
Melvin melebarkan matanya, memastikan dia tak salah mendengar. Gelapnya malam, membuat Disra tak harus menutup wajahnya karena malu akan ucapannya.
Disra mengulurkan tangannya, menyentuh tangan sang suami. Dengan gerakan cepat, Melvin menarik sang istri, hingga Disra berada di atasnya. Mereka saling tatap, meskipun tidak yakin bisa saling lihat di antara keduanya.
“Aku pun menginginkanmu. Tapi ….”
Cup! Ucapan Melvin terhenti karena Disra menyumbat mulut suaminya. Dia memberikan ciuman lembut pada bibir sang suami. Menyapu, menyesap, bahkan menerobos. “Lakukan saja apa yang kau mau,” bisik Disra.
Melvin menyentuh pipi sang istri, tatapannya sudah tak sabar, penuh cinta, penuh damba. Dia menarik tengkuk sang istri dan mulai mencium bibir candu sang istri. Mata mereka tertutup menikmati setiap sentuhan. Meskipun, dalam keadan gelap yang tak memungkinkan mereka melihat dengan jelas.
Disra ingin semua berjalan secara alami. Mengikuti naluri kebutuhan manusia, yang didasari oleh cinta yang legal. Ya, cinta mereka legal di mata hukum negara dan agama.
Sentuhan dan gesekan dari kulit mereka, semakin mengobarkan gelora di jiwa. Melvin memperlakukan Disra bagaikan bunga yang lembut. Dirinya bagaikan lebah yang sudah menentukan bunga yang akan di mangsa.
Satu persatu kelopak bunga dilepaskan, hingga terlihat mahkota bunga yang sangat indah. Menerobos untuk bisa menyesap manisnya sari bunga yang ada di putik bunga. Menghisap nektar tersebut tak tersisa.
Lenguh dari mulut Disra semakin membuat sang lebah mabuk akan nektar yang dimiliki sang bunga. Malam kian larut, tetapi sang lebah tak ingin berhenti, seolah sang bunga memiliki persedian sari bunga yang tak terhingga.
Disra hanya menggenggam erat seprei. Menahan tangis agar sang suami tak berhenti. Dia ingin Melvin lepas, dia ingin suaminya pun mendapat kepuasan. Ya, akan dia lakukan tugasnya sebagai seorang istri. Hingga, akhirnya mereka lelah setelah mendapatkan kepuasan.
Melvin menatap sendu sang istri, lampu kamar menyala begitu terang. Jejak percintaan masih terlihat jelas. Pakaian yang bercecer karena Melvin yang melempar kesembarang tempat. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Melvin.
Jelas sekali lelahnya sang istri, yang kini tertidur sangat pulas. Kulit Disra yang terdapat kemerahan di bagian titik tertentu, begitu menyadarkan Melvin dirinya sangat menggilai kekasihnya.
Disra mengerjapkan matanya, perlahan membuka matanya. Dia melihat sang suami yang terlihat sedih.
Apa yang salah?
Apa aku membuat kesalahan?
Apa aku terlihat seperti wanita jallang semalam?
“Melvin,” panggil Disra.
“Ya.”
“Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?”
Melvin menggeleng. “Aku yang membuat kesalahan. Aku … tidak seharusnya menyakitimu,” ucapnya menunduk.
__ADS_1
Disra menyerengitkan dahinya. “Kau tidak menyakitiku.”
Melvin menyibak selimut yang digunakan Disra. Sang wanita masih tampak malu berhadapan dengan keadaan polos. Disra melihat tubuhnya sendiri, melihat tanda cinta di tubuhnya. Tanda yang pernah ia lihat pada sekolompok gadis saat dia masih duduk dibangku SMA.
Lelucon yang dia buat dengan Felix. Setiap hari senin, dia dan Felix akan bertaruh. Menyebutkan satu nama perempuan, gadis mana yang akan datang dengan seragam, yang kerahnya dinaikan untuk menutupi bekas c*pang di leher.
Miris, Disra terkadang miris dengan sebagian kecil kelompok di sekolahnya dahulu. Beberapa dari mereka berpacaran melewati batas.
“Ini hal yang wajar. Selama aku tidak keberatan, bukankah tidak masalah,” jelas Disra.
Dia ingin menangis, mengapa ada orang yang sangat genius dalam bidang IT. Namun, sangat bodoh dalam hubungan suami istri.
“Tapi aku menyakitimu,” ujar Melvin.
