Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 58 Keistimewaan Hidung Minimalis


__ADS_3

Disra hanya memajukan bibirnya sepanjang perjalanan. Melvin dengan tegas menolak permintaannya untuk oprasi hidung.


“Sayang, jangan cemberut terus,” ujar Melvin.


“Siapa yang cemberut?” ketus Disra.


“Kau sudah sangat cantik, tidak perlu ada yang diubah lagi. Jika ingin perawatan, lakukanlah. Namun, tidak boleh ada yang diubah,” jelas Melvin.


Disra menoleh. “Aku hanya ingin memperbaiki hidungku.”


“Ada apa dengan hidungmu? Itu sudah bagus.”


“Kau tidak tahu perasaanku. Kau tidak tahu saat orang-orang mengataiku pesek. Aku bisa tegas menangkis bully dari orang-orang itu. Tapi hatiku sakit!” keluh Disra.


Melvin menepikan mobilnya, berhenti di bahu jalan. Dia menatap sang kekasih. “Di mataku kau sudah sangat cantik. Kau lebih cantik dari putri kecantikan manapun. Apa kau ingin berubah karena ingin dipuji orang lain? Apa kau tidak bersyukur atas apa yang yang telah diberikan oleh Tuhan? Kau istriku, kau hanya perlu menunjukan kecantikanmu padaku.”


“Tapi, aku jadi merasa tak pantas bersanding di sampingmu!” keluh Disra.


“Siapa yang menentukan pantas atau tidak? Yang menjalani hidup adalah kita. Tidak perlu memikirkan orang lain mengatakan pantas atau tidak! Fokuslah dengan rumah tangga kita sendiri. Cantik atau tampan, itu hanya penilaian manusia. Yang perlu kau tahu, aku mencintaimu. Sangat, sangat mencintaimu.”


Disra hanya bisa menunduk. Perkataan Melvin mirip dengan perkataan ayahnya yang mengatakan dirinya lebih cantik dari Miss Universe. Apa mungkin dia sespesial itu di mata Melvin dan ayahnya?


*


*


*


Sampainya di kampus, Disra hanya terdiam, mengingat perkataan sang suami yang mencintainya tak peduli dengan kondisi hidungnya.


“Ci, emang standart kecantikan wanita itu dilihat dari hidung ya? Gua pernah denger, kalau hidung bagus maka dipastikan wanita itu cantik,” ucap Disra pada Suci.


“Huft! Ha ha ha!” Suci tertawa mendengar celoteh Disra. “Kata siapa? IU soloist Korea, tahu ‘kan loe?”


“Iya tahu, yang maen Hotel De Luna ‘kan?”


“Iya bener. Menurut gua dia cantik.”


“Emang cakep! Banyak artis cowok yang naksir dia juga.”


“Nah itu loe ngakuin dia cantik! Dia itu memiliki hidung yang mungil, nggak ada mancung-mancungnya. Tapi cantik ‘kan? Oh ya, kalau loe lihat film barbie, coba deh lihat betul-betul. Barbie itu nggak mancung loh, tapi cantik dan disukai semua anak perempuan. Jadi, standart cantik itu bukan hidung!”


“Terus apa dong?”


“Hati, standart kecantikan adalah memiliki hati yang baik,” jawab Suci dengan nada tenang dan damai seolah ada sayap putih di punggungnya.

__ADS_1


“Daebak! Nggak nyangka loe punya pemikiran yang berlian!” puji Disra bertepuk tangan.


“Lebih tepatnya sih penyangkalan pada diri sendiri, bahwa cantik itu dari hati. Kalau dilihat, hidung gua lebih mancung dari loe. Tapi, dari beberapa pria yang gua lihat. Mereka naksir loe dari pada gue!” tandas Suci.


“Ngaco! Mana ada!” elak Disra.


“Loe aja yang nggak tahu. Cowo yang mau deketin loe itu mundur gara-gara loe itu deket sama Felix. Mereka pikir loe pacaran sama Felix!” seru Suci.


“Tahu dari mana?”


“Kalau mereka nggak nanya sama gua sendiri nie ye, gua nggak akan tahu. Mereka nanya sama gue. ‘Itu pacar Disra ya?’pokoknya banyak deh yang nanya. Gua rasa, Pak Melvin juga suka sama loe! Pas ngajar kemarin, gua lihat dia curi-curi pandang sama loe!”


