
“Felix! Kapan loe kembali?” tanya Disra di sebrang telepon.
“Gua masih ingin di sini beberapa hari lagi,” ujar Felix.
“Kenapa lama sekali? Loe nggak takut akan dipecat?”
“Gue akan mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum mereka memecat gue!” seru Felix.
“Aih, sombong kali kau!” ujar Disra dengan meninggikan suara.
“Dis.”
“Ya.”
“Loe ke sini dong,” pinta Felix.
“Gilingan! Emang gua bos bisa seenak udel vacation semau gue!”
“Bete nih gua sendiri. Kalau ada loe, kita bisa ngocol bareng.”
“Mangkannya loe pulang, biar kita kong kow di sini.”
“Loe kangen ya sama gua?”
“Emang loe nggak?”
“Kangen lah," jawab Felix cepat. “Dis.”
“Ya.”
“Kita akan seperti ini terus ‘kan?”
“Ya, kenapa bertanya kaya gitu?”
“Nggak papa, cuma nanya. Kita akan terus bersahabat meskipun nanti kita punya kehidupan sendiri.”
“Ya. Kita akan terus bersahabat sampai tua nanti.”
“Dan kita tetap menjaga aturan yang kita buat bukan?”
Disra terdiam, dia sudah melanggar kesepakatan mereka. “Ya,” jawab Disra berbohong. Dia ingin mengatakan langsung pada Felix secara tatap muka.
Terkadang, berbicara langsung secara tatap muka saja bisa terjadi kesalahpahaman, bagaimana dengan hanya melalui sambungan telepon atau chat? Sedikit salah menempatakan tanda baca pun bisa salah diartikan.
“Felix,” panggil seseorang.
“Siapa itu?” tanya Disra yang mendengar suara perempuan.
“Cewe yang gua ceritaain sama loe! Gila, dia ngejar gue sampe sini!” bisik Felix.
“Cewe oriental itu?”
“Ya.”
“Kata loe dia imut! Hajar aja Lix!”
__ADS_1
“Nggak, tinggal beberapa bulan lagi lulus. Baru deh mikirin pacaran,” jelas Felix.
Disra hanya terdiam. Sahabatnya itu memang sangat dapat dipercaya. Dia selalu menepati janjinya.
“Udah dulu ya, gua mau usir nih cewe!” bisik Felix lalu memutuskan sambungan telepon.
Disra hanya bisa menatap layar ponselnya. Melvin memeluk sang istri dari belakang.
“Sambungan telepon sudah mati, sekarang fokuslah padaku,” ujar Melvin.
Dia memang tak melarang Disra bersahabat dengan Felix. Namun, kedekatan istrinya dengan Felix membuat Melvin tidak nyaman.
Disra berbalik, dia tahu suaminya dalam keadaan cemburu. Setiap dia membalas pesan Felix. Melvin selalu menampakkan wajah masam.
Cup! Disra mengecup bibir Melvin. “Memang bisa dengan mudah tepat sasaran,” ujarnya memecah kecanggungan.
Melvin tertawa melihat kelakuan istrinya. Dia langsung menggendong Disra ke ranjang. Bagi Melvin, aktivitas malam menyenangkan harus dilakukan setiap hari.
*
*
*
Melvin semakin tak rela berpisah dengan sang istri. Dia selalu membuat alasan agar Disra bisa berada di sampingnya. Tak terkecuali di kantor. Ya, mereka masih merahasiakan hubungan mereka. Karena itu, Melvin selalu membuat alasan Disra untuk datang ke ruangannya.
“Kau keterlaluan!” hardik Disra.
“Sekali-sekali boleh lah. Lagipula, kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri,” ujar Mevin seraya mencium pundak polos sang istri.
“Hampir setiap malam kita sudah melakukannya dan sekarang menambah di siang hari,” keluh Disra.
“Tidak ada ketentuan tidak boleh dilakukan siang hari atau malam. Kau terlalu menggoda sih.”
“Ish. Kapan aku menggodamu?” tanyanya dengan nada kesal.
Melvin naik ke atas sang istri. “Kau selalu menggoda, Sayang,” ujarnya mencium bibir sang istri.
“Cepat turun, aku mau mandi. Sore ini aku masih harus kuliah!”