“Tapi aku menikmatinya,” ujar Disra menggigit bibir dalamnya.
“Benarkah?”
“Apa kau tidak?” tanya Disra balik. Dia pun takut tak bisa memuaskan suaminya.
“Tentu, aku sangat menikmatinya,” jawab Melvin antusias. “Tapi, kenapa berdarah lagi? Itu lebih banyak dari kemarin,” ujar Melvin polos seraya menunjuk noda merah di seprei.
Disra melihat noda merah yang ditunjukan oleh Melvin. Rasanya ingin menangis tersedu. Namun, dia hanya bisa menangis dalam hati. Ya, dia takut Melvin malah trauma.
Disra bingung menjelaskan pada sang suami. Dia pun tak tahu mengapa bisa keluar darah lagi. Namun, dia pernah mendengar hal seperti ini pernah terjadi. Dia pun yakin itu bukan darah menstruasi, tanggal datang bulanannya masih jauh.
Dua orang yang belum siap menikah, dua orang yang minim pengalaman, dua orang yang kurang pendidikan s*ksual. Sepasang suami istri yang butuh banyak belajar tentang hubungan suami istri.
“Robek sempurna? Maksudnya?” tanya Melvin penasaran.
“Aku tak tahu!” hardik Disra. Dia memijat keningnya sendiri.
“Apa kita perlu ke rumah sakit?”
“Jangan!” seru Disra. “Em, katanya … jika dilakukan berulang, juga tak akan keluar lagi,” tambahnya.
“Apa kau merasa sakit?”
Disra langsung menggeleng keras. “Apa kau mendengar aku berteriak kesakitan?” tanyanya menahan malu.
__ADS_1
“Tidak,” jawab Melvin jujur.
Disra memberikan senyum manis pada sang suami, begitu pula dengan Melvin yang memberikan senyum tulusnya.
***
Mulutmu, harimau mu. Ungkapan yang tepat untuk Disra. Setelah mereka mandi dan sarapan. Melvin tak mengizinkan Disra ke kantor. Dia ingin membuktikan perkataan dari istrinya yang mengatakan ‘jika dilakukan berulang, juga tak akan keluar lagi’. Ya, Melvin mengulang yang mereka lakukan semalam.
Melvin tersenyum sangat bahagia, dirinya merasakan sebuah kebahagian yang membuncah. Senyum lebar Melvin berbading terbalik pada Disra, yang mencoba mengatur napasnya karena mencoba mengimbangi permainan suaminya. Tidak hanya tidak bekerja, Disra pun bolos kuliah. Pengantin baru sedang menunjukan bahwa mereka benar adanya sepasang kekasih yang baru saja menikah. Menghabiskan sebagian besar waktu hanya di atas ranjang.
Hari berlanjut, hubungan mereka masih dirahasiakan. Disra bernapas lega karena Melvin hanya mengurungnya satu hari, tidak bisa dibayangkan jika hal itu terus berlanjut.
“Ah, aku ingin lagi,” gumam Melvin.
“Fokuslah berkendara. Turunkan aku di tempat biasa!” tegas Disra. Dalam satu hari, suaminya berubah menjadi pria mes*m.
***
Melvin hanya bisa melihat sang istri dari layar CCTV. Tersenyum lebar menatap layar kaca. Namun, perlahan senyumnya memudar saat melihat Raska datang menghampiri istrinya dan mengacak rambut sang istri.
“Apa-apan orang itu?” geram Melvin.
Dia langsung menghubungi resepsionis di lantai Disra berada. Ila langsung mengangkat panggilan tersebut, melihat nomor yang menelpon dari bos tertinggi, membuat Ila menelan salivanya sendiri.
“Selamat sia ….”
“Suruh Disra ke ruangan saya!” hardik Melvin memutus ucapan Ila.
“Baik, Pak Peter,” ujar Ila.
Ila langsung menuju ruangan Disra. “Dis, di panggil Pak Peter,” ujarnya terengah.
“Ada apa?” tanya Raska.
Biasanya yang dipanggil menghadap adalah pimpinan project atau para senior. Itupun, tak pernah pimpinan tertinggi yang memanggil.
“Tidak tahu, dari suaranya terdengar sangat marah,” jelas Ila.
Disra dan Raska saling pandang. Dateline project mereka masih sangat jauh.
__ADS_1
“Apa perlu aku temani?” tanya Raska.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” jawab Disra.