
Semilir angin nan sejuk di pagi hari menusuk sampai ke ulu hati, gemericik suara arus sungai, di iringi alunan merdu tiupan seruling bambu terlantun oleh seorang remaja desa yang tengah menggembala kambing di ladang berhamparan rumput hijau. Mungkin sedikit aneh kenapa masih saja ada perkampungan di era modern seperti sekarang. Meski demikian, kota ini memang dengan sengaja di isolasi dari berkembang pesatnya teknologi dunia luar, bukan berarti menutup diri, namun untuk menjaga keasrian dan kekayaan alam yang di miliki oleh kota ini. Namun, bukan berarti penduduk di kota ini buta akan teknologi, cakupan teknologi yang mengharuskan untuk segala kebutuhan primer tentu saja tersedia, sedangkan kebutuhan sekunder penduduk bisa langsung pergi ke pusat kota dengan menggunakan fasilitas transportasi umum yang ramah lingkungan secara gratis yang di sediakan oleh pemerintah setemenpat. Seperti itulah keadaan kota yang sering di sebut kota masa kecil ini, kota Cywhiter.
"Aji, hayuk geura mulang heula, si amang tos dugi ka bumi ... (Aji, ayo pulang dulu, paman sudah sampai ke rumah)" Panggil pria paruh baya kepada remaja yang tengah menggembala kambing.
"Muhun, pak. Sakedap ... (Iya, pak. Sebentar)" Jawab remaja tersebut.
Tentu saja pasti ada suku asli yang menyinggahi kota tersebut, jangan sampai keberagaman di Indonesia ini sirna tergerus oleh perkembangan zaman. Sebagian besar masyarakatnya juga bermata pencaharian sebagai petani dan penggembala, remaja yang di panggil oleh pria paruh baya itu lantas segera memasukkan kambing-kambingnya kembali ke kandang untuk bergegas memenuhi panggilan tersebut yang merupakan panggilan dari sosok ayahnya.
"Wah, tos rame geningan euyy (Wah, sudah ramai ternyata ya)" Ucap Ayah remaja tersebut setelah melihat seisi rumahnya telah ramai dengan berkumpulnya satu keluarga besar.
Sosok remaja yang sering menggembala kambing itu bernama Aji Syafruddin, biasa di panggil Aji. Seorang jajaka Parahyangan, remaja berdarah Sunda kental karena kota ini adalah tanah kelahirannya, hari ini keluarganya kedatangan tamu spesial yaitu pamannya. Pamannya baru saja kembali ke Indonesia, setelah 2 tahun merantau jauh magang di negeri Sakura, Jepang. Kini kontrak kerjanya telah selesai, membuatnya memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air, Indonesia.
"Teu karasa, Aji tos bujang geningannya, yeuh ... Amang mawa oleh-oleh spesial kanggo Aji (Gak kerasa, ternyata Aji udah gede, nihh ... Paman bawa oleh-oleh spesial buat Aji)" Reaksi pamannya saat pertama kali melihat Aji kembali setelah lama tak bertemu sembari menyerahkan buah tangan yang telah bawanya.
"Wah, naon eta mang ? (Wah, apa itu paman ?)" Tanya Aji sangat penasaran.
"Moal mungkin Aji teu apal, amang meser 1 set Hexamon spesial buat keponakan amang, soalna di jepangmah euhh keur rame nu kieuteh (Gak mungkin Aji gak tahu, Paman belikan 1 set Hexamon spesial buat keponakan paman, soalnya di jepangmah euhh lagi rame yang kayak gini tuh)" Kata pamannya, membelikan Aji 1 set Hexamon atas dasar rasa sayangnya kepada keponakan.
"Hatur nuhun pisan mang .... Tapi, iyeu teu kaleuwihan teuing ? (Terima kasih sekali paman .... Tapi, apa ini gak berlebihan ?)" Tanya Aji yang merasa senang sekaligus tidak enak.
"Teu nanaon ji, harga cuma sebuah nominal yang gak ada bandingannya sama kebahagiaan, jadi kalo Aji seneng sama oleh-oleh dari Amang, amang ge ikut seneng, rezeki mah moal kamana" (Gapapa Ji, harga cuma sebuah nominal yang gak ada bandingannya dengan kebahagiaan, jadi kalo Aji senang dengan oleh-oleh dari Paman, Paman juga ikut senang, rezeki mah gak bakal kemana)" Ucap Pamannya dengan tulus memberi.
Setelah itu perbincangan hangat keluarga pun berlanjut, Aji yang sudah tidak berkepentingan langsung saja masuk ke ruangan kamarnya, gunting pun di bawanya untuk membuka bungkusan yang menyelimuti set bundle Hexamon tersebut.
