
Disra memegang dadanya sendiri yang berdebar. Ciuman yang berlangsung cukup lama dan disadari oleh keduanya. Tak ada paksaan, dirinya pun rela disentuh pria itu.
"Bagaimana ini?" lirih Disra.
Aku mencintaimu.
Kau pun mencintaiku.
Mulai sekarang, kau milikku!
Ucapan Melvin mengiang di telinga Disra. Apakah benar yang dikatakan oleh Melvin bahwa dirinya mencintai dosen muda itu?
Dia menutup mata, mencoba untuk melupakan malam ini. Namun, bayangan itu, ciuman itu masih sangat terasa. Disra membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Dia malu meskipun di dalam kamar tidak ada orang lain.
Ponselnya berdering, nama Melvin tertera di sana.
"Hallo," sapa Disra.
"Sudah mau tidur?" tanya Melvin.
"Lagi, mau tidur," jawab Disra.
Melvin terdiam sejenak. "Aku sudah merindukanmu," ujarnya jujur.
Disra tersenyum, hatinya sedang berbunga. Entah mengapa dia bisa menyukai pria menyebalkan seperti Melvin.
"Kenapa tak menjawab? Apa kau juga merindukan ku?" tanya Melvin.
"Ehem, aku sudah mengantuk," ujar Disra. Dia masih malu untuk mengakui perasaannya sendiri.
"Baiklah, besok aku jemput kamu."
"Iya. Jemput seperti tadi pagi."
"Baiklah," ujar Melvin.
Dia ingin protes karena Disra masih menyembunyikan hubungan mereka. Namun diurungkan, mereka baru berbaikan. Melvin akan membuat Disra mengakuinya sebagai kekasih.
"Kalau begitu, aku tidur dulu," ujar Disra.
"Ya, mimpi indah."
"Kau juga."
Mereka memutuskan sambungan telepon. Disra mulai menutup matanya seraya menyentuh dadanya yang berdebar.
Melvin tersenyum, merebahkan dirinya di ranjang dan mulai masuk ke alam mimpi. Bayangan 13 tahun lalu hadir di mimpinya.
"Apa ada orang di dalam?" tanya Disra kecil berusia 8 tahun.
"Tolong," lirih Melvin yang usianya terpaut 3 tahun lebih tua dari Disra.
Disra menempelkan telinganya ke jendela yang terbuat dari kayu. Mencoba mendengar suara dari dalam kamar itu.
Disra sedang berada di desa neneknya. Dia dan keluarganya sedang berlibur di kampung halaman. Jarak antar rumah penduduk cukup jauh. Banyak semak pepohonan yang menjadi batas antar rumah.
"Tolong," lirih Melvin lagi.
"Apa ada orang?" tanya Disra meninggikan suaranya.
"Ya, tolong," ujar Melvin lemah.
"Apa Kakak sedang dikurung?" tanya Disra polos.
Melvin terdiam, mendengarkan seorang gadis kecil yang terdengar sangat lugu. "Ya," jawabnya.
"Aku juga pernah dikurung ibuku. Katanya karena aku nakal. Jadi, ibuku mengurungku di kamar," ujar Disra.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan hingga dikurung?" tanya Melvin dengan mengumpulkan kekuatan.
Disra terdiam sejenak. "Emm, aku mengatakan apa yang tak boleh dikatakan," jelasnya.
"Apa itu?" tanya Melvin penasaran.
"Yang tidak boleh dikatakan," jelas Disra lagi.
"Iya, mengatakan apa?" tanya Melvin semakin penasaran.
"Tidak mau, kalau aku mengatakan lagi artinya aku akan mengulang kata yang tak boleh dikatakan lagi. Nanti, aku dihukum ibuku lagi kalau mengatakannya," jelas Disra.
Hanya kata 'Bego!' yang diucapkan oleh Disra saat kesal dengan teman satu groupnya karena kalah dalam permainan.
Hal itu didengar oleh Tina dan membuatnya menghukum Disra yang telah memaki temannya dengan kata 'Bego!'.
Melvin tidak memaksa Disra mengatakannya. "Lalu, sekarang kau tidak pernah mengatakan itu lagi?"
"Iya. Kalau Kakak, dihukum karena apa?" tanya Disra.
"Sama sepertimu, mengatakan yang tidak boleh dikatakan," jelas Melvin.
Dia mengurungkan niat untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Disra bahwa dirinya sedang diculik. Dia takut menakuti gadis itu.
"Oh, jadi kata-kata itu sangat terlarang untuk dikatakan. Apa Kakak makan hanya sedikit? Atau sedang sakit? Suara Kakak sangat lemah, wajah Kakak juga sangat putih pucat," ucap Disra.
