
Disra tak menggubris permintaan Melvin untuk mengganti skripsinya. Dia tetap melanjutkan apa yang sudah dia rancang. Beberapa bulan ini, Disra dan Felix disibukan dengan penyusunan skripsi.
Beberapa kali juga pergi ke dokter hewan untuk reset. Tak sulit bagi Disra membuat sebuah web. Namun, dia harus memperhatikan sistem pakar agar tidak salah dalam mendiagnosa penyakit.
“Ciprut! Design-nin web gua dong!” pinta Felix pada Disra.
“Buat sendiri, Ucrit!” jawab Disra masih fokus dengan laptopnya dengan sesekali memakan somay.
Mereka mengerjakan skripsi di sebuah café. Tidak hanya mengerjakan skripsi. Namun, makanan banyak terhidang di atas meja. Semua Disra yang memesan. Pusing mengerjakan skripsi membuat dirinya cepat lapar.
“Pelit banget sih lo!” ejek Felix.
“Bodo!”
“Banner atas doang! Kasih gambar anjing aja lagi makan.”
Disra mendecak. “Ya udah, entar malem gua kerjain!”
Felix tersenyum lebar. “Gitu dong!”
Disra hanya melirik Felix malas lalu melanjutkan skripsinya. “Paper loe udah sampe bab berapa, Lix? Contek dong gua!”
“Mau gua kirimin pdf aja?”
“Kampret! Word aja lah!”
“Iya bawel! Apa susahnya sih convert pdf to word!” dengus Felix. “Akhir-akhir ini loe judes banget! Hamil kali loe!”
Jemari Disra yang sedang mengetik berhenti, dia berpikir sejenak. Dia dan Melvin tak pernah menggunakan pengaman.
“Kenapa loe diam? Jangan-jangan bener hamil. Makan loe juga banyak banget, perut loe juga mulai membuncit," tambah Felix.
“Masa sih, Lix? Gua nggak merasa mual.”
“Jangan-jangan hamil kebo!”
Disra langsung mematikan laptopnya dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
“Loe kenapa?” tanya Felix bingung.
“Kayanya gua harus periksa, soalnya gua udah telat datang bulan.”
Felix ikut merapihkan tasnya. “Emang, loe udah nggak perawan ya?”
Disra hanya menaikan sudut bibirnya ke atas. “Menurut loe!”
“Idih, ketus banget!”
Disra langsung menuju rumah sakit dengan Felix mengikuti. Beberapa kali Disra mencoba menelpon sang suami. Namun, tidak sekalipun Melvin mengangkat panggilan teleponnya. “Ke mana sih!” keluh Disra.
“Kenapa?” tanya Felix.
“Nggak diangkat.”
“Lagi ngajar kali.”
Disra hanya menghembuskan napas pelan. Dia datang ke dokter kandungan.
“Nyonya Disra,” panggil seorang perawat.
“Ya.”
“Silakan.”
Disra dan Felix masuk ke dalam ruang periksa. Disra mengatakan dirinya yang telah telat datang bulan. Dia diminta untuk cek urine.
__ADS_1
Ponsel Disra berdering, Melvin menghubungi kembali. Sedangkan sang pemilik sedang melakukan tes urine.
“Hallo,” ucap Felix mengangkat panggilan telepon Melvin.
“Di mana Disra?” tanya Melvin, mengapa ponsel istrinya dipegang orang lain.
“Di rumah sakit.”
“Apa? Dia sakit?”
“Bukan, lagi cek hamil,” ucap Felix santai.
Rahang Melvin mengeras mendengar ucapan dari Felix. Dia langsung pergi ke rumah sakit setelah menanyakan alamat rumah sakit. Kesal karena seharusnya dia yang mengantar sang istri.
“Selamat, kalian akan segera memiliki anak,” ujar seorang dokter.
“Aku hamil?” tanya Disra tak menyangka.
“Iya, 4 minggu.”
Felix menangkup wajah Disra. “Ciprut! Loe hamil!” serunya dengan mata berbinar.
“Ucrit! Gua bakal jadi ibu!” ucap Disra penuh haru.
Sang dokter tersenyum melihat dua orang yang sangat bahagia. “Bapak, Ibu, selamat ya. Mau sekalian USG?”
“Mau, mau!” seru Disra.
“Kalau begitu, silakan berbaring,” ujar sang dokter menunjuk ranjang pemeriksaan.
“Ciprut! Gua tunggu di luar ya,” ujar Felix.
“Nggak usah keluar Pak. Biar di cek sama-sama. Memang, Bapak nggak mau lihat bayi-nya?” tanya sang dokter.
“Apa?” ujar sang dokter tak percaya. Raut wajahnya tampak terkejut.
“Saya yang suaminya!” ujar Melvin yang menerobos masuk ke ruang pemeriksaan.
Dia menatap tajam Felix lalu menatap sang istri. Jelas tampak wajah kekecewaan di wajah Melvin.
“Sayang, kau sudah datang? Tadi aku telepon kamu terus tapi nggak diangkat,” ujar Disra mencoba meredakan amarah sang suami.
