Hexamon : The Beginning

Hexamon : The Beginning
Chap 21 : Melukis senyuman


__ADS_3

Korban-korban berguguran dari kedua kubu, semuanya hancur dan luluh lantak karena sebuah pertempuran yang besar dan penuh resiko. Namun, karena tekad mereka yang menginginkan kebebasan dan kedamaian, akhirnya langit menjadi berseri kembali setelah lama di rundung kegelapan, warna pelangi pun terbentang di langit tanda bahwa semuanya telah berakhir sekarang.


Bunyi sirine ambulan saling bersahutan, saat di nyatakan bahwa mereka telah menang, para tim medis mulai berdatangan membawa korban-korban beserta para personel yang tersisa. Anggota mafia yanb tersisa pun di bawa oleh para anggota militer yang tersisa untuk di tahan.


"FINOO !!!" Panggil ayahnya Fino keluar dari mobil ambulan yang di bawanya.


"Ayahhh !!!" Fino merespon dengan melambaikan tangannya memberi kode supaya Ayahnya menghampirinya.


Ayahnya beserta rekannya pun menghampiri Fino dan kawan-kawan sembari membawa tandu.


"Ada apa, Fino ??" Tanya Ayahnya.


"Jenderal terluka, Yah ..." Kata Fino memberi tahu.


"Jenderal terkena tembakan di bagian perutnya dan tak sadarkan diri ... " Lanjut Ikka.


"Cepat-cepat kita bawa Jenderal ke mobil ambulan !!" Ucap Ayahnya Fino.


Sang jenderal yang mengalami luka dalam segera di bawa menuju mobil ambulan oleh Ayahnya Fino dengan rekannya, Fino, Ikka, dan Sheila pun ikut masuk ke dalam, menuju pengungsian.


"Sheila ... Jadi, sekarang kau sudah kembali menjadi sosok Sheila yang dahulu ..." Tanya Ikka serius dalam ambulan yang sedang melaju.


"Tidak ... " Jawab Sheila.


Fino dan Ikka langsung terkejut mendengarnya, menatap tajam Sheila.


"Karena ... Sekarang aku telah menjadi sosok Sheila yang lebih baik di bandingkan Sheila yang dahulu" Lanjutnya sambil tersenyum manis.


Fino dan Ikka merespon dengan cara tersenyum saat mendengarnya.


"Berarti, itu si Lebah sekarang jangan galak-galak yaa, haha" Sahut Biru melalui Hexa-Voice meledek Beep.


"Heyy !! Aku punya nama tahu, namaku Beep, tidak, aku masih tidak sudi kalah darimu sebelumnya ... Jadi, aku masih harus membalasnya" Jawab Beep juga melalui Hexa-Voice.


"Yaa, udah kalah malah gamau ngaku, haha" Biru terus saja meledek Beep.


"Hadeuhh, dasar cowo kerjaannya ribut terus" Sahut Nawha mengeluh melalui Hexa-Voice.


"Heyy, jangan berisik, Jenderal sedang terluka, Sssttt" Fino yang memarahi para Hexamon seperti memarahi anak kecil yang nakal.


Setelah sekitar setengah jam mereka semua dalam perjalanan beserta dengan ambulan yang lainnya. Mereka akhirnya sampai pada gerbang depan pengungsian.


"Lohh, kenapa banyak mafia tidak sadarkan diri ?!" Fino terkejut dan merasa bingung.


"Lalu, mereka semua sepertinya di kalahkan oleh hal lain, karena tak mungkin beberapa penjaga dapat mengalahkan banyaknya mafia ini ..." Ungkap Ikka hasil analisisnya.


"Ini semua aku yang lakukan" Sheila mengakui sesuatu.


"Hahh, maksudnya ?!! Fino dan Ikka langsung terkejut mendengarnya.


"Benar, Sheila dan Hexamonnya yang telah mengalahkan para mafia ini ..." Sahut Ayahnya Fino membenarkan perkataan Sheila.


