
Felix masuk ke dalam kelasnya. Bisik-bisik ada di belakangnya. Namun, dia bukan orang yang peduli akan urusan orang lain, dia tak tahu dan tak mau tahu siapa yang sedang dibicarakan.
Felix hanya mengikuti kelas dengan serius. Hingga, pada saat dirinya di dalam bilik toilet untuk menuntaskan panggilan alam. Ada dua orang yang sedang berada di wastafel sedang membicarakan dirinya.
“Kasihan Felix, cuma buat mainan Disra doang!”
“Katanya mereka sahabatan doang.”
“Nggak mungkin, kita itu cowok. Kelihatan Felix sayang banget sama itu cewek.”
“Terserah deh sahabatan atau enggak. Tapi tetep aja cewek itu murahan banget sampe deketin dosen buat nilai. Gila, panas banget lagi ciumannya.”
“Kirain gua, cuma di film aja main sama dosen buat nilai. Ternyata ada juga di kampus kita ini.”
“Tapi nih ya, kalau dilihat, Disra itu nggak bodoh, nggak mungkin gara-gara nilai bisa begitu. Gua rasa, cewe manapun kalau Pak Melvin yang deketin, udah pasti mau diajak check in. Yang bikin gosip, gua rasa, itu cewek yang iri sama Disra soalnya nggak bisa ngerasain cowok bening kaya pak Melvin!”
“Apa sih yah gantengnya? Kaya boy band gitu mukanya, mulus cuy, kalah jalan tol!”
“Dih, elo iri?”
“Kagak, cewek sekarang sukanya cowok model begituan!”
“Lagi ngetren kali! Dah lah, loe cari cewek yang nggak tahu K-Pop. Jadi, impian cowoknya nggak ketinggian!”
“Masa gua harus oplas sih biar glowing!”
"Emang para idol itu oplas ya?"
"Mana gua tahu. Katanya sih sebagian pada oplas!"
"Ya udah loe oplas deh biar dipanggil oppa!"
"Oppa? Embah dong gua!"
Dua pria tertawa di depan cermin. Felix hanya bisa mengepal tangannya geram, ingin rasanya ia keluar dan menanyakan langsung. Namun, panggilan alamnya belum selesai. Bukankah seharusnya panggilan alamnya berhenti jika emosi sedang tak stabil? Emosi yang tidak stabil bisa menghambat pencernaan. Namun, tidak berlaku bagi Felix yang sangat lancar pencernaannya dalam kondisi apapun.
Felix hanya bisa duduk di toilet untuk melanjutkan hajatnya. Begitu pula dengan dua pria yang berbincang di depan wastafel yang tak kunjung selesai. Felix hanya mengerutkan dahi, mengapa ada pria yang betah berbincang di dalam toilet seperti wanita yang sedang touch up.
Felix mengeram, antara marah dan panggilan alam saling mendahului. Seakan tidak ada yang mau mengalah.
“Nggak heran sih gua kalau pak Melvin play boy. Ganteng gitu.”
“Coba, puter lagi videonya.”
Dua orang tersebut memutar kembali video Disra dan Melvin. Memperhatikan setiap gerak dua orang yang sedang bermesraan.
“Fix, ini sih cewek yang ngerekam. Lihat deh, di zoom, coy!”
“Itu tangan pak Melvin nakal juga. Njirr! Gr*pe-gr*pe gitu!”
“Kampret, kentang banget ya.”
__ADS_1
“Gua rasa, mereka nggak cuma kissing doang deh, pasti udah check in ke hotel!”
“Dua-duanya sama-sama menikmati coy!”
Bruk!
Felix keluar dari bilik toilet, tentu setelah menyelesaikan hajatnya. Dia langsung menghampiri dua pria yang sedang berdiri depan wastafel.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Felix dengan tatapan tajam.
“I—tu, bukan apa-apa,” terang salah satu pria sedikit gugup.
“Tadi, kalian ngomongin gua sama Disra! Jangan suka bikin fitnah!”
“Kita nggak fitnah! Emang loe belum lihat video yang beredar?”