Dia hanya bisa melihat sebagian wajah Melvin dari sela jendela. Dia tak melihat kaki Melvin yang terikat.
"Ya, aku makan hanya sedikit." Melvin tidak makan selama tiga hari. Para penculik meninggalkannya selama itu.
Orang tua Melvin sangat sibuk. Namun, bukan berarti Melvin terlahir dari keluarga konglomerat. Dia hanya seorang anak dari pengusaha biasa. Ditinggal sendiri di rumah sudah biasa bagi Melvin dan selama orang tuanya pergi dinas, tak ada komunikasi apapun, termasuk via telepon.
Orang tuanya tidak mengetahui anaknya telah diculik. Terlebih lagi, orang tuanya sedang di luar negri. Sedangkan para penculik. Hanya sekelompok penjahat amatiran hingga tak mengerti menghubungi orang tua Melvin di luar negri.
Melvin dikurung di sebuah rumah kosong, di sebuah desa. Sang penculik sudah diberitahu nomor telepon orang tuanya. Namun, entah karena bodoh atau sengaja, sang penculik tidak berhasil menghubungi orang tua Melvin.
Melvin meraih cokelat tersebut dan mulai membuka cokelat dan melahapnya. "Apa kau tinggal di daerah sini?" tanya Melvin.
"Tidak. Ini kampung nenekku, aku hanya berlibur."
"Bisa kau bilang orang tuamu bahwa ada aku di sini?" pinta Melvin.
"Iya, besok aku akan bilang pada ibuku," terang Disra.
Disra kecil pamit dan kembali ke tempat Melvin keesokan harinya. "Kak," bisik Disra di jendela.
Melvin menoleh, dia menutupi kakinya yang di ikat agar Disra tak melihatnya. Dia menatap wajah imut gadis kecil yang datang menghampirinya.
"Kau sudah datang?"
"Iya," jawab Disra.
"Kau sudah bilang orang tuamu?"
"Sudah, tapi aku malah dilarang orangtuaku untuk ke sini," jelas Disra. "Aku datang diam-diam dan membawa banyak makanan untukmu," tambahnya seraya memberikan makanan yang dia bawa untuk Melvin. Makanan yang lebih banyak cemilan daripada makanan karbohidrat.
"Kenapa?" tanya Melvin. Dia sangat berharap orang tua Disra datang untuk menolongnya. Karena para penculik sedang tidak ada di tempat itu. Melvin sudah pernah berteriak minta tolong. Namun, tidak ada yang mendengarnya.
Ya, rumah tempat dia dikurung memang memiliki jarak yang jauh dari jalan.
"Ibuku bilang, rumah ini sudah lama tak berpenghuni karena penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Aku dilarang datang ke sini karena katanya banyak hantu!" seru Disra. "Dia marah saat tahu aku datang ke sini. Aku sudah bilang, kalau ada kakak dengan wajah pucat di rumah ini. Tapi, ibuku bilang, aku salah lihat. Aku hanya boleh berteman dengan yang ibuku juga mengenalnya," papar Disra.
Disra, memiliki nama asli Angel. Pergantian nama dilakukan karena saran seseorang. Disra sering sakit saat masih kecil dan saat sakit pula. Disra akan melihat sesuatu yang orang lain tak lihat. Karena itu, Disra dilarang berteman dengan orang yang tak dikenal ibunya.
Ya, itu cara Tina agar anaknya tak sembarangan berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata.
Percaya atau tidak. Saat Disra kecil sering histeris dan berbicara sendiri. Dia bahkan tak bisa membedakan yang berinteraksi dengannya manusia atau bukan. Namun, semakin dirinya beranjak dewasa kemampuannya itu tak lagi ada di dalam dirinya. Ya, Disra sudah menjalani hari seperti orang normal lainnya.
__ADS_1
Namun, terkadang dia bisa merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata. Tetapi, itu semua hanya dalam bentuk perasaannya saja.
"Apa?" tanya Melvin tak percaya akan yang diucapkan gadis itu. "Lalu, kenapa kau masih datang ke tempat ini?"
"Karena hantunya ganteng kaya Kakak," puji Disra tanpa rasa takut.
Melvin hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia harus membujuk Disra lagi untuk menyakinkan bahwa ada orang yang dikurung di rumah ini.
Belum Melvin mengatakan pada Disra. Terdengar seseorang membuka kunci. Melvin sedikit takut. Bukan karena cerita hantu Disra, melainkan yang datang para penculik. Dia tak ingin melibatkan Disra.
"Pergilah dari sini," ujar Melvin. "Jangan bersuara, pergi dengan senyap," tambahnya.
"Aku tidak boleh datang ke sini?" tanya Disra.
