Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 49 Bawa istrimu pergi


__ADS_3

Melvin menatap tak mengerti ucapan Tina. Dia menggeleng pelan. “Tidak pernah. Ada apa?” tanyanya.


“Jadi, hidung asli tanpa operasi?” tanya Tina lagi.


“Ya,” jawab Mevin singkat.


“Apa kau memiliki darah campuran?” tanya Tina lagi dan mendapat sikuan dari sang suami.


“Katanya masih ada darah Jerman dan juga Jepang. Tapi aku tak tahu, itu Om-ku yang mengatakan,” jawab Melvin.


“Owh. Kalau kau menikah dengan anakku. Bisa hilang darah campuranmu. Kami tidak ada keturuan campuran. Hanya ada campuran Jawa dan Sunda,” timpal Tina.


“Tidak masalah,” ujar Melvin.


Mereka menunggu di ruang tamu. Hati Melvin membuncah bahagia, tak menyangka cita-citanya untuk mempersunting kekasihya bisa menjadi kenyataan.


Perlahan, pintu kamar Disra terbuka. Seorang gadis berpakaian kebaya putih keluar dengan langkah yang pelan. Kebaya putih yang didesain dengan perpaduan tule dan renda. Potongan dan detailnya tradisional nan sederhana. Namun bagian bawahnya yang panjang menjuntai membuat Disra bak puteri raja.


Rambut penuh dengan melati, tentu dengan hiasan di kepalanya.  Riasan wajah yang membuat Disra tambah cantik. Belum lagi shading di hidung yang membuat gadis itu terlihat lebih mancung. Benar-benar cantik yang menawan.


Melvin terpaku melihat penampilan cantik kekasihnya. Ingin rasanya dia sembunyikan untuk dirinya sendiri.


Disra menundukan kepalanya karena malu ditatap intens oleh Melvin. Dia pun mengakui ketampaan pria tersebut.


“Sudah siap?” tanya Melvin.


“Ya,” jawab Disra.


Mereka keluar dari rumah. Tak disangka oleh Tina dan Roni. Di luar rumah mereka sudah ada beberapa mobil yang menunggu. Mereka masuk ke dalam mobil. Disra masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Setelah itu, Melvin masuk kemudian.


Seorang tetangga melihat sepasang pengantin yang masuk ke dalam mobil. Dia memicingkan matanya, melihat lebih jelas pasangan pengantin tersebut. Disra yang tak pernah merias diri. Membuat sang tetangga tak mengenali Disra.


Sang tetangga, seorang ibu berusia sekitar 35 tahun menatap dari kejauhan. “Apa itu Disra? Nggak mungkin deh, dia ‘kan sedikit tomboi. Lagian, masa nikah diam-diam. Tapi, perutnya sedikit membuncit! Apa jangan … jangan ….”


Tina, Dika dan Roni masuk mobil lainnya. Mereka menuju ke kantor urusan agama untuk melangsungkan pernikahan. Lebih tepatnya, ke hotel yang berada di samping kantor urusan agama.


“Kenapa ke sini?” tanya Disra.


“Aku tak mau kita hanya menikah di kantor urusan agama. Setidaknya, meskipun persiapan sangat minim, aku ingin memberikan yang terbaik untukmu” jelas Melvin.


Melvin menyewa satu ruangan untuk dirinya menikah. Ruang pertemuan yang disulap secara singkat untuk prosesi pernikahan. Tidak semegah acara resepsi. Setidaknya, ada spot untuk mereka berphoto dengan latar khas orang yang sedang melakukan pernikahan.

__ADS_1


Prosesi pernikahan di mulai. Melvin sangat lancar saat mengucapkan ikrar ijab kabul nikah. Kata Sah menjadi pertanda mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Meskipun hanya akad nikah, masih ada MC yang memandu acara sakral tersebut. Kini, Melvin dan Disra bersimpuh di kaki Tina dan Roni.


Meneteskan air mata haru akan pernikahan kilat tersebut. Setelah itu, proses photo bersama.


Seorang photographer memandu gaya pada Disra dan Melvin. Terukir senyum sempurna di wajah Melvin. Namun, tidak dengan Disra. Gadis itu menyinggung kan senyum, tetapi lebih karena tersenyum paksa karena ocehan dari sang photographer. Wajah linglung lebih banyak ditampilkan oleh Disra.


Dia masih merasa semua ini hanya mimpi. Dirinya merasa seperti de javu. Pernikahan yang terjadi begitu saja.


Disra melebarkan matanya, seketika dia teringat akan mimpi yang membuatnya teriak. Mimpi saat dirinya dan Melvin menikah.


"Mimpi itu menjadi kenyataan," lirih Disra.


"Ada apa?" tanya Melvin. Dia mendengar Disra bergumam tetapi tak tahu apa yang diucapkan.


