
“Raska memang tidak punya pacar. Sedangkan Disra mengaku tidak punya pacar juga,” ujar Rozak.
“Disra bilang begitu?” tanya Melvin.
“Iya, waktu awal-awal masuk, saya sudah pernah bertanya,” jelas Rozak.
“Kayanya sih emang gitu, Pak,” jawab Juli. “Nggak ada tanda-tanda juga Disra memiliki kekasih,” tambahnya.
“Disra sudah punya pacar. Dia bilang sendiri saat di Thailand,” ucap Melvin.
“Wah, berarti baru jadian kali, soalnya inget banget kok Disra bilang nggak punya pacar,” balas Rozak.
“Kalau benar sudah punya pacar, kasihan Raska, kalah sebelum berperang!” seru Juli.
“Tapi, sebelum janur kuning melengkung mah nggak masalah. Hajar terus sebelum di halalin orang lain,” ucap Rozak.
Melvin hanya mengerutkan dahinya saja mendengar obrolan Rozak dan Juli. Hingga mereka kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan. Waktunya untuk pulang kerja. Disra bersiap untuk pergi ke kampusnya. Namun, kerah belakang bajunya ada yang menarik.
“Eh, eh, apa nih?” protes Disra.
“Mau kuliah?” tanya Raska yang masih menarik kerah baju Disra.
“Iya.”
“Ya udah, gua antar,” jelas Raska.
“Nggak usah, Kak. Aku bisa pergi sendiri,” tolak Disra.
“Udah, gua anter, mumpung gua lagi baik hati,” ucap Raska.
Disra mau tak mau mengikuti Raska ke mobil. Dia masuk ke dalam mobil Raska. Melvin tak sengaja melihat itu semua. Melvin baru selesai bertemu klien setelah makan siang tadi dan kembali ke kantor berniat untuk mengantar Disra ke kampus bersama. Namun, dia tak menyangka saat tiba di kantor disuguhi dengan Disra yang sedang bersama dengan Raska. Melvin langsung mengirim pesan pada kekasihnya.
{Di mana?}
{Ke kampus bareng!}
{Balas chat-ku!}
Tidak ada balasan dari Disra membuat Melvin geram. Dia masih waras untuk tidak menghadang mobil Raska. Melvin memutuskan untuk menelpon ke kasihnya.
Dering pertama, dering kedua dan dering-dering selanjutnya tidak ada timbal balik sambungan teleponnya diangkat oleh Disra. Melvin memutuskan langsung menuju kampus.
Kegusaran Melvin, tak berlaku bagi Disra. Gadis itu tertawa lepas saat bersama dengan Raska. Banyak yang mereka obrolkan. Disra bukan tipe pendengar yang memotong ucapan orang lain. Bukan tipe yang menjatuhkan ucapan orang lain. Sehingga, membuat para lawan bicaranya senang mengobrol dengannya.
Raska mulai terbuka pada Disra. Bahkan, dia menceritakan tentang keluarganya pada Disra. Mengobrol hangat hingga mereka sampai ke kampus tujuan. Setelah berterima kasih, Disra pamit dan keluar dari mobil.
Disra sudah di sambut oleh Suci dan memulai perkuliahan. Melvin pun melanjutkan jadwal mengajar para mahasiswa. Hari ini, tidak ada mata kuliah keamanan jaringan sehingga Disra dan Melvin tak bertemu di dalam kelas.
Kesibukan di dalam kampus berakhir saat jam mata kuliah terakhir. Para mahasiswa biasanya akan pulang lebih cepat dari para dosen. Ya, para dosen harus pulang sesuai jadwal. Melvin menunggu jam untuk absen pulang. Sistem absen pada kampus tersebut menggunakan sistem absen otomatis melalui aplikasi yang terinstal di ponsel masing-masing.
Meskipun menggunakan sistem absen online. Namun, sistem tersebut memiliki keunggulan khusus yaitu mengetahui lokasi absen dilakukan. Jadi, tidak bisa dilakukan kecurangan dalam sistem absen.
Tidak ada dosen yang absen pulang setelah sampai rumah. Ya, sistem yang dibuat oleh Melvin bisa mendeteksi lokasi absen tersebut berlangsung. Jika lokasi tersebut bukan di wilayah kampus. Maka, akan menjadi fokus pertanyaan audit.
__ADS_1
Bisa saja Melvin menjebol keamanan absen tersebut dan membuat dirinya bisa absen masuk ataupun absen pulang tanpa harus berada di wilayah kampus. Namun, Melvin orang yang kaku. Membuat dirinya patuh.
