
Melvin menunggu di ujung jalan. Menunggu kedatangan kekasihnya.
"Kamu tidak perlu menjemput ku? Aku sudah bilang, aku bisa berangkat sendiri," jelas Disra.
"Bisa berangkat sendiri atau ingin bersama Felix?" tanya Melvin sarkas.
Disra harus membatalkan janjinya dengan Felix karena Melvin mengancam akan datang kerumahnya.
Disra hanya memutar bola matanya jengah. "Ayo berangkat," ucap Disra seraya masuk ke dalam mobil Melvin. Sebelumnya, dia sempatkan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada yang melihatnya.
Melvin melihat Disra yang tampak khawatir. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Nanti, turunkan aku diujung jalan. Aku tak ingin dilihat karyawan lain kalau kita datang bersama."
"Kenapa seperti itu?"
"Tidak apa, hanya tak ingin orang lain tahu saja."
"Mengapa? Apa aku terlalu buruk?"
"Bukan terlalu buruk, terlalu bagus malah," ujar Disra. Memuji untuk mengakhiri perdebatan.
Melvin hanya bisa menuruti permintaan Disra. Saat sampai kantor. Disra dikejutkan dengan hadirnya semua anggota tim-nya.
"Ka—lian datang semua?" tanya Disra heran. Ya, tidak biasanya semua seniornya datang.
"Iya, kita semua datang khusus untuk berterima kasih pada loe yang udah ngebantu kita," ujar Bambang.
"Bukankah kita team work? Sudah seharusnya saling membantu bukan?" Disra berucap dengan menaikan alisnya.
"Kalau begitu, kita rayakan makan bersama saja," usul Juli.
"Asik, July traktir!" seru Rozak.
"Ye! Patungan lah!" ujar Juli.
"Ya udah pulang kerja kita makan-makan," usul Bambang.
"Jangan, anak masih di RS, nggak bisa lama-lama di kantor," timpal Juli.
"Iya, aku juga harus kuliah," sambung Disra.
"Kalau gitu, makan siang saja," usul Raska.
"Boleh tuh." Semua sepakat untuk makan siang bersama.
Hari ini, tim Bambang lengkap dan mereka bekerja bersama. Sudah ada klien baru untuk mereka. Kali ini, tim Bambang membuat e-commerce untuk Klien.
Ponsel Disra berbunyi. Chat dari Melvin.
{Makan siang bersama.}
Disra membaca pesan dari Melvin dan langsung membalasnya.
{Tidak bisa. Aku dan tim akan makan siang bersama. Merayakan usai project kemarin.}
Melvin meletakan ponselnya kasar ke atas meja. Dia mendengus kasar, kekasihnya lebih memilih makan siang dengan teman-temannya dibanding dengan dirinya.
Seketika, Melvin tersenyum licik. Tepat di jam makan siang. Dia turun ke lantai Disra berada. Dia bertemu dengan Juli. Terlihat dari Juli yang berjalan secara tergesa. Rozak, Raska, Bambang dan Disra sudah berangkat ke tempat makan terlebih dahulu. Hanya juli yang masih di kantor. Dia akan menyusul setelah selesai dengan urusannya.
“Siang, Pak,” sapa Juli yang berpapasan dengan Melvin.
“Siang,” jawab Melvin. “Bagaimana kondisi anakmu?”
__ADS_1
“Sudah membaik, Pak. Sudah melewati masa kritis. Hanya tinggal observasi saja.”
“Kalau butuh sesuatu, katakan saja. Kau bisa bilang Ila atau langsung ke Bagas. Jika ada kendala dengan asuransi atau dipersulit pihak rumah sakit, langsung hubungi HRD saja.”
Melgalaxy, perusahaan yang tidak hanya memberikan gaji yang lumayan besar. Namun, fasilitas pun terjamin, asuransi pun tersedia, di luar dari asuransi yang disediakan oleh pemerintah.
Juli tersenyum. Bos muda mereka sangat bijak dan dewasa. Sebelumnya, pernah ada kasus karyawan mereka kehilangan kartu asuransi dan pihak rumah sakit menolak dengan alasan tak ada kartu asuransi. Namun, setelah lapor ke kantor. HRD langsung menghubungi pihak rumah sakit dan menjamin berapapun biaya rumah sakit.
“Baik Pak Peter. Terima kasih. Limit asuransi dapat mengcover semuanya, Pak,” jelas Juli.
“Ya, aku harus memastikan kesejahteraan karyawanku,” ujar Melvin.
“Oh, ya Pak. Saya minta maaf atas nama pribadi dan juga tim. Kemarin bukan hal yang disengaja. Melainkan moment yang bertepatan.”
“Tidak masalah, klien pun tak masalah akan hal itu.”
“Terima kasih juga telah membantu Disra. Saya dengar, Pak Peter langsung yang mengisi training?”
“Iya, dia mengaku bahasa inggrisnya tidak terlalu lancar.”
“Iya, Pak. lain kali, hal ini tak akan terjadi lagi. Setidaknya, harus ada tiga orang yang stand by,” papar Juli.
“Ya, itu bagus,” jawab Melvin. “Kau mau makan siang?” tanyanya.
“Iya, Pak. Kami ingin sedikit merayakan project kemarin.”
“Oh, kalian tidak mengajakku? Aku yang mengisi training user kemarin?”
Juli melebarkan matanya. “Tentu, kami sangat senang jika Pak Peter mau bergabung. Hanya saja, kami malu untuk mengajak Bapak, takut kami lancang,” ujar Juli menundukkan kepalanya sedikit.
“Jadi, kau mengundangku tidak?”
“Iya Pak. Tentu,” ujar Juli.
“Iya Pak, yang lain sudah jalan duluan.”
