Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 41 Di bawah pohon mangga


__ADS_3

Felix menghentikan motor ninjanya di depan rumah Disra. Sang gadis turun dari motor.


“Mana oleh-oleh gua?” pinta Felix mengadahkan tangannya.


“Oh iya,” ujar Disra menepuk dahinya sendiri.


Dia mengeluarkan gelang dari dalam tasnya. Felix menyodorkan lengannya. Bukan mengadahkan tangannya lagi. Memberi isyarat pada Disra untuk memakaikannya.


Disra patuh dan mulai memakaikan gelang tali tersebut ke lengan Felix. “Tuh, cakep ‘kan gelang pilhan gua,” gumam Disra.


Felix mengangkat lengannya dan melihat gelang yang terpasang di pergelangan tangannya. “Emang oke pilihan loe,” puji Felix.


“Oh iya, di dalam masih ada oleh-oleh, cemilah sih. Loe kan suka ngemil. Gua masuk dulu ambilin ya,” ujar Disra.


“Nggak usah,” ucap Felix seraya menarik lengan Disra.


Melvin hanya mengeratkan genggaman pada stir mobil. Dia masih mencoba untuk menahan emosinya agar tak meledak. Memperhatikan interaksi Disra dan Felix melebihi batas atau tidak.


“Ih, jangan gitu. Gua udah beliin buat loe.” Disra berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.


“Kamu udah pulang?” tanya Tina, menoleh saat pintu ruang tamu ada yang membuka.


“Iya, Bu,” jawab Disra seraya mencium punggung tangan Tina. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil oleh-oleh untuk Felix.


“Mau ke mana?” tanya Tina melihat Disra yang terburu-buru.


“Mau ngasih oleh-oleh Felix,” ucap Disra.


“Dianter Felix?”


“Iya.”


“Suruh masuklah.”


“Udah malam, besok masih harus kerja,” ucap Disra seraya membuka pintu dan keluar rumah. Dia menghampiri Felix dengan membawa sekantong makanan.


“Ih, banyak banget,” ucap Fleix melihat Disra membawa goody bag. Dia langsung turun dari motor karena melihat Disra keberatan membawa goody bag tersebut.


Disra menyerahkan pada Felix. “Udah, ini buat loe. Biar nggak kelaparan tengah malam,” ucap Disra tersenyum manis.


Felix langsung memiting Disra dengan lengannya.  Gerakan yang disebut juga gerakan mengunci untuk membuat lawan tak bisa bergerak. Tidak menggunakan banyak kekuatan. Namun, membuat Disra tak bisa melepaskan diri dari Felix yang memiting kepalanya.


“Elo emang sahabat yang pengertian banget,” puji Felix masih dengan memiting Disra. Leher Disra tak bisa menoleh karena tengan Felix melingkar di lehernya.


“Lepas!” seru Disra.


Felix melepas Disra. “Masih aja ketakutan!” ejek Felix.


“Iya lah gua takut! Loe ye, lupa apa dulu sampe gua sesek gara-gara dipiting sama loe!” dengus Disra.


“Ya elah, emang tadi keras? Enggak ‘kan? Lagian dulu juga gua nggak sengaja. Gua pikir loe kuat.”


“Dasar sahabat nggak ada akhlak! Loe itu suka lupa kalau gua itu cewek! Jadi, kadang suka menganggap gua itu kuat kaya laki!”

__ADS_1


Felix hanya terkekeh mendengar keluh Disra. Ya, mereka sering bermain bersama. Terkadang, Felix mengajak Disra melakukan permainan lelaki. “Oh ya, udah lama kita nggak ke mall. Kita battle dance,” usul Felix.


“Udah umur berapa masih ke taman bermain di mall? Battle dance segala lagi!” protes Disra.


“Dih, gua aja masih dikira anak SMA. Udah, anggep aja kita masih SMA, lagian umur kita juga belum terlalu tua. Rule, nomor 2. Menjalankan hobby bersama. Ini mulai kita lupakan. Sabtu besok kita harus melaksanakan kembali atura-aturan yang kita buat. Gimana?”


Disra tampak berpikir. “Oke kalau begitu, loe jangan nangis kalau kalah dari gua!” ucap Disra sombong.


“Tenang aja, gua nggak akan nangis dari cewek yang ngelamar jadi SPG aja nggak keterima!” ucap Felix tertawa lebar.


“Gembel! Diingetin lagi masalah SPG!” kesal Disra seraya memukul lengan Felix.