Disra menoleh. "Tidak apa-apa."


Acara selanjutnya adalah makan malam bersama. Mereka duduk di meja makan bundar.


Roni mengedarkan matanya. Dia melihat ke arah Melvin. "Aku tidak lihat keluargamu?" tanyanya.


Melvin terdiam lalu tersenyum. "Orang tuaku sudah lama meninggal. Hanya ada Om-ku dan keluarga kecilnya. Namun, mereka sedang berada di luar negri. Aku akan hubungi mereka saat melangsungkan resepsi pernikahan," jelas Melvin.


Disra hanya menatap teduh laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Mereka membahas tentang resepsi.


Melvin tak masalah kapan mereka akan melakukan resepsi. Namun, tidak bagi Disra.


Kalau begitu, satu bulan lagi saja resepsinya," ujar Tina.


Di otaknya sudah banyak daftar tamu undangan yang akan diundang. Ini adalah pertama dia menikahkan anaknya. Tentu ingin semua orang melihatnya.


"Tidak bisa!" tolak Disra.


"Kenapa?" tanya Tina.


"Setidaknya hingga aku selesai sidang. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu," tutur Disra.


"Kuliah tak akan menghalangi mu lulus!" timpal Tina.


"Tapi aku ingin konsentrasi lebih dahulu," ujar Disra. "Sebentar lagi akan pengajuan skripsi. Hanya tinggal beberapa bulan lagi."

__ADS_1


Roni menghembuskan napasnya pelan. Yang terpenting baginya, Disra telah dinikahkan secara hukum dan agama. Menurutnya, itu sudah cukup kuat untuk hubungan Disra dan Melvin.


"Kalau Ayah, terserah kalian saja. Bagaimana menurutmu Melvin?" tanya Roni.


Melvin tak ingin menunda. Namun, dia pun ingin menghormati keputusan istrinya. Dia menatap Disra yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon.


"Aku ikut denganmu saja," jelas Melvin.


Disra tersenyum sumringah mendengar persetujuan Melvin.


"Kalian mau tinggal di mana setelah ini?" tanya Roni.


Disra tak memikirkan hal itu. Dahinya berkerut, dia lupa kehidupan setelah nikah seharusnya.


"Aku akan tetap tinggal dengan Ayah dan Ibu. Biar Melvin kembali ke rumahnya. Kita akan tinggal bersama setelah resepsi dilaksanakan," usul Disra.


"Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Melvin dengan nada protes. "Aku sudah minta orang menyiapkan keperluanmu di apartemen," jelasnya.


Disra hanya menggigit pelan bibirnya. Otaknya berpikir untuk mencari alasan.


"Pergilah dengan suamimu," ujar Roni dengan suara yang berat.


Meski berat melepas anaknya. Namun, dia tahu bahwa Disra bukan lagi tanggung jawabnya. Anak gadisnya sudah milik seorang pria.


"Ayah," lirih Disra melihat ayahnya meneteskan air mata.


Roni menghapus air matanya. "Pergilah dengan suamimu, Nak," ujar Roni.


Disra tak bisa membendung kesedihannya. Dia pun ikut menangis. Melvin memeluk istrinya. "Apa kita semua tinggal saja bersama? Aku akan siapkan tempat tinggal lebih besar agar bisa selalu bersama dengan ayah dan ibu," usul Melvin.


"Tidak!" tolak Roni. "Bawa istrimu pergi. Dia tanggung jawabmu. Aku masih memiliki tanggung jawab pada istri dan anak lelakiku dan tak akan aku biarkan melimpahkan tanggung jawab pada pundakmu," ujar Roni bijak.


Disra terharu mendengar kalimat yang terlontar dari mulut ayahnya. Sangat jarang ayahnya bisa mengeluarkan perkataan bijak.


Bagas setengah berlari menghampiri Melvin. Dia mengurus segala keperluan pernikahan Melvin dan Disra. Ya, dia memang tak datang menjadi saksi pernikahan. Itu semua karena dia harus menyiapkan tempat tinggal pasangan pengantin baru tersebut. Mengisi apartemen Melvin dengan segala keperluan wanita.


"Semua sudah disiapkan sesuai dengan permintaanmu, Bos," jelas Bagas.


"Terima kasih. Aku akan naikan gajimu," terang Melvin dan sukses membuat Bagas sumringah.


Roni menatap pria yang sedang berbincang dengan Melvin. Dia melebarkan matanya saat wajah Bagas terlihat dengan jelas.

__ADS_1


"Kau ... yang membantuku keluar dari penjara?" tanya Roni terbata.


Yang dia tahu, Bagas adalah seorang pemimpin dan pria itu memanggil menantunya dengan sebutan Bos.


__ADS_2