
Melvin berkata dengan sungguh-sungguh. Tak ada keraguaan sedikitpun dalam ucapannya.
"Lelaki yang dipegang adalah perkataannya! Jika kau tak sanggup. Maka, jangan berjanji!" ujar Rino.
"Saya tidak pernah mengingkari perkataan saya," ucap Melvin tegas.
Tina menyenggol lengan Roni. Sang suami mengerti maksud dari istrinya. "Kau urus semuanya," ujar Roni pada Melvin.
Setelah berkata, Roni dan Tina masuk ke dalam kamar. Sedangkan Melvin menghubungi sahabatnya untuk meminta bantuan.
"Yah, benar akan menikahkan Disra dengan pria itu?" tanya Tina memastikan.
Semua serba terburu-buru. Dia pun takut hal ini bukan merupakan hal baik.
"Mau bagaimana lagi? Mereka sudah tidur bersama!" timpal Roni.
"Tapi anak kita bukan gadis seperti itu. Ibu pikir mereka hanya benar-benar tidur. Merem mata," jelas Tina.
"Kau juga merem saat kita bercinta!" dengus Roni.
Pluk! Tina memukul lengan Roni. "Bukan itu maksud Ibu!" ketus Tina.
"Terlepas mereka tidur melakukan itu atau tidak. Apa yang baru saja kita lihat sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka baru menjalin hubungan. Namun, sudah bisa ciuman sambil tiduran seperti itu!" ketus Roni.
Dia menatap istrinya yang terdiam. "Kenapa? Kau keberatan anak kita menikah? Aku tahu usia Disra masih sangat muda tapi itu lebih baik dari pada terjadi hal yang tak diinginkan.," sambung Roni.
"Ayah tidak bertanya pada pria itu, pekerjaannya apa? Pengangguran atau tidak!" seru Tina. Bagaimana pun, seorang wanita pasti menginginkan pria yang bertanggung jawab.
"Kita lihat ucapannya. Jika dia bisa memenuhi apa yang dia katakan. Berarti, dia pria yang bertanggung jawab. Kalau tidak bisa menepati janjinya dan lebih banyak berkilah. Aku lebih baik memutuskan hubungan mereka. Menjauhkan Disra dari pria itu," ujar Roni.
"Sepertinya sih dia bertanggung jawab," ujar Tina.
"Kita lihat saja nanti. Kau sendiri apa yang kau nilai dari pria itu?"
"Aku rasa dia bisa menafkahi anak kita. Lagi pula, jika dia malas bekerja. Aku yang akan mencambuknya agar bekerja!" seru Tina. "Lagian, dia tak terlalu buruk. Jika Disra punya anak dari pria itu. Aku yakin cucu kita akan tampan dan cantik," tambahnya.
"Kenapa jadi memikirkan itu?" tanya Roni heran.
"Untuk memperbaiki keturunan, Yah!" ujar Tina sumringah. "Dia sangat tampan, terlebih lagi dengan hidung sempurna itu," tambahnya.
"Kau tidak tanya padanya, dia operasi plastik atau tidak?" tanya Roni dengan nada mengejek.
Tina terdiam. Dia tak terpikirkan sampai ke sana. Hidung mancung yang dimiliki oleh Melvin tampak tak nyata. Apakah benar ada manusia yang memiliki hidung mancung yang sangat sempurna seperti itu?
__ADS_1
Tidak hanya persoalan hidung mancung yang dimiliki oleh Melvin. Tetapi, proporsi hidung yang sesuai, lubang hidung tak terlalu besar.
Adanya keharmonisan antara hidung, mata dan bibir, merupakan perpaduan ketampanan yang sempurna dan membuat orang yang melihatnya akan merasa iri.
Sebagian pakar kecantikan mengatakan, hidung yang bagus itu tidak berbentuk lurus tetapi harus ada sedikit lengkungan di antara mata, baru kemudian batangnya mulai naik. Ada sedikit curve akan mempercantik hidung. Semua itu ada di wajah Melvin.
Tina dan Roni keluar dari kamar. Saat mereka tiba di ruang tamu. Sudah ada beberapa orang berseragam sangat formal. Pakaian kerja dengan jas sebagai penyempurnaan.
"Ada apa ini, Bu?" bisik Roni.
"Nggak tahu, Pak," jawab Tina yang juga berbisik.
"Ayah, Ibu. Pernikahan bisa dilakukan sore ini," ujar Melvin yang langsung memanggil Roni dan Tina dengan sebutan ayah dan ibu. Dia tak canggung untuk memanggil dengan sapaan itu.
"A–pa kau serius?" tanya Roni.
"Tentu,” jawabnya pasti.
“Mohon maaf, Pak Peter, karena waktu yang sangat sempit. Bisakah kami merias di sini saja?” pinta sang make up artis.
Melvin berjalan menuju Tina. “Ibu, mohon izin untuk melakukan semua persiapan di sini,” ujar Melvin.
Tina masih tak mengerti. Namun, kepalanya mengangguk. Beberapa pekerja langsung mendoorng Tina, Roni dan Disra masuk ke dalam kamar.
Disra masih menatap tak percaya atas apa yang dilakukan oleh Melvin. Dia mendorong pegawai berpakaian formal tersebut dan berlari menuju Melvin. “Apa ini semua?” tanyanya.