Ya, Disra pernah melamar menjadi SPG produk kecantikan. Namun, dirinya di tolak karena masalah tinggi badan dan kurang menarik dalam penampilan. Disra tak bisa berdandan, dia melamar hanya menggunakan pakaian sopan tanpa riasan. Sang pewawancara langsung menolaknya tanpa mengajukan pertanyaan. Ya, hanya melihat dari tampilan fisik saja. Hingga akhirnya Disra yang bertanya pada sang pewawancara. Kenyataan pahit harus diterima. Selain tinggi badan, penampilan menarik menjadi syarat utama. Menolak karena tak cantik, mungkin itu ungkapan yang tepat.


Felix hanya terkekeh. Pada saat itu, Disra menangis karena merasa dibohongi oleh ayahnya. Ya, merasa dibohongi oleh ayahnya. Roni selalu berkata padanya bahwa Disra gadis paling cantik yang kecantikannya mengalahkan Miss World. Dari kejadian itu dia sadar, dia hanya cantik di mata orang tuanya saja.


“Itu, yang wawancara aja yang buta! Tidak bisa melihat berlian dalam lumpur!” seru Felix.


“Berlian dalam lumpur kalau tidak ada yang mengambil tetap saja akan tenggelam dalam kotornya lumpur!” degus Disra.


“Sekarang ‘kan berlian itu udah keluar dari lumpur,” ujar Felix. Dia terdiam sejenak. “Gimana kalau kita ke tempat toko kosmetik itu. Terus kita beli deh alat kosmetiknya. Kita tunjukan, diri loe lebih bersinar tanpa harus menjadi SPG di toko tersebut.”


“Dih ogah! Ngapain begitu!” dengus Disra.


“Ya udah, kita main aja ke mall.”


“Iye!”


“Oke hati-hati.”


Felix naik ke atas motornya dan mulai menyalakan mesin. Dia membuyikan klakson sekali tanda dirinya pergi. Disra melambaikan tangannya saat Felix melaju. Dia yakin, sahabatnya melihat lambaian tangannya.


Disra beranjak untuk masuk ke rumahnya. Belum juga dua langkah, dirinya dikagetkan dengan suara klakson dan sorot lampu mobil. Seketika Disra menoleh mencari sumber klakson tersebut. Dia terkejut saat melihat mobil yang sangat dikenalnya.


Melvin menatap nanar kekasihnya itu. Semua interaksi Disra dan Felix terekam dalam otak pengingat Melvin. Ya, daya ingat yang tinggi mmebuat Melvin ingat secara rinci apa yang Disra dan Felix lakukan.


Disra langsung menghampiri mobil Melvin. Sang pria keluar dari mobil dan mereka saling berhadapan.


“Kau di sini?” tanya Disra.


“Yang kau lihat?” tanya balik Melvin.


Disra hanya mengangguk, bersikap untuk tenang. “Oh. Ada perlu apa?”


“Kau bertanya ada perlu apa? Aku mengirim pesan dan beberapa kali menelponmu. Tapi, tidak ada respon darimu! Kau pergi dengan Raska ke kampus dan pulang dengan pria lainnya. Sekarang, kau bertanya padaku ada apa?” tanya Melvin sedikit meninggikan suaranya.


Disra menarik napasnya pelan. “Bisakah tak perlu meninggikan suaramu?”


“Jadi, aku harus bagaimana? Katakan padaku? Apa yang harus aku lakukan melihat kekasihku degan mudahnya disentuh pria lain?”


Disra mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu?” Dia mencoba untuk tenang. “Pertama, aku minta maaf karena tidak merespon chat maupun teleponmu. Aku memang membuat mode silent dan dari pulang kerja sampai saat ini belum melihat ponselku. Jadi, aku bukan sengaja tak merespon. Kedua, hubungan kita bukan sepasang kekasih. Aku hanya bersedia penjajakan denganmu karena merasa saat itu, kita memiliki sedikit kecocokan. Kita hanya mencoba untuk saling mengenal lebih dalam lagi, dan yang ketiga, jangan asal bicara tentang diriku yang disentuh oleh laki-laki lain. Aku bukan wanita murahan!” hardik Disra.


“Ya, kau memang bukan wanita murahan tapi kau tak marah saat Raska menarik rambutmu. Kau tidak marah saat Felix menyentuh tanganmu, kau tak marah saat pria itu memelukmu!” hardik Melvin. Dia tak suka berbagi wanita. Baginya, interaksi Disra dengan Felix dan Raska sudah melewati batas.

