
Bagas sedang berlibur dengan kekasihnya. Dia berbelanja di sebuah toko baju, membelanjakan pakaian untuk sang kekasih.
"Debet saja," ujar Bagas pada sang kasir.
Bagas mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya dan menyerahkan pada sang kasir.
"Silakan pin-nya, Pak," ujar sang kasir.
Bagas menekan pin pada mesin EDC sebagai alat pendebetan. Setelah menekan tombol hijau sebagai persetujuan. Bagas langsung menepuk keningnya sendiri.
"Sorry, saya salah kartu ATM," ujar Bagas.
Dia lupa kartu ATM miliknya yang itu tak cukup saldo. Dia yakin transaksinya pasti akan decline dan harus menggunakan kartu ATM yang lainnya. Namun, tak disangka bahwa transaksi berhasil. Struk pembayaran keluar dari mesin EDC.
"Apa mau dibatalkan pembayarannya, Pak?" tanya sang kasir.
Bagas mengerutkan dahinya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menemukan notifikasi email. Email notifikasi dana masuk ke dalam rekeningnya.
Dia membuka mobile banking, benar saja, sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya. Dia melihat perincian transaksi tersebut.
Seketika Bagas tersenyum. Sepertinya, Melvin berhasil menaklukan gadis berhidung minimalis itu. Ya, orang yang mentransfer sejumlah uang adalah Melvin.
***
"Sampai jumpa," ujar Disra saat mereka turun dari pesawat. Dia berencana memesan taxi.
"Biar aku antar pulang," pinta Melvin.
"Tidak usah, kau juga pasti lelah."
"Tidak apa, ada sopir yang menjemput ku. Setelah memastikan kau sampai rumah dengan selamat. Aku akan pulang."
Disra tampak ragu. Namun, dia tetap menganggukkan kepalanya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Melvin duduk di samping Disra hingga mereka tiba di depan rumah gadis itu.
"Terima kasih," ucap Disra sebelum turun dari mobil.
Melvin ikut turun, menurunkan koper dari bagasi. Disra hanya membiarkan saat Melvin menurunkan koper.
Disra mencoba menarik koper dari tangan Melvin. "Berikan padaku," ujarnya.
"Biar aku bawa ke dalam rumah."
"Jangan!" seru Disra.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," ucap Disra salah tingkah. Dia tak tahu harus menjelaskan siapa Melvin di depan orang tuanya.
"Apa kau tak ingin memperkenalkanku pada orang tuamu?"
"Bukankah ibuku sudah mengenalmu?"
"Iya. Tapi, pada saat itu, ibumu hanya tahu aku adalah pelanggan Terabig Net dan bukannya kekasihmu," papar Melvin.
Seketika Disra tersedak. "Melvin, aku rasa hubungan kita belum sampai tahap itu."
Melvin terdiam. "Kau mempermainkanku?" tanyanya pias.
Disra membuka mulutnya lalu menutupnya. "Bukan seperti itu. Maksudku ... untuk tahap itu, sepertinya kita belum sampai di sana. Apa kau keberatan jika kita penjajakan terlebih dahulu?" tanya Disra hati-hati.
"Jadi, kau tak menolakku?" tanya Melvin memastikan.
"Kita coba saja seperti itu dulu," ujar Disra menunduk.
"Baiklah."
Disra mengambil koper dari tangan Melvin. "Kalau begitu, aku masuk dulu."
"Ya."
"Pergilah."
"Tidak, aku ingin melihatmu masuk."
"Tapi, aku ingin melihatmu pergi hingga ke ujung mata," jelas Disra.
__ADS_1
Hati Melvin meleleh. "Kalau begitu, aku pergi."
"Ya, Hati-hati."
Disra melihat kepergian Melvin. Dia menarik napasnya pelan. Dia bahkan tak mengerti mengapa berbicara seperti itu pada Melvin.
"Apa aku benar-benar mulai menyukainya? Bagaimana jika Felix tahu?" gumam Disra.