Felix sudah menunggu Disra di parkiran dengan motor ninjanya. “Disra,” teriaknya. Melihat Disra keluar dari kampus.
“Felix!” seru Disra. Dia berjalan menghampiri sahabatnya.
“Ayo pulang,” ajak Felix seraya menyodorkan helm pada Disra.
Disra menerima helm pemberian Felix. “Demen nih gua. Loe selalu bawa helm lebih buat gua!” seru Disra.
“Tadi pagi gua udah siap ke rumah loe. Tapi, loe malah berangkat duluan!” dengus Felix.
“Maaf, gua baru baca email dan ternyata ada meeting pagi banget! Jadi, gua nggak enak minta loe pagi-pagi buta jemput gua,” jelas Disra berbohong.
Felix mendecak. “Ya udah naik,” ucapnya.
Disra naik ke atas motor. Felix melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Melvin, dia setengah berlari menuju parkiran. Dia datang ke kelas Disra dan mendapat informasi bahwa kelas sudah berakhir 10 menit yang lalu.
Sebelumnya, dia bertemu dengan Suci saat di koridor, dengan basa basi Melvin bertanya mengapa Suci pulang sendiri dan tidak dengan temannya. Suci menjawab pada Melvin tanpa curiga bahwa Disra pulang bersama Felix.
Keterangan Suci membuat Melvin semakin kesal. Dia tak mengantar Disra ke kampus karena sudah didahului oleh Raska dan kini, ada Felix yang mengantar pulang Disra.
Melvin langsung menuju rumah Disra. Dia menunggu kedatangan kekasihnya. Merogoh ponselnya dan mulai menghubungi Disra. Namun, lagi-lagi tidak diangkat oleh kekasihnya itu.
***
“Kenapa lewat sini?” tanya Disra.
“Kita makan pecel ayam dulu ya?” usul Felix.
Felix memarkirkan motor dan mereka menuju ke tempat pecel ayam yang di pinggir jalan. Bukan sembarang pecel ayam, tempat itu merupakan tempat bersejarah mereka.
“Pakdhe, pesen pecel ayam dua. Satu kering, satu lagi jangan kering-kering goreng ayamnya!” seru Felix.
“Kasih kremesnya Pakdhe, teh pocinya dua,” tambah Disra. Dia menoleh pada Felix. “Tumben ngajak ke sini?” tanya Disra. Mereka sudah jarang ke tempat itu karena jarak yang jauh dari kampus mereka.
Tempat pecel ayam yang memiliki sejarah Disra dan Felix. Tempat bersembunyi mereka saat ikut tawuran. Ya, Disra mengejar Felix yang ingin ikut tawuran saat mereka masih berseragam putih biru. Saat itu, Disra khawatir dengan Felix sehingga membuat dirinya mengejar sahabatnya. Namun, siapa sangka mereka terjebak baku hantam dari dua kelompok.
Beruntung ada seorang pria dewasa yang menarik Disra masuk ke dalam warung pecel ayam. Sehingga membuat Felix urung melanjutkan perkelahian dan ikut bersembunyi dengan Disra.
“Nggak pa-pa. Cuma kangen aja makan pecel ayam di sini,” jelas Felix.
“Kirain mau ketemu Pakdhe,” gumam Disra.
“Itu juga salah satunya, elo juga ‘kan kangen Pakdhe?”
“Iya sih, kalau nggak ada dia, nggak tahu deh nasib kita,” ujar Disra.
“Elo sih pake segala ikut tawuran!” dengus Felix.
“Bukan gua mau ikut tawuran. Tapi, gua mau menghentikan loe yang ikut tawuran!” dengus Disra.
“Namanya cowok ya begitu, harus ada pengalaman berkelahi!” ujar Felix.
__ADS_1
“Nggak kaya gitu juga kali! Emang, yang dibilang cowok yang ikut tawuran doank?”
“Ya enggak sih,” ujar Felix terkekeh. Setelah itu, dia menatap Disra.
“Elo kenapa?” tanya Disra melambaikan tangannya di depan Felix. Dia tak nyaman ditatap seperti itu oleh Felix.
“Nggak pa-pa. Gua cuma ingat saat loe nangis di sini. Nangisin gua yang mau ikut tawuran dan loe nahan gua untuk tetap bersembunyi di sini,” jelas Felix.
“Gua pasti jelek banget ya pas nangis? Hidung gua merembes, untung kuping nggak ikut merembes," ucap Disra terkekeh, mencoba bercanda.
Dia pun masih ingat betapa air mata mengalir deras saat Felix bersih keras untuk melanjutkan tawuran. Beruntung, Felix mengurungkan niatnya dan memilih bersama dengannya.
