
Melvin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya, itu saran dari Bagas,” ucapnya malu.
“Kau ….” Gerakan tangan Disra yang seakan ingin memukul Melvin terhenti.
Percuma jika dia memukul pria tampan di depannya itu. Pria itu sudah berhasil mencuri hatinya. Disra hanya bisa menerima kenyataan. Upaya Melvin mendekatinya sangat sungguh-sungguh.
Mereka makan dalam diam, tidak ada banyak obrolan hingga semua makanan habis tanpa tersisa.
“Mulai besok, kau harus makan siang denganku. Kita makan di sini saja jika kau tak ingin hubungan kita diketahui.”
Disra hanya menganggukkan kepala. “Baiklah.”
“Nanti ke kampus bareng saja.”
“Tidak, aku naik ojek saja.”
“Tidak boleh!”
“Melvin, kampus terlalu terbuka. Akan banyak yang memperhatikan jika aku keluar dari mobilmu.”
“Kalau begitu, jangan naik ojek! Aku tak ingin kau berdekatan dengan pria lain. Naik taxi saja,” ujar Melvin.
Disra hanya menaikan alisnya sebelah. Jika naik taxi biaya yang dikeluarkan akan semakin mahal. Namun, dia tak ingin mengatakan alasannya pada Melvin yang akan membuat dirinya tampak seperti orang kikir.
“Aku naik bus saja. Orang-orang terbiasa melihatku menggunakan bus. Jika, tiba-tiba aku naik taxi, akan tampak aneh,” jelasnya.
Melvin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia membiarkan Disra naik bus. Hingga mereka bertemu kembali di kelas. Keamanan jaringan adalah mata kuliah yang membuat mereka bertemu kembali.
Melvin tampak dingin sangat mengajar. Namun, pria itu memberi senyum untuk Disra saat sang gadis memperhatikannya.
Akhir minggu pun tiba, saatnya Disra dan Felix pergi ke mall untuk mengisi kegiatan persahabatan mereka yang sudah lama tak dilakukan. Battle dance di area permainan.
“Kita isi saldo kartu dulu,” ujar Felix.
“Oke,” jawab Disra.
Disra sudah memberi tahu Melvin bahwa hari ini, dia dan Felix akan pergi ke mall. Dia tak ingin berbohong pada Melvin, dengan berkata jujur, dia berharap Melvin tidak salah paham padanya.
Disra dan Felix mulai menggesek kartu permainan pada mesin dancing. Disra dan Felix berdiri berdampingan. Disra merenggangkan tangannya sebelum permainan dimulai. Begitu pula dengan Felix.
Mereka saling bertatapan lalu tersenyum mengejek. Permainan dimulai, anime seorang perempuan dengan pakaian khas remaja jepang ada di layar kaca depan mata. Musik mulai mengalun indah. Setelah itu, Disra dan Felix mulai bergerak mengikuti dance dari sang anime di depannya.
__ADS_1
Disra dan Felix mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Maju ke depan dan mundur ke belakang. Tidak lupa gerakan tangan menyamping. Mereka bergerak penuh dengan tawa.
Tanpa Disra dan Felix sadari, di sudut arena permainan ada seorang pria menggunakan kaca mata dan topi hitam sedang memperhatikan dua orang sahabat saling tertawa bebas.
Tiga ronde permainan battle dance dengan kemenangan diraih oleh Disra. “Sudah gue bilang kalau loe belum bisa menyaingi gue!” ejek Disra.
“Itu hanya kebetulan. Ayo main lagi!” ajak Felix menggebu.
“Dih ogah! Udah tiga kali dan gua yang mendapat kemenangan penuh! Jadi, Big No! Untuk yang keempat kali!” jelas Disra.
“Iye, iye! Kita main yang lain lagi aja, sayang saldonya masih banyak!”
“Oke!” ujar Disra.
Mereka mulai memainkan permainan lainnya. Mulai bermain permainan 4 dimensi, tembak-tembakan zombie. Arcade basketball dan lainnya. Disra menoleh ke belakang, dirinya merasa ada yang memperhatikan. Dia menyentuh tengkuknya sendiri. Hawa dingin seperti menyembur di sekitar lehernya.
