Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 61 Persahabatan


__ADS_3

Melvin melihat gadis yang masuk ke ruangannya. Dia menyipitkan matanya. "Kenapa kau yang ke sini?"


"Apa tidak boleh saya yang datang, Pak?" tanya Sifa.


"Bukan, hanya saja, saya meminta Disra yang mengumpulkan quiz."


"Saya mengambilalih pengumpulan tugas karena Disra sedang ada urusan," jelas Sifa.


"Urusan? Urusan apa?"


"Saya tidak tahu. Tadi, dia dibawa pergi oleh seorang pria."


"Pria?"


"Ya," jawab Sifa. Sengaja tak mengatakan pria tersebut adalah Felix. Ingin melihat reaksi dari Melvin.


Melvin hanya mengerutkan dahinya. Dia melihat Sifa yang masih berdiri. “Kau bisa letakan quiz di sana,” ujarnya menunjuk meja.


Sifa meletakan quiz di atas meja kerja Melvin dan enggan untuk beranjak.


“Apa ada keperluan lain?” tanya Melvin.


“Tidak Pak,” jawab Sifa.


“Kalau begitu, kau bisa pergi,” titah Melvin.


“Apa hubungan Bapak dengan Disra?” tanya Sifa memberanikan diri.


Melvin menatap tajam Sifa. Tak suka orang lain mencampuri urusannya. “Aku rasa, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu,” ucapnya tegas.


Sifa langsung menganggukkan kepala, terlalu terintimidasi oleh tatapan tajam Melvin. Namun, dirinya masih penasaran. “Tentu harus diluruskan. Karena, hubungan Bapak dan Disra yang tidak jelas membuat banyak spekulasi yang tidak baik.”


“Spekulasi?”


“Ya. Banyak yang bilang, Disra menggoda Pak Melvin demi nilai,” ujar Sifa ragu-ragu.


“Apa?” tanya Melvin sedikit terkejut.


Sifa merogoh kantung celananya. “Karena video ini. Banyak yang bilang, Disra merayumu demi sebuah nilai.”


Melvin membulatkan matanya saat melihat video dirinya dengan sang istri. “Apa kau yang merekam ini?”


“Bukan!” jawab Sifa pasti. Ya, bukan dia yang merekam, dia hanya mendapat kiriman video tersebut.


“Apa dia tahu video ini?” tanya Melvin.


Sifa tahu, ‘dia’ yang dimaksud Melvin adalah Disra. “Ya, baru tahu hari ini.”


“Di mana dia?” tanya Melvin penuh penekanan.


“Dia, pergi bersama Felix.”


Melvin langsung berdiri dan meninggalkan Sifa sendiri. Hanya ada Disra di pikirannya. Dia tahu, Felix sangat berarti untuk istrinya.


*


*

__ADS_1


*


Disra hanya bisa menunduk, Felix memberhentikan motor di sebuah taman. Ya, Disra tak ingin pria itu mengantar dirinya ke rumah.


“Felix,” ujar Disra gugup.


“Ya.”


“Aku, bukan bermaksud menutupi darimu.”


“Bukan hanya menutupi. Tapi kau melanggar perjanjian yang kita buat,” ujar Felix mencoba untuk tenang. “Apa harus seperti ini? Aku harus tahu dengan cara seperti ini.”


Ada saatnya mereka bicara formal dan ada kalanya mereka bicara dengan bahasa non formal. Jika mereka bertengkar, entah mengapa mereka akan berbicara dengan bahasa formal.


Disra menundukkan kepalanya. “Aku ingin memberitahumu. Aku menunggu kau kembali. Aku tahu aku bersalah. Aku tidak bermaksud mengkhianati persahabatan kita.”


“Aku memang bukan siapa-siapamu. Kau bisa menganggap hubungan kita tak pernah terjadi.”


“Aku menyayangimu!” ujar Disra. “dan akan selalu menyayangimu. Aku ingin selalu kita bersama. Aku tahu aku salah. Tapi, aku benar-benar mencintainya. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ada rasa khawatir di hatiku. Aku tak bermaksud mengkhianati persahabatan kita, aku tak ingin kau jauh dariku. Kau sahabatku dan selalu mengisi hatiku. Sungguh, aku tak tahu bisa sampai seperti ini.”


“Tapi kau mengkhianati persahabatan kita!”


“Iya aku tahu. Aku tidak akan berbohong lagi padamu. Aku bersalah, aku minta maaf akan hal itu. Kau sangat berarti bagiku ... sebagai sahabatku. Namun, aku tidak bisa mengatur hatiku kapan akan jatuh cinta. Begitu pula denganmu, apa karena terikat perjanjian persahabatan yang kita buat saat masih kecil, lantas memblokade perasaan kita pada orang yang kita cintai? Sama halnya denganmu. Kau boleh menjalin hubungan dengan wanita lain. Tidak mungkin kau mengakhiri cintamu hanya untukku yang hanya sahabatmu ….”


“Aku bisa melakukan itu!” potong Felix.


Wajah Disra menjadi pias. Dia tahu, Felix menjauhi seorang gadis yang mengejarnya demi perjanjian persahabatan mereka meskipun, Felix mengakui gadis itu lucu. “Kau tidak harus sampai melakukan itu.”


“Kenapa? Bukankah kita sudah berjanji?”


