Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 57 Rendah Diri


__ADS_3

"Permisi, Pak Peter," ujar Disra. Meskipun di kantor, dia tetap menjaga keprofesionalitas dalam bekerja.


Melvin langsung menarik lengan Disra. Dia mengusap kepala sang istri. "Sudah kubilang, aku tak suka kau disentuh orang lain!" hardik Melvin.


Disra memicingkan matanya. "Kenapa kau bicara seperti itu?" tanyanya.


"Aku tak akan mengatakan hal itu jika Raska tak menyentuhmu!"


"Bagaimana kau bisa tahu? Kau memata-matai aku?"


Disra langsung beralih ke meja kerja suaminya dan melihat layar komputer suaminya. Benar dugaannya bahwa dirinya dipantau oleh sang suami.


"Ini melanggar privasi!" kesal Disra.


"Privasi bagaimana? Aku hanya sedang mengecek karyawanku sendiri."


"Bohong!"


“Oke, aku memang memantaumu. Itu karena aku rindu! Namun, yang kulihat adalah pemandangan istriku yang disentuh pria lain! Apa kau pikir aku senang dirimu di sentuh pria lain?” tanya Melvin menggebu.


Disra hanya termenung. Apa yang dikatakan oleh Melvin benar. Mereka telah menjadi suami istri, hanya Melvin yang boleh menyentuhnya.


“Aku minta maaf. Lain kali, aku akan lebih berhati-hati lagi. Aku akan menjaga jarak dengan teman pria.”


“Begitu baru benar!” puji Melvin.


“Ya sudah, aku pamit dulu,” ujar Disra seraya keluar dari ruangan suaminya. Namun, lengannya ditahan oleh sang suami.


“Jangan pergi dulu.”


“Kenapa?”


“Aku kangen.”


“Kita bertemu setiap hari.”


“Kalau siang hari tidak bisa bermesraan.”


“Kalau begitu malam hari saja,” timpal Disra.


Dia menepis tangan sang suami dan hendak keluar dari ruangan. Namun, lagi-lagi Melvin menariknya dan langsung menyambar bibir sang istri. Disra yang awalnya menolak, lambat laun ikut larut dalam ke dalam ciuman sang suami. Melvin menggendong sang istri dan menundukkan di atas meja. Dia memperdalam ciuman mereka. Tangan Melvin bergerak ke segala arah. Sentuhan nakal sang suami membuat Disra menggeram.


Mereka sadar diri masih di area kantor. Disra mendorong sang suami setelah dirasa sudah terlalu lama. “Cukup! Orang-orang bisa curiga.”


“Aku tak ingin seperti ini terus menerus. Aku ingin semua orang tahu hubungan kita.”


“Tolong tunggu sebentar. Beberapa bulan lagi aku lulus.”


“Kau tidak mau orang kampus mengetahui hubungan kita. Tapi, tidak masalah bukan jika orang kantor tahu?”


Disra menggigit pelan bibirnya. “Tunggu Felix pulang dari Singapura. Aku akan memberitahunya, setelah itu, kau boleh mengumumkan pada teman-teman di kantor.”


“Kenapa kau begitu peduli dengan Felix?” tanya Melvin sedikit kesal. “Apa kau menyukainya?”


“Bukan begitu. Tolong jangan salah paham. Aku sudah bilang padamu bahwa aku dan Felix bersahabat sejak kecil, dan kami sangat menjaga persahabatan itu.”


Disra mendekat pada sang suami. Dia memberikan kecupan di pipi sang suami untuk meyakinkan suaminya.


“Baiklah. Kapan dia pulang?”


“Masih belum tahu.”


“Ya sudah, nanti siang makan denganku.”

__ADS_1


“Oke Bos.”


*


*


*


Disra hanya memandang sang suami yang mengajar di depan kelas. Bagaimana pria dingin itu menjelaskan setiap materi.


Hatinya menghangat, pria tampan itu mengulas senyum saat mereka tak sengaja bertatapan. Sekarang, dia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.


“Kumpulkan tugas. Setelah itu bawa ke ruanganku,” ujar Melvin. Dia menunjuk Disra. “Kau kumpulkan tugas satu kelas dan serahkan padaku malam ini.”


“Baik, Pak,” jawab Disra.


Disra berkeliling, meminta lembar tugas rekan sekelasnya. “Dis, gua aja yang kasih ke Pak Melvin,” pinta salah seorang mahasiswi.


“Nggak bisa! Gua udah diamanahi. Kalau loe yang kasih, nanti dikira gua nggak amanah!” jelas Disra.


Setelah mendapatkan semua lembar tugas, Disra bergegas menuju ruangan Melvin.


“Dis, mau dianter nggak?” tawar Suci.


“Nggak usah Ci, gua bisa sendiri. Loe pulang aja duluan.”


“Loe pulang sama siapa?”


“Sendirilah! Emang loe mau anter gua? Kita aja beda arah!”


“Ya kagak! Emang nggak bareng Felix?”


“Belum pulang dia.”


Disra langsung menuju ruangan sang suami. Mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya. Baru satu langkah, tangannya sudah di tarik oleh Melvin. Didorong ke dinding dan mulai mencium sang istri.


Setiap ada kesempatan, Melvin akan mencoba bermesaraan dengan sang istri. Disra pun tak menolak jika itu tak dilihat oleh orang lain dan tidak dalam waktu yang lama. Setiap malam, dia akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


*


*


*


“Kau di mana?” tanya Melvin melalui sambungan telepon.


