Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 43 Room 19


__ADS_3

Disra sampai di kantor, dia melihat Melvin yang juga baru tiba di kantor. Sang gadis menyerengitkan dahinya. Sebelumnya, Disra memang satu mobil dengan Melvin dan sesuai dengan kesepakatan, Disra turun di tengah jalan. Namun, mengapa mereka tiba di kantor dengan waktu yang hampir bersamaan? Apakah Melvin sengaja menunggunya?


Dia dan Melvin sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Disra masih memikirkan cara untuk memberitahu Felix. Mereka sangat menjaga persahabatan, sampai saat ini tidak ada yang pernah melanggar rules of friendship mereka, dan kini, Disra yang melanggar itu semua dengan menjalin kasih dengan Melvin.


Best friend complex, mungkin ungkapan yang tepat untuk Disra dan Felix. Merasa saling memiliki. Namun, tidak ada keterlibatan emosional percintaan.


Ketika Disra sampai di lift, Melvin pun menghampiri. “Pagi, Pak,” sapa Disra mencoba bersikap biasa saja. Dia ingin berpura-pura tak melihat. Namun, itu semua mustahil.


Tak ingin ada gossip, karena gossip sangat menakutkan. Jika karyawan lain mengetahui hubungannya dengan Melvin, dia takut gossip itu akan membunuhnya. Fans dari Melvin banyak, dia tahu banyak para karyawan wanita yang menggilai bos muda itu. Tidak hanya karyawan wanita, bahkan karyawan dari perusahaan lain pun menyukai Melvin. Terlebih di roof top tempat bertemunya banyak antar karyawan.


“Selamat pagi Pak Peter,” sapa seorang karyawan yang juga masuk ke dalam lift.


“Pagi,” jawab Melvin dingin.


Disra hanya melirik sepintas pada Melvin. Jawaban dinginnya membuat suasana hati orang yang menyapanya menjadi buruk. Melvin sangat tidak ramah pada para karyawannya, terlebih pada karyawan wanita. Tidak heran jika dia digosipkan memiliki kelainan s*ksual.


Jika tak mengingat lugasnya Melvin menciumnya, mungkin Disra pun akan menganggap pria itu kelainan.


Pria yang tak mudah disentuh!


Memisahkan hubungan kerja dan pribadi. Disra akan mendirikan benteng besar untuk itu. Dia menekan tombol lantainya berada dan mulai memfokuskan pada pekerjaan. Bekerja keras untuk menjadi seorang programmer yang handal. Hari ini, Juli dan Rozak yang menjadi tutornya.


Dia sangat sungguh-sungguh dalam belajar. Tanpa menyadari ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ya, Melvin mengirim pesan untuk mengajak makan siang bersama. Namun, Disra tak ada waktu untuk melihat siapa saja yang mengirim pesan padanya. Jam makan siang pun tiba. Hari ini, Rozak yang menjadi tutor Disra.


"Yuk, makan siang," ajak Rozak pada Disra.


"Duluan saja Kak. Aku masih nanggung," jawab Disra sopan. Dia masih sibuk mengetik coding untuk web permintaan klien.


Rozak hanya menghela napas ringan. Dia tak bisa memaksa Disra untuk makan siang. Terkadang, seorang programmer jika sudah asik dengan pekerjaannya, maka akan lupa makan. Karena jika ditunda sedikit saja, ide yang ada di kepala akan hilang. Logika pemrograman pun bisa buyar.


Rozak menoleh pada Juli. "Jul, mau makan siang nggak?" tanyanya.


"Duluan aja, gua mau nyelesain pekerjaan dulu, soalnya hari ini mau pulang cepat," tukas Juli. Satu lagi kebijakan yang membuat nyaman karyawannya, yaitu boleh pulang terlebih dahulu asalkan semua pekerjaan selesai dan alasan tersebut masuk akal.

__ADS_1


Terpaksa, Rozak pergi sendiri mencari makan siang, dia memutuskan mencari makan siang di rooftop. Sedangkan Disra, masih sibuk dengan coding di layar komputernya. Ponsel Disra tak berhenti berdering dan itu mengganggunya. Mau tak mau, dia melirik siapa yang menelponnya.


Melvin, kekasihnya yang menghubungi. “Apa ada masalah?” tanya Disra.