***
"Siapa dia, Bu?" tanya Dika. Dia dan ibunya sedang mengintip dari balik gorden jendela.
"Si ganteng Melvin. Dia pernah ke sini. Waktu itu bilangnya pelanggan Terabig Net," jelas Tina.
"Apa sekarang pacaran sama Kak Disra?" tanya Dika, adik Disra.
"Nggak tahu. Tapi, kayanya lagi pendekatan," ujar Tina. "Duduk, jangan sampe kakakmu tahu kalau kita lagi ngintip!" tambahnya.
Tina dan Dika langsung berpura-pura duduk di ruang tamu seolah mereka tak melihat Disra yang diantar Melvin.
"Assalamualaikum," salam Disra seraya masuk ke dalam rumah dengan menyeret kopernya.
"Walaikumsalam, anak ibu udah pulang?" tanya Tina.
"Iya, Bu," jawab Disra.
"Wah, kerja Kak Disra sekarang enak ya, bisa jalan-jalan. Nggak kaya dulu ya Kak, kencing aja susah," ucap Dika.
Disra hanya terkekeh. Dia pernah cerita pada Dika. Saat menjadi agen call center, dia sampai menahan buang air kecil, karena sedang memandu pelanggan setting modem.
"Yah, lumayan. Dinas sambil liburan tipis-tipis," ucap Disra. "Oh ya, Kakak beli oleh-oleh buat kamu."
Disra membuka kopernya. Memberikan oleh-oleh pada adik dan orang tuanya.
"Oleh-olehnya banyak. Emang kamu udah gajian?" tanya Tina.
Disra memang sudah gajian. Namun, gajinya masih sistem prorata. Gaji proporsional atau prorate, upah yang diberikan perusahaan ke karyawan yang diberikan berdasarkan lama masa kerja yang telah dilalui. Karena Disra masuk bukan di awal bulan.
Dihitung dari hari mulai masuk dibagi rata-rata perbulan. Sehingga, gaji yang didapat Disra lebih kecil. Ya, meskipun Disra masuk ke dalam perusahaan karena Melvin. Namun, Melvin tidak membuat spesial Disra yang dikhawatirkan akan menimbulkan kecurigaan.
Disra sedikit bingung menjawab, karena sebagian besar, Melvin yang membelanjakannya.
Dika sibuk dengan koper sang kakak dan mengeluarkan isinya. Terlihat bahagia di wajahnya. Begitupula dengan Tina.
Disra masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri dan beristirahat. Tak lama, ponselnya berdering. Seniornya menghubungi nya.
"Hallo Kak," ujar Disra dengan ponsel di telinga nya.
"Sudah sampai rumah?" tanya Raska dari seberang telepon.
"Sudah."
"Gimana trainingnya?"
"Lancar, Kak."
"Maaf ya, bukannya kita sengaja buat loe handle semua sendiri. Tapi beneran deh, bisa bentrok begitu semua," ujar Raska tulus.
Dia merasa tidak enak karena Disra seorang anak baru dan harus menyelesaikan semuanya.
"Iya ga pa-pa Kak. Bukan hal yang disengaja kok," jelas Disra.
"Tetap aja gua nggak enak. Bisa-bisa gua yang disuruh dateng kalau misalkan loe nggak bisa menerangkan pada klien saat training."
"Enggaklah, Kak. Kakak 'kan lagi anter nyokap Kakak, masa di suruh pulang. Izinnya juga udah beberapa waktu sebelumnya."
Raska bernapas lega. "Terus gimana kemarin? Pak Peter bilang apa sama loe? Dia orangnya dingin banget ya? Rumornya, dia itu nggak suka cewek. Temen deketnya cuma Pak Bagas. Kalau Pak Bagas nggak punya pacar. Mungkin, mereka dibilang gay!" ujar Raska panjang lebar.
"Sebenernya sih bukan dingin sih Kak. Tapi lebih ke kaku orangnya!" jelas Disra. Ya, dia merasa Melvin tak sesantai Felix atau Raska. "Kenapa bilang dia nggak suka perempuan?" tanya Disra penasaran.