"Yaa, jadi awalnya tuh ..." Sheila menjelaskan semuanya dari awal


~ Flashback sebelum Sheila menuju Medan tempur.


Sheila yang berlari sekuat tenaganya meski harus menempuh jarak yang jauh untuk menuju tempat pengungsian, karena dirinya tahu bahwa pertempuran di medan tempur hanyalah peralihan saja supaya keamanan di tempat pengungsian menjadi lemah. Saat Sheila sampai di sana, ternyata benar saja, gerombolan mafia telah sampai di sana.


"Haha, cuma segini kemampuan para penjaga ini ? LEMAH !!" Kata salah satu mafia setelah mengalahkan para penjaga.


"Blueprint itu pasti ada di dalam, ini akan berjalan dengan lancar dan mudah" Lanjut kata mafia yang lainnya


"Ayo kita masuk, kita buat kekacauan di sini !!" Titah mafia yang memimpin gerombolan.


"Kata siapa kalian bisa dengan mudah membuat kekacauan di sini, hahh ?!!"


Mendengar suara wanita yang menggertaknya, semua mafia melirik belakang melihatnya.


"K-kau ... Bukannya kau anak buah Bos, yang bertugas untuk menjaga perbatasan ?!" Kata kapten gerombolan mafia yang terkejut melihat keberadaan Sheila.


"Untuk apa kau datang ke sini ?!!" Sahut mafia yang lainnya.


"Tentu saja, untuk menghadang kalian, karena sekarang aku bukan suruhan Bos lagi" Ungkap Sheila dengan berani.


"Ternyata pengkhianat ..." Gumam salah satu mafia.


"Haha, masa bodo mau kau berkhianat atau tidak, kau yang seorang diri mana mungkin bisa mengalahkan kita semua" Kata sang kapten mafia dengan percaya diri.


"Ya ... Itu kan baru omongan, bukan pembuktian, mana tahu kan ?" Kata Sheila tak mau kalah.


"Besar kepala sekali anak ini, tembaki dia !!" Titah Kapten mafia memberikan perintah


"Haha, inilah saatnya, HEXAMON BATTLE, GOO !!" Dengan penuh semangat Sheila memanggil keluar Hexamonnya Beep.

__ADS_1


"THUNDER SPARKLE !!" Beep yang langsung mengeluarkan skill pertahanannya untuk melindungi Sheila.


"Jangan berani kalian melukai Sheila, ELECTRIC SHOCK !!" Beep menyerang para gerombolan mafia dengan skillnya.


Para mafia ketar-ketir menghindari serangan Beep yang tak dapat di tahan dengan tangan kosong saja.


"Beep, mari kita berjalan di jalan yang benar, kita perbaiki kesalahan kita sebelumnya ... Kalahkan mereka semua, BEEP !!" Teriak Sheila pada Hexamonnya.


"Sial, kalau begini dia sulit sekali untuk di kalahkan" Kata sang kapten


Beep terus melakukan penyerangan tanpa henti, sampai seluruh mafia yang berada di sana gugur tanpa tersisa satupun.


"LIGHTNING AREA !!!"


"Untung aku membawa peluru bius penenang, dengan begini istirahatlah kau lebah !" Gumam sang kapten mengisi pistolnya dengan peluru bius lalu membidik Beep dengan teliti.


Namun, tiba-tiba ...


"Apa yang sedang kau lakukan, pak tua ? Haha" Beep secara tiba-tiba langsung berada di belakang sang kapten dengan kecepatan kilatnya.


" !!!!! " Sang kapten yang terkejut dan terkaku.


"THUNDER STING !!!"


"ARGHHHHHHH !!!"


"Dengan begini selesai sudah, haha" Kata Beep menyilangkan tangannya.


"Kerja bagus, Beep. Para penduduk dan pengungsian sekarang aman" Sheila memberi jempol pada Beep sambil tersenyum.


"PROKK ... PROK ... PROK ... PROK !!"


Tiba-tiba terdengar gemuruh tepuk tangan di sebalik gerbang, para penduduk keluar memberikan apresiasi kepada Sheila karena telah menghadang para mafia yang hendak mengacaukan seisi pengungsian.


