Hati Yang Terpilih Part 2

Hati Yang Terpilih Part 2
Wahid, Sang Kakak Ipar


__ADS_3

" Duduk Dan." Wahid mempersilakan Dani.


Dani duduk, mengambil posisi di sebelah Wahid. Mereka sedang berada di depan rumah sakit, dengan pemandangan berupa taman kecil yang ditumbuhi tanaman pangkas berbunga merah yang dikenal dengan nama pohon Soka.


" Silakan bercerita." Wahid mempersilakan Dani berbicara.


Sebelum mulai berbicara Dani menarik napas dalan-dalam. Seolah dengan cara itu kekuatannya untuk berbicara akan bertambah.


" Semua berawal beberapa bulan lalu, sewaktu Anindita datang. Anindita itu perempuan dari masa lalu, waktu aku SMA dulu."


Dani menghentikan kalimatnya. Matanya memandang Wahid, menunggu reaksinya.


Wahid hanya diam, menunggu kelanjutan kalimat yang akan keluar dari mulut Dani.


" Kedatangan Anin membuat Isna terganggu. Entah memang Anin sengaja mengganggu atau apa, aku sendiri belum tahu maksudnya, tapi Isna sangat tidak suka kalau aku berhubungan lagi dengannya. Sepertinya ada yang membuat Isna tidak nyaman."


" Kalau memang istrimu tidak suka dengan perempuan itu ya jangan lagi kamu berurusan dengannya. Apakah Isna pernah tidak menyukai seseorang tanpa ada alasannya?"


" Ya pasti ada alasannya."


" Kamu tahu alasannya?"


" Tahu. "


" Alasannya masuk akal?"


" Masalahnya alasan itu hanya seperti dugaan saja. Belum terbukti."


" Alasannya apa?"


" Alasannya, Isna merasa kalau Anin akan merebut aku darinya."


" Dan kamu ngga merasa ?"


" Bukan nya tak merasa, Hid. Aku takkan mau kembali pada Anin, karena Anin adalah masa lalu. Masa depanku insyaallah adalah Isna."


" Dan tadi, apa yang membuat Isna sebegitu emosinya menghadapi kamu?"


Dani menceritakan dari awal, saat kedatangan Anin yang menimbulkan insiden kecelakaan di depan rumah keluarganya, sampai penyebab dia harus berada di rumah sakit untuk menemani Anin.


" Anin amnesia dan frustasi dengan hidupnya. Dia nyaris bunuh diri. Aku hanya mau menyelamatkannya. Aku hanya bersikap sebagaimana manusia semestinya, menempatkan Anin sebagai orang yang membutuhkan pertolongan." Dani mengakhiri ceritanya dengan satu pembelaan diri.


" Isna juga punya hati, Dan. Dia tidak akan pernah keberatan menolong orang yang membutuhkan. Tapi kalau dia harus menolong ular yang nyaris mati padahal ular itu akan mengancam nyawanya, apakah itu masih layak dilakukannya? Seperti itu perumpamaan nya."


" Jadi harus dia biarkan ular itu mati?"

__ADS_1


" Mungkin seperti itu."


Dani terdiam, memikirkan perkataan Wahid.


" Kalau bingung mengambil sikap atas suatu hal, kembalikan itu pada ajaran agama, supaya kita tak salah menyikapinya. Saat menghadapi situasi yang menuntut kita untuk memilih antara dua hal, kita bisa memilih yang mudharatnya atau kejelekannya paling sedikit."


Dani berusaha mencerna semua kalimat yang keluar dari mulut Wahid.


" Aku tak pernah bermaksud menggurui atau mengajari, juga tak berniat mencampuri urusan rumahtangga kalian. Aku hanya berperan sebagai kakak, yang berniat mengingatkan."


" Ya, terimakasih sudah mengingatkan."


" Satu lagi." Wahid berdiri. "Sebetulnya Isna sudah cerita semua tentang persoalan kalian dengan Anin. Dari awal persoalan itu muncul Isna sudah menceritakannya. Aku tahu sekali bagaimana perasaannya. Jadi aku hanya bisa pesan satu saja, jangan membuat air mata Isna mengalir lagi."


Wahid meninggalkan Dani.


" Tunggu Hid," suara Dani menghentikan langkah Wahid.


" Wahid menghentikan langkahnya. Mengarahkan pandangnya pada Dani, " Ya, ada apa?"


" Apa yang Isna ceritakan pada kamu?"


" Semua yang kamu ceritakan tadi. Juga kejadian yang baru saja terjadi. Isna dikirimi foto oleh seseorang."


" Kamu sudah melihatnya?"


" Ya, sudah, dan kamu tak menceritakan tentang foto itu."


