
"Kau tidak ke kamarmu?" tanya Disra.
"Ini juga kamarku," jawab Melvin.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Disra melebarkan matanya.
"Bukankah aku sudah bilang hanya kamar ini yang tersisa?" tanya Melvin menaikan alisnya.
"Iya, tapi aku pikir, kau memesan dua?"
"Tidak! Hanya tinggal satu kamar ini saja," jelas Melvin.
"Lalu, kau tidur di mana?"
"Tentu saja di sini bersamamu," jelas Melvin sumringah.
Disra secara otomatis menyilangkan tangannya. "Kau jangan berpikir bisa menyentuhku!" hardik Disra.
Dia tidak begitu kejam dengan meminta Melvin keluar kamar. Namun, dia pun tak mau hal yang tak diinginkan terjadi.
"Siapa yang mau menyentuhmu? Aku akan tidur di sofa," terang Melvin.
"Apa kau bisa dipercaya?" tanya Disra memicingkan matanya.
"Apa selama ini kau memandangku sebagai seorang maniak?"
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Meski aku tidak cantik. Namanya kucing, dikasih ikan asin pun mau!" terang Disra.
Melvin mendekat pada Disra. Tak pernah suka Disra merendahkan diri sendiri. Baginya, Disra lebih dari apapun. "Kau bukan ikan asin. Bagiku, kau berlian yang tak ternilai harganya!" jelas Melvin penuh keseriusan.
Disra hanya terpaku, mengapa pria itu begitu marah? Siapa yang tak bisa melihat jika mereka bagai langit dan bumi. Melvin memiliki ketampanan yang sangat mempesona. Sedangkan dirinya, hanya gadis biasa yang tak bersinar. Tubuhnya mungil, hidungnya minimalis. Sangat jauh dari standar kecantikan wanita dunia. Dia bukan model yang memiliki tubuh semampai dan wajah yang cantik.
"Ya kau benar. Bahkan ayahku bilang, aku lebih cantik dari Gigi Hadid!" dengus Disra.
Dia tak berbohong, ayahnya pernah mengatakan itu. Namun, bukan berarti dia lebih cantik dari Gigi Hadid. Melainkan karena seorang ayah akan selalu menganggap anak perempuannya adalah gadis paling cantik.
Disra langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri sebentar sebelum merebahkan diri di ranjang.
Setelah itu, dia merebahkan diri di ranjang dengan selimut menyelimuti tubuhnya dengan sangat rapat. Sedangkan Melvin masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Melvin berbaring di sofa, pandangannya menatap pada Disra. Sedangkan gadis itu tidur menyamping, membelakangi Melvin.
Disra merasa sedang diperhatikan, karena itu dia tetap pada posisinya. Tak berani berbalik. Perlahan, mata mereka tertutup. Sudah cukup melelahkan hari ini hingga Disra tidur dengan pulas.
Pulasnya Disra tidak berbanding dengan Melvin yang masih melebarkan matanya. Tidak ada selimut lebih, hanya ada satu selimut yang sedang digunakan oleh gadisnya.
Sehelai kemeja dan celana pendek, tidak bisa melindungi Melvin dari dingin. Dia menghampiri Disra.
"Hei," ujar Melvin.
"Disra," ucap Melvin lagi.
"Disra, aku kedinginan," ujar Melvin lagi.
Tidak ada jawaban dari Disra. Melvin mulai beralih ke samping Disra, masih ada ruang di kasur untuknya tidur.
Melvin mulai mengangkat selimut dan masuk dalam selimut tersebut. Tubuh yang dingin, perlahan menghangat.
Malam kian larut. Satu selimut dengan dua manusia di dalamnya, membuat tubuh semakin hangat. Ya, tidak hanya berada dalam satu selimut. Melainkan kulit lengan mereka yang saling menyentuh.
Disra mencari sumber kehangatan, dengan mata yang tertutup, di memeluk Melvin bagaikan sebuah bantal guling empuk.
Begitupula dengan Melvin yang membalas pelukan dari Disra. Wajah Disra di tenggelamkan dalam dada bidang Melvin.
Matahari belum bersinar. Meskipun tidur sudah sangat larut malam. Namun, bukan menjadi alasan untuk bangun siang.
Disra mengerjapkan matanya. Kesadarannya masih belum penuh, di depannya terdapat dada bidang. Namun, dia masih belum menyadari.
Dia mendekat dan mengusapkan wajahnya pada dada bidang Melvin. Hidung minimalisnya terasa gatal, semakin dia mengusapnya terus menurus pada dada bidang tersebut.
