Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 55 Pesugihan


__ADS_3

Melvin dan Disra kembali ke apartemen. Mereka tidak jadi menemui tokoh agama karena sudah terlalu larut. Dalam benak disra masih ada tanda tanya besar, mengapa Melvin memberikan semua kekayaan untuknya?


Meskipun pria itu sudah memberitahu sumber kekayaannya bukan dari tindak ilegal. Disra masih tidak menyangka apa yang telah Melvin perbuat untuknya.


“Kenapa diam saja?” tanya Melvin yang melihat Disra hanya melamun.


“Tidak apa.”


“Katakan padaku ada apa? Jelas sekali di wajahmu tampak linglung.”


“Melvin.”


“Ya.”


“Aku sedang tidak dijadikan tumbal ‘kan?” tanya Disra ragu.


Sontak Melvin melebarkan matanya. “Apa kau pikir aku melakukan pesugihan setelah aku beritahu sumber kekayaanku?” tanyanya tak percaya Disra mengatakan sesuatu, yang menurutnya sangat tak masuk akal.


“Pesugihan bukan hanya babi ngepet atau memelihara tuyul. Melancarkan usaha dengan menumbalkan seseorang, sebagai bentuk pesugihan, juga bisa.”


Melvin menyentuh tengkuknya sendiri, kolesterol yang disebabkan oleh ocehan istrinya. “Apa kau pikir aku bisa melakukan hal itu?”


Disra mengedipkan matanya. Berkata dengan taku-takut, “Mana aku tahu, siapa tahu kau menumbalkan aku untuk itu!”


Melvin langsung menangkup wajah sang istri yang menuduhnya melakukan pesugihan. Digigitnya bibir Disra yang berbicara sembarangan.


“Auw! Kenapa menggigitku?” tanya Disra menahan sakit di bibirnya.


“Agar kau sadar untuk tak bicara sembarangan lagi!”


“Habis, kau tak mengatakan sejujurnya padaku, mengapa kau memberikan semua hartamu padaku! Siapa tahu itu hanya menutupi tindak kejahatan yang kau lakukan. Kalau aku mati karena ditumbalkan, semua harta yang kau berikan padaku akan kembali lagi padamu.”


“Aku yang menjadi tumbal cintamu!” ujar Melvin tersulut emosi.


“Aku? Apa maksudmu?” tantang Disra.

__ADS_1


“Karena kau, aku tidak bisa merasakan cinta orang lain. Karena kau, di otakku hanya ada satu wanita yaitu dirimu! Karena kau, membuatku tak suka dengan wanita lain!”


Disra mendecak. “Pandai sekali dirimu bermulut manis! Siapa yang percaya omonganmu itu! Aku semakin curiga denganmu, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan itu semua seolah aku wanita yang sangat spesial! Semua juga bisa melihat perbedaan kita! Masih ada pria yang menikahi ku saja sudah untung. Ini malah mendapat pria tampan dan kaya sepertimu, bukankah sangat tak masuk akal!”


“Bukankah kau juga menyukaiku? Kau juga mencintaiku bukan?”


“Ya, aku akui, aku menyukaimu. Tapi, bukankah itu wajar? Wanita biasa sepertiku menyukai pria tampan sepertimu. Semua mahasiswi di kampus juga menyukaimu!”


“Lalu, apa bedanya diriku? Apa salah aku hanya menyukaimu?”


“Hanya tak masuk akal saja! Kau melihatku seolah aku berlian saja!”


“Kau bahkan lebih berharga dari berlian! Kau adalah penyelamatku sekaligus cinta matiku! Apa salah aku menyukaimu selama 13 tahun ini?”


“Kalau bicara jangan hiperbola! 13 tahun, kita bahkan belum genap 3 bulan saling mengenal!” dengus Disra.


Melvin menghela napasnya panjang. “Aku tahu, aku sangat kacau saat pertama kali bertemu denganmu, hingga kau tak mengingatku. Saat aku melihat pertama kali dirimu di kampus, aku sudah merasakan itu dirimu. Semua dugaanku benar saat datang ke rumahmu dan melihat photo-photo yang terpajang. Kau gadis kecil yang memberiku cokelat saat diriku kelaparan.”


