Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 62 Publikasi


__ADS_3

Melvin menghampiri Disra dan langsung merengkuh pinggang sang istri. “Saya anak tunggal. Kau, tidak bisa menjadi adik iparku,” ucapnya.


Felix hanya mendecak. Dia pun tak serius dengan kata-katanya. Jikapun Melvin memiliki adik, belum tentu dirinya mau menjadi ipar sang dosen.


“Kau tenang saja! Aku pun tak berniat menjadi iparmu!” sergah Felix. Dia melirik Disra. “Gue pulang,” sambungnya.


“Hati-hati,” ujar Disra.


Felix menyalakan mesin motor, dia melajukan kendaraanya. Sekilas melihat sang sahabat yang dirangkul sang suami melalui kaca spion. Hanya bisa mengalihkan pandangannya dan berfokus berkendara. Dia harus mengikhlaskan sahabatnya.


“Sudah tak terlihat, ayo masuk,” ujar Melvin.


Disra tak menolak saat Melvin menggiringnya ke apartemen mereka dengan tangan Melvin menggenggam pinggangnya. Disra hanya menghela napas pelan. Satu masalah terpenting sudah terselesaikan, tertinggal satu masalah lainnya, yaitu rumor menjadi wanita penggoda dosen.


“Apa sudah menyelesaikan masalahmu dengan Felix?” tanya Melvin.


“Ya, awalnya dia marah. Namun, setelah itu dia menerima bahwa kita telah menikah.”


“Baguslah. Tapi, apa kau bersahabat dengan Felix seperti itu?”


Disra menoleh, mereka sudah masuk ke dalam apartemen. “Ya, begitulah kami. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, bahwa hubunganku dengan Felix memang seperti itu.”


“Aku tahu, kau tidak memiliki perasaan wanita terhadap lelaki padanya. Aku tahu, kalian bersahabat sangat akrab. Aku pun tahu, dia sangat penting bagimu, begitupula dengan dirimu yang sangat penting baginya. Namun, aku sebagai suamimu, merasa cemburu jika laki-laki lain menyentuhmu!” tegas Melvin.


Disra hanya terdiam mendengar perkataan sang suami. Dia pernah berjanji pada sang suami untuk membatasi diri berinteraksi sentuhan dengan lawan jenis. Namun, keakraban dirinya dengan Felix, sangat sulit bagi Disra untuk menghindar dari kontak Felix.


“Aku tahu aku salah, aku akan berusaha menjaga kehormatanmu,” terangnya.


Disra menggigit pelan bibirnya. Menjaga diri adalah sebuah kehormatan suami.


Melvin hanya mengangguk, dia langsung menarik sang istri dan mulai menciumnya. Tidak peduli dengan yang terjadi hari ini di kampus. Mereka tak melakukan perzinahan, akan dihadapi olehnya esok hari.


“Tunggu, aku belum mandi,” ujar Disra seraya mendorong suaminya.


“Tidak apa. Setelah ini, baru kita mandi.”


Disra hanya pasrah dan menuruti keinginan sang suami. Melvin melihat Disra kelelahan setelah menuntaskan aktivitas malam mereka. Dia mencium kening sang istri yang terlelap.


Melvin bangkit dari tidurnya, menyelimuti sang istri lalu beralih ke komputernya.

__ADS_1


Jari Melvin begitu lancar berselancar di atas keyboard. Terdiam sejenak setelah mengetahui siapa yang menyebar video mereka. Dia kembali lagi ke samping sang istri. Mengelus kepala sang istri. Berjanji pada dirinya sendiri akan selalu melindungi Disra dari pihak manapun yang ingin menyakitinya. Termasuk dari orang yang terdekatnya yang mencoba menusuknya dari belakang.


*


"Tidak apa jika seperti ini?" tanya Disra pada Melvin yang memberhentikan mobil di depan perusahaannya.


"Aku selalu ingin menunjukkan dirimu pada semua orang. Bukankah kita sudah sepakat, untuk mempublikasikan hubungan kita pada orang kantor setelah Felix mengetahui tentang kita?"


Disra hanya mengangguk. Melvin keluar dari mobil terlebih dahulu. Lalu, dia menggandeng Disra masuk ke dalam gedung Barvia Tower.


Sepanjang perjalanan, banyak mata yang menatap mereka. "Sepertinya, kita ditatap banyak orang," bisik Disra.


"Biarkan saja. Namun, jika ada yang mengganggu, aku tidak akan tinggal diam. Aku pastikan orang yang mengganggumu tak bisa berdiri di gedung ini lagi."


Disra sedikit terkekeh. "Kau pikir ini gedungmu? Barvia Tower ini tidak hanya berisi MelgalaxyTechcnology. Melainkan perusahaan lainnya."


"Ya, benar. Barvia Tower tak hanya di tempati MelgalaxyTechcnology. Tapi, bisa saja pemilik Barvia memutus kontrak perusahaan yang menyewa."


