Hexamon : The Beginning

Hexamon : The Beginning
Chap 12 : Gadis berdarah Biru


__ADS_3

Terik mentari pagi menyinari sang ibu dewi pertiwi, orang-orang beraktifitas dengan penuh semangat membara tiap harinya untuk mencapai goals yang ingin mereka tuju. Tiap harinya jalanan kota pun sangat padat, terutama saat pagi hari di mana semua orang mulai beraktifitas mula dari berangkat bekerja, berangkat ke sekolah, atau pergi ke pusat perbelanjan yang biasa kita sebut dengan pasar. Bisingnya jalanan kota karena macet yang berkepanjangan, suara klakson panjang terus-menerus di bunyikan dari setiap kendaraan, orang-orang mulai menunjukkan wajah kesalnya, gedung-gedung tinggi pun menjulang tinggi di sini, dan lokasi perumahannya pun sangat mewah dengan fasilitas yang pastinya sangat lengkap. Begitulah keadaan kota ini, kota di mana para pejabat-pejabat, orang-orang besar, dan yang memiliki ekonomi lebih tinggal, kota ini sering di sebut kotanya para sultan, yaitu Beecasy.


Tentu saja keberadaan Hexamon bukan hal yang asing di sini, meskipun belum setiap orang mempunyai Hexamon, namun setidaknya sekitar 50% warga di sini mempunyai Hexamon sebagai partnernya. Di kota ini pun terdapat sebuah Sanggar tari yang sangat di kenal, prestasi yang di torehkannya membuatnya di kenal oleh banyaknya orang bahkan dari luar kota sekalipun. Sanggar Tari Sintadewi, sudah berdiri sekitar 4 tahun lamanya, sanggar ini lebih memfokuskan untuk mengajar serta melatih tari tradisional, bermaksud supaya tarian-tarian tradisional yang sudah di ajarkan turun temurun ini tidak sirna tergerus oleh zaman, maka dari itu di bangunnya sanggar ini adalah untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Tapi, tetap saja sanggar ini pun turut mengadakan pelatihan dance modern, yang semuanya telah terjadwal dalam satu minggu. Karena lebih memfokuskan terhadap tari tradisional, sanggar ini menetapkan jadwal 3x dalam seminggu untuk tari tradisional dan 2x seminggu untuk dance modern, karena akhir pekan yaitu hari Sabtu dan Minggu sanggar ini tutup sesuai jadwalnya.


“Ris, kamu di panggil sama Bu Sinta tuh buat ke ruangannya” Titah seseorang pada gadis yang sedang membenahi tasnya.


“Ouhh, iya nanti aku ke sana, makasih ya udah ngasih tahu” Jawab gadis itu dengan sangat ramahnya.


Setelah selesai membenahi tasnya, gadis itu memenuhi panggilan Bu Sinta selaku pemilik dari sanggar tari ini, ia langsung menuju ke ruangannya dan berniat untuk langsung pulang ke rumah setelahnya karena masa latihannya untuk hari ini telah selesai.


“TING !! NONG !!” Gadis itu menekan bel terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan.


“Silahkan masuk” Teriak Bu Sinta mengizinkan gadis itu untuk memasuki ruangannya.


Setelah di izinkan oleh Bu Sinta, gadis itu pun membuka pintu dan memasuki ruangan, tetapi seketika mimik wajahnya berubah menjadi agak ketus.


“Silahkan duduk” Titah Bu Sinta dengan senyum ramahnya saat tahu yang masuk ke dalam ruangannya adalah gadis tersebut.


Mengikuti apa yang di katakan Bu Sinta, gadis itu langsung duduk di bangku yang berhadapan dengan Bu Sinta, namun wajahnya tetap saja tidak menunjukkan senyuman sedikitpun saat pertama kali masuk.


“Bagaimana persiapan kelompokmu untuk event yang akan kalian ikuti bulan depan ?” Tanya Bu Sinta tentu dengan senyumannya.


“Sudah siap sekitar 70%” Jawabnya singkat dan ketus.


“Apakah ada kendala yang kamu atau kelompokmu alami selama masa latihan ?” Tanya kembali Bu Sinta.


“Tidak ada” Jawabnya singkat kembali.


“Baguslah kalau begitu, untuk konsep kostumnya apa kau sudah mulai memikirkannya ?” Tanya kembali Bu Sinta meski pertanyaannya selalu di jawab singkat.


