Hello! Miss Call...

Hello! Miss Call...
BAB 51 Tragedi Malam Pertama


__ADS_3

Melvin tak memberi kesempatan pada Disra untuk protes. Dia tak melepas tautan bibir mereka. Bibir sang istri yang kini telah menjadi candunya. Tak ingin melakukan di atas karpet. Melvin menggiring Disra untuk berpindah ke ranjang.


Dia mengangkat tubuh sang istri dan menjatuhkan tubuh mereka ke atas ranjang. Sontak, kelopak bunga beterbangan karena kerasnya tubuh mereka ambruk ke ranjang. Melvin sangat gagah. Meskipun tidak berpengalaman. Namun, naluri kelelakiannya menuntunnya secara alami untuk menjalankan ritual malam pertama mereka.


Melvin masih terus mencium bibir sang kekasih. Napas Disra tersengal karena kehabisan napas. Melvin melepas sejenak ciuman panas mereka untuk memberikan ruang, agar sang istri mengambil oksigen. Namun, bukan berarti tak ada aktivitas lain.


Bersikap layaknya seorang pemimpin yang berdiri paling depan di medan perang. Badan sigap dengan tatapan yang tajam.


Bibir Melvin tak lepas dari tubuh sang istri. Dia menggigit pelan leher yang membuatnya gemas itu. Meskipun masih berpakaian lengkap. Namun, tangan Melvin tak tinggal diam. Dia ******* bagian lembut sang istri yang masih berbalut piyama.


Disra hanya m*desah. Ingin mendorong, tetapi seakan tak memiliki kekuatan. Malam kian larut, Melvin sudah sangat yakin untuk membuat Disra tak gadis lagi malam ini. Ya, dari awal memang tak ingin menunda pernikahan, karena dia ingin memiliki Disra seutuhnya.


Melvin mulai melucuti pakaiannya dan juga pakaian milik sang istri. Disra mulai menikmati setiap sentuhan sang suami. Melvin semakin gila, terlebih melihat istrinya dalam keadaan polos. Sedangkan Disra tampak malu. Tetapi, dia mengagumi ketampanan suaminya yang kini berada di atasnya. Melvin menarik selimut. Mereka tenggelam dalam selimut. Melvin sangat percaya diri untuk memberikan nafkah batin terhadap istrinya. Dia seorang pria sejati, akan dia pastikan malam ini menjadi malam terindah bagi mereka berdua.


Hingga, saatnya menuju pada bagian utama, kegiatan pertama memberikan nafkah batin pada sang istri. Melvin sudah tak sabar, ingin segera melakukan penerobosan, dan pada akhirnya … dia mulai melancarkan aksinya. Masuk setelah medapatkan izin.


Penyatuan belum sempurna. Melvin menghentak cukup keras. Tetapi, pria itu tak merasa hentakannya keras karena dirinya sudah terselimuti oleh g*irah.  Namun, berbeda dengan Disra yang merasakan hentakan itu begitu kuat meskipun baru separuh jalan.


Disra berteriak kesakitan. “Ah!”


“Ada apa?” tanya Melvin khawatir. Dia melihat wajah Disra yang kesakitan.


“Sakit, sangat … sakit,” ucap Disra menahan sakit.


“Apa yang sakit?” tanyanya polos.

__ADS_1


“Perih,” lirih Disra.


Wajah Melvin tampak panik. “Apa perlu kita ke rumah sakit?”


Disra hanya menggeleng pelan. Bagaimana mungkin suaminya mengajak ke rumah sakit di malam pertama mereka? Bukankah seharusnya menenangkan dan membujuknya kembali untuk melanjutkan malam pertama mereka?


“Aku siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!” seru Melvin.


Disra menarik lengan Melvin yang hendak bangkit. “Tidak perlu, aku bisa menahannya,” jelasnya.


Bukankah seorang wanita memang harus menahan sakit saat pertama kali melakukannya? Dia sadar dirinya sudah menjadi seorang istri. Sudah berjalan setengah jalan, tidak mungkin Disra mundur. Ya, dia akan memberikan diri seutuhnya untuk sang suami.


“Sakit bagian mana?” tanya Melvin semakin panik karena Disra tampak sangat kesakitan. “Apa kau ada magg?”


“Bukan sakit magg,” jawab Disra.