"Karena dia nggak nerima karyawan perempuan di ruangannya. Sekertaris-nya pun lelaki. Nggak pernah terlihat punya pacar juga. Tapi emang, diakui kebijakan di perusahaan oke punya. Dia nggak pernah mempermasalahkan kita izin untuk urusan keluarga, yang terpenting kerjaan beres."
Disra mengangguk yang jelas sekali tak akan bisa dilihat Raska. Dia setuju dengan kebijakan yang dibuat oleh Melvin. "Ya, hanya di perusahaan kita yang mantab kebijakannya."
"Terus, pas training kemarin, loe yang ngajarin ke user?"
Disra sedikit terkekeh. "Aku nggak lancar bahasa Inggris. Jadi, kemarin Pak Peter yang ngomong. Aku bisa dibilang jadi operator aja," ujar Diara tertawa. "Oh ya, dia pake bahasa Thai ngejelasinnya," tambahnya.
__ADS_1
"Apa? Dia mau ngajarin?" tanya Raska membulatkan matanya. Soal Melvin yang mahir beberapa bahasa, sudah tak membuatnya terkejut.
"Iya, kenapa?"
"Baru tahu dia sebaik itu, yang gue tahu, dia itu nggak akan membantu karena dia mau tim-nya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya."
"Mungkin, karena aku anak baru Kak. Jadi, Pak Peter mungkin kasihan," ujar Disra mencari alasan.
Dia tak tahu mengapa Melvin membantunya. Karena hubungan mereka kah? Atau hanya sekadar kasihan.
"Bisa jadi sih."
"Gitu deh, Kak."
"Ya udah, loe istirahat deh, besok masih harus kerja."
"Iya Kak. Makasih."
Disra menutup teleponnya. Hanya berselang lima menit, ponselnya berdering kembali.
"Ciprut!" seru Felix dari sebarang telepon.
"Ucrit! Ngapain sih loe teriak-teriak nggak jelas!" keluh Disra.
"Loe dah pulang?"
"Udeh! Nih lagi di kamar."
"Kok nggak bilang-bilang? Gua 'kan bisa jemput loe."
"Ya elah, kaya gua bocah aja! Bisa sendiri kali."
Disra dan Felix mengobrol panjang di telepon. Ya, bukan hal yang aneh. Mereka memang terkadang mengobrol melalui ponsel dengan waktu yang cukup lama.
Di tempat lain, ada Melvin yang ingin menghubungi Disra. Namun, nomor yang dihubungi sibuk.
"Lagi nelpon sama siapa sih, lama banget!" gumam Melvin.
"Ya udah, besok gua anter loe kerja ya," ujar Felix.
"Emang loe nggak sibuk bisa anter gua?" tanya Disra.
"Enggak, mumpung masih bisa nih. Kalau masuk pagi juga nggak bisa anter loe."
"Bener?"
"Iyalah bener."
"Ya udah gua nebeng!"
"Jangan lupa oleh-oleh gua!"
"Iya bawel," ejek Disra.
"Oleh-olehnya nggak mau satu. Pokoknya harus banyak!" ujar Felix bercanda.
"Buka toko aja kalau gitu."
"Loe jadi SPG-nya ya?"
"Ogah!"
"Ya udah, besok gua jemput loe!"
"Iya, ribet!"
"Loe yang ribet!"
"Dih, jadi gua? Loe kali."
"Dih, loe tuh cewek ribet. Gua dateng loe harus udah siap!"
"Ih, bawel banget sih loe!"
Disra memutuskan sambungan telepon. Hanya dalam beberapa detik. Ponselnya berdering kembali. Disra mengangkat sambungan telepon tanpa melihat orang yang menelpon.
"Apalagi sih, Lix? Besok gua bawa oleh-oleh loe. Jemput gua jangan ngaret!" dengus Disra mengira Felix yang menghubunginya lagi.
__ADS_1
"Jadi, dari tadi ponsel kamu sibuk gara-gara ngobrol sama Felix?" tanya Melvin dengan nada sinis.