
Melvin merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Dia lesu dan tidak bersemangat. Hanya bisa menatap Disra dari layar CCTV yang dia pasang di ruang kerja Disra.
Bagas menghampiri bos-nya. Bos yang usianya lebih muda darinya. “Kau kenapa?”
Melvin melirik Bagas. “Cintaku ditolak. Tidak hanya ditolak, bahkan dia membenciku,” lirih Melvin menatap layar monitor yang menampakan Disra sedang bekerja.
“Ditolak? Gadis pesek itu menolakmu?” tanya Bagas menunjuk Disra di layar monitor.
“Bukan pesek. Hanya memiliki hidung yang minimalis,” terang Melvin lesu.
“Bagaimana bisa kamu ditolak? Bukankah kau mengajaknya makan malam romantis? Kau bahkan menyewa satu restoran untuk itu,” jelas Bagas.
Melvin memejamkan matanya. Mengingat kembali kejadian semalam. Gadis itu meledak dan memakinya tanpa henti. Pelayan restoran hingga iba kepadanya.
Aku menolak menikah denganmu bukan berarti bersedia menjadi pacarmu! Perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku yakin, kau tidak benar-benar mencintaiku. Kau hanya berambisi untuk memilikiku!
Caramu itu begitu norak!
Aku tidak nyaman diperlukan seperti ini olehmu!
Kamu membuatku berpikir bahwa kau adalah seorang psikopat!
Kau seorang m*niak yang memaksakan kehendak!
Kau berpikir semua wanita akan tergila-gila akan ketampananmu? Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa masih banyak pria tampan di dunia ini? Kau bahkan tak setampan Jungkook bts!
Apa perlu aku membawakan cermin besar di hadapanmu agar kau bisa melihat dirimu sendiri bahwa kau tidak ada seperempat dari ketampanan Cha Eun Woo?
Dasar pria narsis!
__ADS_1
Kau adalah orang paling aneh yang pernah kutemui!
Suara makian Disra masih terngiang di kepala Melvin, dia hanya mengajukan syarat untuk berpacaran selama satu tahun. Namun, reaksi gadis itu begitu luar biasa. Dia bahkan tak menyangka Disra bisa berbicara layaknya kereta cepat. Panjang dan tanpa henti. Ya, gadis itu memakinya sangat lancar seolah sudah menghafal makian itu.
Melvin mulai menceritakan secara detil pada Bagas kronologi dirinya membawa Disra ke restoran hingga akhirnya gadis itu meledak dan pergi meninggalkan dirinya sendiri di dalam restoran.
Bagas ingin tertawa mendengar cerita Melvin. Pria tampan dan memiliki IQ tinggi, seorang hacker dan programmer yang dia akui kehebatannya. Namun, memiliki masalah dalam mendekati wanita.
“Caramu membuat gadis itu takut!” seru Bagas.
“Takut? Apa kurangnya diriku? Kau tahu dari aku sekolah hingga kuliah, banyak wanita yang mengejar ku! Dari A sampai Z tergila-gila padaku. Apa kurangnya diriku? Aku tampan, uangku juga banyak!” seru Melvin.
“Kurangmu adalah terlalu percaya diri, menganggap dirimu sangat, sangat luar biasa. Tidak semua wanita suka hanya dengan wajah tampan sepertimu. Ada pula wanita yang mencari kenyamanan pada pria. Jika, tampan tapi tak memberi kenyamanan, untuk apa dilanjutkan. Belle bahkan bisa mencintai dengan tulus Beast. Pada saat itu dia tidak tahu bahwa sebenarnya Beast adalah pangeran tampan. Namun, karena cintanya Belle yang kuat terhadap Beast, membuat si buruk rupa tersebut kembali lagi ke wujud aslinya. Menjadi pangeran tampan," papar Bagas menceritakan tentang dongeng anak-anak.
“Untuk apa kau menceritakan dongeng Beauty and The Beast? Semua juga tahu cerita itu!” dengus Melvin.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanya Melvin putus asa. Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk meluluhkan hati gadis itu.
