
Setelah derasnya hujan mengguyur semalaman, hari ini langit menampakkan keceriaannya kembali, mentari pun segera menyapa pagi hari. Risna yang masih lelap tertidur, masih belum menyadari bahwa Winx tidak sedang berada di dekatnya. Karena ia tertidur pulas di depan sebuah toko, saat fajar mulai sedikit menampakkan kehangatan cahayanya, sang pemilik toko datang membangunkan Risna yang sedang lelap.
"Permisi nona, mengapa anda tertidur di sini ? Apakah kau baru saja terkena musibah ?" Seorang wanita paruh baya mencoba membangunkan Risna dengan menepuk-nepuk kecil pundaknya.
Risna akhirnya terbangun, dengan mata yang masih nampak sipit dengan penglihatan yang masih buram, ia menggosok-gosok matanya, lalu celingak-celinguk melihat sekitar, kemudian ia menyadari bahwa Winx tidak berada di dekatnya.
"Winx ?? Winx, kamu dimana ?? Winx ?" Risna mengacuhkan pertanyaan si ibu itu dan langsung mencari keberadaan Winx.
"Hey, nak, kamu kenapa ?" Tanya si Ibu merasa bingung.
"Saya mencari Hexamon saya, wujudnya bebek ... Semalam dia tidur di samping saya" Jelaskan Risna dengan mata yang melirik- lirik sekitar.
"Apa kau sakit, sejak saya datang kau tertidur di sini sendiri" Kata si Ibu dengan nada yang mulai naik.
"Tapi, benar ... semalam saya di sini bersama Hexamon saya" Risna yang kekeh menjelaskannya.
"Sudah .. sudahh, sekarang lebih baik kamu bangun lalu pergi dari sini karena saya akan segera buka toko sebelum saya panggilkan pihak keamanan" Mendengar penjelasan yang tak masuk akal dari Risna, membuat perempuan paruh baya itu kesal lalu mengusirnya.
Akhirnya, Risna terpaksa pergi dari tempat tersebut tanpa ia bisa mencari keberadaan Winx di sekitarnya, Risna berpikir siapa tahu Winx pergi sebentar ke suatu tempat terlebih dahulu yang tak jauh dari sekitaran sana.
"Aneh, masih gadis, cantik, udah stres, emang kayaknya anak zaman sekarang banyak sekali tekanan" Gumam si Ibu pemilik toko.
Mentari pagi mulai menyapa hari, Risna perlahan mulai meninggalkan tempat tersebut, banyak pasang sorot mata meliriknya dengan tatapan aneh karena dirinya yang keluar dengan memakai piyama dan penampilannya yang lusuh, namun Risna berusaha untuk tidak mempedulikannya, dan bersyukur setidaknya piyama yang ia kenakannya sudah kering, akan lebih memalukan kalau sekarang piyama yang di kenakannya masih basah, ya meskipun sekarang juga agak sedikit lembab.
Perutnya bergemuruh, tanda bahwa di pagi hari ini perutnya membutuhkan asupan, tapi ia sadar bahwa tidak membawa uang sepeser pun, karena semalam memang keadaan yang sangat mendesak dan tak bisa mempersiapkan segalanya. Risna hanya bisa menelan ludahnya, setiap melewati toko makanan serta restoran yang sangat menggugah selera bahkan hanya dengan melihat dari tampilannya saja. Risna juga bingung apakah ia harus kembali ke rumahnya atau tidak, ia takut jikalau si Mafia dan Hexamon cabai itu masih ada mengintai dirinya, tapi jika tak segera pulang ia akan terus merasa kelaparan dengan keadaannya sekarang yang lusuh. Terlebih lagi juga Risna tidak mengetahui jalan pulang untuk menuju ke rumahnya, karena semalam Winx hanya membawanya kabur tanpa memikirkan kemana tempat yang akan di tuju.
Risna duduk sejenak di bangku panjang yang berada di depan toko roti, sesekali ia melihat ke dalam, melihat roti-roti dengan berbagai aneka rasa tersusun menarik. Risna tak bisa membohongi dirinya kalau sekarang ia benar-benar merasa lapar, apa mungkin ia harus mengemis terlebih dahulu untuk mendapatkan makanan, tidak itu adalah hal yang sangat memalukan. Risna yang sedang memandangi roti-roti dengan tatapan yang penuh rasa lapar terlihat jelas dari bola matanya, tiba-tiba saja datang seorang pria memakai celemek menghampirinya.
"Nona, sedang apa kau di sini ? Pergilah, duduknya kau di sini menutupi roti-roti yang kami jual dan pelanggan jadi takut untuk datang ke sini karenamu" Kata si pria itu mengusir Risna yang sedang menumpang duduk di sana untuk beristirahat.
"Tapi ... Saya hanya menumpang duduk di sini, karena kelelahan" Jawab Risna dengan suara lemahnya.
"Untuk apa percaya padamu, saya tahu pada akhirnya kau akan mengemis di sini kan, pergi-pergi sana !" Si pria itu mengusir Risna dan mendorongnya.
Karena di usir dengan cara yang tidak baik, Risna terpaksa pergi dari tempat itu dan melanjutkan perjalanannya, di ketahui pria yang mengusirnya tadi hanyalah seorang pelayan dari toko tersebut. Tak peduli seberapa banyak harta yang Risna miliki, serta bagaimana statusnya, dengan keadaannya yang seperti ini ia akan terus di perlakukan dengan tidak baik dan hina oleh orang-orang.
