Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 45 Makam


__ADS_3

Disra beberapa kali mencoba pakaiannya. Dia ingin menampilkan penampilan yang sempurna saat bertemu dengan orang tua Melvin.


Akhirnya, dia memilih dress di bawah lutut berwarna hijau botol, menjempit rambutnya di sisi kiri. Merias wajahnya dengan riasan yang minimalis.


"Rambut Cek!"


"Make Up Cek!"


"Baju Cek!"


"Sempurna," gumam Disra.


Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Menelisik dirinya sendiri. "Apa tidak terlalu cepat hubunganku dengannya?" tanya Disra pada diri sendiri.


Dia merasa hubungannya dengan Melvin bergerak terlalu cepat. Belum satu minggu mereka menjalin kasih. Namun, Melvin sudah menuntut untuk saling kenal antar keluarga.


Disra menghembuskan napasnya pelan. "Apa keputusanmu benar dengan menerima cintanya?" gumamnya.


Dia keluar rumah, masih bertemu di tempat biasa. Melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada yang melihatnya masuk ke dalam mobil Melvin.


Melvin hanya mengukir senyum saat melihat Disra yang tampak berbeda dari sebelumnya. "Kau cantik," ucapnya.


"Terima kasih."


Mobil melaju, jalanan di minggu pagi tidak terlalu panas. Sangat cocok untuk keluar rumah. Suasana yang cerah. Namun, udara yang sejuk, sangat jarang terjadi.


"Kita mampir dulu ya. Aku belum beli apa pun untuk orang tua mu. Ayah dan Ibumu suka apa? Beli cake atau buah? Atau ... mungkin suplemen atau susu tulang untuk lansia?" tanya Disra berentet.


Dia gugup bertemu dengan orang tua Melvin. Baru kali ini menjalin kasih dan langsung bertemu dengan calon mertua.


Dia tak ada pengalaman sebelumnya dalam pertemuan dengan calon mertua dan itu sukses membuatnya gugup.


"Ibuku suka bunga," jawab Melvin.


Disra mengangguk. "Kalau begitu, mampir ke toko bunga dulu. Lalu, ayahmu suka apa?"


"Bunga saja cukup," terang Melvin.

__ADS_1


Mereka tiba di toko bunga. "Ibumu suka bunga apa?" tanya Disra.


"Apa saja tang penting cantik," terang Melvin.


Disra membeli seikat bunga lily. Bunga putih yang sangat cantik.


Melvin terus melajukan kendaraannya. Tatapannya fokus ke depan. Sedangkan Disra berdebar hatinya.


Disra mencoba untuk tenang. Dia sudah mengatur kalimat untuk sang calon mertua.


Hallo Tante, saya Disra. Senang bertemu denganmu.


Saya anak pertama dari dua bersaudara.


Saya suka makanan apapun selama itu baik.


Pasti sangat bahagia memiliki anak seperti Melvin.


Urutan kalimat sudah dipersiapkan oleh Disra. Dia yakin, dirinya akan disukai orang tua Melvin.


Disra hanya melebarkan matanya saat mobil Melvin berhenti di sebuah pemakaman. Dia menoleh ragu pada kekasihnya.


Disra turun dari mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tak lupa membawa bunga lily yang sebelumnya telah dibeli.


Mereka berjalan berdampingan hingga sampai di sebuah pusara. Dua makam yang saling bersebelahan.


Jihan Adelia dan Daniel Damara. Nama yang tertera di batu nisan. Dilihat dari tahun kematian, sudah cukup lama orang tua Melvin meninggalkan pria itu.


Bukan meragukan Melvin yang membawanya ke pemakaman. Nama Damara di belakang nama Daniel sangat menunjukkan bahwa makam tersebut adalah ayah Melvin.


"Mommy, Daddy. Peter membawa calon menantu kalian."


Kebersamaan mereka yang intens setelah kejadian penculikan itu membuat suasana keluarga menjadi lebih hangat. Namun, tak berlangsung lama karena Tuhan lebih sayang pada orang tua Melvin.


Kecelakaan mobil yang membuat kedua orang tua Melvin harus merenggut nyawa.


“Tante, Om. Perkenalkan, nama saya Disra.”

__ADS_1


Untaian kalimat yang sudah tersusun di kepala Disra hanya tinggal untaian yang tersimpan di dalam otak. Melvin bersimpuh, dia mencurahkan hatinya pada orang tuanya. Disra hanya bisa melihat Melvin dari samping.


“Disra adalah wanita yang aku cintai. Dialah cahaya yang selama ini aku cari. Dialah gadis yang selalu aku bicarakan pada kalian. Aku mencintainya, aku akan memperlakukan dia dengan baik. Aku akan mencintai dia seperti Daddy mencintai Mommy,” ujar Melvin.