"Kami telah melihatnya" Kata pria paruh baya.


"Terima kasih telah membantu kami" Lanjut seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya.


"Ah, itu ... Bukan apa-apa kok, aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku saja" Ucap Sheila sembari membungkukkan badannya.


"Ouh, ya ... Kamu juga salah satu anak buah mafia kan, yang menjaga perbatasan, hati-hati semuanya, barangkali ini hanyalah tipuannya saja !" Kata seorang remaja seumuran Sheila memprovokasi.


"Iya, aku memang anak buah mafia sebelumnya, tapi itu dulu, sekarang aku telah kembali ke jalan yang lebih baik, maka dari itu aku akan memperbaiki segala kesalahanku sebelumnya, dengan ingin ikut turun ke Medan tempur mengembalikan hak kalian semua untuk kebebasan ..." Ungkap Sheila menjelaskan alasannya.


"Kalau begitu, permisi ... Saya harus segera menuju ke Medan tempur sekarang, Ayo Beep kita harus cepat-cepat .." Sheila menyegerakan dirinya menuju Medan tempur.


Sheila pun berbalik, mendengar panggilan Ayahnya Fino.


"Akan menghabiskan banyak waktu jika menuju Medan tempur hanya dengan berlari, dan itu juga akan membuatmu lelah saat sampai ke sana ... Sebagai tanda terima kasih, saya akan mengantarkanmu menuju Medan tempur menggunakan ambulans" Ajak Ayahnya Fino sebagai tanda terima kasih.


"Ah, terima kasih pak ..." Sheila merasa sangat berterima kasih.


"Untuk semua tim medis, saat saya telah memberi kabar jikalau kita semua telah menang, harap seluruh unit ambulans dan tim medis segera menuju medan tempur" Kata Ayahnya Fino memberi perintah.


~ Kembali ke masa sekarang.


"Ya, jadi seperti itulah ceritanya, Benar katamu Ikka, para mafia itu memang licik, semalam aku menyadarinya, hingga akhirnya aku merasa tertampar dan menyesal ..." Sheila menceritakan semuanya.


"Biarlah kisah kelam hari kemarin berlalu, belum terlambat untukmu memperbaiki semuanya, kini hidupmu akan lebih berwarna" Nasehat Ikka tanpa lupa senyumnya.


Akhirnya, seluruh unit ambulans telah sampai di pengungsian, para korban segera di bawa ke posko pengobatan, tak lama setelah mereka sampai, kabar berita kalau kota Tank-Go-Rank telah bebas dari para mafia langsung menyebar luas karena postingan para penduduk. Media massa dan bala bantuan yang sebelumnya terhalang oleh ancaman para mafia, kini mereka mulai berdatangan memasuki kota Tank-Go-Rank, terutama posko pengungsian.


Bala bantuan mulai berdatangan mula dari mobil untuk kebutuhan makanan, obat-obatan, serta kebutuhan lainnya. Donasi yang telah di kumpulkan oleh para komunitas sosial semenjak hari kedua penyerangan, kini mulai di donasikan kepada para penduduk di sana. Baju bekas, buku-buku, semua yang masih layak pakai di donasikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.


"Seneng ya liatnya ... Anak-anak sekarang gak perlu takut lagi kalo main, mereka bebas tertawa dan tersenyum, para orang dewasa pun nanti bisa mulai beraktifitas kembali sebagaimana biasanya" Ungkap Ikka merasa sangat senang.


"Yaa, begitupun aku, bersyukur Ayahku baik-baik saja di sini, bahkan ternyata dia berperan penting di sini sebagai tim medis, aku baru tahu Ayahku handal di bidang medis, berarti tugas mu melukis senyuman semua orang telah selesai kan ?" Tanya Fino.


"Belum, masih tersisa satu lagi ... " Kata Ikka.


"Apa satu tugas mu yang tersisa itu ??" Tanya Sheila.


"Hmm" Ikka hanya tersenyum kepada Fino dan Sheila.