Felix melihat Disra yang beberapa kali menoleh ke belakang. “Ada apa?” tanyanya.
“Entahlah, aku merasa ada yang memperhatikan kita,” jelas Disra.
“Bukannya udah lama nggak bisa melihat yang begituan?”
“Maksudnya ada hantu lagi perhatiin kita?” tanya Felix.
Disra mengangkat bahunya. “Nggak tahu, Cuma kaya ada yang ngeliatin gitu. Ngerasa nggak sih loe?”
“Biasa aja sih gua! Apa mau pergi aja?”
“Yuk,” ujar Disra.
Mereka pergi dari area permainan. Mereka memutuskan pergi ke kedai dessert. Ice pudding matcha dessert yang dipilih oleh Felix. Berisi campuran puding, grass jelly, mochi, strawberry, cerry, peach dan bobba. Di tambah dengan susu dan juga matcha ice cream.
Sedangkan Disra memesan sup durian. Berisi daging durian yang cukup besar, ice cream dan juga tofu puding.
“Coba punya loe!” Felix mengambil sup durian Disra dengan sendoknya sendiri.
“Gua mau mochi loe!” Giliran Disra mengambil mochi dari mangkuk dessert Felix.
Melvin hanya memicingkan matanya melihat Disra menggunakan sendoknya untuk mengambil mochi di mangkuk Felix.
Disra seketika menoleh ke belakang, dia menggigit bibir dalamnya. Seketika Melvin bersembunyi di balik dinding toko pakaian.
__ADS_1
“Kenapa? Merasa ada yang mengikuti lagi?” tanya Felix.
“Nggak kok,” jawab Disra bohong. Bukan hanya merasa ada yang menatapnya, melainkan dirinya tahu siapa yang menguntitnya. “Gue mau ke toilet dulu,” ujarnya.
Disra bangkit, pamit pada Felix ke toilet. Dia berjalan ke arah Melvin yang sedang bersembunyi. Dia menepuk pundak kekasihnya.
“Sedang apa di sini?” tanya Disra.
Melvin masih berpura-pura tak mengenal Disra. Dia menundukkan kepalanya dengan topi yang semakin turun ke bawah untuk menutupi wajahnya.
“Jangan pura-pura! Aku tahu itu kau!” dengus Disra.
Perlahan, Melvin mengangkat kepalanya. Dia membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. “Hai, kebetulan kita bertemu,” ucapnya sembari tersenyum.
“Untuk apa ke sini? Kau tak percaya padaku?”
“Bukan, aku hanya tak sengaja melihatmu di sini,” jelas Melvin.
“Tidak sengaja bagaimana? Bukankah kamu bilang ada urusan dengan Bagas?”
“Itu dia, kami baru saja bertemu dan kini aku sedang berjalan-jalan sendiri di mall,” ujar Melvin mencari alasan. Dia memang sengaja mengikuti Disra karena dirinya tak tenang membiarkan kekasihnya bersama pria lain.
Disra menghembuskan napasnya pelan. “Besok siang ke rumahku, akan aku perkenalkan dirimu sebagai pacarku pada orang tuaku,” jelas Disra.
Melvin langsung melebarkan matanya. “Apa kau serius?” tanya Melvin tak percaya atas apa yang di dengarnya.
“Tentu, agar kau tenang bahwa aku serius menjalin hubungan denganmu!”
Melvin tersenyum bahagia, dia bahkan memukul gemas tembok di sampingnya karena terlalu bahagia. “Aku pasti akan datang tepat waktu.”
“Apa kau sangat ingin bertemu dengan orang tuaku?”
“Tentu, aku ingin mereka tahu hubungan kita tidak main-main.”
“Aku bersedia mengenalkanmu kepada orang tuaku. Lalu, bagaimana denganku? Apa kau tak ingin memperkenalkan diriku pada orang tuamu?” tanya Disra. Dia pun ingin melihat keseriusan Melvin.
Melvin terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Disra mendecak melihat Melvin yang terdiam. Bukankah hal itu menandakan pria itu tak serius dengannya. “Lupakan ucapanku,” ujar Disra.
“Besok pagi, aku akan menjemputmu. Kita bertemu dengan orang tuaku terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan menemui orang tuamu,” tegas Melvin.
__ADS_1