“Baru memulai sketsa” Jawabnya singkat kembali.


“Oke, segera kirimkan ke saya kalau sketsa nya telah selesai, supaya pembuatan kostumnya bisa lebih cepat sebelum hari event tiba” Kata Bu Sinta.


Gadis itu hanya mengangguk kecil meresponnya.


“Kau masih belum berubah ya, tunjukkanlah sedikit senyuman manis mu itu, jangan ter—“ Belum selesai bicara, gadis itu memotong pembicaraan Bu Sinta.


“Langsung saja pada intinya Bu, saya tahu ada maksud yang lain, kalau Ibu memanggil saya seorang diri seperti ini” Kata gadis itu memotong pembicaraan Bu Sinta.


“Ya, sepertinya kau sudah tahu apa yang akan kita bahas, maaf sudah bertele-tele sebelumnya. Beberapa hari yang lalu, Ibu menerima kiriman kembali dari ayahmu ... “ Bu Sinta mulai membicarakan topik yang sebenarnya, dan mengeluarkan sebuah kotak dari laci mejanya.


Mata gadis itu langsung menatap tajam saat mendengar kata ‘Ayah’ dan langsung serius mendengarkan pembicaraan dari Bu Sinta.


“Beliau menitipkan sebuah kotak ini, entah apa yang ada di dalamnya, Ibu tidak berani membukanya sedikit pun, ini adalah hak mu dan juga sebuah amanah, yang pasti ada sebuah pesan di dalamnya yang di tujukan untukmu ...” Bu Sinta memberikan kotak yang di keluarkannya.


“Kenapa ayah tiba-tiba memberikan sebuah kotak ini ?” Tanya si Gadis penuh rasa penasaran.


“Kau tahu Risna, statusmu sebagai gadis yang memiliki darah murni keturunan putri kerajaan, tidak mungkin kamu lupa, sering sekali Ibu menceritakannya. Ayahmu memberikan kotak ini, karena di dalamnya ada sesuatu yang bisa melindungimu dari para marabahaya, dari kejahatan yang selalu mengintaimu selama ini, ia akan selalu berada di dekatmu dan menjadi temanmu ...” Jelaskan Bu Sinta tanpa memberitahu apa isi dalam kotak tersebut.

__ADS_1


Gadis yang di panggil Risna oleh Bu Sinta itu, semakin di buat bingung dengan penjelasan Bu Sinta.


“Lalu, hal yang ingin saya tanyakan, di mana keberadaan kedua orang tua saya sekarang ? Yang pasti mereka berdua pasti masih hidup kan ?” Tanya Risna dengan mata yang penuh harapan.


“Maaf, Risna. Untuk pertanyaan itu Ibu tidak bisa menjawabnya, yang pasti kedua orang tua mu masih hidup dan berada di suatu tempat di belahan bumi ini ... “ Kata Bu Sinta dengan tegasnya memegang amanah.


“Kenapa sih, kenapa Bu Sinta selalu saja berkata seperti itu setiap saya menanyakan kedua orang tua saya, memang salah jika saya ingin bertemu kedua orang tua saya setelah bertahun-tahun bahkan dari kecil tidak pernah bertemu ... “ Risna yang mulai emosional.


Bu Sinta menghela nafasnya.


“Ini adalah amanah dari ayahmu, Risna. Akan tiba waktunya suatu hari nanti kamu bertemu dan berkumpul dengan keluargamu kembali, Tak lama lagi hari itu akan tiba ...” Bu Sinta mencoba menenangkannya


“Sudahlah ...” Risna pergi begitu saja dari ruangan, sembari membawa kotak yang di berikan Bu Sinta.


“Anak itu sudah mulai beranjak remaja, sebentar lagi tiba saatnya Risna” Gumam kecil Bu Sinta.


Memiliki nama lengkap Risna Dwiyanti, atau akrab di panggil Risna adalah seorang gadis yang memiliki darah keturunan asli putri kerajaan yang berdiri di masa lalu, membuatnya memiliki status si Gadis berdarah biru. Jarang sekali di zaman yang sudah modern seperti sekarang, terdapat seseorang yang memiliki darah keturunan asli kerajaan ataupun darah bangsawan, membuatnya menjadi sosok yang spesial. Harta keluarganya pun sangat bergelimpangan, jika di zaman ini masih ada bajak laut, mungkin akan menjadi bulan-bulanan para bajak laut yang haus akan harta. Tapi, di zaman sekarang pun ada versi lain dari bajak laut, merekalah para Mafia. Mereka tidak secara terang-terangan merebut harta yang di incarnya, para mafia beraksi dengan cara menyekap, menyandera, memeras, atau bahkan bisa saja membunuh.


