
Disra menggeser icon video call menjadi icon call. Dia tak mungkin menerima panggilan video call saat dirinya di apartemen Melvin.
“Ciprut! Jangan video call. Gua abis mandi,” ucap Disra dengan ponsel di telinganya.
“Tumben masih inget mandi!” seru Felix di seberang telepon.
Felix menceritakan pada Disra dirinya yang sedang berlibur sendiri.
“Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau liburan?” tanya Disra.
“Udah telepon tapi nggak diangkat,” jawab Felix.
“Iy, gua lihat ada miss call. Sorry, kemarin lagi sibuk. Tapi, kenapa dadakan?”
“Cuma tiba-tiba pengen aja.”
“Tadi gua ke rumah loe! Nyokap bilang loe liburan. Dia takut loe liburan bawa anak gadis orang.”
“Siapa yang mau bawa anak gadis orang! Kalau pun gua pergi, paling sama loe!” ujar Felix sendu.
Disra hanya tertawa. “Kapan balik?”
“Seminggu di sini. Bisa lebih atau bisa kurang dari itu.”
“Emang boleh cuti selama itu?”
“Gua ambil cuti block leave.”
Dalam setahun, di perusahaan Felix bekerja. Para pegawai mendapatkan jatah cuti panjang berturut selama 5 hari yang disebut dengan cuti block leave.
“Oh, gitu.”
“Iya,” jawab Felix singkat.
Hening secara tiba-tiba. Felix tak berbicara lagi, begitupula dengan Disra yang terdiam. Dua sahabat yang memiliki pemikirannya sendiri.
Disra ingin mengatakan yang sejujurnya tentang hubungannya dengan Melvin. Namun, sulit sekali dia mengeluarkan suara. Begitupula dengan Felix. Dia merasa ada yang disembunyikan dari sahabatnya. Karena itu, dia memilih untuk berlibur sendiri. Merasa, Disra sudah mulai sedikit mengabaikannya.
“Gue …,” ujar Felix dan Disra bersamaan.
“Loe dulu,” ujar Felix.
“Loe aja dulu,” tolak Disra.
__ADS_1
“Gue masih mau jalan-jalan malam.”
“Oh. Kalau begitu, nikmati hari loe.”
“Loe sendiri mau ngomong apa?” tanya Felix penasaran.
“Nggak pa-pa, gue cuma mau maskeran,” jawab Disra asal.
“Ya udah lanjut deh maskerannya.”
“Iya loe juga. Hati-hati di negri orang.”
Mereka memutuskan sambungan teleponnya. Felix menghela napasnya panjang. Begitu pula dengan Disra yang menghela napas.
“Sambungan teleponnya sudah mati. Melamun apa?” tanya Melvin yang sedari tadi memperhatikan istrinya berbincang dengan Felix.
“Nggak pa-pa. Hanya sedang memikirkan cara untuk memberitahu Felix saja,” tutur Disra.
“Apa perlu aku yang memberitahunya?”
“Tidak perlu. Aku saja.”
Hari terus berlanjut, sudah tiga hari menjalani rumah tangga. Namun, selama itu hanya ada pelukan dan juga ciuman. Ya, Melvin tak berani berbuat lebih jauh setelah tragedi malam pertama mereka. Dia tak ingin menyakiti istrinya.
Disra bisa melihat Melvin yang menahan diri. Dia tahu suaminya merupakan pria normal. Namun, dia pun tak berani memulainya.
“Tidurlah,” ujar Melvin. Setelah itu, dia merebahkan diri.
Melvin tampak gelisah, mereka tidur saling membelakangi. Disra memberanikan diri untuk menghadap sang suami. “Melvin,” panggilnya.
Melvin menoleh pada sang istri. “Ya.”
“Apa kau tidak bisa tidur? Kau tampak gelisah.”
“Tidak apa.”
“Melvin ….”
“Ya.”
“Bukankah sepasang suami istri tidak boleh ada yang ditutupi?”
“Ya benar.”
__ADS_1
“Aku sudah mengatakan semua rahasiaku padamu. Begitu pula dengan semua yang aku inginkan. Bukankah kau juga seharusnya melakukan hal yang sama?” tanya Disra.
Dia sudah menceritakan semua tentang Felix, segala kedekatannya dengan sahabatnya itu. Dia pun sudah mengatakan semua keinginannya. Tentang rahasia pernikahannya dan keinginannya untuk lulus kuliah terlebih dahulu baru resepsi.