" Iya, maaf. Aku malu, Hid."


" Kenapa malu?


" Karena adegan yang tergambar di foto itu. Waallahi, aku tidak melakukannya, itu adegan rekayasa."


" Aku tahu. Banyak yang janggal kalau mau dipercayai bahwa foto itu menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Memang sekilas di foto itu sepertinya kalian sedang melakukan hal yang tak pantas, Tapi aku melihatnya dengan akal sehat, bukan dengan perasaan semata."


Wahid berhenti. Matanya memandang Dani dengan pandangan menyelidik. Yang dipandang merasakan hal itu.


" Jadi kamu percaya kalau aku sebut itu bukan seperti yang terlihat?"


" Iya. Hanya yang aku bingung, bagaimana kamu bisa ada di kamar yang sama dengan perempuan itu. Itulah yang menjadi pertanyaan Isna."


" Dia memaksa aku untuk mengikuti keinginannya, dengan ancaman akan memberitahu semua masa lalu kami pada Isna. Aku ikut ke kamarnya dan entah kenapa aku mengantuk sekali saat itu."


" Ya apapun yang terjadi, semua sudah terjadi. Aku tak bisa menjadi hakim buat kalian. Hanya aku prihatin melihat adikku yang harus dua kali kehilangan calon bayinya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Temani dia Dan. Sekali lagi aku titip, jaga hatinya. Ini akan jadi pelajaran buat aku juga, biar bisa menjadi suami yang tidak menyebabkan istri menangis."

__ADS_1


" Jangan menyindir."


" Sorry, tak bermaksud."


Wahid melangkah meninggalkan Dani.


Dani masih terpekur memandangi punggung Wahid yang pergi meninggalkannya. Wahid sahabatnya, yang keluarganya sekarang telah menjadi keluarga Dani juga. Keluarga bersahaja, yang berada diantara mereka membuat Dani merasa hangat. Bapa yang sabar, mama yang penuh perhatian, dan Wahid sahabat yang terbaik.


" Maafkan aku, istriku, mertua dan kakak iparku. Aku janji, takkan lagi membohongi Isna."


Dani melangkah meninggalkan taman, berniat hendak menemui Isna.


Sampai di depan kamar Isna, dilihatnya sudah tak ada siapapun di bangku yang ada di koridor rumah sakit. Dani mendekati pintu kamar tempat Isna terbaring.


Masuk tanpa mengetuk lagi, dan melihat Isna sedang di temani Mama.


Mata Isna memandang Dani yang sedang melangkah mendekatinya. Dari tatapannya Dani bisa menduga kalau Isna masih menyimpan uneg-uneg, walau amarahnya terlihat sangat berkurang.


Dani mendekatinya, berniat memeluknya. Isna terlebih dulu melakukannya. Tangan Isna bergerak menarik tangan Dani, memeluknya, dan menangis di dadanya.


Tangan Dani bergerak mengusap kepala sang istri. Tak disadari, air matanya sendiri pun jatuh. Kesedihan mereka pasti sama, kehilangan calon bayi, saat semuanya terpikir akan baik-baik saja. Tangis Isna yang tadi kali ini ternyata belum usai. Dada Dani basah dibanjiri air matanya.


Setelah tangisnya mereda, dengan tangan masih memeluk Isna, Dani berusaha menenangkan istrinya.


" Ikhlas ya, Neng. Biarkan dia jadi tabungan akhirat kita."


" Iya, " Isna berusaha menyusut hidungnya.


" Maafkan Aa ya? Aa banyak salah sama Neng."


Isna memandang Dani, dengan kedua matanya yang sembab.


" Aa akan melakukan apapun, yang Neng mau, menjauhi Anin sekalipun, karena suami diharamkan membuat istrinya menangis karena kedzalimannya."


" Tak usah berjanji. Aku capek mendengarnya."


Dani memegang wajah Isna dengan kedua tangannya. "Baiklah, Aa tidak akan berjanji apapun. Tapi saat ini, ampuni Aa ya Neng. Jangan pernah bosan memaafkan manusia yang satu ini, yang penuh dengan kekurangan dan kekhilafan."


" Insya allah, kalau Allah masih mengijinkan kita berjodoh, Isna akan selalu berusaha memahami dan memaafkan kesalahan Aa. Tolong juga, jaga kepercayaan ini, jujur dan tak menutupi apapun, apalagi kalau Aa memang tidak salah."


" Iya, maafkan Aa. Aa sayang sekali sama Neng."


Dani kembali merengkuh kepala Isna ke dalam pelukannya.


Tanpa mereka sadari, Mama sudah melipir ke luar sedari tadi. Membiarkan mereka saling bicara dan bertukar isi hati.

__ADS_1


__ADS_2