“Bogor.”


“Kenapa di sana?”


“Bertemu klien bersama Kak Bambang.”


“Ya sudah aku jemput.”


“Iya. Nanti aku bilang Kak Bambang untuk pulang duluan.”


“Oke. Kirimkan alamatnya.”


“Iya.”


Disra menuju sebuah cafe. Kemungkinan tidak ada yang mengenal mereka, sehingga memutuskan untuk makan siang bersama.


Disra duduk di kursi dekat kaca, jarum jam sudah menunjukan pukul dua siang. Dia memesan makanan untuknya dan Melvin. Sengaja memesan duluan karena Melvin mengatakan tidak lama lagi akan sampai. Tidak banyak pengunjung yang datang, hanya beberapa siswi yang terlihat sedang mengahabiskan waktu di café dengan bergosip setelah pulang sekolah, dan beberapa pengunjung lainnya yang semuanya adalah kumpulan wanita.

__ADS_1


Minuman telah datang, Disra menyedot minuman srawberry milksahake miliknya sembari memainkan ponselnya.


Ting! Pintu berbunyi saat ada pengunjung yang datang. Ya, café tersebut memiliki sistem bunyi untuk mengetahui ada pengunjung datang. Para siswi yang sedang bergosip mengarahkan pandangan pada seseorang yang masuk ke dalam café. Terdengar bisik-bisik di telinga Disra.


Ganteng banget!


Kenalan yuk!


Artis pendatang baru kali ya?


Gemesh banget dech…


Hidungnya mancung banget ….


Disra mendongak mencari sumber dari suara-suara sengau. Terlihat Melvin yang berdiri di depan pintu mencari keberadaan seseorang. Disra yang duduk di pojok dan terhalang tiang tembok membuat Melvin tak melihat istrinya.


“Sayang! Aku di sini!” seru Disra mengangkat tangannya. Dia sengaja meninggikan suaranya agar menjadi pusat perhatian.


Melvin yang mendengar suara Disra langsung tersenyum dan menghampiri sang istri. “Sayang, sudah lama menunggu?” tanyanya seraya duduk di depan Disra.


“Tidak, baru beberapa menit,” jawab Disra. “Oh ya, aku sudah memesan makanan untukmu. Tapi, tidak tahu kau suka atau tidak.”


“Aku akan suka apapun yang kau pesankan.”


Disra melirik ke sekitar. Terlihat wajah-wajah kecewa dari kumpulan para remaja putri tersebut. Dia tersenyum puas melihat ekspresi para gadis itu. Baru kali ini dia merasa bangga telah memiliki Melvin.


Ceweknya biasa saja!


Apa matanya bermasalah ….


Senyum Disra memudar saat mendengar suara tak menyenangkan dari bisik-bisik kumpulan gadis itu. Namun, dia sadar diri bahwa para gadis itu benar. Dia tak sebanding jika berdiri di samping Melvin. Masih banyak gadis yang lebih cantik darinya yang lebih pantas berdiri mendampingi Melvin. Rasa percaya dirinya seolah hilang.


“Sayang, kita harus mulai menyiapkan resepsi pernikahan kita mulai sekarang. Kau suka tema apa?” tanya Melvin memecah pikiran Disra.


“Resepsi?” tanya Disra yang tersadar dari pemikirannya. Dia melihat ke sekelompok para remaja yang kini hendak pergi dari café.


“Ya, kita harus memikirkannya. Aku ingin pernikahan kita sesuai dengan yang kau inginkan.”


“Jangan seperti itu. Harus keinginanmu juga.”


“Keinginanku adalah kamu. Semua yang kau suka, aku akan suka,” ujar Melvin mengelus kepala Disra. “Wanita yang ada di mataku hanya kamu. Prioritasku adalah dirimu. Jadi, tidak perlu mendengar orang lain,” tambahnya.


Disra tersenyum, sepertinya Melvin tahu apa yang sedang ia pikirkan. “Tapi, masih lama resepsinya. Apa tidak terlalu cepat mempersiapkan?”


“Tidak, aku ingin buat pesta yang sempurna untuk kita.”


“Karena resepsinya masih lama. Boleh aku mengajukan permintaan padamu?”


“Tentu. Katakanlah.”


Disra sedikit ragu mengatakannya. Namun, dia harus mengatakan pada Melvin untuk meminta izin. “Aku ingin ke Korea,” jelas Disra.


Melvin terdiam, alisnya saling tertaut. “Maafkan aku yang tidak peka. Seharusnya aku merencanakan bulan madu. Bukan maksudku untuk membuat pernikahan kita tak berkesan. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jangankan ke Korea. Kita akan berbulan madu ke seluruh dunia,” terang Melvin sungguh-sungguh.


“Bukan itu maksudku. Aku tidak ingin berbulan madu.”


“Jangan bilang kau ingin ke Korea sendiri seperti Felix yang jalan-jalan sendiri! Aku tidak akan membiarkannya!” keluh Melvin.


“Bukan gitu, karena resepsi pernikahan kita masih lama. Jadi, aku ingin menggunakan waktu untuk … sedikit melakukan oprasi,” jelas Disra.


“Oprasi? Kau sakit apa? Kenapa tak bilang padaku?” tanya Melvin khawatir.


“Tidak sakit, aku hanya ingin oprasi hidung agar lebih mancung,” jelas Disra ragu. Ucapan dari para remaja itu membuatnya merasa rendah diri.

__ADS_1


“Apa?”


__ADS_2