Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 25 Dinas


__ADS_3

Disra mendapat jadwal untuk pembuatan paspor. Dia datang ke kantor Imigrasi, pertama membuat paspor, dirinya sedikit bingung. Dia menunggu nomor antriannya dipanggil. Meskipun sudah mendapat kuota untuk hari itu. Namun, tetap harus mengantri, karena petugas melayani yang datang terlebih dahulu.


Dia keluar dari kantor imigrasi setelah urusan selesai, membutuhkan kira-kira empat hari untuk mendapatkan paspornya. Tidak masalah baginya, dirinya belum tentu ikut dengan tim ke Thailand. Dia menuju kampusnya, menjalani hari seperti biasanya.


“Dis, buat paspor susah nggak ya?” tanya Suci.


“Gampang, daftar online aja dulu biar dapat qouta. Jadi nggak usah bolak-balik Imigrasi,” jelas Disra.


“Beneran gampang?” tanya Suci ragu.


“Benar! Tadi gua abis bikin, empat hari lagi paling jadi!”


“Ha? Loe bikin paspor? Emang mau ke luar negri?”


“Nggak tahu, Cuma disuru bikin, ya udah gua bikin aja,” jelas Disra.


“Enak banget sih jalan-jalannya ke luar negri! Ini gua mau bikin karena rencananya temen-temen kantor gua ngajak ke Singapura. Bukan dari kantor, hanya rencana pribadi.”


“Kata siapa gua jalan-jalan? Dinas cuy! Presentasi ke klien. Tapi, itu juga belum tentu gua ikut, gua itu hanya junior. Masih banyak senior lainnya. Gua bikin hanya untuk cadangan kalau salah satu senior nggak bisa hadir,” papar Disra.


“Tetep aja ada kesempatan ke luar negri,” timpal Suci.


“Iye, makannya cepet pindah kerja! Jangan jadi resepsionis mulu!”


“Ih, maunya sih. Pengen ngelamar jadi marketing aja nih gua.”


“Marketing apa? Harus pinter ngomong kalau mau jadi marketing.”


“Apa aja dech, katanya gaji marketing gede.”


“Nggak semua gaji marketing gede! Harus dilihat dulu jenis marketingnya.”


“Eh, udah ada dosen,” ujar Suci.


Hari ini jadwal kelas mereka adalah mata kuliah praktek javascript, ruang belajar berada di dalam lab komputer. Tidak sulit bagi Disra mengikuti kelas. Dia dan Suci duduk bersebelahan.


Dosen menerangkan If dan Else, string dan lainnya dalam javascript. Setelah itu memberikan tugas dengan output yang sesuai dengan yang diinginkan. Disra mulai mengerjakan tugas yang menurutnya masih sangat sederhana. Terlebih, dia cukup menguasai bahasa pemograman C++ yang menurutnya tak begitu jauh dengan bahasa pemograman javascript. Dia mengerjakan contoh soal dengan menggunakan sistem switch untuk hari.


public class MyClass {


public static void main(String[] args) {


int day \= 4;


switch (day) {


case 1:


System.out.println("Senin");


break;


case 2:


System.out.println("Selasa");


break;


case 3:


System.out.println("Rabu");


break;


case 4:


System.out.println("Kamis");


break;

__ADS_1


case 5:


System.out.println("Jumat");


break;


case 6:


System.out.println("Sabtu");


break;


case 7:


System.out.println("Minggu");


break;


}


}


}


Deretan listing coding tersusun rapih, Disra asik dengan mempercantik tampilan tugasnya. Tak hanya mengerjakan apa yang di minta sang dosen, dia pun menambahkan listing lainnya.


“Dis, kok gua error mulu ya?” tanya Suci berbisik saat mengerjakan tugas.


Disra melirik komputer Suci. “Coba gua liat listing coding loe?”


Suci sedikit menggeser monitornya untuk dilihat oleh Disra.


“Kurang itu,” jelas Disra. Dia menggeser monitornya pada Suci dan menunjuk pada layar monitornya kesalahan yang dibuat oleh Suci. “Kurang tutup kurung pada ‘Else’," tambahnya.


Suci melirik codingan Disra dan mengikuti sahabatnya itu. “Untung, loe di samping gua!” gumam Suci.


“Tinggal nyontek sama loe!” kekeh Suci.


Disra hanya tersenyum, dia tidak pernah mempermasalahkan temannya menyontek padanya.


Perkuliahan telah usai. Disra bersiap untuk pulag ke rumah. Namun, saat dia keluar kelas, sudah ada Melvin di depan kelasnya.


“Bisa ke ruangan saya sebentar?” tanya Melvin dengan nada perintah.


“Ada perlu apa ya, Pak?” tanya Disra.


“Ada yang perlu dibicarakan atau kau ingin dibicarakan di sini?” tanya Melvin.


“Saya ….” Disra melihat sekeliling. Tak ingin jadi bahan omongan. “baik, Pak.”


Melvin tersenyum dan memimpin jalan ke ruangannya. Dia mmepersilakan Disra masuk ke dalam ruang tersebut. Mereka duduk berhadapan.


“Untuk kejadian kemarin, saya ingin meminta maaf padamu, telah membuatmu merasa tidak nyaman atas apa yang aku perbuat padamu. Mungkin, kau juga berpikir aku aneh. Tapi, aku tidak pernah berbohong akan perasaanku. Itu semua benar, aku menyukaimu, aku mencintaimu. Namun, aku akan berhenti mengganggumu, aku tidak akan membuatmu tidak nyaman. Jadi, kuharap … hilangkan tatapan sinismu padaku. Karena aku, mulai saat ini tak akan mengganggumu lagi. Tapi, bukan berarti aku berhenti mencintaimu.”