“Video?” tanya Felix ragu. Dia pun mendengar dua pria itu membahas tentang video. Namun, tak ada suara yang keluar dari video tersebut.
“ini,” ujar salah satu pria pemegang ponsel lalu memberikan pada Felix.
Dengan ragu, Felix menerima ponsel tersebut. Felix mengedipkan matanya, berharap setelah membuka mata, tokoh dalam video tersebut bukan sahabatnya. Namun, beberapa kali berkedip pun, orang tersebut tidak berubah.
Felix menggenggam erat ponsel itu. Sang pemilik ponsel melihat wajah Felix yang memerah, dia tahu teman sekelasnya itu sedang marah. Dengan cepat, dia mengambil ponsel yang ada di tangan Felix dan memasukan ke dalam kantung celananya. Dia tahu, dia salah karena membicarakan orang lain dibelakang. Namun, pria itu tak rela juga jika ponselnya menjadi pelampiasan amarah Felix.
“Sabar ya, Bro! Gua tahu, loe suka sama Disra. Tapi, tetap yang glowing dan yang mapan yang bakal dipilih cewek,” ucap sang pria mencoba menghibur Felix.
“Apa maksud loe? Kalau nggak tahu apa-apa, nggak usah komentar!” hardik Felix lalu pergi meninggalkan kamar mandi.
Dia sudah curiga pada Melvin saat mereka makan di rumah bebek. Felix bisa melihat ada ketertarikan sang dosen pada sahabatnya. Felix tak percaya akan gosip yang beredar bahwa Disra mendekati Melvin karena nilai.
Dia tahu sahabatnya, gadis itu tak mungkin melakukan hal hina seperti itu. Satu-satunya alasan adalah masalah perasaan. Namun, hati Felix tetap sakit saat melihat sahabatnya dekat dengan pria lain.
Mereka memiliki perjanjian dalam bersahabat dan Disra mengkhianatinya. Dia pergi berlibur sendiri karena ingin memupuskan perasaannya pada Disra. Memutuskan perasaan pria pada wanita. Ya, Felix ingin mengembalikan perasaannya seperti dulu.
Menganggap Disra bukan seorang perempuan, menganggap Disra hanya sahabatnya. Namun, cukup sulit bagi Felix melakukan hal itu, meskipun dia sudah bisa mengontrol perasaannya dan kembali lagi menyayangi gadis itu sebagai sahabatnya.
Tetapi, perasaannya sakit karena kebohongan yang dilakukan oleh Disra. Dia merasa tak dianggap sebagai sahabat. Dia merasa tak dianggap penting oleh gadis itu.
Felix berjalan gontai ke kelas Disra. Orang-orang menatapnya. Namun, Felix tak peduli. Entah tatapan kasihan padanya atau tatapan mengejek dirinya. Semua orang kampus tahu kedekatan dirinya dengan Disra. Begitu banyak spekulasi dia dan Disra menjalin kasih. Hingga, beredar video tersebut membuat banyak opini lainnya.
Tanpa sadar, dia sudah sampai pada kelas Disra dan melihat sahabatnya berseteru dengan temannya.
“Kenapa? Nggak boleh? cuma ngasih lembar quiz aja ‘kan? Apa yang dikhawatirkan? Loe takut jawaban loe dicontek atau … loe takut nggak bisa bermesraan sama pak Melvin?” tanya Sifa.
“Apa maksud loe?” tanya Disra menahan emosinya.
“Nggak usah belagak deh. Semua orang udah tahu kelakuan loe. Loe nyari nilai dengan menggoda dosen bukan? Selain Pak Melvin, siapa lagi yang loe goda?”
“Jaga omongan loe!” hardik Disra.
“Gua nggak akan asal ngomong jika nggak ada bukti!”
__ADS_1
Sifa mengeluarkan ponselnya dan menunjukan video pada Disra. Video mulai diputar, Disra melihat isi video tersebut yang menayangkan dirinya dan Melvin sedang berciuman di dalam ruang dosen suaminya.