- Cyanzour, SMPN Harapan 03.


Hari sudah mulai petang, bel pulang pun telah berbunyi, tanda waktunya pulang telah tiba.


"Der, kira-kira Fino kemana ya ? Udah hampir seminggu dia gak masuk sekolah, gak kayak biasanya" Raka yang mulai merasakan keanehan sambil berbenah tasnya.


"Bukannya kita sudah tahu, kan kata Ibunya juga Fino lagi sakit dan gak bisa di jenguk" Jawab Deri simple as that.


"Tapi apa kau tidak merasa keanehan, Fino gak biasanya sakit lama gini, trus Ibunya juga gak ngasih tahu kan sakit apa pas kita ngejenguk, terakhir padahal setiap Fino sakit kita boleh ngejenguk masuk ke kamarnya, tapi sekarang seperti dilarang ..." Raka mulai berspekulasi.

__ADS_1


"Ehh, tapi iya juga sih. Ouh ya Raka, kalau mau duluan, duluan aja, tunggu aja di kafe biasa nanti aku ke sana ... Soalnya aku ada jadwal piket, ntar kita bareng-bareng coba lagi datang ke rumah Fino" Kata Deri.


"Oke, aku ke sana duluan ya .." Raka melambaikan tangannya keluar dari ruangan kelas.


- Tank-Go-Rank, Posko pengungsian.


"Kau yakin akan pergi sekarang sore-sore begini, Ikka ??" Tanya Fino.


"Ya, karena aku dengan Sheila masih punya satu tugas terakhir yang harus secepatnya di selesaikan ..." Beritahu Ikka.


"Apa jangan-jangan kalian berdua adalah agen rahasia ?" Tanya sang Komandan.


"Ehh, bukan kok pak Komandan ..." Kata Sheila sambil tertawa.


"Kita berdua hanyalah seniman dan pengamen jalanan, hehe" Lanjut Ikka.


"Kalau begitu, terima kasih atas bantuan kalian, maaf untuk kali ini, saya mewakili semuanya hanya mengucapkan terima kasih, perjuangan kalian akan selalu kami ingat dan akan memberi tahu kepada atasan, pimpinan kota ini ..." Ucap terima kasih yang sangat besar dari sang Komandan.


"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Fian, karena telah banyak membantu saya ..." Ucap Sheila juga terima kasih.


"Tidak, bukan masalah. Hati-hati untuk kalian berdua saat berada di perjalanan ..." Ayah Fino memberi peringatan.


Mereka semua saling mengucapkan salam perpisahan, Fino yang tak kuasa menahan haru memeluk Ikka dan berjabat tangan dengan Sheila. Ikka dan Sheila mulai meninggalkan posko pengungsian, mereka pun saling melambaikan tangannya.


~ Kejadian sebelum Ikka dan Sheila memutuskan untuk pergi.


"Jadi ... Kau akan pergi sekarang, Sheila ?" Tanya Ikka.


Ikka dan Sheila sedang berbicara serius di luar kawasan posko pengungsian.


"Ya, aku mendapat kabar kalau adikku telah siuman dan kondisinya semakin membaik, jadi aku harus pergi secepatnya sekarang" Sheila yang mulai melangkah meninggalkan Ikka.


"Tunggu ..." Ikka mencoba menghentikannya.


Mendengar perkataan Ikka, Sheila pun menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Ikka ??" Tanya Sheila.


"Apa kau mempunyai biaya untuk menebus biaya rumah sakit ?" Tanya Ikka mengenai hal yang sedikit sensitif.


Mendengar pertanyaan yang Ikka lontarkan, Sheila hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil merunduk membelakangi Ikka.


"Tapi gapapa, aku akan membayarnya mencicil, itupun jikalau bisa dan adikku bisa keluar dari rumah sakit ..." Ungkap Sheila.


"Sheila ..." Kata Ikka memanggil sambil berjalan menghampirinya.


Sheila berbalik badan, melihat Ikka yang tengah berjalan menghampirinya


"Ini ... Terimalah .." Ikka menyerahkan sebuah cek kepada Sheila.