Disra hanya melebarkan matanya, tak percaya apa yang dia saksikan saat ini. “Baiklah, mari kita lupakan yang terjadi,” jelas Disra.


Disra tak bisa mengontrol perasaan orang lain. Asal tak mengganggu, itu sudah cukup.


Melvin hanya menganggukan kepala. “Sekali lagi, aku minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud mencuri ciuman pertamamu, aku tahu aku salah ….”


“Hentikan!” seru Disra, dia tak ingin membahas tentang ciuman itu lagi. “Kita sudah sepakat untuk melupakannya. Jadi, tidak perlu diingat lagi,” jelasnya.


“Baiklah.” Melvin mengulurkan tangannya, berharap Disra menerima jabat tangannya.


Disra hanya mengerutkan dahinya. Namun, dia tetap mengulurkan tangannya. Mereka saling berjabat tangan, memaafkan dan melupakan masa lalu.


“Kita, seperti anak SD yang saling bermaafan setelah bertengkar,” ujar Disra.


Melvin tersenyum. “Ya, benar.”

__ADS_1


Disra melepas jabat tangan mereka. “Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamitnya.


“Ya,” jawab Melvin.


Disra keluar dari ruangan Melvin, tak lama ponselnya berdering. Felix menelponnya. “Iya, Lix.”


“Bareng nggak?” tanya Felix diseberang telepon.


“Iya, bareng,” seru Disra.


Disra menuju parkiran tempat Felix menunggu. Begitu pula dengan Melvin yang menuju mobilnya.


Berjalan setengah berlari menghampiri Felix dengan sesekali memegang perut.


“Kenapa?” tanya Felix melihat Disra yang meringis.


“Nggak pa-pa. Cuma nyeri haid.” Disra merampas minuman kaleng bersoda dari tangan Felix lalu menenggaknya.


“Jangan diabisin, itu soda. Nggak baik diminum saat haid,” jelas Felix.


“Katanya minum soda biar cepet selesai," timpal Disra.


“Ih, kata siapa? Katanya nggak bagus malah buat dinding rahim,” jelas Felix.


“Ih, kok loe tahu banyak tentang menstruasi sih?”


“Nyokap gua yang bilang!” seru Felix.


Disra menenggak kembali minuman sodanya. Felix kembali merampas kaleng minuman tersebut dari tangan Disra dan menghabiskan sodanya.


Melvin hanya memperhatikan interaksi Disra dan Felix yang berbagi minuman dalam kaleng yang sama. Dia mengeratkan cengkraman tangannya pada stir mobil.


“Mengapa kau bisa dengan mudah dekat dengan pria?” gumam Melvin.


Ya, mengapa hanya pada dirinya Disra tak bisa dekat.


Melvin menepati janjinya, dia tak menemui Disra ataupun mengganggu gadis itu. Selama proses mengajarpun tak ada lagi tatapan khusus untuk gadis itu. Disra tak peduli dengan perubahan Melvin, dia hanya merasa hidupnya damai seperti sebelumnya.


Kuliah lancar, kerjapun lancar. Yang menjadi mentor Disra selama di kantor sudah bukan hanya Raska. Bagas meminta Juli, Rozak dan Bambang bergantian menjadi mentor Disra.


Hingga, dua minggu berlalu. Disra mendapat informasi bahwa dirinya mendapat tugas ke Thailand untuk mempresentasikan hasil kerja tim.


“Aku ikut, Kak?” tanya Disra pada Raska.


“Iya, Pak Bagas bilang semua saja yang ikut. Tapi, gua nggak bisa ikut, ada urusan keluarga. Nanti, loe dibantu Juli dan Bambang. Ya, paling mereka yang ngomong ke klien. Loe nemenin aja.”


“Kak Rozak gimana?” tanya Disra, karena hanya bertiga yang ikut ke Thailand.


“Itu dia, dia juga lagi nggak bisa ikut. Malah, dari awal project dimulai, dia udah mengajukan diri untuk tidak dinas ke luar negri. Istrinya sedang sakit. Maka dari itu, dia lebih sering kerja di rumah. Beruntung bos kita baik, kebijakannya paling enak dari kantor manapun,” jelas Raska.


“Owh.”


“Yaudah jangan lupa, lusa siap-siap.”


“Oke,” lirih Disra.


Dia tahu teman kerjanya semua baik. Namun, terkadang, karena wanita sendiri, tetap saja merasa kurang nyaman pergi hanya dengan para pria.


Hari keberangkatan tiba. Disra sudah tiba di bandara. “Wah, nggak nyangka kita akan naik business class,” gumam Disra sumringah.


“Iya, memang udah fasilitas kantor,” ujar Juli.


Disra menyinggungkan senyum, tidak menyangka, pengalaman pertamanya keluar negri menggunakan kursi pesawat business class. Dia mencari tempat duduknya. Melihat Juli dan Bambang dapat kursi bersebelahan.


Dia duduk di kursinya, penumpang sebelahnya belum tiba. Disra memilih menyadarkan tubuhnya di kursi. Dia akan menceritakan pengalamannya pada orang tuanya. Memejamkan mata sejenak, menikmati kursi empuk.


Merasa ada pergerakan di sampingnya, Disra membuka matanya, dia menoleh pada penumpang yang duduk di sampingnya. Seketika matanya melebar. “Kau?”


“Hai,” sapa Melvin tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2