“Ya, aku tahu. Namun, perjanjian itu kita buat saat masih sangat muda. Sesuatu yang kita buat karena pada saat itu, kita belum menemukan cinta kita. Maaf jika aku menyakitimu. Tapi, aku sungguh menyukainya, aku menginginkannya, aku mencintainya,” ujar Disra mulai meneteskan air matanya.


“Tolong jangan buat aku memilih diantara kalian.” Disra meneteskan air matanya semakin deras. “Aku yang salah dan aku sangat menyesal telah berbohong padamu. Jika aku harus memilih, aku mohon maaf padamu, sepertinya … kau tidak bisa lagi menjadi bagian dari hidupku,” ucap Disra dengan berat. Dia semakin sesenggukan.


“Kau mengambil keputusan yang salah,” ujar Felix.


“Ya, tapi itu hakku.”


Disra menatap Felix. Dia mencintai Melvin. Namun, bukan berarti melupakan Felix, dalam hati Disra, Felix akan tetap menjadi sahabat terbaiknya. Dia pun menginginkan kebahagian pria itu.


“Baiklah, jika itu keputusanmu,” ujar Felix.


Disra menggigit bibir agar tangisnya tak terlalu dalam. Dia tak rela persahabatan dengan Felix berakhir. Namun, dia pun tak mungkin meninggalkan Melvin, laki-laki yang dicintainya. Dia masih menatap Felix dengan air mata yang tak kunjung berhenti.


“Pergilah, aku pun hanya ingin melihatmu bahagia,” ujar Felix.


Disra membeku di tempat, dia mendengar jelas ucapan dari Felix. Namun, dia tak mengerti ucapan dari sahabatnya itu.


“Felix,” lirih Disra.


“Hiduplah bahagia dengannya dan aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.”


Bola mata Disra bergerak, mencerna ucapan dari sahabatnya. “Maksudmu?”


“Apa aku kurang jelas mengatakannya? Aku akan bahagia jika kau bahagia.”


“Kebahagiaanku akan lengkap jika kau di sisiku.”

__ADS_1


“Bahagialah dengan Melvin dan aku akan tetap di sampingmu.”


Tangis Disra semakin pecah mendengar ucapan sahabatnya. Felix merentangkan tangannya. Disra langsung masuk dalam pelukan Felix, mereka menangis bersama.


Hanya pelukan singkat, Disra mengurai pelukan mereka. “Aku janji akan bahagia dengannya,” ujar Disra seraya menghapus sisa air mata di pipi.


“Aku menghormati keputusanmu. Namun, apa kau tidak berlebihan pacaran dengannya seperti itu?” tanya Felix.


Disra tersenyum. “Satu hal lagi yang aku belum bilang padamu. Sebenarnya … aku dan Melvin sudah menikah.”


“Apa?” tanya Felix terkejut.


“Ceritanya rumit. Pernikahan dilakukan secara tertutup. Tapi, kau orang pertama yang tahu pernikahan kami.”


Felix hanya menghembuskan napasnya panjang. Disra menceritakan semua yang terjadi selama Felix berlibur.


Felix tertegun, dia tahu sahabatnya tak mungkin berbuat sejauh itu dengan seorang laki-laki. Setelah mengetahui yang sebenarnya, ada kelegaan di hati Felix, meskipun ada sesuatu yang tak nyaman di hatinya.


*


“Makasih, udah nganter gua pulang,” ujar Disra melepas helmet.


“Wah, lumayan juga apartemennya,” puji Felix.


“Ya, lumayan. Udah ya, gua masuk dulu.”


Disra beranjak untuk meninggalkan Felix. Namun, lehernya diapit oleh Felix. “Loe, nikah sama dia bukan karena dia tajir ‘kan?”


“Ish! Emang loe pikir gue cewek matre?”


Felix melepas tangannya yang mengapit Disra. “Dikit sih. Loe dulu pernah bilang, bahwa loe mau cari cowok tajir karena bosan hidup susah.”


“Mana ada cewek yang mau hidup susah!” ketus Disra.


Bukan matre, dia hanya realistis. Meskipun cintanya pada Melvin tulus. Yang terpenting bagi Disra adalah cinta, karena materi bisa dicari. Asalkan sang pria tak malas dan mau berusaha.


“Kalau loe bosan hidup susah. Loe juga bisa cari cewek tajir!” sambungnya terkekeh.


“Tanyain Melvin, dia punya adik cewek nggak? Sapa tahu cantik!” gurau Felix.


“Saya anak tunggal!” ujar Melvin yang tiba-tiba hadir di antara Disra dan Felix.


Dia melihat saat Disra turun dari motor. Saat Felix mengapit leher istrinya pun tak luput dari penglihatannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Happy Reading 🥰


Mohon maaf beberapa hari tidak bisa up 🙏


Ya, kemarin healing2 dulu dikit. Niat cuma sehari, eh malah bablas tiga hari. Jadinya, kelelahan dech 🤭


Biasa Age nulis pake laptop karena kemarin ke luar kota. Jadi, nulis pake ponsel dan Age tak nyaman nulis pake ponsel. Akhirnya, malah tidak bisa up 🤭


Terima kasih masih setia dengan kisah Disra dan Melvin 🥰🥰🥰


Salam Age Nairie 🥰

__ADS_1


Oh ya, cover Hello! Miss Call... sudah diganti oleh pihak platform ya.. Gimana, bagus nggak? 👇



__ADS_2