
"Apa yang kau lakukan? Berani-beraninya kau melakukan hal tak bermoral!" hardik Tina.
Dia memukul anak gadisnya. Kecewa! Ya, dirinya sangat kecewa pada Disra. Berulang kali Tina melayangkan pukulan pada tubuh anak gadisnya.
Dia tak memukul Melvin. Baginya, anaknya yang melakukan kesalahan. Entah Disra yang melupakan ajaran yang telah ditanam sejak kecil, untuk menjadi gadis terhormat yang menjujung tinggi harga diri atau dia yang salah mendidik anak?
Melvin tak tega melihat Disra yang menahan sakit karena telah dipukul sang ibu. Dia mencoba melindungi Disra.
"Tolong berhenti memukul. Kami saling mencintai," ujar Melvin yang memeluk Disra hingga punggung pria itu menjadi sasaran empuk Tina.
"Memang kenapa kalau saling mencintai? Apa pantas kalian berbuat seperti itu!" hardik Tina dengan meneteskan air mata.
Roni hanya bisa memeluk istrinya agar tidak memukul anaknya lagi.
Melvin mengangkat tangannya untuk menghalau Tina yang hendak memukul Disra lagi. "Aku akan bertanggung jawab!" seru Melvin.
Semua terdiam mendengar ucapan Melvin. "Apa yang mau kau pertanggung jawabkan?" tanya Roni yang sedari tadi diam.
"Aku akan menikahinya," jawab Melvin.
Ya, dia memang ingin segera memiliki gadis itu seutuhnya. Terlebih, dia sulit mengontrol diri jika hanya mereka berdua. Bukan berniat menikahi hanya karena n*fsu dunia. Dia memang tak ingin berpacaran yang tak ada status legal dari hubungan mereka.
Terlebih, dia sudah sangat yakin atas perasaannya. Gadis yang selama ini dia cintai.
"Jangan bicara sembarangan! Kita tak berbuat apapun!" seru Disra menyenggol Melvin.
Dia belum siap untuk menjadi istri terlebih lagi, perasaannya pada Melvin belum dalam.
"Tidak berbuat bagaimana?" tanya Tina meninggikan suara. "Kalian bisa berbuat seperti itu di rumah. Bagaimana kelakuan kalian di luar? Pria ini yang menjemputmu pulang dari Thailand bukan? Aku melihatmu turun dari mobilnya!" cerocos Tina.
Ya, dia dan Dika memang melihat Disra turun dari mobil, berpikir bahwa Melvin menjemputnya di bandara.
"Sudah Bu. Kita duduk dulu kita bicarakan baik-baik. Tanyakan ada anak kita," ujar Roni.
Tina mulai menurunkan emosinya. Dia duduk berdampingan dengan suaminya. Sedangkan Disra dan Melvin duduk di lantai. Untuk adik Disra, dia diminta untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian menjalin hubungan?" tanya Roni.
"Iya," jawab Melvin. "Hari ini datang untuk memperkenalkan diri," tambahnya.
"Kau sudah sering menjemput anakku, tapi kau baru datang menemui orang tua nya sekarang. Kau menjemputnya di pinggir jalan, memang kau pikir anakku adalah anak jalanan yang tak punya rumah dan orang tua!" ujar Tina menggebu.
Dia pernah melihat Disra naik mobil Melvin di pinggir jalan. Dirinya tak langsung menegur karena ingin anaknya sendiri yang mengatakan padanya.
"Itu bukan salahnya, aku yang memintanya menjemput dan mengantar di pinggir jalan. Saat itu, aku masih belum siap akan hubungan kami," bela Disra.
Dia tak ingin Melvin disalahkan, pria itu sudah bersikeras untuk mengantarnya sampai depan rumah.
"Kau ..., bagaimana mungkin seorang gadis ingin diperlakukan dirinya seperti itu!" hardik Tina.
"Maaf, ini pun bukan salah Disra sepenuhnya. Aku lah yang kurang tegas dalam hubungan kami. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan," jawab Melvin.