Felix meninggalkan ruangan, dia tahu seharusnya bukan dia yang mengantar Disra ke rumah sakit.
Melvin menghela napas, mencoba untuk tenang. Dia menanti sang dokter melakukan pemeriksaan USG pada sang istri. Moment mengharukan saat pertama mengetahui kehamilan kandas karena dirinya bukan orang pertama yang mengetahui kehamilan sang istri.
*
“Sayang, kau masih marah padaku?” tanya Disra setelah mereka sampai di apartemen.
“Tentu saja! Aku kesal padamu karena tak menungguku! Seharusnya kau menungguku baru ke rumah sakit! Kenapa harus Felix yang mengantarmu!” keluh Melvin.
“Itu tidak sengaja! Saat kami mengerjakan skripsi, tiba-tiba saja Felix tercetus mengatakan aku buncit. Dia menduga aku hamil. Karena itu, aku langsung ke dokter. Jangan marah suamiku," bujuk Disra menggelendot pada lengan Melvin.
Melvin hanya menatap sang istri. “Lain kali, aku harus orang pertama yang tahu segalanya!”
Cup! Disra mengecup pipi sang suami.
“Siap, Bos.”
“Apa kau tidak merasa mual?”
“Tidak.”
“Kau mau makan sesuatu?”
__ADS_1
“Banyak. Kalau ditanya makan, aku akan sebutkan semua makanan nih!” seru Disra.
“Kau mau makan apa?”
“Apa masih ada yang jualan tengah malam gini?”
“Sepertinya masih.”
“Memang mau makan apa?”
“Apa saja, yang penting makan.”
“Baiklah, ayo kita cari makanan.”
Mereka keluar untuk mencari makanan. Jejeran gerobak pedagang kaki lima masih ramai pengunjung.
“Kita makan di sini saja, Sayang,” ujar Disra.
“Apa tidak ke restoran saja?”
“Tidak perlu.”
“Tapi, di sini kurang higienis. Kau sedang hamil.”
“Sesekali saja. Aku akan pesan soto dan bukan bakar-bakaran. Katanya, makanan yang dibakar kurang baik untuk ibu hamil.”
“Ya sudah, kita pesan soto. Kau tunggu di sini, biar aku yang pesan.”
Tenda-tenda pedagang kaki lima berjejer rapi, jenis makanan yang dijual pun beragam. Disra tak mematuhi sang suami, dia melihat makanan zaman dia SD. Gula-gula karamel yang dibentuk menjadi berbagai macam bentuk.
“Pak, aku mau yang gambar ayam,” ujar Disra. Dia merasa aneh mengapa masih ada pedagang gula karamel di malam hari. Namun, dia mengabaikan hal itu.
Sang pedagang mulai membuat gula-gula berbentuk ayam. Disra membayar dengan lembar uang denominasi tunggi. Dia cukup puas dengan permen gula tersebut. Sang pedagang sangat bahagia menerima uang dari Disra. Sekarang, dia tahu penyebab pedagang gula tersebut masih berjualan. Ya, pedagang tersebut sepi pembeli hingga malam dia masih tetap berusaha berdagang.
Berjalan kembali menuju tempat dia akan makan soto. Namun, langkah kakinya terhenti karena ada seseorang yang menarik lengannya.
“Kau, Disra bukan?” tanya seorang pria berusia dua tahun lebih tua dari Disra.
“Ya, siapa ya?” tanya Disra bingung.
Pria itu tersenyum lebar. “Akhirnya, aku menemukanmu.”
Disra mengerutkan dahinya. “Maaf, apa kita saling kenal?”
“Ya, tidak hanya saling kenal. Kau telah menyelamatkan hidupku dan aku akan membalas dengan seluruh sisa hidupku.”
“Maksudnya?”
“Kau lupa? Di lorong gang sempit, ada seorang anak lelaki yang terluka kakinya dan kau menolongku dengan memberikan sapu tangan?”
Disra mencoba mengingat. “Oh, kau Kakak kelas saat SMP? Kak Danang?”
Danang tersenyum. “Ternyata masih ingat.”
“Maaf tadi lupa, soalnya udah lama nggak ketemu.”
“Iya, kita hanya bertemu sebentar karena aku pindah ke luar kota. Nggak nyangka bisa ketemu di sini. Aku baru kembali ke kota ini seminggu, dan seminggu ini juga aku mencarimu.”
“Wah, Kakak sudah semakin dewasa,” puji Disra menelisik Danang dari atas hingga bawah.
“Tentu. Karena memang sudah dewasa.” Danang merentangkan tangannya. Kedua tangannya ditumpukan pada pundak Disra. “Dengarkan aku. Saat kau menolongku, pada hari itu juga, aku menyukaimu dan aku di sini karena mencarimu untuk menjadikanmu sebagai istriku.”
“Apa?” tanya Disra terkejut.
“Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!” hardik Melvin yang melihat sang istri disentuh seorang pria.
__ADS_1