Disra hanya melirik sekilas pada Melvin. Bagaimana mungkin pria itu begitu yakin akan perasaannya? Hubungan mereka baru seumur jagung. Namun, Melvin memiliki keyakinan yang sangat tinggi.


Setelah puas mencurahkan isi hati. Melvin membawa Disra keluar dari pemakaman dengan menceritakan kronologis kematian orang tuanya.


“Selama ini, kau tinggal dengan siapa?” tanya Disra.


“Tinggal sendiri,” jawab Melvin.


Disra mengingat tahun wafat orang tua Melvin. Kekasihnya itu lulus SMA di usia 14 tahun. Kemungkinan kematian orang tua Melvin, saat Melvin masih duduk di kelas 3 SMP atau kelas 1 SMA.


“Lalu, yang menjadi walimu?” tanya Disra.


“Setelah kematian orang tuaku, selama dua tahun, aku tinggal dengan Om ku. Namun, setelah lulus SMA di usia 14 tahun. Keluarga Om ku pindah ke luar negri.”


“Kenapa kau tidak ikut?” tanya Disra.


“Kalau aku ikut. Aku tidak akan menemukanmu!” seru Melvin.


“Dasar gombal!” ejek Disra.


Melvin hanya terkekeh, yang dia katakan benar adanya. Dirinya memang terus mencari Disra. Namun, sang kekasih selalu menganggap dirinya menggombal.


“Aku bukan dari keluarga konglomerat. Orang tuaku memang memiliki perusahaan. Namun, bukan perusahaan besar. Setelah kematian orang tuaku, perusahaan tidak ada yang mengurus. Aku masih sangat muda untuk mengelola. Karena itu, Om ku yang mengelola. Namun, dia tak bisa mempertahankan itu. Pada akhirnya, dia dan keluarga mengadu nasib ke luar negri. Aku tidak ingin menambah bebannya. Saat itu, aku masuk ke Universitas tanpa biaya. Semua aku dapat karena beasiswa. Beasiswa yang aku dapat bukan hanya biaya perkuliahan. Namun, mencakup biaya hidup. Aku tidak membutuhkan banyak uang untuk keperluan hidup. Aku pun menjadi guru private anak SMP. Selama masih menjadi mahasiswa, mulai berdatangan toko-toko yang membutuhkan jasa pembuatan program. Dari sana, usahaku semakin berkembang sampai saat ini,” papar Melvin.


Disra hanya tertegun mendengar cerita Melvin. Dia pikir Melvin memang terlahir dari keluarga berada yang membangun usahanya karena modal orang tua. Namun, semua yang dicapai oleh Melvin adalah jerih payah dari usahanya sendiri.


“Kau sungguh hebat!” puji Disra.


“Bukan hebat! Tapi memang keadaan yang mengharuskan. Aku tidak punya modal untuk membuka usaha. Aku hanya punya otak yang bisa ku gunakan. Mungkin, ada orang yang berhasil membangun usahanya dengan modal uang. Namun, aku hanya menggunakan modal otak. Aku yang sulit bersosialisasi membuat diriku sulit untuk melamar pekerjaan. Berbeda dengan apa yang aku lakukan sekarang. Seorang programmer hanya membutuhkan komputer saja untuk membuat suatu aplikasi. Dalam mengajar private pun tak membutuhkan banyak modal. Aku menjadi dosenpun karena diminta pihak kampus. Ya, hitung-hitung berterima kasih telah memberiku beasiswa.”


Disra hanya mengangguk. “Kau mengatakan ini. Sebenarnya untuk pamer kehebatanmu atau ingin memberiku motivasi?” tanya Disra sedikit mengejek.


Dia akui Melvin genius. Namun, bagi Disra, Melvin masih belum bisa menyaingi para CEO yang ada di drama-drama. Melvin masih menyewa gedung untuk kantornya dan belum memiliki gedungnya sendiri. Melgalaxi berada di sebuah gedung dengan banyak perusahaan lain di dalamnya.  Namun, bagi seseorang yang tak memiliki sokongan dari orang tuanya. Melvin sudah sangat berhasil. Terlebih lagi, pria itu memberikan kesejahteraan pada karyawannya.

__ADS_1


“Bukan pamer atau memotivasi. Kau dulu yang tadi bertanya,” ujar Melvin terkekeh. “Lagi pula, untuk meyakinkanmu, kalau nanti kita menikah, aku bisa menafkahi mu.”


“Ish! Baru juga jadian berapa hari, sudah membicarakan pernikahan saja!” ketus Disra.


__ADS_2