Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 52 Kabur


__ADS_3

Disra hanya bisa memandang dinding di kamar mereka. Setelah meyakinkan Melvin dirinya baik-baik saja. Suaminya tak melanjutkan sesuatu yang seharusnya dilanjutkan.


Pikirannya berkelana. Bagaimana kehidupannya setelah malam ini? Apakah Tuhan mengatur agar dirinya fokus saja dalam menyelesaikan skripsinya? Bagaimana mungkin dia memiliki suami yang sangat polos. Apakah dirinya yang harus mengajarkan suaminya itu?


Apakah harus mengajaknya nonton blue film? Mempraktekan apa yang telah ditonton?


Disra menggeleng pelan, mengusir pikiran kotor di kepalanya. Dia bisa dikira gadis handal dalam hal itu.


Melvin hanya bisa menatap punggung sang istri. Dia menahan gejolak di dadanya, untuk menerkam gadis yang baru saja dia nikahi. Namun, dia tak ingin menyakiti gadisnya itu.


Tatapan Melvin sendu. Bagaimana mungkin orang bilang menikah itu membahagiakan hingga langit ke tujuh. Dia melihat sangat jelas Disra yang begitu kesakitan.


Lelah dengan pikiran masing-masing. Akhirnya mereka terlelap. Mulai hari di pagi hari sebagai sepasang suami istri. Berangkat kerja bersama, tetapi tetap seperti hubungan mereka sebelum menikah.


Disra akan turun di tempat yang sudah ditetapkan. Dia dan suami sudah membuat kesepakatan menyembunyikan hubungan mereka sampai Disra selesai sidang.


{Jangan lupa makan siang bersama.}


Disra hanya membaca pesan Melvin tanpa membalasnya. Dia datang ke restoran makan siang mereka sebelumnya.


Tidak ada yang spesial. Mereka hanya makan siang bersama setelah itu kembali ke rutinitas biasanya.


Disra menggunakan angkutan umum untuk menuju kampus, menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.


“Lihat Felix?” tanyanya pada Suci.


“Mana gua tahu! Elo ‘kan sahabatnya?” tanya balik Suci.


Disra hanya menghembuskan napasnya pelan. Dia tak ingin menyimpan rahasia pernikahannya pada Felix. Dia orang pertama yang harus tahu tentang pernikahannya dibanding dengan teman lainnya. Termasuk dari Suci. Felix sahabatnya dari kecil, bahkan mereka memiliki aturan persahabatan sendiri.


Dia merogoh kantong celananya, mencoba menghubungi sahabatnya. Namun, ponsel sahabatnya itu tak aktif. Perasaannya mulai khawatir, tak biasanya Felix tak mengabarinya.


“Apa dia melihat aku menikah?” gumam Disra.


Disra menggeleng pelan, dia yakin tak ada yang melihat dia menikah. dia memutuskan ke rumah Felix setelah selesai perkuliahan.


“Tante, ada Felix?” tanya Disra pada ibu Felix.


“Loh, dia ‘kan lagi ke Singapura. Emang nggak bilang kamu?” tanya balik ibu Felix.


“Kemarin ponsel saya bermasalah. Mungkin, Felix sudah memberitahu. Namun, karena ponsel bermasalah, jadi tak sampai pesannya,” jawab Disra.

__ADS_1


Ya, Felix memang beberapa kali menghubunginya. Namun, karena sibuk dengan pernikahan. Disra baru membuka ponselnya hari ini.


“Coba hubungi lagi, tadi pagi sih bisa dihubungi.”


“Berapa lama dia di Singapura, Tante?”


“Katanya seminggu, nggak tahu bisa selama itu. Kayanya kerjaannya nggak harus ke luar negri deh. Tante takutnya dia liburan nggak bilang-bilang. Kalau liburan sendiri sih nggak pa-pa, kalau bawa cewek? Tante yang pusing!” keluh Ibu Felix.


“Emang Felix punya pacar, Tante?”


“Enggak bilang punya pacar sih. Tapi, dia bilang lagi suka sama cewek.”


Disra jadi terpikir oleh ucapan Felix sebelumnya, yang disukai oleh gadis berwajah oriental. Mungkinkah gadis itu yang sedang menjalin hubungan dengan Felix?


“Mungkin aja, Tante.”


“Pacaran sih boleh, asal tahu batas saja. Apalagi kalau liburan bareng hanya berdua saja di luar negri! Siapa yang mau ngawasin? Kalau sama kamu ‘kan Tante nggak perlu khawatir. Tante tahu kalian bestie banget yang nggak mungkin saling cinta. Mau liburan ke mana juga Tante lepas. Kaya waktu itu, kalian liburan ke Jogja. Mana Tante cariin!”


