung-ujungnya timbul perdebatan antara Isna dan suaminya.
Dan selalu diakhiri dengan permintaan maaf dari Dani. Lalu berdamai, Isna berusaha mengembalikan suasana kembali ceria, seolah tak pernah ada apa-apa. Padahal, seperti menyimpan bom waktu yang bisa sewaktu-waktu meledak, permasalahan itu hanya mengendap, menunggu ada yang datang dan memicu peledaknya supaya kembali memberi gelegar dahsyat yang mengejutkan.
Melelahkan. Isna merasa sangat lelah.
Harus bagaimana Isna menyikapinya?
Saat ini kembali perempuan itu datang, dengan membawa berita dirinya sakit. Cerita menyedihkan, berusaha mencari simpati dan empati.
Lagi-lagi, harus bagaimana Isna menghadapinya? Ikut berempati? Berdamai dan membiarkan dia mendekati lagi Dani dengan dalih silaturahmi?
Tidak semudah itu.
Kalau memang Dani masih menginginkan kedamaian dalam rumah tangganya, Dani harus menjauh dari Anindita. Apapun alasannya, Isna tidak pernah bisa merasakan kedamaian rumahtangga selama perempuan itu masih mendatangi Dani.
Mobil yang Dani kemudikan akhirnya membawa mereka berdua kembali ke rumah. Rintik hujan masih turun. Isna keluar dari mobil, dan dengan setengah berlari dia menghindari terpaan hujan, berusaha sampai ke teras rumahnya.
" Eh, ini payungnya," Dani baru hendak menyodorkan payung, tapi Isna sudah keburu meninggalkannya.
Akhirnya payung urung digunakan. Dani pun keluar dari mobil tanpa memakai payung.
" Kok malah main hujan?" tanya Dani sambil berusaha membersihkan wajah Isna yang basah. Tapi Isna menghindar, tanpa berkata apapun dia meninggalkan Dani.
Segera Isna masuk, mau membersihkan diri dan mengganti pakaian yang basah.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Isna bersiap untuk sholat Ashar.
Dani masuk ke kamarnya, dan harus mendapati wajah Isna yang masih tidak ramah.
" Neng, sudah dong, jangan marah terus. Aa jadi sedih kalau kita jadi seperti ini."
" Bukan saya yang membuat jadi seperti ini."
" Iya, Aa minta maaf. Sudah ya, tidak marah lagi ya, bidadari."
" Selalu seperti ini. Saya marah, Aa minta maaf, lalu kembali seperti biasa. Nanti dia datang lagi. Membuat suasana jadi tidak damai, kita bersitegang lagi. Aa minta maaf lagi. Saya capeeeek banget. Tak akan pernah selesai."
" Ya harus bagaimana supaya kita bisa damai lagi?"
Isna memandang Dani dengan tatapan heran. " Tidak usah bertanya terus. Aa sudah tahu gimana yang seharusnya. Hanya pura-pura saja tidak tahu."
Dani mendekat, hendak memegang tangan Isna, dengan cepat Isna menyembunyikan tangannya. " Aku punya wudhu."
" Harusnya Aa memutuskan hubungan silaturahmi dengan Dita?" Dani bertanya dengan naifnya.
" Terserah Aa." Isna berlalu meninggalkan Dani. Enggan memperpanjang perdebatan. Percuma.
__ADS_1
Turun dari kamarnya di lantai dua, lalu masuk ke musholla. Bersiap sholat Ashar.
" Eh mbak Isna." Sempat bertemu mbak Pri di depan musholla.
Isna hanya tersenyum sekilas, senyum basa- basi.
Isna melihat wajah bingung mbak Pri melihat reaksinya.
Saat akan melaksanakan sholat, Dani masuk. Mengambil posisi di depan, menjadi imam.
Isna menggeser sajadahnya mundur memberi tempat bagi imam nya. Begitupun mbak Pri
Selesai sholat Dani membalikkan badan, memberikan tangannya untuk di cium oleh Isna. Isna pun melakukannya. Hanya sebatas itu. Kemudian Isna menyibukkan diri dengan berdzikir dan berdoa.
Setelah selesai tanpa berbasa-basi pada suaminya, Isna begegas melepas mukenanya dan beranjak keluar.
Tujuannya adalah dapur.
Mbak Pri mengekor di belakangnya.
" Gimana, mbak? Aku bantuin ya, mau masak apa?"