Disra terlihat bingung, dia masih tak mengerti apa yang dikatakan oleh Melvin. Melvin melihat wajah Disra yang tampak bingung.


“Gadis kecil yang mengira diriku hantu, gadis kecil yang menyelamatkan aku dari para penculik, gadis kecil yang sekuat tenaga mengayuh sepeda demi menolongku. Aku mencintai gadis kecil itu!" teriak Melvin.


“A—pa kau hantu, di kampung nenek?” tanya Disra terbata.


“Apa kau sudah mengingatnya?” tanya Melvin antusias.


“Aku hanya sekali melihat hantu begitu tampan, tak mungkin aku melupakan hal itu,” jelas Disra.


“Ya, akulah hantu tampanmu!” Melvin menarik Disra dalam pelukannya. “Kau adalah malaikatku, kau sangat berharga bagiku.”


Melvin memeluk erat Disra, dia bahkan memejamkan matanya.


“Mengapa kau tak bilang padaku?”


“Berulang kali aku berpikir untuk memberitahumu. Namun, aku ingin memantapkan hatiku terlebih dahulu. Aku takut perasaanku padamu hanya rasa terima kasih padamu. Namun, aku menyadari, bahwa aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu. Sejak saat itu, hanya ada satu gadis di hatiku, yaitu kau. Aku pun menginginkan hal yang sama padamu.”

__ADS_1


Disra sedikit mendorong Melvin agar mereka berjarak. “Maafkan aku yang tak mengenalimu. Jujur, ingatan saat itu tidak jelas di otakku. Namun, aku mengingat saat aku membawamu ke rumah nenek. Setelah itu, kau pergi dan tak kembali lagi.”


“Aku mencoba mencarimu. Tetapi, nenekmu pergi dari kampung itu. Aku bahkan tidak tahu siapa namamu. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Aku benar-benar mencintaimu. Jika ada yang kau tak suka dariku, beritahu aku. Aku akan mengubahnya untukmu.”


“Melvin, kau tidak harus sampai seperti itu.”


Tidak pernah menyangka, pertemuan mereka saat masih sangat belia, membuat kenangan yang tak terlupakan oleh Melvin. Sedangkan dirinya, sudah melupakan hal itu.


“Apapun akan ku lakukan untukmu.” Melvin mencium kening Disra sekilas. "Jangan pernah meragukan cintaku lagi."


Disra hanya mengangguk, menatap suaminya yang memandangnya penuh kasih.


“Sudah malam, kita istirahat," ujar Melvin.


Masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Disra. Namun, Melvin sudah menggiringnya ke ranjang.


Mereka naik ke atas ranjang. Seperti biasa, Melvin akan memberikan ciuman sebelum tidur, setelah itu membelakangi Disra. Ya, dia takut menerkam gadis itu, dia tak ingin menyakiti istrinya.


Mereka tidur saling membelakangi, Disra membalik tubuhnya dan melihat punggung sang suami. Melvin tampak gelisah.


“Melvin ...," ucapnya terdengar ragu.


“Ya.”


“Kenapa terus membelakangi ku? Apa aku begitu buruk hingga kau tak sanggup menatapku?” Pertanyaan yang jelas hanya dibuat-buat oleh Disra.


Sontak Melvin berbalik badan menghadap istrinya, dia tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. “Kenapa bicara seperti itu? Kau sangat cantik di mataku.”


“Lalu, kenapa kau selalu membelakangi ku?”


“Itu ….” Melvin menunduk, tak tahu apa yang harus dikatakan.


Klik! Disra memadamkan lampu tidur di kamarnya. Suasana remang tidak ada lagi, mereka biasa tidur hanya ditemani oleh lampu tidur, dan kini suasana menjadi lebih minim penerangan. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk. Namun, tak banyak membantu dalam penglihatan.


Mereka terdiam saling berhadapan. Tetapi, tidak ada yang bersuara. Disra tahu suaminya menginginkannya. Namun, perasaan takut menyakiti, membuat pria itu tak menyentuhnya.

__ADS_1


Dua insan yang saling berdegup kencang. Namun, tak ada yang berani untuk memulai. Sunyi, hanya ada napas yang teratur, mata mereka bersitatap dalam gelap. Salah satu dari mereka harus memulai.


“Aku menginginkanmu, Kak.”


__ADS_2