__ADS_1
"Kau, pria yang pernah datang ke sini sebagai pelanggan Terabig Net, bukan?" tanya Tina.
"Ya, aku pria yang pernah datang ke sini," jawab Melvin.
"Berapa usiamu?" tanya Roni pada Melvin.
"Menuju 25 tahun," jawab Melvin.
"Apa kau sadar atas apa yang kau katakan? Usiamu masih sangat muda. Pernikahan itu tidaklah mudah. Terlebih lagi, usia kalian yang sangat muda seringkali belum matang untuk berumah tangga," jelas Roni.
Dia tak ingin anaknya terlalu terburu untuk menikah. Dia tak ingin pernikahan anaknya berakhir dengan perceraian. Maka, harus dipikirkan matang-matang sebelum masuk ke jenjang pernikahan.
"Aku sangat mencintai Disra. Aku yakin bisa membahagiakannya dan menjadikan dia satu-satunya wanita yang kucintai," jelas Melvin.
"Jangan bicara sembarangan! Aku masih belun siap menikah!" seru Disra.
"Belum siap menikah tapi sudah bercumbu seperti itu!" dengus Tina melirik anaknya.
"Bu, bukan seperti itu," jelas Disra. "Kami hanya berciuman, tidak lebih."
"Berciuman hingga saling tindih? Jika kami tak datang, mungkin kalian sudah tak mengenakan apapun!"
"Bu!" seru Roni memotong ucapan Tina. Dia menatap Melvin. "Sudah berapa lama kalian menjalin kasih?" tanya Roni lagi.
"Baru beberapa hari lalu," jawab Melvin.
Tina dan Roni melebarkan matanya. Mereka baru beberapa hari menjalin kasih. Namun, sudah berani melakukan ciuman panas seperti itu.
"Lebih baik kalian putus dan jangan lakukan hal seperti ini lagi. Aku tak mau terjadi hal yang tak diinginkan. Aku bukan menghalangi kalian untuk menjalin asmara. Namun, dilihat dari diri kalian yang tak bisa mengontrol diri. Lebih baik kalian pisah."
"Lalu kalian akan terus seperti itu?" tanya Tina sinis.
"Bu, kami akan mengontrol diri. Aku janji tak akan terulang lagi," ujar Disra. Dia pun tak rela berpisah dari Melvin.
Tina melirik pada Roni. Mata mereka saling bertemu. Apakah mereka akan memberi kesempatan pada sepasang kekasih di depannya ini?
Roni sedikit mengangguk kecil. Dia bukan tipe seorang ayah yang keras. Dia lebih lunak dan lebih mengutamakan kepercayaan pada anaknya.
Memberikan kepercayaan, menurut Roni lebih baik dibanding dia harus keras mendidik anak. Memberi kepercayaan dan membuat sang anak memiliki rasa tanggung jawab.
"Baiklah, Ayah dan Ibu akan memberikan kepercayaan pada kalian. Kalian boleh menjalin hubungan. Namun, harus mengingat batasan. Jangan lakukan hal seperti tadi," ujar Roni.
"Kalian hanya boleh berhubungan via telepon! Aku tidak akan mengizinkan kalian hanya berdua saja. Aku tak ingin hal seperti tadi terulang kembali. Meski anak zaman sekarang menganggap ciuman itu hal yang biasa. Namun, bagiku itu sebuah kesalahan dan hanya boleh dilakukan setelah menikah. Jika hal seperti itu dianggap hal biasa. Lama kelamaan, tidur bareng pun akan dibilang biasa!" dengus Tina.
"Kami sudah tidur bersama," ucap Melvin polos.
Mendengar ucapan Tina, teringat kembali kenangan di Thailand. Ya, Melvin orang yang kaku. Terkadang, dia sangat polos dan mengatakan apapun.
"Apa?" teriak Tina dan Roni bersamaan.
Disra langsung panik. Mengapa kekasihnya mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Tidak seperti itu. Kami hanya tidur bersama sekali saja. Itu pun karena hotel penuh. Jadi, mau tidak mau kami tidur di kamar yang sama," terang Disra gugup hingga tak tahu apa yang keluar dari mulutnya.