" Tadi mbak Isna minta soto ayam. Saya mau buat bumbu buat kuahnya. Terus saya mau goreng emping. Sama gorengan gehu*."
Isna langsung turun tangan, membuat isi gehu.
Selanjutnya Isna menyibukkan diri dengan memasak.
Dani berdiri mematung di dekat meja dapur.
" Ada apa mas?" Mbak Pri bertanya, bingung melihat sikap Isna dan Dani.
" Tidak ada apa-apa mbak. Biasalah..."
Mbak Pri memandang Isna. " Biasa apa sih mbak?
" Biasa membuat suasana jadi tidak damai."
Mbak Pri memandang Dani dan Isna bergantian. Dia betul-betul bingung.
Tapi dia urung bertanya. Pertanyaannya hanya akan memancing emosi Isna saja. Lebih baik dia diam, menikmati suasana yang sedang tidak enak untuk dinikmati.
Isna membuat adonan untuk menggoreng gehu. Dani memperhatikan semua yang Isna lakukan.
Isna mengerjakan semua pekerjaan dalam diam. Tanpa bersuara sedikitpun.
" Neng, " Dani memanggil istrinya. Dia tak tahan dengan diamnya Isna.
Isna memandang Dani. " Apa?"
" Selesai ya ?" Dani memelas.
" Apanya?" Isna pura-pura tak tahu.
" Diamnya. Jangan keterusan ya? Aa tidak kuat."
Isna hanya melihat sekilas.
" Ngomong dong. Maafin Aa ya?"
__ADS_1
" Iya."
" Iya? Neng maafin Aa?"
" Iya. Sudah kan?"
" Belum lah. Gimana bisa sudah, Neng masih tidak mau bicara."
" Ini aku lagi ngomong."
" Selesaikan semua masalah kita, jangan biasakan memendam masalah tanpa ada penyelesaiannya."
" Mbak, aku tinggal dulu ya? Aku mau bicara dulu dengan bapa yang satu ini." Isna berkata pada mbak Pri.
" Iya, mbak."
" Ayo kita bicara, kalau memang ada yang perlu kita bicarakan."
Isna berjalan menuju kamarnya. Dani mengikuti dari belakang.
Di balkon kamarnya, sambil memandang tanah yang masih basah dengan sisa hujan, Isna mulai bicara.
" Kenapa selalu saja ada nama itu tersebut diantara kita sih? Apa tidak bisa Aa tutup pintu untuk hadirnya dia? "
" Maaf, Aa hanya berpikir tidak mau memutus silaturahmi."
" Silaturahmi macam apa kalau harus sembunyi-sembunyi dari aku? Biar aku tidak tahu, begitu? Kenapa?"
" Maaf, memang Aa tidak ingin kamu tahu, karena kamu pasti masih belum bisa nerima Anin datang bertamu.
" Bisa saja, kalau kalian tidak bersikap mencurigakan."
" Maaf, Neng. Aa tak bisa jujur sama Neng. Memang masih ada perasaan peduli sama dia, dan Aa takut itu akan menyakiti Neng."
Isna baru akan membuka mulut, tapi dengan cepat Dani menghentikan nya dengan bicara lagi. " Peduli sebagai teman lama, bukan sebagai apa-apa lagi."
" Itulah. Aku masih tak bisa terima itu. Apapun yang kamu bilang, nyatanya dia pernah jadi orang yang mengisi hati kamu. Pernah sangat kamu cintai."
" Itu masa lalu, Neng."
" Ya, itu masa lalu. Tapi saya kan pernah bilang, siapa yang tahu tentang masalah hati."
" Susah kalau Neng sudah mulai curiga terus kaya gini."
" Ya, susah memang. Selamanya akan ada perasaan tak nyaman, yang akhirnya mendatangkan suasana tidak damai. Selama perempuan itu masih datang ke kehidupan rumahtangga kita."
" Terus, Neng mau Aa melakukan apa supaya hubungan kita bisa damai lagi?"
" Apapun yang ada hubungannya dengan dia saya harus selalu tahu. Jangan sembunyikan apapun. tentang dia dari saya. Kalau perlu malah jangan pernah temui dia lagi."
" Itu yang Neng mau?"
" Iya. Sanggup?"
" Insyaallah, sanggup."
Isna memandang Dani, " Saya pegang itu."
* gehu \= toge dan tahu, sejenis gorengan tahu yang diisi toge, dilapisi adonan tepung terigu yang dicairkan.
__ADS_1
Bersambung
******