__ADS_1


“Itu bukan memeluk, tapi memiting!” protes Disra membenarkan ucapan Melvin.


“Sama saja!”


“Tentu beda. Lagi pula, aku mengenal Felix sudah dari kecil. Persahabatan kami memang seperti itu, kalau kau keberatan dengan persahabatan kami. Lebih baik kau menjauh dariku, karena aku akan terus bersahabat dengannya.”


“Apa yang sahabat? Jika dia mencintaimu!”


“Jangan sembarangan bicara! Kami murni bersahabat!” sanggah Disra. Tak suka ada orang yang meragukan persahabatan mereka.


“Mana ada hal itu! Jelas sekali dia menyukaimu. Mengambil keuntungan untuk menyentuhmu dengan alasan persahabatan,” dengus Melvin.


“Aku lelah bicara denganmu. Lebih baik kau pergi!” ujar Disra seraya berbalik meninggalkan Melvin.


Dia tak suka dengan Melvin yang mulai menunjukan sikap memiliki, sedangkan mereka belum resmi menjalin hubungan.


“Mau ke mana? Kita belum selesai!” hardik Melvin.


“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Kau sendiri tidak akan mau mendengar alasanku!” Disra melihat tanganya yang digenggam oleh Melvin. “Lepaskan tanganku!” tegas Disra.


Melvin menarik lengan Disra dan mendorong Disra hingga bersandar pada mobil. “Kenapa? Hanya aku yang tak boleh menyentuhmu?” Suara Melvin mulai berubah dingin, tampak keseriusan di dalamnya. Dia kesal Disra memilih menolak sentuhannya dan tak menolak sentuhan pria lain.


Tatapan mata Melvin berubah tajam, dia semakin mendekat pada Disra. Dia mengulurkan tangan satunya yang terbebas untuk menyentuh kepala Disra.


“Aku tidak suka ada pria yang menyentuh rambutmu,” ujarnya. Tangannya turuh ke leher Disra yang sebelumnya dipiting oleh Felix. “Aku tidak suka pria lain menyentuh leher jenjangmu. Aku tidak suka apapun bagian tubuhmu di sentuh pria manapun!” tegas Melvin.


Disra mulai panik, jantungnya mulai berdebar. Berdekatan dengan Melvin sukses membuat hatinya tak karuan. Berbeda dengan kedekatannya pada Felix dan Raska.


“Menjauh dariku!” titah Disra saat Melvin semakin mendekat padanya.


“Kenapa? Kau tidak sepanik ini saat pria lain menyentuhmu!” tegas Melvin.


“Hentikan,” lirih Disra karena Melvin semakin menghimpitnya.


“Kenapa?” tanya Melvin semakin mendekat.


Disra hanya menundukan kepalanya. Semakin membuat dirinya gugup. Dia mulai mendorong Melvin. “Menjauh dariku! Keberadaanmu membuat hatiku kacau! Kau membuatku berdebar! Kau tidak membuatku senyaman saat bersama Raska atau Felix. Hatiku kacau di dekatmu!” hardik Disra.


Melvin berhenti mendekat. “Itu karena kau menyukaiku,” lirihnya.


Disra melebarkan matanya, dia mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu. Disra mengedipkan matanya, Melvin tak menghilang saat dirinya mengedipkan mata. Pria itu masih ada di depan matanya. Apakah benar dirinya menyukai pria itu?


Melvin semakin mendekatkan wajahnya pada Disra. Hingga, jarak di antara mereka tinggal lima centi. Perlahan, Disra menutup matanya, begitu pula dengan Melvin yang ikut menutup mata. Namun, tak menghentikannya semakin mendekat. Hingga, bibir mereka saling menyentuh.


Bibir Melvin mulai menyapu bibir lembut Disra, perlahan membuka mulutnya dan mulai memperdalam ciuman mereka.


Melvin menarik tengkuk Disra, tangan satunya menarik pinggang sang kekasih. Hingga, membuat mereka tak berjarak.


Disra mulai terhanyut dalam ciuman lembut Melvin. Entah mengapa, dirinya menikmati ciuman itu. Ciuman yang berbeda dari sebelumnya. Ciuman mereka tepat di bawah pohon mangga. Ya, Melvin memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon mangga.


Melvin melepas tautan bibir mereka. Disra masih memejamkan matanya. Seolah enggan akan pelepasan tautan bibir mereka.


"Aku mencintaimu," bisik Melvin.

__ADS_1


__ADS_2