"Ouhh, jadi iyeu nu ngarana Hexamon teh ... (Ouhh, jadi ini yang namanya Hexamon tuh)" Ucapnya saat pertama kali melihat set Hexamon.
Aji masih sangat awam dengan Hexamon, ia hanya cukup tahu keberadaan Hexamon tetapi tidak tahu yang seperti apa Hexamon itu. Karena memang pada dasarnya ia sama sekali tidak tertarik, mungkin ini bisa di sebut salah satu sifat kampungannya, ehe. Namun, saat Hexamon itu sekarang berada dalam genggamannya, Aji mulai merasa tertarik sekaligus menghargai pemberian dari pamannya.
"Jadi iyeu Hexamon teh, dina jero kepingan iyeu jadi aya monsterna ... Mana ?? (Jadi ini Hexamon, di dalam kepingan ini jadi ada monsternya)" Aji mulai merasa tertarik saat melihat review Hexamon di kanal berbagi video WeCube.
Saking kudetnya, Aji celingak-celinguk mencari celah dari berbagai sisi kepingan Hexapets guna melihat Hexamon berwujud apa yang akan ia dapatkan. Namun, tetap saja sampai ayam jantan bertelur pun wujud Hexamonnya tidak akan pernah terlihat jika tidak di keluarkan dengan kode suara.
"Ahh, abal-abal merennya ... Mana, Naha eweuh sih ? (Ahh, palsu kali ya ... Mana, kok gada sih ?)" Aji terus saja mencari celah untuk melihat isi dalam Hexapets.
"Ningali na videomah, monsternateh keren-keren Jeung gagah ... hayang teh meunang Badak atau Gorilla, atanapi baelah Elang asal tong simeut we (Kalau di lihat dari video, monsternya keren-keren dan gagah ... Semoga dapat Badak atau Gorilla, atau gapapalah Elang asal jangan belalang aja)" Aji membayangkan Hexamon dengan wujud seperti apa yang akan ia dapatkan.
Lanjut melihat video yang lainnya, Aji meng-klik salah satu rekomendasi video yang menjelaskan tentang bagaimana mekanisme dari Hexawatch dan juga Hexapets, serta bagaimana cara mengeluarkan Hexamon dari wadah Hexapetsnya.
"Ouhh, jadi kieu ... (Ouhh, jadi gini)" Aji mengenakan Hexawatch di pergelangannya, kemudian memasangkan Hexapets pada slot yang tersedia di Hexawatch. Kedua perangkat terhubung, mulai melakukan proses sinkronisasi.
"Oke, saatnya kita beraksi kawas na film-film ... (Oke, saatnya kita beraksi seperti di film-film)" Aji siap untuk memanggil Hexamon miliknya.
Namun, di saat yang bersamaan ketika Aji tengah siap untuk menyuarakan kode suara, tiba-tiba saja pintu rumah di ketuk keras berkali-kali begitupun dengan bel rumah. Karena penasaran, Aji memilih untuk ikut keluar juga, turut melihat apa yang sedang terjadi.
"TOK !! TOK !! TOK !! TING NONG !! TING NONG !!" Di ketuknya pintu dan bel rumah yang di tekan berkali-kali.
Keluarga besar Aji yang sedang berbincang-bincang hangat, langsung keluar di buatnya, acara keluarga pun menjadi sedikit terganggu.
"Pak kades, kumaha iyeu, para penebang liar itu datang deui, jeung leuwih wani ... sadayana lahan di babat habis secara paksa (Pak kades, gimana ini, para penebang liar itu datang lagi, dan lebih berani ... semua lahan di babat habis secara paksa)" Lapor salah seorang emak-emak atas keluhannya bersama warga lain yang ikut datang.
"Gusti, teu aya kapokna eta, ayeuna aya di mana para penebang liar eta ? (Ya ampun, gada kapoknya mereka, sekarang ada di mana para penebang liar itu ?)" Tanya ayahnya Aji yang ternyata adalah seorang Kepala Desa.
"Aya di leuweung caket kaki bukit Manangel, pak kades (Ada di hutan dekat kaki bukit Manangel, Pak kades)" Lapornya.
__ADS_1
"Baik, mari kita ke sana" Ajak Ayahnya Aji kepada para warga.
.
"Kang, butuh tumpangan ? Warga ge da soalna marawa kendaraan masing-masing (Kak, butuh tumpangan ? Warga juga soalnya pada bawa kendaraan masing-masing)" Pamannya Aji menawarkan sebuah tumpangan.
"Bapa, wios Aji ngiring ? (Bapak, boleh aaji ikut ?)" Tanya Aji yang dari tadi hanya terdiam, mengamati keadaan.