Melvin mulai membuka matanya saat merasa ada sesuatu yang menggesek tubuhnya. Pandangannya menurun ke bawah, melihat Disra yang sedang mengusel di dadanya.
"Sedang apa kau?" tanya Melvin datar.
Deg! Suara Melvin sukses menyadarkannya. Disra membuka matanya lebar. Seketika mengangkat kepalanya dan melihat wajah Melvin yang membesar di depannya.
"Argh!" teriak Disra. "Sedang apa kau di sini?" tanya Diara nanar.
"Aku yang bertanya terlebih dahulu. Untuk apa kau mengusap wajahmu pada tubuhku?"
__ADS_1
"Itu karena aku pikir kau itu bantal!" Disra memutar bola matanya, berpikir sejenak. "Hal itu tak akan terjadi jika kau tidak ada di ranjangku. Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Disra.
"Aku tidak melakukan apapun," bela Melvin.
"Alasan! Kenapa bisa ada di ranjangku jika kau tak berniat buruk padaku?" tanya Disra masih dengan nada tinggi.
Melvin tampak bingung. "Itu ... itu, aku hanya kedinginan. Jadi, aku naik ke ranjang," ujar Melvin terbata.
"Kau tidak menepati janjimu padaku!" hardik Disra.
"Aku menepati janjiku. Aku tidak bilang kita tak boleh dalam ranjang yang sama. Aku hanya tidur di sampingmu tanpa menyentuhmu. Kau lah yang mendatangiku dan memelukku bagai bantal guling. Tidak ingat, kau lah yang masuk dalam pelukanku?" celoteh Melvin.
"Itu karena kau bilang akan tidur di sofa. Tapi nyatanya malah ke ranjang!"
"Sudah aku bilang, aku memang tidur di sofa. Tapi, karena terlalu dingin, jadi pindah ke ranjang. Sungguh aku tidak melakukan apapun padamu!" ujar Melvin mengangkat dua jari tangannya seolah dia bersumpah.
Mereka bertengkar bagai sepasang kekasih yang sedang cekcok. Tak menemukan titik temu. Disra yang menuduh Melvin mencuri kesempatan dan Melvin yang tak terima dituduh. Hingga membuat mereka diam di sepanjang perjalanan pulang ke hotel semula.
Perang dingin Melvin dan Disra berlangsung hingga ke pesawat. Mereka duduk di pesawat dengan kursi yang bersebelahan.
Melvin mendecak. Tidak mau bertengkar terus menerus. Dia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan gadis itu tanpa menoleh pada sang gadis.
Disra mencoba menarik lengannya, melepas genggaman Melvin. Namun, pria itu semakin erat menggenggam tangan Disra.
"Maaf," lirih Melvin.
Dia mencoba menurunkan egonya. Tidak akan bertemu kedamaian jika salah satunya tak ada yang mengalah.
Disra menoleh pada Melvin. "Maaf kenapa?" tanyanya.
Melvin menatap dalam Disra. "Aku tahu aku salah karena naik ke ranjangmu. Namun, aku tidak mencuri kesempatan padamu. Aku tidak kuat dingin, hingga membuatku nekat naik ke ranjangmu. Aku pun tak tahu bagaimana caramu bisa berada dipelukanku. Aku minta maaf padamu jika dalam aku tidur, tanpa sadar menarikmu dalam pelukanku," papar Melvin.
Melimpahkan semua kesalahan hanya padanya. Meskipun, dia yakin tak menarik Disra dalam pelukannya. Namun, terkadang hal itu harus dilakukan oleh pria sejati.
Disra menggigit bibirnya pelan. Ya, dia mengenal dirinya sendiri. Dia tahu akan lebih lelap jika tidur dengan memeluk guling. Dia memikirkan dirinya mengusap hidungnya pada guling. Ya, dia yang menghampiri Melvin. Namun, biarkan pria itu dalam pemikirannya sendiri.
"Baiklah, aku maafkan," gumam Disra.
Melvin langsung tersenyum, dia mencium punggung tangan gadisnya.
__ADS_1
Ya, begitulah makhluk yang bernama wanita. Seberapa besar salahnya, tetap sang lelaki harus yang lebih salah dan meminta maaf. Melvin tak mempermasalahkan hal itu, selama Disra bisa terus di sampingnya.
Mungkin, jika itu wanita lain. Dia akan memilih putus hubungan dan memilih untuk tak saling kenal. Tetapi, tidak untuk Disra. Wanita yang menjadi cinta pertamanya saat dirinya masih sangat belia.