Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 66 End


__ADS_3

Melvin tak bisa mengedipkan matanya saat pengantin wanita menghampiri. Disra memang memilih sendiri baju pengantinnya tanpa memberitahu Melvin. Sengaja memberi kejutan pada sang suami.


Baju pengantin panjang yang sangat indah. Namun tertutup sempurna hingga tak sehelai rambut pun terlihat.


"Apa kau keberatan dengan penampilanku saat ini?" tanya Disra dengan hati-hati.


Melvin mengedipkan matanya sekali. “Cantik, sangat cantik.”


Mata Melvin mulai mengembun, kebahagian membuncah di hatinya. Dia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh pipi sang istri. “Ini benar dirimu?” tanyanya.


“Kalau bukan aku, siapa lagi?”


Melvin menangkup wajah sang istri. “Hanya aku yang boleh melihatmu, hanya aku yang boleh menyentuhmu. Kau milikku.”


Disra memegang pinggang sang suami. “Aku milikmu dan kau pun hanya milikku.”


Melvin tersenyum lebar, lalu memeluk sang istri. Pelukan yang tak terlalu erat karena mereka terhalang oleh perut Disra yang sudah membuncit. Namun, gaun panjang Silver dengan nuansa motif biru tak membuat Disra tampak sedang hamil.


Felix terpukau melihat tampilan Disra, ingin sekali dia memeluk sahabatnya. Namun, tampilan Disra membuatnya mengurungkan niat. Dia akan menghargai keputusan sang sahabat untuk berhijab.


"Ciprut! Loe cantik banget," ujar Felix berdiri di depan Disra.


"Makasih, Crit!"


"Kita masih tetap sahabatan 'kan?"


"Loe ngomong apa sih? Ya iyalah kita sahabatan."


Melvin hanya melihat interaksi Felix dan Disra. Tiba-tiba, Felix memeluk Melvin. "Gua peluk loe aja sebagai tanda gua ikut bahagia akan kebahagiaan kalian."


Melvin hanya membeku di tempat. Namun, perlahan dia mencair, menepuk punggung Felix sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih ya."


"Nggak usah terima kasih. Gua pasti datang kenikahan sahabat gua sendiri," timpal Felix.


"Bukan makasih karena kau datang ke pernikahan kami. Melainkan terima kasih telah menjaga jodohku. Kalau nggak ada kamu di sekeliling Disra. Mungkin, sudah banyak pria yang mendekatinya," ujar Melvin.


Felix melepas pelukan Melvin, dia menaikan sebelah sudut bibirnya kesal.


Pernikahan Melvin dan Disra berjalan sangat meriah. Paman Melvin yang tinggal di luar negri pun datang. Semua teman kantor pun hadir, mereka tak menyangka Disra yang menjadi Nyonya Bos mereka.


Disra dikejutkan oleh kedatangan tamu undangan wanita. Gadis dengan pakaian kebaya modern menghampiri mempelai.


"Suci," lirih Disra.


Pandangan Suci kabur karena air mata yang akan terjatuh. "Selamat ya."


Disra langsung memeluk Suci. "Kenapa loe harus ambil cuti? Kita bisa wisuda bareng seharusnya."


"Maafin gue. Gue malu ketemu sama loe!"


"Gua udah maafin loe. Gua juga banyak salah sama loe."


Suci mengurai pelukan. "Jangan nangis lagi, make up loe entar luntur."


Semua orang berbahagia di hari pernikahan Melvin dan Disra.

__ADS_1


Sepasang pengantin baru yang sedang menikmati hari dengan damai. Menanti kelahiran buah hati mereka.


Melvin memilih membeli sebuah rumah untuk keluarga kecilnya. Mendesign sendiri rumah mereka.


"Sayang, ini bagus untuk pajangan," ujar Disra. Mereka sedang berada di Mall untuk membeli kelengkapan rumah mereka.


"Boleh. Kita beli. Semua yang couple kita beli," ujar Melvin.


Mata Melvin tertuju pada sebuah bantal couple, dia melepas gengaman tangannya pada sang istri dan menghampiri bantal tersebut. Sedangkan Disra masih melihat pigura.


Disra melihat sekeliling, dia tertarik pada jejeran piring, matanya menatap dalam piring tersebut. Mengulurkan tangan dan menggandeng pria di sampingnya.


Dia berjalan menuju jejeran piring yang menarik hatinya. "Ini kayanya bagus, Sayang," ujar Disra.


"Disra!" teriak Melvin.


Disra terkejut mendengar suara suaminya. Dia langsung menoleh mencari sumber suara. Melihat Melvin yang berdiri lumayan jauh darinya.


Dia langsung melihat ke samping. Melepas genggaman tangannya dan langsung berkata, "Maaf, maaf. Saya salah orang."


“Tidak masalah,” ucap sang pria yang sedari tadi digandeng oleh Disra.


Disra langsung berjalan setengah berlari menghampiri suaminya. “Sayang maaf. Aku tak sengaja. Aku pikir tadi dirimu,” ujar Disra tulus meminta maaf.


“Memangnya tak bisa membedakan aku atau bukan?”


“Aku tidak lihat. Aku pikir tadi itu dirimu. Jadi asal gandeng saja,” bela Disra.


“Alasan! Aku saja bahkan bisa membedakan dirimu atau bukan bahkan hanya melihat seujung jempol kakimu. Ini kau malah menggandeng pria lain!”


Disra menghela napasnya. Sang suami memang sangat sensitif selama dirinya hamil. “Kau tidak ingin memaafkanku? Apa kesalahanku terlalu besar? Jika seperti itu, aku rela jika kau memulangkanku pada orang tuaku!”