"Jika dilakukan, pasti pinaltinya akan besar," imbuh Disra.


"Tidak masalah jika itu bisa melindungi istriku."


Disra langsung menoleh pada Melvin. "Jangan bilang padaku bahwa gedung ini milikmu?" tanya Disra tak percaya. Yang dia tahu MelgalaxyTechcnology hanya menyewa tempat.


Disra semakin melebarkan matanya. "Aku benar-benar menikah dengan seorang sultan," gumamnya.


Melvin melirik sang istri dan tersenyum manis.


"Uang dua ratus juta, tak masalah buatmu bukan?" tanya Disra, mereka kini berada di dalam lift.


"Tentu."


"Kalau begitu, tak masalah jika aku operasi hidung," gurau Disra.


"Berani kau melakukan itu?" tanya Melvin tegas.


Disra hanya terkekeh, suaminya jatuh cinta dengan hidung minimalisnya. Melvin mengantar Disra ke lantainya. Ila yang melihat itu tak kuasa untuk melebarkan matanya. Begitu pula dengan Juli yang melihat Melvin dan Disra saling bergandeng tangan.


Semua orang kantor terkejut melihat Disra datang dengan Melvin. Tak ada yang mengatakan mereka sepasang suami istri. Mereka akan menyebar undangan setelah Disra selesai sidang. Namun, Melvin tak akan menyembunyikan hubungan mereka jika ada yang bertanya.

__ADS_1


“Loe beneran, ada hubungan dengan Pak Peter?” tanya Rozak.


Disra hanya mengangguk. Mengangkat tangannya dan menunjukan cincin pernikahan. Dia tak berniat menyembunyikan pada rekan kerjanya.


“Cincin pertunangan?” tanya Juli penasaran.


Disra menggeleng. “Cincin nikah.”


“Apa?” tanya Bambang, Juli, Rozak dan Raska bersamaan.


Semua melebarkan matanya setelah mengetahui hubungan Disra dan Melvin. Saat jam makan siang, Melvin tak segan datang menemui Disra untuk mengajak makan bersama.


“Sabar ya, dia bukan jodoh loe!” ujar Bambang menepuk punggung Raska. Mereka melihat Disra dan Melvin pergi bergandengan tangan dengan harmonis.


Satu kelegaan didapatkan setelah mempublikasi hubungan mereka di kantor. Kini, Melvin dan Disra akan menghadapi yang ada di kampus. Tatapan yang tertuju pada mereka lebih banyak dibanding dengan di kantor. Terlebih, setelah video mereka tersebar. Tatapan jijik pun tak luput tertuju pada mereka.


Melvin menggandeng tangan Disra dengan erat. Bukan niat hati bermesraan, melainkan untuk melindungi sang istri. Mereka tidak ke kelas melainkan ke ruang rektor.


Melvin tak berniat mencari alasan. Dia mengakui kesalahannya karena bermesraan di ruang kantornya. Namun, dia membantah semua tuduhan yang menyudutkan Disra. Melvin menunjukan buku nikah. Setelah itu, memperbaharui statusnya di portal dosen. Menikah adalah status baru dirinya.


Pihak kampus melakukan klarifikasi dan minta maaf atas kejadian itu. Tidak ada larangan pernikahan antar mahasiswa dan dosen. Hanya saja, Melvin dipindah tugas dalam mengajar. Pria itu, tak mengajar keamanan jaringan di kelas Disra. Tak masalah bagi Melvin, asalkan nama istrinya kembali bersih.


“Tak kusangka, ternyata akan baik-baik saja,” gumam Disra.


“Memang apa yang kau pikirkan?”


“Aku membayangkan kita akan dilempar telur busuk oleh para fansmu.”


Melvin terkekeh. “Kau terlalu banyak nonton drama. Tidak ada yang akan melakukan itu.”


“Tapi, mengapa pihak kampus seperti tak terganggu akan berita video kita?”


“Aku sudah mengambil tindakan setelah tahu video tersebut. Sebelum membesar, aku sudah mengatakan langsung pada rektor dan menceritakan kronologis pernikahan kita. Karena itu, hari ini aku membawa buku nikah sebagai dokumen penguat.”


“Kau menceritakan kita yang kepergok ciuman oleh orang tuaku?” tanya Disra mengerutkan dahi.


“Tentu saja tidak. Aku hanya bilang kita menikah dan akan menggelar resepsi setelah kau lulus.”


Disra menghembuskan napasnya. “Tapi, kira-kira. Siapa yang merekam kita? Bukankah seharusnya menanyakan langsung pada kita, daripada langsung menyebarkan dengan dibumbui berita bohong!”

__ADS_1


“Kau ingin tahu pelakunya?”


Disra menoleh pada sang suami. “Kau sudah tahu siapa pelakunya?”


__ADS_2