“Itu ….” Sulit bagi Disra mengatakannya. Dia hanya bisa menunduk.


Melvin melihat arah pandang istrinya. Sekarang dia tahu maksud sakit dari Disra. “Maafkan aku. Apa sakit sekali?” tanyanya penuh dengan penyesalan.


Dia memang menginginkan kekasihnya. Namun, bukan berarti menyakiti. Tidak ada sedikitpun dalam benak Melvin untuk menyakiti istrinya.


Disra mengangguk. “Sakit dan perih,” jawabnya sama polos.


Dua orang yang tak berpengalaman. Melvin yang menghabiskan dunianya hanya dalam dunia IT yang tidak mengetahui apapun tentang wanita, dan Disra yang tak pernah berpacaran. Namun, Disra sedikit lebih mengerti hubungan asmara antar pria dan wanita melalui drama yang ditonton ataupun gurauannya dengan Felix.

__ADS_1


Melvin bangkit dari tidurnya, dia membuka laci meja dan tak menemukan barang yang dia cari. Melihat ke atas meja ada sebuah kalendar duduk yang tidak terlalu tebal. Dia membawanya ke depan Disra.


Sang istri menatap tak mengerti pada Melvin. Apakah sang suami sedang mengatur metode kontras*psi alami dengan cara perhitungan masa subur?


“Mengapa bawa kalender?”


“Aku tidak menemukan kipas. Jadi, aku rasa ini bisa digunakan,” ujarnya.


“Maksudnya?”


Melvin tidak membalas ucapan Disra. Dia langsung mengipaskan kalender tersebut ke dekat bagian inti sang istri. “Dikipas biar tak terlalu perih,” ujarnya.


Seketika wajah Disra pias. Pria tampan dan gagah, tak terpikirkan oleh Disra bisa sepolos itu. Terlalu takjub dengan kepolosan sang suami, membuat dirinya lupa akan malu terhadap dirinya sendiri yang kini dalam keadaan polos di depan sang suami.


Melvin terus mengipas dan Disra hanya tersenyum getir melihat tingkah suaminya. Bayangan malam pertama yang hebat hilang seketika. Bayangan dirinya akan dibekap mulutnya saat dia berteriak, hilang tak berbekas. Bayangan akan perkataan ‘Tenanglah, aku akan lembut’, hilang bagaikan udara yang lewat. Bayangan akan dicium air matanya untuk menenangkan rasa sakit, hanya menjadi angan semata.


“Apa ini?” tanya Melvin khawatir. Dia menggeser paha sang istri dan melihat darah segar yang menodai seprei. “Kau berdarah! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!” hardik Melvin. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran bagaikan sang istri terkena tembak pistol mematikan.


Wajah pias Disra berubah menjadi wajah yang tanpa harapan. Ujung matanya meneteskan air mata. Apakah benar pria di depannya yang akan menjadi suaminya seumur hidup?


“Sayang, jangan menangis. Ayo berpakaian, kita ke rumah sakit secepatnya. Maafkan aku yang terlalu bersemangat hingga membuatmu kesakitan,” ucap Melvin merasa bersalah.


Dia tahu penyebab istrinya kesakitan adalah ulahnya yang mencoba menerobos pertahanan sang istri. Namun, minimnya s*x edukasi pada Melvin, membuat dirinya tak memahami wanita. Terlebih, tidak ada sosok orang tua yang memberikan pendidikan di rumah.


Ya, Melvin hanya tertarik dengan dunia IT. Dia memang tak terlalu suka dengan mata pelajaran lainnya. Hidupnya, seperti memiliki dunia sendiri. Dia tak banyak berteman. Jika Bagas tak mengakuinya sebagai teman. Maka, dirinya tak memiliki teman. Tidak hanya tak suka pelajaran ilmu alam seperti biologi. Bahkan Melvin tak menyukai pelajaran sosial yang mempelajari karakter seseorang.

__ADS_1


“Hiks …. Hiks ….” Tangis Disra semakin menjadi. Meratapi nasibnya yang menjadi istri pria tampan dan gagah. Namun, kurang dalam …. Bahkan Disra tak bisa melanjutkan ucapannya meski hanya dalam hati.


Tangis Disra, membuat Melvin semakin panik. “Kalau begitu, tak usah ke rumah sakit. Aku telepon agar dokter datang saja!” seru Melvin.


__ADS_2