“Kalau begitu, jangan pernah lepas genggaman tanganku. Jika kau lepas, aku takut tersesat,” ucap Disra penuh arti.


Melvin terdiam, dia mengulurkan tangannya dan langsung menggenggam tangan sang istri. “Aku tidak akan melepas genggaman tangan kita. Tak akan kubiarkan ada celah tangan orang lain dalam tautan tangan kita.”


Disra tersenyum, mereka kembali berburu kelengkapan rumah mereka. Dia setuju dengan perkataan suaminya yang tak akan memberikan celah orang lain masuk ke dalam rumah tangga mereka.


Hidup dengan damai, hari terus berjalan. Tak terasa, sudah 6 tahun Disra dan Melvin berumah tangga.  Dalam masa rumah tangga mereka tak ada perselisihan besar, meskipun terkadang ada percikan kecil. Mereka sama-sama menjaga hati. Melvin bahkan tak memiliki teman wanita. Saat ini, Disra dan Melvin memiliki dua anak. Satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.


Disra masih bersahabat dengan Felix, perbedaan agama mereka tak membuat mereka jauh. Disra dan Melvin duduk di bangku gereja. Melihat sang sahabat menikah dengan gadis pujaannya.


Janji suci diucapkan oleh Felix. “Saya berjanji untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit.”


Disra mengusap air matanya, dia terharu akan pernikahan Felix. Pernikahan berjalan sangat sakral. Para tamu undangan terlarut dalam acara tersebut. Orang tua Disra pun datang ke pernikahan Felix.


Disra dan Melvin memberikan ucapan pada sang mempelai. Menghanturkan doa untuk kedua mempelai.


“Kau sangat terharu?” bisik Melvin yang melihat Disra terus menangis.


“Tentu. Aku seperti melepas sebagian hatiku. Sekarang aku tahu perasaan Felix saat melihat kita menikah.”


“Kenapa? Kau menyesal karena tak menikah dengannya?” tanya Melvin sedikit cemburu. Ya, dia selalu cemburu dengan Felix. Cemburu karena Felix mengisi hari-hari sang istri sejak masih sangat kecil.


Disra mencubit sang suami. “Masih saja cemburu! Aku akan mendidik anak-anak kita agar memiliki banyak teman. Jadi, biar nggak baperan kaya kamu!”

__ADS_1


“Apa salah kalau aku cemburu?”


“Tidak ada yang salah. Tapi, kalau kebanyakan cemburu juga tak baik. Lagi pula, apa selama ini persahabatanku dan Felix melampaui batas?” dengus Disra.


Semenjak berhijab, Felix menjaga tangannya untuk sekadar merangkul bahu Disra. Dia sangat menghormati Disra yang menjaga kehormatannya.


Melvin terdiam mendengar perkataan sang istri. Dia memang terlalu cemburu. Cup! Melvin mencium pipi sang istri.


“Ini di gereja!” hardik Disra.


“Memang kenapa? Tadi juga Felix ciuman dengan istrinya.”


“Mereka ‘kan memang pengantinnya!”


Melvin tak peduli dengan protes istrinya. “Sayang, kita ke hotel yuk? Mumpung anak-anak malam ini menginap di rumah ibu dan ayah.”


“Minggu kemarin kita sudah ke hotel karena anak-anak di rumah ibu. Sekarang juga?”


“Ya ga pa-pa. Mumpung anak-anak lagi betah di sana.”


Melvin langsung memboyong Disra ke hotel setelah menghadiri pernikahan Felix. Setibanya di hotel, dia langsung mencium sang istri dan melakukan layaknya pengantin baru.


“Sayang, kau tak bosan kah seperti ini terus?” tanya Disra masih dalam dekapan sang suami.


“Tidak. Apa kau bosan?”


“Tidak.”


“Lalu, kenapa bertanya?”


“Aku hanya bingung saja. 24 jam kita selalu bersama. Kau bahkan bekerja di rumah. Lingkup pertemanan kita juga tak besar. Dari membuka mata hingga menutup mata. Sarapan bersama, makan siang bersama dan makan malam bersama. Sampai saat ini, aku tidak bosan padamu. Tapi kadang, aku takut kau bosan padaku.”


Disra memilih menjadi ibu rumah tangga setelah kehamilan anak keduanya yang sedikit berkendala.


“Jangan bicara seperti itu. Aku yang introvert, sangat bahagia bisa memilikimu. Banyak hal yang belum aku lakukan. Hidupku yang monoton. Kini, penuh dengan warna karena adanya dirimu. Karena banyak hal yang belum aku lakukan, dengan adanya dirimu. Maka, semua yang belum aku lakukan akan aku lakukan bersamamu. Jadi, aku tidak akan pernah bosan padamu.”


Disra mengeratkan pelukannya pada sang suami. “Aku bersyukur memiliki suami sepertimu.”


“Aku lebih bersyukur punya istri sepertimu. Sayang, kita Turki yuk?”


“Ngapain ke sana?”


“Ya, honeymoon.”


“Kita ‘kan sudah honeymoon.”


“Nggak pa-pa honeymoon lagi. Siapa tahu pulang-pulang bawa anak ketiga.”


“Itu sih maunya kamu!”


“Aku ‘kan memang mau punya anak lima.”


“Apa kau sanggup merawatnya jika punya lima anak?”


“Tentu.”

__ADS_1


Obrolan hangat sepasang suami istri menutup hari dengan bahagia. Cinta tulus Melvin, membuat sang istri begitu mencintai suaminya. Berharap, cinta mereka tak akan lekang oleh waktu.


~End~


__ADS_2