"Heem" Ayah Aji menganggukkan kepala, mengizinkan Aji untuk ikut bersamanya.
Aji bersama dengan ayah dan juga pamannya bergegas menuju tempat yang di tuju menggunakan "Mobile Air" milik pamannya beriringan dengan para warga. Beberapa hari ke belakang ini memang selalu saja ada penebang liar yang mencoba mengambil alih paksa lahan untuk di jadikan tempat yang nantinya akan di bangun sebuah pusat hiburan malam, seperti Casino, Bar, dan yang lainnya. Lalu, tindakan penebang liar ini pun tidak mengantongi izin dari pemerintah karena pada dasarnya tidak boleh ada pembangunan proyek berlebih di kota ini, supaya keasrian dan alam hijaunya tak banyak terjadi penyusutan.
- Cyanzour, Kantin Sekolah [12.06]
"Sudah hampir seminggu, Gamoru tidak bisa ku panggil dan gak ada respon sama sekali" Ungkap Deri.
Raka, Fino, dan Deri yang tengah berkumpul di satu meja bundar yang berada di kantin, membicarakan keluh kesah Deri yang sudah hampir seminggu tak bisa memanggil keluar Gamoru.
"Aku search di internet juga jarang sekali ada kejadian seperti ini, sulit buatku untuk mengidentifikasinya" Sahut Fino sambil memandangi layar laptopnya.
"Kita memang benar-benar masih awam banget kalo menyangkut soal Hexamon" Lanjut Raka.
"Apa mungkin ini sudah rusak ? Arghh, nyesel kenapa dulu gak bisa ngontrol emosi, maafin Gamoru ... " Deri menyesal akan kejadian kemarin.
"Sudah, biarlah yang lalu berlalu, aku yakin Gamoru pasti akan segera kembali" Sahut Kero melalui Hexa-voice.
"Heem, jangan sedih begitu, Gamoru itu Hexamon yang kuat ..." Lanjut Biru turut menyemangati Deri.
"A ... Anu ... Apakah sebelumnya kalian sempat membicarakan Hexamon yang rusak ?"
"Sebentar, bukannya kamu yang waktu itu sempat aku tolongin kan ?" Seketika Raka mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Kamu kenal dia, Raka ?" Tanya Deri.
"Iya kak, namaku Rika. Aku siswi pindahan di kelas 7, jika kakak berkenan aku bisa membantu kakak memperbaiki Hexamon itu" Seorang gadis bernama Rika, datang secara tiba-tiba memberi tawaran bantuan.
"Apakah mungkin ?" Tanya Fino sedikit ragu.
"Eh, bukan ... Kakak pasti mengira aku yang akan memperbaikinya, bukan ... aku juga tidak tahu perihal Hexamon ini, tapi ayahku pasti mengetahuinya" Jelaskan Rika.
"Maaf, tapi memangnya apa profesi ayahmu ?" Tanya Deri.
"Ayahku seorang Professor, kebetulan sedang mendapat tugas kerja di sini, maka dari itu akupun pindah sekolah ke sini" Rika kembali menjelaskan.
"Sepertinya kita bisa mempercayai, Rika. Memang, di mana rumahmu ?" Raka sepenuhnya mempercayai ucapan Rika.
"Rumahku tidak jauh dari toko buku, di persimpangan navy road ... jika kakak-kakak sekalian bersedia, karena besok hari libur, besok akan aku temui di sana ... " Rika dengan senang hati membantu Raka dan kawan-kawan.
"Bagaimana, Deri ?" Tanya Raka kepada Deri.
"Oke, boleh juga, biar besok kita juga ada kegiatan di hari libur" Deri pun setuju dengan tawaran bantuannya.
Akhirnya setelah mereka semua sepakat, Rika yang datang bak malaikat penyelamat, bersedia membantu Deri untuk bisa terhubung kembali dengan partnernya, Gamoru.
__ADS_1
- Cywhiter, Hutan kaki bukit Manangel.
Kembali lagi ke kota Cywhiter, Aji bersama dengan yang lain, akhirnya sampai juga di hutan dekat kaki bukit Manangel. Melangkah bersama menegakkan keadilan memberantas pemberontak, Ayah Aji sebagai kepala desa memimpin dengan gagahnya berjalan di barisan paling depan di ikuti Aji dan para warga di belakangnya. Mulai terdengar suara bising dari alat pemotong chainsaw dari depan sana, saat semak belukar yang menutupi di buka, tampak pemandangan yang sangat mengejutkan, sebagian besar lahan telah habis di babatnya. Banyaknya para pekerja kontruksi dengan alat-alat berat lainnya seperti ekskavator, bulldozer, dump truck, dan yang lainnya.