Melvin hanya mengerutkan dahinya saat mendengar kalimat Disra yang seoah tersirat dia hanya boleh menghubunginya jika hanya ada masalah.


“Apa aku hanya boleh menelponmu jika ada masalah?” tanya Melvin.


Disra melirik ke arah Juli, perlahan dia berjalan keluar ruangan. “Bukan seperti itu, kita sudah sepakat. Intinya, jangan ada orang lain yang tahu hubungan kita,” ujarnya.


“Makan siang bersama,” ucap Melvin.


“Aku tidak lapar, masih nanggung coding,” jawab Disra.


“Meskipun sibuk. Namun, harus tetap makan,” ujar Melvin. Dia sangat peduli dengan kekasihnya. Tak ingin Disra lemas karena kelaparan.


“Iya, nanti beli roti saja.”


Melvin terdiam, Disra mengira tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. “Ya sudah, aku tutup dulu ya ….”


“Tidak perlu, kau makan saja sendiri,” ujar Disra.


“Aku akan menunggumu dan tak akan pergi sebelum kau datang!” ancam Melvin dengan suara dingin.


Disra hanya menghembuskan napasnya pelan, dan akhirnya menyetujui permintaan Melvin. Ozku restoran, terkenal dengan makanan yang lezat dengan harga yang selangit. Tentu, Disra tak pernah berkunjung ke restoran tersebut.


Untuk kalangan biasa, untuk bisa makan di restoran tersebut harus reservasi terlebih dahulu, dan itu, bisa reservasi selama satu bulan sebelumnya. Disra menundukkan kepalanya, takut tiba-tiba ada orang yang dia kenal. Restoran, yang dekat dari kantor.


Disra menghentikan langkahnya lalu berbelok saat dia melihat Bagas yang ada di restoran tersebut. Sebelum dirinya pergi, Bagas sudah memanggilnya terlebih dahulu.


“Disra!”


“Siang, Pak Bagas,” sapa Disra.

__ADS_1


“Ayo,” ujar Bagas.


“Maaf Pak?” tanya Disra heran. Tak mengerti maksud ucapan Bagas.


“Melvin sudah menunggumu di room 19.”


Disra hanya menggigit bibirnya pelan, dia belum berani membuka suara karena takut menimbulkan kesalahpahaman. Sampailah mereka di room 19.


“Aku antar sampai di sini. Nikmati kencan kalian,” ujar Bagas di depan pintu masuk room 19.


Setelah berkata, Bagas pergi meninggalkan Disra. Sedangkan gadis itu masuk ke dalam room 19.


Melvin berdiri dan tersenyum hangat menyambut Disra. Dia bahkan berinisiatif menarik kursi gadisnya untuk Disra duduk.


“Terima kasih,” ucap Disra.


Melvin duduk di kursinya sendiri. Tak lama, berbagai hidangan tersedia di depan mereka. “Aku sudah memesan, tidak tahu selera denganmu atau tidak. Kita bisa mengganti sesuai dengan seleramu,” jelas Melvin.


Disra melihat begitu banyak hidangan di depan matanya. “Tidak, ini sudah sangat banyak,” ucapnya. “Melvin, tadi aku bertemu Pak Bagas,” sambungnya.


“Ya, lalu?”


“Dia seakan mengetahui hubungan kita,” jawab Disra.


“Ya, dia memang mengetahui hubungan kita.” jelas Melvin.


“Apa? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kita akan menyembunyikan hubungan kita?” protes Disra.


Melvin hanya menghembuskan napasnya pelan. “Dia sahabatku sudah sangat lama dan sudah lama pula bekerja padaku. Sebelum aku menyatakan cintaku padamu. Dia yang terlebih dahulu tahu aku menyukaimu,” jelas Melvin.


Disra semakin mengerutkan dahinya. “Jadi, selama ini dia tahu kau menyukaiku? Dan selama itu juga berpura-pura tak mengetahuinya?”


“Ya. Dia banyak memberiku saran.”

__ADS_1


Disra berpikir sejenak. Dia teringat akan perjalanan bisnis ke Thailand. Melvin yang tak pernah ikut campur dalam tim saat mempresentasikan project, terlebih lagi dengan Bagas yang hilang begitu saja.


“Apa kau sengaja ke Thailand demi diriku?” tanya Disra.


__ADS_2