“Liburan ke Jogja?” tanya Disra heran. Dia merasa tak pernah berlibur dengan Felix ke Jogja.


“Itu loh, kalian ‘kan juga pernah liburan bareng nggak bilang-bilang! Yang nggak pulang selama tiga hari!” seru Ibu Felix.


Dia dan Felix memang pernah memberontak pada orang tua mereka, saat baru lulus SMP, dan memilih kabur dari rumah ke Bandung untuk mencoba lepas dan mandiri. Namun, selama masa kabur tersebut, mereka selalu memikirkan orang tua mereka.


Berpikir bahwa orang tua mereka mencari hilangnya anak mereka hingga hampir gila. Namun, saat Felix dan Disra pulang dari Bandung. Ternyata, tak ada yang mencari mereka. Orang tua masing-masing mengira mereka telah liburan bersama saja hingga tak mencarinya.


“Oh iya, Tante lupa.”


“Ya udah Tante, aku pamit pulang dulu,” ujar Disra seraya menarik tangan ibu Felix dan mencium punggung tangannya. Dia kesal jika mengingat hal itu. Seolah dirinya diabaikan hingga kabur disangka liburan.


“Hati-hati. Oh ya, terima kasih oleh-oleh dari Thailand-nya. Banyak sekali kamu kasih.”


“Iya Tante ga pa-pa. Aku pamit ya.”


Disra memesan taxi, dia akan pulang ke apartment. Ingin mampir ke rumahnya sendiri. Namun, diurungkan karena sudah larut.


Dia mencoba menghubungi Felix. Belum menyentuh icon call. Ponselnya sudah berdering. Panggilan telepon dari sang suami.


“Kamu di mana? Aku menunggumu di kampus. Tapi, kau tak ada,” ujar Melvin di seberang telepon.


“Iya, aku pulang duluan,” jawab Disra.

__ADS_1


“Sekarang di mana?”


“Lagi naik taxi menuju apartemen.”


“Memang dari mana?”


“Nanti aku beritahu sampai di rumah, kita bertemu di rumah ya,” jelas Disra.


Dia tak akan mengatakan pada Melvin dirinya baru saja dari rumah Felix. Dia tahu suaminya pencemburu. Dia akan mengatakan setibanya dirumah dan berbicara dengan kepala dingin.


Disra, sampai rumah langsung menceritakan tentang dirinya dengan Felix. Seberapa jauh dia dan Felix bersahabat dan segala aturan persahabatan yang mereka buat. Namun, Disra tak mengurai isi dari aturan tersebut.


Melvin mengerti perasaan Disra yang membohongi sahabatnya. Dia akan berdiri di samping istrinya untuk mengatakan hubungan mereka pada Felix.


“Ya, dia orang pertama yang harus tahu tentang pernikahan kita,” ujar Melvin.


Melvin setuju dengan Disra agar Felix tahu status perkawainan mereka. Bagi Melvin, sahabat istrinya itu memnyimpan perasaan khusus pada Disra.


“Terima kasih ya, kau tidak melarangku bersahabat dengan Felix. Aku takut setelah menikah kau akan mengekang ku. Tapi ternyata, kau sangat pengertian,” puji Disra dengan menyimpulkan senyum manis.


“Yang terpenting, ada batasan saja di antara persahabatan kalian,” ucap Melvin.


“Ya. Pasti.”


“Sayang,” ujar Melvin.


“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”


“Kenapa? Di kantor atau di kampus kita harus menyembunyikan hubungan kita. Apa di rumah pun juga harus seperti itu?”


Disra menggeleng. “Bukan itu. Hanya belum terbiasa.”


“Nanti akan terbiasa. Aku harap, kau pun memanggilku ‘sayang’ juga,” harap Melvin.


Disra hanya bisa menyinggungkan senyum. Dia masih belum nyaman untuk memanggil Melvin dengan sebutan ‘Sayang’.


Melihat Disra yang tersenyum manis, tampak menggemaskan di mata Melvin. Dia mendekatkan wajahnya pada sang istri. Disra tak menolak saat Melvin mulai menyentuhkan bibir mereka.


Baru hitungan detik, ponsel Disra berdering. Disra langsung mendorong Melvin.


“Felix melakukan panggilan video call!” ujar Disra.

__ADS_1


__ADS_2