Bagas berpikir sejenak. “Kau membebaskan ayah Disra dari penjara bukan?”
“Ya.”
“Apa Disra sudah tahu bahwa kau yang mengeluarkan ayahnya dari penjara?”
“Tidak, aku tidak mengatakan padanya. Aku hanya tidak tega melihatnya sedih karena ayahnya dipenjara.”
“Kenapa kau tidak menggunakan cara itu?”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Beast dikutuk oleh seorang nenek karena pangeran itu mengusir sang nenek yang ingin berteduh, dan si nenek mengutuk pangeran menjadi buruk rupa, begitu pula dengan para pelayannya yang dikutuk menjadi perabotan. Si nenek memberikan setangkai bunga mawar. Kutukan itu tidak permanen, sang pangeran dan para pelayan bisa kembali normal jika ada gadis yang tulus mencintainya sebelum tangkai terakhir bunga mawar merah itu gugur. Pada suatu hari seorang pedagang berteduh di istana usang milik si buruk rupa dan mengambil setangkai mawar merah dari sana. Berencana membawa mawar tersebut untuk anaknya, Belle. Namun, Beast tahu mawarnya dicuri dan mengurung sang pedagang ….”
“Kenapa kau menceritakan dongeng padaku! Aku tidak peduli dengan dongeng itu!” seru Melvin memotong cerita Bagas.
Bagas menghela napasnya. “Gunakan cara Beast untuk mendapatkan Disra!”
“Ha? Maksudmu?”
“Demi rasa sayang kepada ayahnya. Belle bersedia menukar dirinya menjadi tahanan Beast dan ayahnya terbebaskan,” terang Bagas.
“Maksudmu menggunakan kebebasan ayahnya agar Disra menikah denganku?” tanya Melvin.
“Ya, bisa dikatakan seperti itu. Seperti di drama-drama. Gadis kecil menjadi penebus hutang. Terpaksa menikah dengan pria …,” Bagas melirik Melvin sekilas. “Terpaksa menikah dengan pria dingin atau mungkin mendadak nikah,” lanjut Bagas.
“Diawali dengan keterpaksaan. Pernikahan paksa untuk menebus hutang. Setelah mendapatkannya, tunjukan kau mencintanya, bahwa aku benar-benar mencintainya. Lalu, dia akan jatuh cinta padaku bukan? Setelah itu, melupakan awal kami memulai pernikahan dengan sesuatu yang buruk," celoteh Melvin.
“Ya, benar sekali,” ujar Bagas menunjukan dua jempolnya.
“Bukankah salah satu syarat nikah adalah bukan paksaan? Saling menerima dan tanpa paksaan dari kedua mempelai. Karena itu, aku memintanya menikah denganku semalam. Namun, yang tidak aku duga, dia mentah-mentah menolakku, bahkan ditambah makian yang berentet!” keluh Melvin. “Lagi pula, aku tidak ingin menikah karena memanfaatkan keadaan. Menolong orang lain dengan pamrih.”
“Kalau begitu, ubah caramu mengejarnya. Jangan memaksakan kehendak mu. Biasa saja mengejarnya, tetap dekati. Namun, jangan terlalu agresif, buat cinta datang dengan sendirinya. Tapi jangan lengah. Bisa-bisa keduluan pria lain.”
Melvin meletakan lengan di dahinya. Dia menatap langit-langit ruangannya. Mencari cara untuk bisa mendekati Disra. Dia ingin wanita itu mencintainya tanpa harus merasa hutang budi.
“Aku rasa, kau harus segera bertindak. Pria lain bisa menarik hatinya. Sepertinya, Disra mulai nyaman dengan Raska,” celoteh Bagas menatap layar monitor laptop milik Melvin.
“Apa kau bilang?” tanya Melvin seraya duduk dari tidurnya. Dia mengikuti arah pandang Bagas. Tampak Disra sedang bersenda gurau dengan Raska. Pria itu bahkan menggusar rambut Disra.
Tangan Melvin mengepal, rahangnya mengeras. Baru beberapa hari kerja, pria itu bisa sangat akrab dengan Disra.
__ADS_1