Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 65 Menuju Pernikahan


__ADS_3

Melvin hanya bisa memajukan bibirnya kesal. Dia tak terima kenyataan bahwa, ada pria yang mencintai istrinya karena ingatan masa lalu seperti dirinya.


“Sayang, kenapa cemberut mulu sih?” tanya Disra.


“Kenapa kau menolongnya?” tanya Melvin meninggikan suara.


“Siapa? Kak Danang?”


“Siapa lagi!”


“Apa salah menolong orang? Lagi pula, itu sudah sangat lama, saat aku masih SMP. Kata ayah dan ibu, jadi manusia harus bersikap baik. Saling tolong menolong antar umat manusia. Kalau tentang masalah perasaan. Aku tidak tahu itu. Aku hanya sebatas menolong. Jika, aku tidak membantumu, apa kita akan bersama sekarang?”


Melvin tertegun, perkataan istrinya benar. Mereka bertemu karena penculikan dirinya. “Ya, kau benar.”


Disra memicingkan matanya. “Seharusnya, aku yang meragukan ketulusanmu. Aku jatuh cinta padamu saat aku tak mengingat masa lalu kita. Sedangkan dirimu, kau menyukaiku karena aku pernah menolongmu di masa lalu. Perasaanmu itu, rasa cinta atau hanya perasaan hutang budi?” tegas Disra.


“Mana ada hutang budi! Aku benar-benar mencintaimu.”


“Ish! Seandainya aku tidak menolongmu dari para penculik itu. Mungkin, kita tak akan bersama, apalagi jika dilihat aku yang tidak cantik bersanding denganmu!”


Melvin langsung menarik pinggang sang istri. Dia muak jika istrinya menganggap tak pantas berada di sampingnya.


“Kau adalah wanita yang paling pantas berada di sampingku. Siapa dirimu yang menentukan hati orang akan berlabuh? Kita memang memiliki kenangan masa lalu. Namun, apa kau lupa kita dipertemukan karena perseteruan kita sebagai pelanggan dan agent call center? Itu sudah merupakan petunjuk bahwa kita berjodoh. Aku memang berambisi memilikimu. Namun, bukan karena kau berjasa di hidupku. Melainkan karena aku mencintaimu. Aku jatuh cinta pada tatapanmu. Tatapan sendumu, senyum tulusmu, membuatku sadar bahwa aku mencintaimu.”


“Kalau kau menganggap cintamu tulus padaku. Menganggap cintamu besar untukku. Maka, jangan pula meragukan cintaku. Karena, aku pun mencintaimu. Aku rela berbohong akan hubungan kita pada sahabatku, yang selama ini tak pernah kulanggar, dan itu semua karenamu.”


Melvin tersenyum. “Kalau begitu, kita hanya harus menjaga cinta kita.”


“Ya.”


***


Melvin menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka. Sedangkan Disra disibukan dengan skripsinya. Hanya tinggal menunggu jadwal sidang. Melvin, menemani sang istri yang akan sidang.


“Jangan gugup. Santai saja,” ujar Melvin.


Disra hanya mengangguk, sidang berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala dalam kehamilan Disra. Namun, Melvin tetap sangat perhatian terhadap sang istri.


“Sayang, kita test food sabtu ini ya? Sekalian lihat tema-nya sudah sesuai dengan keinginanmu tidak. Baju pernikahan juga belum dipilih.”


“Udah, kamu atur saja,” ujar Disra santai. Dia sedang bermain game online di ponselnya. Entah mengapa, dirinya jadi menyukai permainan game online semenjak hamil.


“Ayah dan Ibu masih tinggal di apartemen, sepertinya seminggu lagi baru bisa menempati rumah,” tutur Melvin lagi.


Dia merenovasi rumah mertuanya, sementara direnovasi, Melvin memberikan sebuah apartemen untuk dihuni mertua dan adik iparnya.


“Iya, tidak apa,” ujar Disra tanpa menoleh pada Melvin. Dia masih asik bermain game online.

__ADS_1


“Sayang, nuansa resepsi nanti. Mau berwarna, atau putih semua?”


“Apa saja. Terserah dirimu saja.”


Melvin melempar pelan ipad yang sedang dipegangnya. “Yang menikah kita berdua, bukan hanya aku! Setidaknya, kau utarakan apa yang kau mau. Seolah hanya aku yang antusias akan pernikahan kita!” keluh Melvin.


Disra hanya menghela napasnya panjang. Suaminya lebih sensitif selama dirinya hamil. “Bukan begitu, Sayang. Aku itu bukan tipe wanita yang ribet. Jadi, aku akan suka apapun pilihanmu,” terang Disra.


“Tapi setidaknya, beri aku masukan.”


“Baik-baik. Untuk baju nikah, biar aku yang putuskan.”