“Iya jelek. Mana ada orang nangis cantik?” tanya Felix.
Disra hanya mengangguk, tak lama teh poci pesanan mereka tiba. Teh yang disediakan dengan teko terbuat dari tanah liat dan untuk meminumnya harus dituang terlebih dahulu ke cangkir yang juga terbuat dari tanah liat.
Disra meletakan gula batu ke dalam cangkir Felix dan dirinya. Lalu, menuangkan teh poci panas ke dalam cangkir tersebut.
Felix hanya memperhatikan gerak-gerik Disra. Sahabat yang sangat berarti baginya. Hanya Disra yang memiliki kebaikan yang tulus. Tangis Disra yang memintanya untuk tak terlibat perkelahian membuat Felix luluh dan berkeinginan untuk melindungi sahabatnya sendiri.
“Dis, rules persahabatan kita masih berlaku bukan?” tanya Felix.
“Tentu,” jawab Disra.
“Kita, tak boleh melanggar bukan?”
“Iya,” jawab Disra lagi. Dia menggigit bibir dalamnya. Dia belum cerita tentang Melvin dan keputusan dirinya untuk melakukan penjajakan dengan dosen muda itu.
Felix menghembuskan napasnya pelan. “Hari ini, ada cewek yang menyatakan cinta sama gua. Gua pernah ketemu dia di gereja dan ternyata dia juga bekerja di perusahan yang sama. Namun, kita beda divisi. Anaknya lumayan cantik. Agak chinese gitu, lucu pula.”
“Terus, loe terima?” tanya Disra penasaran.
“Nggak,” jawab Felix singkat.
“Kenapa? Bukannya loe bilang dia lumayan cantik dan lucu? Apalagi kalian seiman, udah nggak ada halangan tuh,” jelas Disra.
Saat SMA, Felix pernah curhat pada Disra bahwa dia memupuskan perasaannya pada teman les-nya karena mereka beda agama. Yang tidak diketahui oleh Disra, gadis itu adalah dirinya sendiri.
“Karena gua menepati janji gua sama loe,” ujar Felix.
Disra tertegun, rules pertemanan mereka begitu banyak. Ada sekitar 20 aturan dan satu aturan lagi adalah, tidak memiliki pacar selama masih kuliah. Meskipun, mereka sering bersenda gurau, saling mengejek atas diri mereka yang jomblo. Namun, itu semua hanya gurauan. Yang sebenarnya terjadi adalah, mereka sudah membuat kesepakatan untuk tak menjalin hubungan sebelum lulus kuliah. Mereka akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dalam menuntut ilmu dan juga mengejar karir.
“Felix, sebenarnya … nggak harus seperti itu juga. Kita buat perjanjian itu saat kita di tingkat pertama sekolah menengah atas. Kalau loe udah merasa menemukan gadis yang tepat. Loe bisa menjalin hubungan dengan gadis itu,” papar Disra.
“Gua itu sangat menjunjung tinggi persahabatan. Jadi, gua nggak akan mengingkarinya. Gua harap loe juga gitu. Kita udah nggak lama lagi akan lulus. Dari Diploma III ke jenjang S1 hanya butuh waktu kurang dari dua tahun, semester depan kita bisa mengajukan skripsi. Setelah lulus, kita bisa mencari jodoh kita. Hanya butuh waktu sebentar lagi, gua yakin persahabatan kita akan terus kokoh. Nggak ada diantara kita yang menyembunyikan sesuatu, nggak ada yang mengkhianati persahabatan kita,” jelas Felix.
Felix melihat Disra yang tampak kurang nyaman. Dia memiliki firasat sendiri bahwa ada yang berbeda dengan sahabatnya itu.
Disra hanya menyesap teh miliknya, mencoba bersikap tenang. Dirinya dan Melvin pun belum resmi menjalin hubungan asmara. Ya, dia hanya mengajukan pada Melvin untuk penjajakan dan bukan pacaran.
Dia tak akan merusak persahabatannya dengan Felix hanya karena memilih menjalin hubungan dengan seorang pria.
Mereka makan pecel ayam bersama. Setelah itu, Felix mengantar Disra ke rumahnya. Disra melambaikan tangannya saat Felix pergi melesat dari rumahnya. Setelah memastikan Felix menghilang di tengah jalan. Disra beranjak untuk masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Belum juga dua langkah, dirinya dikagetkan dengan suara klakson dan sorot lampu mobil. Seketika Disra menoleh mencari sumber klakson tersebut. Dia terkejut saat melihat mobil yang sangat dikenalnya.