Disra pun menginginkan Melvin terbuka padanya. Dia hanya tahu orang tua suaminya telah meninggal. Selebihnya, dia tak mengetahui apapun tenang suaminya itu. Dia pun ingin ada keterbukaan dalam hubungan mereka. Dia ingin Melvin mengungkapkan apa yang dia ingin tak yang tak diinginkan.
Selama tiga hari berumah tangga. Melvin selalu mematuhi apa yang dia katakan. Semua, Disra yang memegang kendali. Dia pun ingin ada keterlibatan dua orang. Dia ingin suaminya bebas berekspresi, bebas berpendapat dan tidak hanya menuruti semua keinginannya.
“Bukankah dalam rumah tangga harus saling terbuka?” tanya Disra lagi.
“Oh itu. Maaf, ada yang belum aku katakan padamu,” jelas Melvin.
Pria itu bangkit dari tidurnya. Beralih ke tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa dokumen di dalamnya. “Ini semua sudah aku pindah atas namamu.” Melvin menyodorkan berkas tersebut pada Disra.
Disra melebarkan matanya, melihat dokumen-dokumen penting ada di depan matanya. Semua aset milik Melvin menjadi milik Disra. Sangat terkejut lagi, setelah melihat jumlah kekayaan Melvin. Suaminya lebih kaya dari apa yang terlihat.
Melvin bukan pria yang tampak memiliki kekayaan konglomerat. Tinggal mereka pun bukan di penthouse. Mobil pun bukan merupakan mobil mewah. Semua yang digunakan oleh Melvin tampak biasa saja. Namun, mengapa bisa memiliki kekayaaan yang luar biasa?
Dari semua kekayaan yang dimiliki oleh Melvin. Bukan ini yang Disra maksud. Dia hanya ingin keterbukaan dalam hal lain. Keterbukaan dalam kebutuhan lahir dan batin. Dia selalu merasa Melvin sangat misterius. Meskipun, dia tampak begitu polos.
“Apa ini?” tanya disra bingung. Kartu ATM pemberian Melvin pun belum dia gunakan. Sekarang dikejutkan oleh aset yang dimiliki oleh Melvin.
“Kau istriku. Sudah seharusnya aku menyerahkan semua asetku padamu,” jelas Melvin.
“Apa? Maksudku, mengapa kau lakukan ini? Kita baru beberapa hari menikah. Bagaimana bisa kau menyerahkan semua hartamu padaku?”
Masih tidak masuk akal dalam otak Disra, suaminya bisa berbuat seperti itu. Hubungan asmara sebelum menikah pun hanya seumur jagung. Dia tidak secantik artis atau Miss Universe. Melvin pun tampak sangat tampan yang bisa mendapatkan gadis manapun.
“Apa tidak boleh seperti itu?” tanya balik Melvin.
“Bukan tidak boleh. Hanya saja, tidak masuk akal! Kau sangat aneh! Bagaimana mungkin kau bisa mengalihkan semua kekayaanmu padaku, hanya untuk gadis sepertiku! Itu sangat tidak logic!”
“Kenapa tidak masuk akal? Itu hal yang wajar.”
“Pernikahan itu masalah dua hati. Aku bahkan belum mencintaimu sepenuhnya,” ujar Disra jujur.
Dia belum bisa mencintai Melvin 100 % meskipun dia yakin dirinya menyukai pria itu dan sedang mencoba menambah cintanya pada suaminya.
“Kalau begitu, beri aku waktu. Aku akan membuatmu mencintaiku sepenuhnya seperti aku mencintaimu sepenuhnya. Kau adalah gadis yang kucintai, kau adalah kesayanganku,” ujar Melvin pasti.
Disra mengernyitkan dahinya. “Melvin, aku mohon padamu. Ini masih sangat aneh bagiku!” Dia terdiam sejenak. “Apa kau jangan-jangan adalah seorang mafia yang melakukan tindak ilegal dan saat ini kau melimpahkan hartamu padaku untuk pencucian uang?” tanya Disra memicingkan matanya.
Melvin hanya seorang dosen. Ya, Melvin memang memiliki software house yang sangat berkembang. Namun, berkas di depan matanya memiliki kekayaan yang menurut Disra tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1