Bibir Disra mulai bergetar. Siapa yang berani merekam apa yang dia lakukan dengan Melvin? Menatap sekeliling, semua mata tertuju padanya. Tatapan hina tertuju padanya. Namun, dia tak peduli dengan tatapan itu, dia tak melakukan kesalahan. Mereka sudah menikah, bukan melakukan tindakan tak bermoral. Hanya saja, mereka tetap salah karena bermesraan di area kampus.
“Kenapa diam? Nggak bisa ngelak lagi ‘kan loe? Berapa loe dibayar pak Melvin? Apa loe sukarela karena dia ganteng?” tanya Sifa dengan nada mengejek.
Disra mengangkat dagunya. “Ya, gua akui gua salah bermesraan di kampus. Namun, yang harus loe tahu! Melvin itu, pria gua, dan cuma milik gua!” ucap Disra bangga, dia tahu Sifa menyukai suaminya. Tidak hanya Sifa, semua gadis juga menyukai ketampanan suaminya.
Sifa tertawa. “Dasar bin*l. Jadi, Felix cuma dimanfaatin sama loe doang? Hanya sebagai tukang ojek loe?” tanya Sifa dengan melirik ke arah pintu.
Disra baru akan membuka suara. Namun, tatapannya mengikuti arah pandang Sifa, tatapannya terkunci pada pria yang berdiri di ambang pintu. Dia baru menyadari ada Felix di sana. “Felix,” lirihnya.
Felix datang menghampiri Disra. Sifa tersenyum lebar, menantikan pertikaian dua orang yang sangat dekat. Membayangkan Disra memohon di depan Felix dan sang pria mengabaikan Disra.
Namun, bayangan pertikaian antara Disra dan Felix tak terjadi. Felix mendekati Disra dan langsung mengusap kasar kepala sahabatnya. Dia menggandeng tangan Disra.
Felix menatap Sifa. “Gua bukan tukang ojeknya. Tapi, sahabatnya!” Dia beralih menatap Disra. “Gua anter loe pulang, kita hang out! Jangan pacaran mulu!” ucapnya tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas dengan tangan Disra dalam genggamannya.
Disra hanya menatap sekilas pada Felix. Dia tak berani menatap sahabatnya itu. Dibalik senyum ramah Felix. Dia tahu, sahabatnya sedang memendam kekecewaan pada dirinya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Hai, Terima kasih telah setia dg kisah Disra & Melvin. Mohon maaf dg up yg tak beraturan 🙏
Sebenernya, Age ada dua ongoing Hello Miss Call dan Behind The Love, di PF sebelah.
Dua novel beda genre.
Behind The Love adalah novel ttng permainan emosi. Saat menulisnya, Age sempat menangis dan dilihat oleh suami, kemarin sempat kurang enak badan juga.
Akhirnya, di kasih SP sama suami.
"Jika menulis menghabiskan waktumu, jika menulis membuatmu bersedih, jika menulis mengabaikan kesehatan mu. Maka, berhentilah."
Yup, Suami mengancam tdk mengizinkan menulis jika Age sdh terlarut dalam menulis hingga kurang tidur atau sampai lupa makan. Ya, dia hanya mengizinkan menulis jika itu membuat hati Age senang.
Mungkin, yg sdh baca Terjerat Cinta Teller Error, sdh tahu alasan Age menulis 😁
Jadi, sekali lagi. Age akan menulis jika suasana hati baik dan waktunya luang. Namun, selama ini tdk ada novel Age yg menggantung, dan akan Age selesaikan sesuai outline yg sdh di buat, terlepas novel itu ada atau tidak pembacanya. Ya, Age cinta semua yg Age tulis 😍
Kenapa ada dua novel ongoing? Hello Miss Call adalah novel dg konflik ringan untuk menyeimbangkan Age dlm menulis Behind The Love yg memiliki konfliknya yg menurut Age cukup berat.
Saat menulis Kamuflase Cinta Sang CEO, itu juga berbarengan dg Terjerat Cinta Teller Error yg komedi romantis.
Nah itu lah alasannya nulis dua novel, biar jiwa balance 🤭
Terima kasih sekali lagi telah setia membaca Hello! Miss Call... 😍😍😍😍
Salam sehat semua ❤️❤️❤️
Salam Age Nairie 😍😍😍😍
__ADS_1