"Apa ini ? Maaf Ikka, bukan aku tidak ingin, tapi aku tak bisa menerima ini ..." Sheila berusaha menolaknya


"Kau masih ingat kan satu misiku yang terakhir ? Ya, membantu adik kecilmu kembali supaya bisa terlukis kembali senyuman di wajahnya ... cek ini sudah aku siapkan, saat aku tahu adik kecilmu jatuh sakit, namun saat aku mengetahui kau bekerja sama dengan mafia, akupun terkejut ... dan, berniat akan menyadarkanmu kembali, hingga tiba pada waktunya aku menyerahkan cek ini padamu ..." Ikka menjelaskan niatnya.


"Tapi, bagaimana bisa kamu punya jumlah uang sebanyak ini ?" Tanya Sheila.


"Sebenarnya aku adalah anak dari keluarga dengan ekonomi berlebih, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal, seluruh asetnya sekarang adalah milikku ... namun, karena aku tidak mau hanya menikmati harta orang tuaku secara cuma-cuma, aku juga ingin mencari uang dengan jerih payahku sendiri, maka dari itu aku turun ke jalanan dan tinggal di kosan, aku akan lebih senang kalau uang ini di berikan kepada yang lebih membutuhkan, maka dari itu ... Terimalah" Ikka berusaha supaya Sheila bersedia menerimanya.


"Euhmm ... Baiklah, aku akan menerimanya, tapi bagaimana kalau kau ikut juga ke rumah sakit, adikku pasti senang bisa bertemu kembali denganmu ?" Sheila menerima cek dengan memberi ajakan kepada Ikka.


"Oke, mari kita ke sana, kita pamitan dulu dengan semuanya yang berada di sini ..." Ikka spontan menerima ajakan Sheila.


~ Kembali ke masa sekarang.


"Bertemu dan kenal denganmu, adalah hal yang menyenangkan Fino, semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti, di masa depan ..." Gumam Ikka dalam hatinya, melangkah pergi meninggalkan kota.


- Cyanzour, SMPN Harapan 03.


"Tak ada kabar sama sekali dari Fino, bahkan sosial medianya pun tidak aktif semenjak satu minggu yang lalu, apa dia sakit parah sekali sampai sebegitunya hilang dari peradaban ??" Gumam Raka bicara pada dirinya sendiri, menuruni tangga.


Hari sudah petang, waktu pulang pun telah tiba, para siswa dengan perasaan riangnya keluar dari gedung sekolah. Raka yang berniat untuk menunggu Deri di kafe yang tak jauh dari sekolah, kebetulan saat itu ia melihat Rika yang sedang berjalan bersama dengan kedua temannya, namun pada saat di persimpangan jalan Rika berpisah denga kedua temannya hingga akhirnya hanya tersisa Rika seorang diri. Raka yang melihatnya tengah sendirian, berniat untuk ikut mengajaknya ke kafe untuk menemaninya menunggu Deri datang.


Tapi, saat Rika memasuki sebuah gang yang cukup kecil dan sunyi, Raka yang berusaha mengejarnya tiba-tiba di buat terkejut saat melihat, ternyata Rika tiba-tiba di datangi kedua orang pria misterius dengan penampilan serba tertutup yang pasti mereka adalah orang jahat. Rika di suntikkan serum yang membuatnya seketika langsung tak sadarkan diri, dan langsung saja di bawa oleh mereka menggunakan Moto-sky yang di bawanya, Raka yang hendak menolongnya, tak sempat karena kejadiannya yang berlangsung begitu cepat, Rika telah di culik oleh seseorang.


"Rika ... !! Apa yang harus ku lakukan sekarang ?" Gumam Raka dalam hati bingung dengan keadaannya sekarang.


BERSAMBUNG.


Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut


perihal "Hexamon" mula dari bagaimana


wujud karakter & monsternya, dll.

__ADS_1


Bisa langsung cek ke :


Instagram : @hexamon_


__ADS_2