"HEYY !! Siapa yang mengizinkan kalian untuk menghabisi lahan dan menggunduli pohon-pohon di sini ?!!" Ayah Aji selaku Kepala desa murka di buatnya.
Majulah seorang pria dengan perut buncit menghampiri dengan santainya sambil menyeruput segelas teh di bawanya.
"Untuk apa kita perlu memiliki izin, sudahlah ... Kalian tidak perlu terlalu patuh pada pemerintah, lihat ... Karena kota ini menjadi kota yang terisolasi, kota ini sangat tertinggal dalam perkembangan teknologi, sudah saatnya semuanya berubah, tinggalkan pemikiran kuno seperti itu" Ucap lancang si pria dengan perut buncitnya itu.
"Menurutmu begitu ? Jika kalian tidak segera pergi dari sini, kalian akan kami usir secara paksa ..." Ancam Ayahnya Aji dengan sangat tegas.
"Kalian memaksa kami, maka kami akan melawan, sekarang kami tidak akan lari pontang-panting seperti hari-hari kemarin ... Lihat, jumlah kita di sini lebih banyak, bahkan kami punya alat berat yang dapat dengan mudah meluluh lantakkan kalian" Dengan penuh rasa sombongnya pria itu mengancam balik.
"Pak Kades, kumaha yeuh, ari terus kieu, bisa-bisa wargi nu tertekan mundur (Pak Kades, gimana nih, kalau terus gini, bisa-bisa kita yang tertekan mundur)" Ucap salah satu warga yang merasa sangat risau.
"Jadi, bagaimana ... kalian mundur dengan sendirinya dan membebaskan kami mengambil lahan ini atau kalian melawan maka kami pun akan melawan" Pria dengan perut buncit itu memberi pilihan yang sangat tidak masuk akal.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang amat sangat riuh dari langit-langit, kibasan angin yang sangat kencang, turun seorang pria muda berkemeja putih di lapisi tuxedo vest yang di kenakannya dari atas Helikopter menggunakan seutas tali yang di lemparkan ke bawah.
"Akhirnya ... Tuan muda kita datang ..." Pria dengan perut buncit beserta pekerja yang lain memberi penghormatan atas kehadiran pria bertuksedo tersebut.
"Manager, Kenapa sudah siang seperti ini pekerjaan kalian belum selesai, harusnya sekarang semua lahan ini telah kosong ... supaya kita bisa secepatnya melaksanakan pembangunan" Tanya pria bertuksedo itu pada pria perut buncit yang ternyata adalah seorang manager proyek.
"Maaf tuan, tapi para warga kampung itu mengganggu kita lagi ... " Lapornya.
Pria bertuksedo itu berbalik, melihat sang kepala desa yang sedang berdiri meminta keadilan bersama para warganya.
"Jangan pernah seenaknya mengambil lahan warisan nenek moyang kami, apalagi kalian berniat mengubahnya menjadi tempat hiburan malam ... jangan harap kalian bisa membangun proyek kalian di tanah ini" Ancam kembali Ayahnya Aji secara tegas selaku Kepala desa.
Namun, seperti tak sedikitpun melihat ketakutan terbesit di wajah mereka, para pekerja konstruksi itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar ancamannya.
"Kalian kalah dengan orang-orang seperti ini kemarin ? Sungguh mengecewakan ... Melawan mereka jangan terlalu banyak omongan tapi ... langsung dengan TINDAKAN !" Perkataan si pria bertuksedo itu menggetarkan hati para warga desa.
"HEXAMON BATTLE, GOO!!" Tanpa memberi tahu, pria bertuksedo itu langsung memanggil Hexamon miliknya.
Keluarlah Hexamon dengan wujud Kerbau yang tampak sangat kuat, bahkan Hexamon itu langsung saja melakukan penyerangan brutal.
"RAMMING HORNS !!" Hexamon dengan wujud Kerbau tersebut siap menyeruduk apa saja yang berada di hadapannya.
Para warga ketar ketir di buatnya, Ayahnya Aji menyuruh semua warga untuk segera menghindar dari tempat, karena jaraknya yang sangat dekat, Ayahnya Aji mendorong Aji sekeras mungkin supaya tidak terkena serudukan Hexamon kerbau tersebut. Alhasil Ayahnya Aji yang terkena serudukan brutal dari Hexamon milik pria bertuksedo itu, membuatnya terpelanting jauh ke belakang, langsung tak berdaya.
"BAPAAAA !!!!!" Teriak Aji sangat histeris dengan matanya yang terbelalak.
BERSAMBUNG.
Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut
perihal "Hexamon" mula dari bagaimana
wujud karakter & monsternya, dll.
Bisa langsung cek ke :
__ADS_1
Instagram : @hexamon_