
“Karena tujuanku mendekatimu untuk menikah, bukan pacaran. Karena kau yang belum siap untuk menikah jadi aku menyetujuimu untuk pacaraan dulu,” ucapa Melvin.
Disra hanya memutar bola matanya jengah. Mana ada orang mengajak menikah seperti itu?
Mobil terus melaju ke rumah Disra. Melvin tak singgah ke manapun dan langsung menuju rumah Disra. Mereka turun dari dalam mobil.
Melvin menuju belakang mobilnya dan membuka bagasi. Dia mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobilnya.
Disra menyerengitkan dahinya. “Apa ini?” tanyanya menunjuk banyaknya barang yang dikeluarkan oleh Melvin.
“Untuk calon mertua dan adik iparku,” jawab Melvin.
“Tapi, apa ini? Kenapa banyak sekali? Kau mau pindah rumah?” protes Disra.
“Kalau diperbolehkan, dengan senang hati aku pindah,” ujar Melvin dan hanya mendapat tatapan tajam dari Disra.
Melvin membawa kardus yang lumayan besar menuju rumah Disra. “Aku tidak tahu apa yang disukai ayah dan ibu. Jadi, aku hanya membeli sesuai penjaga toko rekomendasikan. Kau bisa katakan padaku apa yang disukai ayah dan ibu, nanti akan aku belikan lagi,” ujar Melvin.
“Kau tenang saja. Ayah dan ibuku tidak sulit. Mereka sangat menghargai pemberian dari orang lain,” ucap Disra.
Mereka tiba di rumah Disra. Namun, pintu rumah tertutup. Disra membuka dengan kunci cadangan yang dia punya. Setiap anggota keluarga memiliki kunci cadangan terlebih Disra sering pulang malam karena kuliah malam, mengharuskannya memiliki kunci cadangan.
Disra berjalan menuju meja ruang tamu. Membaca catatan di selembar kertas yang memberi informasi bahwa orang tuanya sedang menjenguk kerabat yang sedang sakit. Meskipun sudah ada alat teknologi bernama ponsel. Namun, Tina masih membiasakan diri menulis di atas kertas, sebagai pengganti media informasi telepon.
“Maaf ya, orang tuaku sedang pergi. Aku memang tidak memberitahu orang tuaku bahwa kau akan datang,” ujar Disra.
Dia masih belum yakin pada Melvin, karena itu tidak memberitahu pada orang tuanya rencana Melvin datang berkunjung. Dia takut sang pria membatalkan janji dan membuat orang tuanya kecewa.
“Tidak apa, aku tunggu saja,” ucap Melvin seraya meletakan kardus di lantai.
“Tunggu di sini. Aku siapkan minum untukmu,” jawab Disra.
__ADS_1
Disra pergi ke dapur dan Melvin memanjakan matanya dengan photo-photo di ruang tamu. Lebih tepatnya, dia menatap photo Disra berusia 8 tahun. Bayangan saat Disra kecil menemaninya saat disekap, membuat hatinya menghangat.
Disra datang dengan membawa segelas air berwarna merah dengan es batu sebagai pendinginnya. “Minumlah,” ujar Disra.
Melvin menerima gelas dari Disra lalu meminum minuman itu. “Manis,” ujarnya.
“Terlalu maniskah? Sepertinya kurang air. Mau aku tambah air jika terlalu manis?” tawar Disra.
“Sebanyak apapun ditambah air, akan selalu terlalu manis,” terang Melvin.
“Ngaco! Mana ada seperti itu? Ditambah air akan membuat sirupnya tak manis lagi.”
“Tidak akan manis karena sumber kemanisannya tak lekang waktu,” ucap Melvin tersenyum.
“Apa sih maksudmu?”
“Kaulah sumber dari rasa manis. Jadi, sebanyak apapun air, akan selalu terasa manis,” ucap Melvin tersenyum.
Disra hanya memicingkan matanya. “Apa kau punya kantong plastik?”
“Untuk menampung muntahku karena mendengar kegombalan dirimu!” hardik Disra.
Melvin hanya terkekeh. “Yang aku katakan benar adanya. Kau saja yang selalu menganggap diriku gombal!” seru Melvin.
“Itu karena tak masuk akal! Seolah cintamu sangat besar padaku. Padahal kita baru saja penjajakan untuk saling kenal!” ketus Disra. Meskipun dia selalu berkata ketus pada Melvin. Namun, hatinya sudah memilih pria itu.
Melvin hanya memandang kekasihnya dalam. Gadis itu selalu meragukan cintanya. “Terserah kau percaya atau tidak. Aku tahu hatiku sendiri,” ujarnya.