“Kau gila ya? Bagaimana bisa kita menikah seperti ini?”
“Maafkan aku. Karena waktunya mepet. Jadi, tak bisa menyiapkan secara maksimal. Kita akan menikah secara agama dan negara. Untuk resepsi, kita adakan dua minggu lagi. Bagaimana? Apa kau keberatan? Aku janji akan mengumumkan pernikahan kita agar semua orang tahu kita telah menikah.”
Disra menggusar rambutnya. “Bukan itu maksudku! Yang aku maksud adalah kesiapan kita!”
“Iya aku tahu, aku rasa dua minggu bisa menyiapkan semua dengan sempurna. Kalau bisa, kita gunakan WO lebih dari satu,” ucap Melvin antusias.
“Ish! Dibilang bukan itu! Ini masalah hati! Bagaimana mungkin kita menikah di usia yang sangat muda! Aku takut terjadi masalah dalam rumah tangga kita!”
Melvin menarik lengan Disra. “Jika itu yang kau khawatirkan. Maka, jangan pernah takut akan hal itu. Usia muda belum tentu akan menghadapi banyak masalah dalam rumah tangga. Usia muda bukan menentukan kedewasaan seseorang. Lagi pula, aku menikahimu bukan merasa terpaksa. Meskipun, persiapannya begitu minim. Aku bukan pria yang tak menepati janji. Aku mempertanggung jawabkan ucapanku pada ayahmu. Tentu, aku akan selalu menepati janjiku padamu,” tutur Melvin.
Disra hanya bisa tertegun. Seorang pegawai menghampiri Disra. “Nona, silakan,” ujarnya.
Berjalan linglung menuju kamarnya sendiri. Wajah Disra mulai di rias, kebaya putih mulai dipakaikan pada tubuhnya.
“Apa aku harus pakai korset ini?” tanya Disra.
__ADS_1
Dia paling tidak suka menggunakan korset. Saat dirinya wisuda SMA dan menggunakan kebaya. Dia memilih tidak menggunakan korset karena membuat sesak. Terlebih lagi, hari ini dia belum buang air besar yang membuat perutnya sedikit membuncit.
“Iya, agar tampak ramping,” ujar sang make up artist.
“Tapi, jangan terlalu ketat ya Kak, aku sesak jika terlalu ketat.”
Tina, Roni dan Dika pun sudah berdiri dengan menawan, mereka sudah di rias dan menunggu calon pengantin keluar dari kamar.
“Bu, benar kak Disra menikah hari ini?” tanya Dika berbisik.
“Iya,” jawab Tina singkat.
“Kak Disra hamil duluan?” tanya Dika lagi.
“Jangan bicara sembarangan! Kakakmu tidak hamil!" hardik Tina.
Dika hanya terdiam setelah dapat amarah dari sang ibu. Dia berharap kakaknya memang benar tak hamil. Terkadang, orang yang lebih tua berbohong pada yang lebih muda. Terlebih lagi Dika hanya seorang pelajar SMP yang masih dianggap anak kecil. Ya, meskipun sebentar lagi dia akan lulus.
Melvin berganti pakaian di kamar mandi rumah tersebut. Dia menggunakan beskap putih untuk hari spesialnya. Meskipun tergolong persiapan singkat. Namun, dia tak ingin pernikahannya dengan gadis pujaannya tak terkesan.
Melvin duduk di ruang tamu bersama orang tua dan adik dari calon istrinya. Menunggu Disra yang sedang di rias.
Tina memperhatikan wajah Melvin dari samping. Hidung mancung pria itu tampak sempurna dilihat dari samping.
“Hei, anak muda,” ujar Tina.
Melvin menoleh. “Melvin,” ujarnya memberi tahu ibu mertuanya.
Tina tampak canggung. “Iya, Melvin. Apa kau serius menikahi anakku?”
“Tentu. Tujuan hidupku menikahinya,” jelas Melvin.
Tina menyerengitkan dahinya. Pria di sampingnya tampak tergila-gila dengan putrinya. “Apa matamu bermasalah?” tanyanya.
Bagaimanapun, meskipun Disra masih tergolong cantik. Namun, jika disandingkan dengan Melvin. Pria itu seharusnya masih bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik dari putrinya.
Melvin menggeleng. Meskipun dirinya sangat sering di depan layar komputer. Namun, sampai detik ini tidak ada masalah dengan penglihatannya. “Tidak, mataku masih sangat tajam. Aku mengkonsumsi vitamin mata. Aku akan bawakan untuk ibu dan ayah agar mata kalian sehat,” jelas Melvin.
Tina hanya tersenyum getir. Maksud pertanyannya bukan ke arah sana. Namun, calon menantunya sangat polos hingga menyinggung tentang vitamin. Dia menoleh lagi pada sosok Melvin. Tatapannya selalu ke hidung sempurna pria itu.
Tanpa sadar, Tina menyentuh hidunganya sendiri yang dia wariskan pada anak gadisnya. “Melvin.”
“Iya, Bu,” jawab Melvin.
__ADS_1
“Apa kau melakukan prosedur operasi hidung?” tanya Tina sedikit terbata.
Sontak Dika dan Roni melebarkan matanya atas pertanyaan Tina. Tak disangka Roni, istrinya bahkan menanyakan langsung pada calon menantunya perihal hidung.