Semuanya bermula saat Risna masih sangat kecil, kira-kira saat ia masih berumur 2 tahun. Harta keluarganya yang bergelimpangan, membuat para mafia berusaha untuk mengambil semua harta kekayaannya itu, karena keluarganya yang menjadi bulan-bulanan para mafia, akhirnya Ayah Risna terpaksa menitipkan Risna yang masih sangat belia itu kepada kerabatnya yang jauh di luar kota sana, bermaksud untuk mengamankan Risna dan tidak membuatnya terlibat dari pengejaran para mafia yang haus akan harta dan kekayaan. Kerabatnya itu tak lain adalah Bu Sinta sendiri, ia di beri amanah untuk menjaga Risna sampai akhirnya tiba kembali waktu di mana Risna bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Setiap bulannya pun Ayahnya Risna mengirimkan sejumlah uang untuk segala kebutuhan Risna mulai dari pertama di titipkan sampai saat ini, Bu Sinta pun benar-benar memegang amanah yang di berikan oleh Ayahnya Risna.


Namun, karena sekarang Risna beranjak remaja, kini ia tinggal sendiri di sebuah perumahan dan berhasil membangun rumah minimalis bertingkat hasil dari kerja kerasnya. Karena sedari kecil ia tinggal bersama Bu Sinta, bakat menarinya pun mulai di asah sampai sekarang ia menjadi gadis yang handal dalam bidang seni tari, mengikuti banyak event lalu memenangkannya, sebagian dari hasilnya ia kumpulkan dan di bangunlah rumah minimalis yang sekarang di tinggalinya. Risna juga menjadi saksi perjalanan awal mula sanggar yang Bu Sinta dirikan sampai sesukses sekarang.


Risna keluar dari ruangan dengan penuh rasa kesal karena setiap kali ia menanyakan tentang orang tuanya selalu di jawab dengan jawaban yang sama, Risna sebenarnya adalah gadis yang ramah dengan senyumannya yang manis, namun jika menyangkut perihal kedua orang tuanya, agak sedikit sensitif. Langkah kakinya membawanya menuju terminal bus untuk membawanya pulang ke rumah, nampak langit senja hari ini di selimuti awan kelabu yang cukup pekat, tanda hujan akan segera turun, entah sekarang atau nanti malam.


“Hmphh, apanya yang jadi bulan-bulanan mafia, dari kecil sampai sekarang aku belum pernah bertemu para mafia dan hidupku aman-aman saja” Gumam Risna dengan nadanya yang ketus.


Saat sampai di terminal yang di tuju, Risna duduk di bangku panjang yang telah tersedia di sana.


Tak lama menunggu, akhirnya Bus pun datang, Risna menyegerakan dirinya untuk menaiki bus yang siap mengantarkannya pulang sampai ke rumah.


...***...


Sesampainya di rumah ia menaruh tas serta kotak terlebih dahulu ke kamarnya dan berniat mempersiapkan makanan untuk makannya nanti malam. Gemuruh petir terdengar jelas dengan kilat yang menyala-nyala nampak dari sebuah jendela, suasana rumah sangat gelap saat ia pertama kali tiba di rumah, Risna menuju dapur yang berada di lantai bawah, mencoba memeriksa ada bahan makanan apa yang siap untuk ia masak sekarang. Di bukanya kulkas, terlihat persediaan telur yang masih banyak berjajar rapi, Risna memutuskan memasak nasi goreng spesial untuk makannya nanti malam.


Setelah tercium aroma sedap dari nasi goreng yang di buatnya, akhirnya nasi goreng pun siap di hidangkan. Di simpannya dahulu di dalam atas rak yang berada di dapur, kini Risna melangkahkan kembali kakinya menuju kamar yang berada di lantai atas. Memasuki kamar kecilnya, kemudian di bukalah sebuah lemari baju besar, Risna memilah-milah busana apa yang akan ia kenakan untuk tidur. Di ambillah piyama berbahan satin mengkilap berwarna merah maroon, menaruhnya di atas kasur yang nanti akan ia kenakan, setelahnya ia juga mengambil kimono handuk untuknya pergi mandi.