"Ya, jangan datang lagi ke sini," ujar Melvin.
Disra mematuhi perintah Melvin dan pergi dari rumah tersebut. Sang penculik datang hanya untuk mengecek keadaan Melvin yang masih bernyawa atau tidak. Setelah itu, pergi meninggalkan Melvin.
Setelah kepergian sang penculik. Melvin melahap semua makanan pemberian Disra. Dia harus mengumpulkan tenaga agar bisa keluar dari tempat itu. Ya, dirinya sengaja tak diberi makan oleh para penculik agar Melvin lemas.
Melvin mengumpulkan tenaganya. Keesokan hari, dia berhasil melepas ikatan di kakinya. Membuka lebar jendela dan keluar dari rumah tersebut.
Melvin berlari dari rumah itu. Dari kejauhan, dia mendengar langkah kaki orang yang berlari. Dia yakin, para penculik sudah mengetahui dirinya yang melarikan diri.
Melvin semakin kencang berlari. Usia 11 tahun, meskipun dia memiliki ilmu bela diri. Namun, melawan 3 orang dewasa, dirinya masih belum mampu. Terlebih, saat itu tubuh Melvin termasuk kecil, tidak seperti sekarang yang tumbuh tinggi dengan tubuh yang lumayan atletis.
Tak peduli dengan kaki yang terluka karena duri dari tanaman liar. Yang dipikirkannya, hanya ingin segera keluar dari tempat itu.
Hingga, dia mendengar makian dari salah satu penculik dari jarak yang jauh. Saat Melvin mulai kelelahan dan mulai kehilangan kesadarannya. Dia luruh ke tanah.
Seseorang menghampirinya, orang itu adalah Disra. Gadis itu turun dari sepeda lipatnya dan mendekati Melvin.
"Kakak!" seru Disra.
"Pergilah," ucap Melvin. Dia tak ingin para penculik datang dan ikut menangkap Disra.
Namun, kali ini sang gadis kecil tak mematuhi Melvin. Dia memapah Melvin untuk duduk di bangku belakang sepeda lipatnya.
Sepeda lipat sedang yang bisa ditumpangi oleh dua orang. "Kita ke rumah nenekku, Kak."
Disra mengayuh sepedanya secepat mungkin. Melvin menoleh ke belakang, tatapannya ke semak belukar. Tidak lama, para penculik keluar dari semak.
Hati Melvin gusar, tempat itu sangat sepi. Para penculik mulai berlari saat melihat dirinya. Disra semakin cepat mengayuh. Melvin tak tega melihat Disra yang kesusahan mengayuh sepeda.
Meskipun usia Disra masih 8 tahun. Namun, tubuhnya dengan Melvin tak beda jauh, Melvin hanya lebih tinggi sedikit dari Disra. Entah karena seorang perempuan yang lebih cepat pertumbuhannya atau Melvin yang memiliki pertumbuhan yang lebih lambat.
Tak lama, para penculik memegang lututnya, pertanda mereka lelah mengejar.
Melvin bisa bernapas lega. Dia tersenyum smirk. "Terima kasih," ucap Melvin.
"Terima kasih apa?" tanya Disra yang masih mengayuh sepedanya.
"Karena telah menolongku."
"Tidak masalah, aku ingin memperkenalkan Kakak pada orang rumah bahwa Kakak adalah hantu baik," ujar Disra.
Melvin hanya tersenyum mendengar penuturan Disra. Gadis polos yang masih mengira dirinya adalah hantu.
Disra tak bohong. Melvin di bawa ke rumah neneknya. Saat itu, orang tua Disra sedang ke pasar hingga hanya tertinggal sang nenek di rumah.
Sang nenek langsung menelpon ke kantor polisi. Melvin berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke rumah oleh polisi. Dari kejadian penculikan itu, orang tua Melvin mulai mengurangi kesibukannya. Namun sayang, kebersamaan dengan orang tuanya tak lama, karena Tuhan lebih menyayangi orang tua Melvin. Karena itu, Melvin tak pernah mempermasalahkan karyawannya izin untuk keperluan keluarga.
Melvin, tak pernah sekalipun melupakan wajah Disra kecil. Dia sudah tertarik dengan gadis itu. Bukan karena telah menyelamatkan nyawanya. Namun, perasaan itu tumbuh saat pertama kali melihat gadis kecil itu.
Sehingga, membuat Melvin mencarinya selama bertahun-tahun. Dia sudah mencoba mencari Disra ke rumah neneknya. Namun, sang nenek telah pindah rumah dan Melvin tak mendapat informasi tentang Disra lagi.
Takdir mempertemukan mereka saat Melvin menjadi pelanggan internet di tempat Disra bekerja.
__ADS_1