
kini hanya menyisakan dirinya dan lin feng saja saat ini ruangannya, yang kembali hening dan beberapa saat yang lalu ramai karena adanya bai yue.
"Tuan, apa kau menginginkan sesuatu dari bocah itu?" lin feng memandangi Chang yin melihat arah kepergian bai yue
Mendengar pertanyaan lin feng, Chang yin tak langsung menjawabnya ia duduk dan menuangkan tehnya lalu meminum dan berkata ;
"Aku hanya tak ingin dia jadi alat perang saja, dan dia tidak punya orangtua sama sepertiku, yang membedakan kami hanyalah dia masih adik tapi aku tidak" Chang yin yang pilu langsung menghilang dan lin feng kebingungan melihat tuannya menghilangkan dari hadapan.
"Lin Feng jangan cari aku, aku ingin pergi sendiri dan ada kertas dimeja itu berisi tentang ujian besok, kamu siapkanlah! aku akan kembali pada malam hari" transmisi suara Chang yin dan di angguki oleh lin feng lalu mengambil kertas di meja.
sreakk
Lin feng membawa kertas itu keluar dan segera mungkin menyiapkan segala sesuatu yang ada di kertas itu.
Chang yin kini ada di sebuah taman bunga Lily laba laba merah, arti bunga itu ialah perpisahan dan tak akan bersama atau disebut juga bunga kematian.
__ADS_1
Sekarang sudah sore hari Chang yin duduk dekat bunga Lily laba laba mereh dengan melihat pemandangan danau yang indah disana, tidak lengkap tanpa arak.
"Sayang sekali, kurang tarian wanita cantik disini. mungkin jika ada pasti pemandangan yang luar biasa" gumam Chang yin sambil meminum arak disana.
Waktu ke waktu, waktu terus berjalan tak butuh lama kini matahari mulai hilang dan di ganti oleh malam yang sunyi, saat ini Chang yin sudah tidak sadar lagi kerena banyak minum arak, angin yang berhembusan membuat rambut Chang yin bergerak.
Bunga Lily itu bertebangan dan membentuk tubuh seorang wanita cantik yang berpakaian merah dan orang lain melihatnya mungkin akan tergoda oleh wajah cantiknya.
Wanita itu berpakaian sexy kakinya terlihat pergelangan kakinya di lingkari oleh bunga, dadanya yang terlihat tonjolan dadanya, pinggangnya yang ramping, mata berwarna merah, bibir tebal berwarna merah darah dan wajah seperti dewi tapi juga seperti iblis.
Xue jing merasakan aura yang begitu pekat, entah itu bahaya atau tidak. tapi, aura itu semakin mendekat kearah tuannya.
"Lihatlah, ada pria begitu tampan disini. sungguh jarang sekali melihat orang kesini" gumam wanita itu jongkok ke arah Chang yin dan mengakat kepala Chang yin dan menidurkan di pahanya lalu mengelus lembut.
wushh
__ADS_1
"Siapa kauu!! jauh jauhlah pada tuanku!!!" ancam xue jing sudah bersiap ingin menyerang tapi saat melihat wanita itu tak jadi dan tangannya berganti salam hormat.
"Maaf, xue jing tak tahu jika ratu bunga ada disini!" xue jing jadi salah tingkah.
"Tidak apa-apa" jelasnya dengan mengelus wajah Chang yin dan rambutnya itu.
"Bunga kristal es, apa dia tuanmu? jika iya apakah dia yang aku nantikan selama ini?" Sambung wanita itu merasa, merasakan aura yang berbeda pada diri Chang yin yang familiar pada dirinya.
Xue jing hanya menganggukan kepala "Kalau begitu xue jing izin undur diri"
"Adik Jing, tak perlu begitu sopan padaku! pergilah," xue jing hanya membalas dengan senyuman langsung menghilang.
"Apa kau melupakanku? aku tak mengira bahwa akan bertemu saat kondisi mabuk seperti ini!" wanita itu menangis melihat wajah orang yang selalu ia nanti selama ini.
"Agrhhh...uhukkk...ahhhhh" erangan Chang yin merasakan kesakitan dan memuntahkan darah dari mulutnya dengan tiba-tiba.
__ADS_1