Dengan enggan Mevin bergeser dan membiarkan sang istri membersihkan diri.
Melvin mengantarkan Disra ke kampus. Tentu menurunkan sang istri di tempat yang sudah mereka sepakati. Melvin mencium sekilas bibir sang istri sebelum turun dari mobil.
Disra berjalan menuju kampus. Dia berjalan seperti biasa. Namun, dia merasa banyak yang menatapnya. Disra mencoba untuk tenang, hingga dia dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
Disra menoleh dan berseru, “Felix!”
“I’am back!” seru Felix memeluk Disra sekilas.
“Pulang nggak bilang-bilang!” ujar Disra sembari memukul lengan Felix.
“Kalau bilang, loe mau jemput gua?”
“Enggak. Entar gua pesankan ojek online!”
__ADS_1
“Kupret!”
Mereka tertawa bersama, Disra merasa tatapan padanya tak hilang. “Kok, kayanya pada perhatiin kita ya?” bisik Disra pada Felix.
“Masa sih?” tanya Felix yang ikut merasa mereka di perhatikan diam-diam oleh warga kampus.
“Apa cuma persaan gua aja ya?” tanya Disra.
“Mungkin,” jawab felix tidak yakin.
Felix mengantar Disra ke kelasnya. Saat masuk ke dalam kelas, temannya Suci tak ada di dalam kelas. Hari ini, Suci memang tidak masuk kuliah karena harus lembur menggantikan temannya yang sakit.
Begitupula dengan Felix yang masuk ke dalam kelasnya. Banyak pelajaran yang Felix tinggalkan. Dia menyimak sang dosen mengajar.
Play girl juga dia!
Apa untuk nilai?
Masih banyak yang lebih cantik padahal.
Pacaran nggak sih? Kalau iya, kasihan diselingkuhi.
Katanya hanya sahabat. Tapi, gua rasa cuma dimanfaatin antar jemput doang.
Tapi mereka berpelukan! Masa sahabat sampe segitunya.
Disra mendengar bisik-bisik dari belakang tubuhnya. Namun, dia tak yakin orang yang dibicarakan adalah dirinya.
Dia mencoba fokus dengan buku di tangannya. Dosen belum masuk ke dalam kelas. Hingga, banyak mahasiwa yang bebas berbicara.
Melvin datang ke kelas dengan sikap dinginnya. Tak ada yang beda dari pria itu. Namun, dia akan tersenyum saat melihat istrinya.
Disra memberikan hasil quiz pada Melvin. “Kumpulkan semua hasil quiz dan berikan ke ruanganku,” ujar Melvin.
“Baik, Pak,” ucap Disra.
Melvin pergi meninggalkan ruangan. Disra mengumpulkan hasil quiz dari para rekannya.
“Biar gua yang antar ke ruang pak Melvin,” ujar Sifa.
“Tapi, gua yang di suru,” elak Disra.
“Kenapa? Nggak boleh? Cuma ngasih lembar quiz aja ‘kan? Apa yang dikhawatirkan? Loe takut jawaban loe dicontek atau … loe takut nggak bisa bermesraan sama pak Melvin?” tanya Sifa.
“Apa maksud loe?”
“Nggak usah belagak deh. Semua orang udah tahu kelakuan loe. Loe nyari nilai dengan menggoda dosen bukan? Selain Pak Melvin, siapa lagi yang loe goda?”
“Jaga omongan loe!” hardik Disra.
“Gua nggak akan asal ngomong jika nggak ada bukti!”
Sifa mengeluarkan ponselnya dan menunjukan video pada Disra. Video mulai diputar, Disra melihat isi video tersebut yang menayangkan dirinya dan Melvin sedang berciuman di dalam ruang dosen suaminya.
Bibir Disra mulai bergetar. Siapa yang berani merekam apa yang dia lakukan dengan Melvin? Menatap sekeliling, semua mata tertuju padanya. Tatapan hina tertuju padanya. Namun, dia tak peduli dengan tatapan itu, dia tak melakukan kesalahan. Mereka sudah menikah, bukan melakukan tindakan tak bermoral. Hanya saja, mereka tetap salah karena bermesraan di area kampus.
__ADS_1
Disra baru akan membuka suara. Namun, tatapannya fokus pada pria yang berdiri di ambang pintu. “Felix,” lirihnya.