Namun, Risna tidak menyadari bahwa ada yang mengintainya di sebalik kegelapan, sosok itu mulai muncul saat Risna keluar dari ruangan kamarnya, ia mengendap-endap mendekati ranjang kasur milik Risna, matanya tertuju pada piyama yang di taruh di atas kasur, nampak wujudnya adalah seperti cabai merah dengan ukuran besar yang bisa berjalan, di gosok-gosokkannya piyama milik Risni ke wajahnya dan sesekali di jilatnya, entah apa yang di rencanakan oleh si cabai dengan melakukan aksi tersebut, yang pasti Risna sekarang sedang dalam bahaya.


...***


...


“Aahhh, rasanya segar sekali” Ucap Risna baru saja selesai mandi.


Risna yang selesai membersihkan dirinya, langsung saja kembali naik menuju lantai atas tepatnya ke ruangan kamarnya. Langkah kaki memasuki ruangan, Risna masih belum menyadari ada hal jahat yang mengintainya di sebalik kegelapan. Di gantinya kimono handuk dengan dikenakannya busana piyama satin mengkilap berwarna merah maroon, Risna belum merasakan keanehan sedikitpun, di ambilnya ikat rambut berwarna merah, ia mengikat rambutnya terlebih dahulu kemudian keluar kembali untuk mengambil makan malam yang telah di buatnya.


Risna menyantap dengan lahap nasi goreng spesial itu di temani dengan menonton drama Korea kesukaannya. Ya, Risna adalah pecinta drama Korea begitupun dengan musiknya, karena saking terlalu fokus dirinya menonton drama sampai tak sadar bahwa nasi gorengnya telah habis, bahkan sampai-sampai piringnya pun licin karena tak tersisa nasi satu butirpun. Meskipun makanannya telah habis, Risna tetap berdiam diri di dapur, karena sudah keasyikan menonton drama korea, 2 episode habis di tontonnya dalam satu malam, tanpa sadar waktu pun telah menunjukkan pukul 22.43. Terdengar suara hujan yang turun semakin deras di iringi gemuruh-gemuruh kecil, setelah semuanya selesai Risna langsung saja menuju kamarnya kembali untuk tidur, merehatkan segala rasa lelahnya atas semua kegiatan di hari ini.


Setelah memasuki kamarnya, Risna duduk sejenak di atas kasur berwarna merah bermotif flora. Ia mengambil kotak yang di berikan Bu Sinta kepadanya, karena Bu Sinta bilang ini adalah titipan dari Ayahnya, Risna semakin penasaran untuk membuka apa isi dalam kotak tersebut.

__ADS_1


“Apa ya kira-kira isi dalam kotak ini ? suatu hal yang bisa melindungiku ?” Karena penasaran, Risna membuka perlahan kotak tersebut.


Ternyata isi dalam kotak itu adalah satu set Hexamon dengan sepucuk surat terselipnya. Risna sama sekali tidak tertarik dengan satu set Hexamon itu, ia hanya tertarik dengan sepucuk surat yang ada di dalamnya.


“Hai, Risna. Ini Ayah, semoga kau baik-baik saja ya di sana, hal-hal jahat sekarang mulai bergerak mengintaimu, jadi berhati-hatilah di sana, Ayah memberikan satu set Hexamon ini sebagai rekan yang akan selalu melindungimu dan menemanimu dalam segala kondisi apapun, jika kamu bisa memperlakukannya dengan baik dan menyayanginya maka Hexamon ini pun akan memperlakukanmu dengan baik dan menyayangimu juga. Kita akan segera bertemu, sampai waktunya tiba, Ayah dan Ibu baik-baik saja di sini, jaga dirimu baik-baik ya putri kecil Ayah :) “ Isi dari sepucuk surat tersebut.


Risna membaca sepucuk surat itu sambil berkaca-kaca, sebegitu rindunya ia kepada kedua orang tuanya. Surat itu pun di dekapnya erat-erat.


Menuruti apa kata ayahnya meskipun Risna sama sekali tidak tertarik dengan Hexamon ia mencoba untuk mengaktifkannya, di kenakannya Hexawatch pada lengan kirinya, Risna menekan tombol untuk mengaktifkannya, sinkronisasi pun di mulai.


“Hai, senang bertemu denganmu, boleh kita berkenalan ?” Terdengar suara Hexamon yang menyapa dengan cerianya melalui Hexa-Voice.