“Benarkah?”


“Tentu.”


“Oh, ya. Kita menginap di rumah ayah dan ibu ya jika sudah selesai di renovasi?”


“Boleh,” ujar Disra lembut.


Melvin sangat menyayangi mertuanya, semua yang diinginkan Tina atau pun Dika adik iparnya, diwujudkan oleh Melvin. Yang sering mengajak bertemu dengan Tina dan Roni pun adalah Melvin.


Terkadang, Disra yang tak setuju suaminya terlalu memanjakan keluarganya. Dia tak ingin keluarganya menjadi sombong karena kemudahan dan fasilitas yang diberikan oleh suaminya.


*


*


*


Saat ini, mereka sudah berada di kediaman Roni dan Tina.


Melvin hanya tersenyum, dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri dan juga keluarganya.


“Ini sudah boleh Ibu sebar?” tanya Tina.


“Tentu, Ibu boleh mengundang berapapun tamu undangan,” jelas Melvin.


“Ish! Nanti gedungnya tak muat!” dengus Disra.


“Kita akan menikah di gedung dengan kapasitas 2.000 orang. Jadi, jangan takut tak muat.”


“Sebanyak itu?” tanya Disra tak percaya.


“Bukankah aku sudah bilang padamu? Kau saja yang tak peduli dengan pernikahan kita!” dengus Melvin.


Tina menyenggol anak perempuannya. “Kau ini bagaimana? Suamimu sudah sangat baik. Kau seperti tak menghargainya. Kalau diambil wanita lain bagaimana? Jangan kau pikir wanita cantik berhati busuk. Banyak pula wanita cantik yang memiliki hati yang cantik. Jika ada ada wanita seperti itu di dekat suamimu. Aku yakin, suamimu bisa berpaling darimu,” bisik Tina.

__ADS_1


“Ibu! Kenapa mendoakan seperti itu!”


“Tidak ada wanita berhati cantik yang merebut suami orang,” ujar Melvin memotong obrolan Disra dan Tina.


Disra hanya menoleh menatap suaminya. Memandang sang suami dengan lembut, benar yang dikatakan ibunya bahwa dirinya seperti tak menghargai suaminya. “Tidak ada yang akan merebutmu dariku. Benarkan?”


Melvin bergeser, mendekati sang istri. “Karena hatiku sudah diikat olehmu,” ujarnya tersenyum.


Melvin menoel hidung sang istri, lalu mendekatkan wajah mereka. Seketika, Melvin menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.


“Aish! Bisakah kalian pulang saja dan tidak bermesraan di sini!” hardik Dika.


Tidak sekali dia melihat kakak dan kakak iparnya berciuman. Tina hanya tersenyum sedangkan Roni hanya menggeleng kepalanya.


Disra dan Melvin pamit meninggalkan rumah Tina dan Roni, perut Disra yang mulai membuncit, membuat Melvin lebih perhatian lagi.


“Hati-hati,” ujar Melvin menggandeng tangan Disra saat menuruni anak tangga di teras rumah Tina.


“Disra,” panggil Dewi, seorang tetangga Tina.


“Eh, Ibu Dewi,” sapa Disra.


“Kamu lama nggak kelihatan,” ucap Dewi melirik pada Melvin yang ada di samping Disra.


“Iya, sibuk kerja dan ngurus skripsi.”


“Kata ibu kamu, kamu mau nikah ya?”


“Iya Bu. Minggu depan.”


“Ini calon suami kamu?” tanya Dewi menunjuk Melvin dan diberi senyum oleh sang pria sebagai tanda hormat.


“Iya, ini suami saya.”


“Kok buru-buru nikahnya? Lulus kuliah juga belum,” ujar Dewi melirik ke perut Disra.


“Nggak buru-buru. Sudah kesepakan saya dan suami.”


“Udah nabung duluan ya?” tanya Dewi dengan tatapan meremehkan sembari melirik perut Disra.


Disra menggigit bibir dalamnya, karena kesal dengan ucapan Dewi yang menuduhnya hamil duluan. Berbeda dengan Melvin yang tampak santai.


“Kami tidak perlu menabung, karena aku sanggup membuat pesta pernikahan impian istriku,” ujar Melvin sombong, yang menganggap kata ‘nabung’ bermakna mereka tak memiliki biaya untuk nikah.


Disra hanya mengerutkan dahinya melihat kepolosan sang suami. Dia mengeluarkan kartu undangan dari dalam tasnya.


“Ini undangan untuk Bu Dewi, di sana tertera tanggal kami akad nikah dan juga resepsi. Bisa dilihat jarak akad dan resepsinya. Jadi, bisa dilihat sendiri, saya hamil di luar nikah atau tidak!” tegas Disra.

__ADS_1


__ADS_2