Pukulan mendarat di punggung Disra. Tina sudah tak bisa menahan emosinya. Anaknya selalu pulang setiap hari. Kapan anaknya itu bermalam dengan Melvin. "Apa dia ikut ke Thailand bersamamu?" tanya Tina bergetar.
Tak ingin membayangkan anak gadisnya pergi berlibur hanya dengan kekasihnya. Tidak bisa dibayangkan apa yang telah mereka perbuat.
"Ya, kami bersama di Thailand." Kali ini, Melvin yang bersuara.
Disra menatap tajam kekasihnya itu. Seolah berkata 'Lebih baik kau tutup mulutmu!'.
"Aku tidak membesarkan mu untuk melakukan tindakan tak bermoral itu. Kau sungguh mengecewakanku!" teriak Tina.
Disra melihat sang ibu yang histeris. Dia menghampiri ayahnya. "Ayah, tidak seperti yang kalian bayangkan. Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya tidur bersama," jelas Disra. Namun, perkataan Disra dianggap berbeda oleh orang tuanya.
"Kau mengatakan hal itu sangat mudah, seolah tidur bersama antar wanita dan pria merupakan hal yang wajar meskipun dilakukan tanpa ikatan pernikahan!"
"Ayah ... tidak seperti itu ...."
"Kalian harus segera menikah! Aku tidak ingin anakku hamil diluar nikah!" hardik Roni.
"Ayah, aku tidak hamil," elak Disra.
"Aku tidak akan lepas tanggung jawab. Aku akan segera menikahi Disra," imbuh Melvin.
"Jangan bicara sembarangan! Kita tak berbuat apapun!" seru Disra menatap nanar kekasihnya. Dia tetap tak ingin menikah muda.
"Tidak berbuat apapun bagaimana? Memang kau saja yang harus dipertanggungjawabkan? Bagaimana dengan diriku? Kau juga harus bertanggung jawab padaku! Kita sudah beberapa kali berciuman dan juga sudah tidur bersama. Sudah seharusnya kau bertanggungjawab padaku," tutur Melvin.
Disra menatap jengah Melvin. "Bagaimana mungkin seorang pria meminta pertanggungjawaban dari seorang gadis! Aku tidak ingin menikah denganmu!" hardik Disra.
"Kau mempermainkanku? Bukankah kau menikmati ciuman tadi? Sekarang kau tak mau bertanggung jawab?" cecar Melvin.
Roni pusing dengan dua orang yang bertengkar di depannya.
"Kalau begitu, minggu depan kalian menikah!" seru Roni.
Melvin terdiam. Roni melihat diamnya Melvin. "Kenapa kau terdiam? Kau berpikir untuk kabur dan lepas tanggung jawab?" telisik Roni.
Melvin menggeleng kepalanya. "Jangankan seminggu lagi. Hari ini pun bisa dilaksanakan," ucap Melvin penuh keyakinan.
Roni hanya tersenyum smirk. Dia mengira Melvin akan mengajukan pernikahan siri.
"Aku tidak ingin anakku menikah siri. Apa kau pikir bisa membohongi kami dengan pernikahan siri? Kau bisa saja kabur setelah itu, karena pernikahan siri tak kuat di mata hukum!"
Tak rela jika anaknya hanya menikah siri. Lebih banyak resiko jika hanya dilakukan pernikahan siri. Mengurus pernikahan di kantor urusan agama tidak mungkin dilakukan dalam sehari. Masih banyak dokumen yang harus dipersiapkan.
"Tidak. Aku tak pernah berpikir melaksanakan pernikahan secara siri. Aku akan menikahinya secara agama dan hukum. Hari ini juga," jelas Melvin yakin.
"Apa kau ingin membodohi kami? Mana bisa dilakukan hari ini!" dengus Roni.
"Bisa. Akan aku atur pernikahan hari ini," jelas Melvin.
__ADS_1
"Baiklah, buktikan ucapanmu!"
Seketika Disra mulai panik. Dia menatap bergantian ayah dan kekasihnya itu.