Disra tersendak mendengar kalimat terakhir Suci. Namun, dia bisa mengontrol dirinya. “Udah gua bilang, seleranya dia itu cewek berhidung minimalis!” ujarnya dengan nada bercanda.


Mereka tertawa bersama. Hingga, salah satu teman sekelasnya memanggil Disra.


“Dis, loe dipanggil Pak Melvin untuk ke ruangannya.”


“Kenapa?”


“Mana gua tahu!”


Disra hanya menatap Suci sekilas lalu beranjak pergi ke ruangan Melvin. Dia menemui sang suami.


“Sore, Pak Melvin,” ujar Disra.


Melvin menggendong sang istri tanpa melepas tautan bibir mereka. Melvin mendudukan sang istri ke meja.


“Sudah,” ucap Disra seraya mendorong sang suami. “Bisa kita lanjutkan di rumah,” tambahnya.


“Tapi aku kangen. Selepas kau pulang dari Bogor. Kau cemberut saja padaku. Tadi aku lewat kelasmu, kau bisa tertawa lepas pada teman-temanmu. Tapi, kau cemberut padaku.”


“Ish, itu ‘kan hanya kesal padamu yang tak memberiku izin benerin hidung! Untuk apa memberiku banyak uang tapi tak bisa aku gunakan!”


“Emang hidungmu rusak sampai harus dibenerin? Kamu bisa menggunakan semua uangku. Tapi, tidak aku izinkan untuk mengubah yang ada pada dirimu!”


“Kau tidak keberatan dengan hidung minimalisku?”


Melvin menatap dalam sang istri. “Sudah sangat cantik, tidak perlu ada yang diubah. Lagi pula, hidungmu ini punya keistimewaan tersendiri.”


“Keistimewaan apa dengan hidung pesek gini?”


“Mau tahu?”


“Ya.”

__ADS_1


Disra mensejajarkan wajahnya depan Melvin. Sang suami menghembuskan napasnya pelan, Melvin memiringkan sedikit kepalanya. Lalu, dia mengecup bibir candu sang istri.


Cup!


“Lihat tidak keistimewaannya?”


“Apa?” tanya Disra bingung.


“Keistimewaannya, aku bisa menciummu tanpa harus memikirkan hidung kita yang bertabrakan. Jadi, bisa langsung tepat sasaran pada bibir manismu.”


Pluk!


“Brengsek! Kau mau menghinaku!”


“Tuh ‘kan, kalau hatimu ke arah yang negatif, perkataan apapun yang keluar dari mulutku akan kau anggap sebagai hinan. Bahkan kau sampai mengatakan kata kasar pada suamimu ini,” ujar Melvin tegas. Namun, tidak ada kemarahan di dalamnya.


Disra menggigit pelan bibirnya. “Maaf, aku tak akan mengulanginya lagi.”


“Tidak perlu minta maaf, hanya tak perlu diulangi lagi.” Melvin mendekatkan wajahnya pada sang istri. “Cantik. Sangat cantik.”


“Apa sih!” ujar Disra menunduk malu.


Melvin mengangkat dagu sang istri. “Kenapa? Kau memang cantik.”


“Emm, aku boleh tidak melakukan perawatan wajah dan tubuh? Tidak melakukan prosedur oprasi, hanya perawatan saja.”


“Tentu saja boleh.”


“Benar?” tanya Disra antusias. Dia sangat ingin seperti di drama-drama yang melakukan banyak perawatan kecantikan. Namun, dia terbatas masalah biaya.


“Tentu saja, asal jangan ada yang diubah dari dirimu.”


“Boleh aku mengajak Suci? Biar nggak bosan saat manicure pedicure.”


“Iya boleh.”


Cup!


Melvin mengecup bibir Disra sekali lagi dan tepat sasaran. “Tuh ‘kan enak diciumnya selalu tepat!”


Disra mencubit perut sang suami. “Curi-curi kesempatan mulu!”


Melvin menarik tengkuk sang istri lalu mulai mencium sang istri lagi. Tubuh mereka tak berjarak dengan bibir yang saling tertaut. Mereka lupa sedang berada di dalam kampus.


Jika ada kesempatan, Melvin memang memanfaatkan untuk bermesraan dengan sang istri meskipun, hanya sekadar pelukan dan ciuman. Namun, kali ini, ciuman mereka berlangsung cukup lama.

__ADS_1


Klik! Satu buah photo terekam pada sebuah ponsel. Dua orang yang saling berciuman, tidak mengetahui ada orang lain yang sedang merekam aksi mesra mereka.


__ADS_2