Disra pun tak ingin berdebat lagi dengan Melvin. Dia teringat akan cerita kematian orang tua kekasihnya saat di pemakaman. “Apa kau tidak kesepian tinggal sendiri?”
“Tentu saja kesepian,” jelas Melvin. “Karena itu, aku kurang bersosialisasi. Aku hanya memiliki komputer sebagai sahabatku. Mulai mencoba tinggal di tempat kost, agar bertemu dengan banyak orang.”
__ADS_1
Disra hanya mengangguk. “Tapi kau sukses menaklukan dunia. Kau berdiri kokoh dengan kakimu sendiri.”
“Ya, benar. Pria memang bisa menaklukan dunia. Namun, yang menaklukan pria adalah wanita, dan kau yang menaklukan ku,” ujarnya.
“Mulai deh gombal-gombal lagi! Kamu pikir aku akan tersipu malu apah mendengar gombalanmu!” dengus Disra.
Melvin melihat bibir Disra yang sedari tadi mengoceh, dia mengingat ciuman di bawah pohon mangga. Melvin menggelengkan kepalanya ringan, mengusir pikiran kotornya.
Disra merogoh tasnya. Dia mendengar notifikasi dari ponselnya. Disra membaca email dari salah satu teman kuliahnya yang satu kelompok dengannya. Ya, mereka memiliki tugas kuliah mata kuliah sistem pakar.
“Dis,” panggil Melvin yang melihat Disra sibuk dengan ponselnya.
Disra tak mendengar panggilan Melvin, dia masih terus mengetik, membalas email dari temannya itu.
Melvin menghampiri Disra yang sedang serius, dia ingin tahu apa yang membuat gadisnya mengabaikannya.
Melvin menggeser bok*ngnya hingga dia dan Disra tak berjarak. Namun, saat sudah berada di dekat sang gadis. Perhatian Melvin bukan pada ponsel yang dipegang oleh Disra, melainkan pada harum rambut sang kekasih.
Dia semakin mendekatkan wajahnya hingga tak sadar, dirinya mencium pipi sang kekasih. Jemari Disra berhenti mengetik, seketika dia melebarkan matanya saat merasakan ada sentuhan di pipi. Dia menoleh, wajah Melvin membesar di depan matanya.
Melvin hanya menarik lengan Disra. Namun, gaya tarik tersebut membuat tubuh Disra semakin mendekat, begitu pula dengan wajah mereka yang saling bertubrukan. Bibir mereka saling bersentuhan. Keuntungan memiliki kekasih dengan hidung minimalis, Melvin tak perlu merasakan kesulitan mencium kekasihnya, tak perlu memikirkan hidung yang saling bertubrukan. Disra ingin menarik kepalanya. Namun, gerak Melvin lebih cepat, dengan lihai menarik tengkuk sang kekasih.
Tak tahan dengan bibir sang kekasih, tak tahan hanya menempel kan bibir mereka. Melvin menginginkan lebih, dia mulai membuka bibirnya dan mulai mencium bibir kekasihnya lebih dalam. Disra pun terlarut dalam ciuman tersebut. Sepuluh menit berlalu. Namun, mereka masih terus membelit, saling bertukar saliva dan semakin panas.
Mereka sudah berpindah posisi. Melvin sudah merebahkan Disra di sofa ruang tamu dengan dirinya menindih tubuh sang kekasih. Ciuman panas terus berlanjut, entah kapan, tangan Melvin sudah berada di paha sang kekasih. Mengusap lembut paha tersebut yang masih dilapisi dress berwana hijau botol.
Ciuman belum usai dan masih berlanjut, Melvin enggan mengakhiri ciuman tersebut. Sedangkan Disra sedang memikirkan cara agar menyudahi aktivitas panas mereka. Namun, Melvin seolah enggan untuk menyudahinya.
Belum juga berpikir untuk menyudahi, pintu ruang tamu terbuka dari luar. “Apa yang sedang kalian lakukan!” teriak Tina.
Sontak Disra mendorong Melvin, sang pria pun langsung sigap dan duduk dengan tegak. Hati dua insan yang sedang dimabuk asmara berdebar.
__ADS_1
“Disra,” lirih Roni penuh dengan kekecewaan melihat anak gadisnya berciuman panas di rumah mereka. Sedangkan Dika sang adik hanya bisa melebarkan matanya tanpa bisa mengeluarkan perkataan apapun.
“Ayah, Ibu. Ini tak seperti yang kalian lihat,” ucap Disra mencoba untuk menjelaskan.