“Kalau begitu, naik mobilku saja,” usul Melvin.
Juli dan Melvin masuk ke dalam mobil dan menuju tempat makan. Mereka memesan private room dengan sistem lesehan khas rumah makan tradisional.
Juli membuka pintu private room tersebut, terdengar senda gurau di dalamnya. Semua mata tertuju saat Juli masuk ke dalam ruangan.
“Akhirnya nyampe juga loe, Jul!” seru Bambang.
Juli masuk ke dalam private room tersebut dan dibelakangnya ada Melvin. Sontak membuat yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut.
“Pak Peter,” sapa Razka.
Disra hanya memicingkan matanya, dia yakin Melvin sengaja.
“Teman-teman. Saya yang mengajak Pak Peter bergabung, sebagai terima kasih telah membantu tim kita saat di Thailand,” papar Juli.
“Apa keberatan jika saya bergabung?” tanya Melvin sopan.
“Tentu tidak Pak. Kita malah tersanjung Pak Peter mau makan bersama kami,” ujar Rozak.
Melvin dan Juli duduk di tempat yang kosong. Melvin tak bisa duduk di samping Disra karena di samping gadis itu sudah ada Rozak dan Raska. Terpaksa dirinya hanya bisa duduk berdampingan dengan Bambang dan Juli. Namun, dia dan Disra duduk berhadapan.
Bambang melihat Juli yang datang dengan tangan kosong. “Eh, loe nggak jadi mampir beli minuman?” tanyanya.
“Malu-maluin loe! Beli minuman di luar segala, malu sama gaji. Makan di sini tapi bawa minuman,” ejek Rozak.
“Lah, dia sendiri tadi yang bilang. Air mineral aja mahal banget di sini,” bela Bambang.
__ADS_1
Bambang dan Rozak harus menghentikan perdebatan setelah makanan datang.
“Pak Peter apa ada yang ingin di tambah? Ini kami sudah memesan sebelum Pak Peter sampai,” ucap Raska.
“Tidak perlu, ini saja sudah cukup,” ucap Melvin.
Berbagai makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja. Mereka menikmati makanan mereka sembari bersenda gurau. Kaki Raska menendang sesuatu.
“Apa nih?” gumam Raska melihat ke bawah meja. Dia menarik botol air mineral. “Ini punya siapa?”
“Eh itu punya aku, aku selalu bawa minum,” jelas Disra. Dia lupa kalau sebelum berangkat dia membawa sebotol air mineral.
“Itu loe beli di mana?” tanya Bambang.
“Di warung, Pak, 3.500 harganya,” jawab Disra sekaligus mengatakan harga agar Bambang tak bertanya lagi.
“Coba sini buat gua,” pinta Bambang.
“Depan loe masih ada minum itu,” ucap Razak pada Bambang.
Bambang tak menggubris ocehan Rozak. Disra memberikan air mineral miliknya pada Bambang.
“Gua itu mau nyobain air mineral Disra.” Di depan Bambang pun sudah ada air mineral dengan merk dagang yang sama dengan air mineral yang dibawa Disra.
“Ya elah, pasti sama lah rasanya,” ucap Juli.
“Kita buktikan aja dulu!” seru Bambang.
Dia membuka kemasan botol minuman Disra dan mulai menenggaknya. Lalu meminum air dari botol minuman dari yang tersedia oleh rumah makan tersebut.
“Tuh, ‘kan bener kata kalian. Rasanya sama!” seru Bambang.
“Orang gila!” ejek Juli. “Pake segala di tes.”
Semua tertawa melihat tingkah Bambang, begitu pula dengan Melvin yang tertawa kecil.
“Gua pikir rasanya beda, air mineral harga 3.500 sama yang harga 15.000. Eh, ini nggak ada beda,” timpal Bambang.
“Bener-bener udah gila nih orang! Ya sama lah rasanya,” seru Juli.
“Harusnya beda, harga jualnya beda gitu. Gua kalau beli kue harga yang murah sama yang mahal pasti beda rasanya,” ujar Bambang.
“Harga jual yang beda, karena kena pajak!” seru Juli.
“Tapi seharusnya nggak sampai segitu kali harganya!” seru Bambang.
“Ya udah loe protes sono sama yang dagang!” ujar Rozak.
“Heran gua. Giliran penjual di pinggir jalan, jual dengan harga segitu pasti kena tegur. Kenapa di restoran seperti ini nggak kena tegur? Padahal pajak juga ngga segitu kali,” timpal Bambang.
“Ada juga sih buat strategi, misalnya harga cappucino 20.000 dan harga mineral water 15.000. Nah, orang akan berpikir dengan nambah 5.000 udah bisa dapat cappucino dari pada membayar air mineral 15.000,” ucap Raska. Ya, itu dia tahu dari temannya yang membuka café.
“Tapi namanya orang pasti butuh mineral water. Emang kalau abis makan ikan bakar, abis kepedesan bisa minum cappucino panas?” tanya Bambang.
“Bener itu Kak,” ujar Disra.
Melvin hanya memperhatikan para karyawannya berdebat karena mineral water. Hanya karna hal itu, perdebatan mereka terlihat seru.
“Kalau begitu, kenapa tidak dilaporkan saja ke layanan konsumen?” gumam Melvin tanpa sadar.
Disra hanya memicingkan matanya. “Lebih baik langsung tegur saja dulu ke restorannya. Biasanya ada kotak kritik dan saran. Dari pada harus langsung melaporkan, takutnya malah merugikan banyak pihak!” ujar Disra memicingkan matanya.
Melvin langsung bergidik mendengar nada sinis Disra. Dia lupa, karena dirinya melapor ke surat pembaca. Kekasihnya itu dipecat dari agent call center.
__ADS_1