Namun, karena Risna pada dasarnya tidak tertarik sama sekali, ia mengacuhkan sapaan Hexamonnya dan bergegas tidur tanpa melepas Hexawatch yang terpakai pada lengan kirinya, ikat rambutnya ia lepas, rambut panjang bergerai berwarna hitam legamnya itupun di kibas-kibaskannya terlebih dahulu, kemudian ia mulai berbaring di atas kasurnya yang empuk.


Di temani suara hujan yang masih sangat deras, nampak Risna mulai tertidur lelap. Sosok berwujud cabai itu keluar dari sebalik kegelapan, kini juga keluar sesosok pria bersamanya. Tak lain dan tak bukan, sosok cabai itu adalah Hexamon dan pria itu sudah pasti adalah pemiliknya, si Hexamon cabai itu kembali mendekati ranjang kasur yang di mana sekarang terdapat Risna yang sedang tertidur lelap berada di alam mimpinya.


“Sekarang ...” Perintah si pria misterius itu.


“ROAST SPICY !!!” Hexamon cabai itu mengeluarkan skillnya.


“ !!!!! .... “ Risna yang sedang lelap tertidur, tiba-tiba saja matanya terbelalak menatap tajam langit-langit rumahnya.


“ARGHHHH, PANASSS !!!! PANAS !!!!! TOLONGG, PANASSS !!!” Risna tiba-tiba menjerit-jerit histeris kepanasan dan kejang-kejang karena skill yang di keluarkan oleh si Hexamon cabai itu.


Skill si Hexamon cabai itu berhasil membuat Risna kejang-kejang merasa kepanasan, ini adalah skill di mana si Hexamon cabai ini harus menempelkan biji-biji cabainya terlebih dahulu pada sesuatu kemudian mengaktifkannya dengan mengeluarkan skill yang tadi, sehingga inilah maksud dari si Hexamon cabai itu menggosok-gosokkan piyama Risna ke wajahnya.


“Si .. apa ?? Kalian ?!!” Tanya Risna pada seseorang yang berdiri di hadapannya yang di temani sesosok cabai merah sambil menahan rasa nyeri dan panas.


“Simple as that, aku adalah seorang mafia yang sedang mengincarmu, panggil saja aku Venn. Kasian sekali melihatnya, terlalu kejam kah ? Tapi, aku memerlukanmu untuk mendapatkan harta milikmu yang bergelimpangan itu .. Tuan putri” Kata si Mafia itu penuh dengan ancaman.


“Aku .. ti ... dak ... punya harta ...aku ... wanita biasa ... tolong, hentikan ... ini ... semua ... “ Risna yang memohon dengan penuh pengharapan sambil menahan rasa panas yang menggerogoti tubuhnya.


“Sulit sekali mencari keberadaanmu, apa aku harus melepaskanmu begitu saja ? Silahkan, lakukanlah Chilla ..”


“Dengan senang hati tuan, SPICY BODY !!!” Hexamon cabai yang di panggil Chilla itu, melompat ke arah Risna lalu memeluknya dengan erat.


“ARGHHHHHHHH !!!! PANASSSS !!!!” Santak Risna semakin menjerit kepanasan, skillnya kali ini adalah tubuhnya yang mengeluarkan aura pedas membuat Risna semakin kepanasan.


Risna mencoba untuk melepaskan si Hexamon cabai itu dari dirinya, sulit sekali seperti permen karet si cabai itu melekat, namun Risna tetap berusaha melepaskannya dari dirinya karena jika tidak, ia bisa mati kepanasan. Akhirnya si Hexamon cabai itu bisa lepas dari dekapannya dan di lemparkan kepada si mafia, namun hawa panasnya masih tetap melekat pada tubuh Risna. Mengingat keadaan di luar yang sedang hujan deras, akhirnya tanpa pikir panjang apapun resikonya, Risna berlari keluar teras yang berada di lantai atas, lalu secara terpaksa ia melompat dari atas teras untuk bisa ke bawah dengan tinggi yang lumayan, semua itu ia terpaksa lakukan supaya bisa kabur dari incaran si mafia dengan Hexamon cabainya itu, akhirnya Risna melompat tanpa mempedulikan segala resikonya, apakah Risna akan baik-baik saja ?


BERSAMBUNG.


Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut


perihal "Hexamon" mula dari bagaimana


wujud karakter & monsternya, dll.


Bisa langsung cek ke :

__ADS_1


Instagram : @hexamon_


__ADS_2