Saat Risna mulai melangkah menjauh dari toko roti yang sebelumnya ia hanya menumpang untuk duduk, tiba-tiba dari belakang terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Tunggu !!" Teriak seorang pria sambil berlari menghampirinya.
"Heum ?" Risna menoleh ke belakang dengan kedua alis yang terangkat.
"Saya telah melihatnya tadi, maafkan perlakuan pegawai saya, saya melihat mungkin anda sedang merasa kelaparan, jadi ... mungkin dengan di berikannya roti ini, bisa sedikit mengganjal rasa laparmu" Pria itu memberikan 3 bungkus roti pada Risna.
"Maaf, tapi bapak siapa ?" Tanya Risna, ragu untuk menerimanya.
"Saya manager di Toko tersebut, kau tidak perlu takut terimalah ..." Pria itu terus meyakinkan Risna.
"Eumm ... Terima kasih, pak ... Semoga kelak ada yang membalas kebaikan bapak ini" Karena merasa sangat lapar, Risna akhirnya menerima roti pemberiannya itu.
"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu ya" Pria itu meninggalkan Risna dan kembali ke toko.
Risna hanya mengangguk kecil meresponnya, saat si Manager itu kembali ke toko, si Pelayan tadi langsung berbicara pada sang Manager.
"Kenapa bapak malah memberikannya secara gratis, 3 bungkus pula ?" Ucap ketus si pelayan.
"Memang apa salahnya kita berbuat baik pada orang lain, jangan ragu jika kita hendak memberi, karena semua harta yang kita punya sekarang hanyalah titipan semata" Jawab pak Manager dengan tenangnya.
"Ini bukan waktunya menceramahi saya pak, kalau bos tahu beliau pasti akan marah, memberikan roti gratis kepada pengemis begitu saja" Si Pelayan itu terus mengkritik apa yang telah di lakukan Managernya.
"Kita jangan takut rugi, jangan takut miskin, saat kita hendak memberi, kau tidak perlu takut seperti itu, saya yang membayar semuanya. Lagipun kau yang baru bekerja 5 bulan memang tahu bagaimana sifat bos kita dan seperti apa masa lalunya ?" Tanya kembali si Manager pada Pelayan itu.
Pelayan itu hanya bisa merunduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa kemudian meminta maaf atas perlakuannya. Risna sekarang memutuskan untuk lebih baik pulang ke rumahnya, tak apa meski harus berjalan kaki dan menanyakan arah ke setiap orang, namun sebelum memulai perjalanan Risna memilih untuk duduk sebentar di bangku taman kota yang kebetulan ia jumpai, sambil sesekali ia memikirkan kemana perginya Winx, sampai akhirnya Risna memiliki pemikiran apakah semalam memang ada kejadian yang tidak ia ketahui. Terlihat banyak remaja dan anak-anak seumurannya bermain dengan partner Hexamonnya, tapi di sisi lain matanya pun tertuju melihat seorang ibu dengan penampilan yang lusuh sembari menggendong anaknya yang masih sangat kecil sedang menjual surat kabar.
"Permisi, Ibu di sini jualan koran ya ?" Tanya Risna basa-basi terlebih dahulu.
"Iya nak, korannya juga memberitakan berita-berita terbaru kok" Jawab si Ibu itu dengan ramah.
"Memangnya berapa Bu, harga 1 korannya ?"
"Cuma 25.000 nak" Jawabnya kembali.
*Di zaman ini 25.000 adalah nominal yang sangat kecil.
"Sepertinya masih banyak, apa belum ada yang laku terjual Bu ?" Tanya Risna melihat surat kabarnya yang masih banyak.
__ADS_1
"Iya, belum. Bahkan kadang tiap harinya gak pernah laku sama sekali, cari pekerjaan di zaman ini sangat sulit, apalagi saya hanya menjual koran, di mana sekarang teknologi sudah lebih canggih untuk mengakses berita ...." Kata si Ibu dengan kelopak matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau bahkan tidak terjual satupun, Ibu dengan anak Ibu yang kecil ini makan apa ?" Tanya Risna terenyuh hatinya.
"Ya, kadang suka ada pemberian, kalau tidak ada, saya suka mencari di pembuangan ... Makanan sisa yang tidak habis ..."
Jawaban Ibu itu membuat Risna terkaget saat pertama kali mendengarnya, Risna benar-benar tidak mengetahui bahwa seperti inilah perjuangan seseorang hanya untuk mencari sesuap nasi. Selama ini ia hanya hidup senang, dekat dengan orang-orang yang setara dengannya, dan tak tahu bagaimana kerasnya kehidupan yang sebenarnya.
"Maaf Bu, saya menanyakan hal seperti itu ..." Risna merunduk meminta maaf.
"Tidak apa-apa, lagipun apapun kondisinya kita harus bisa mensyukuri hidup ini, dan berjuang menjalani kehidupan ini ... Meskipun hidup ini keras, berusahalah, karena yakin di balik turunnya hujan deras, pasti ada warna warni pelangi yang indah setelahnya ...seperti sekarang" Tunjuk Ibu itu pada langit-langit memberitahu.
"Benar, ada pelangi yang terbentang indah di sana, aku hampir lupa kalau semalam habis turun hujan" Risna menoleh ke langit-langit menuruti petunjuk sang Ibu.
"Apa Ibu dan anak Ibu, hari ini sudah makan ?" Tanya kembali Risna.
"Kebetulan belum, nak" Jawabnya pasti selalu tersenyum.
"Anu, saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi ... Saya punya 2 roti ini untuk Ibu, setidaknya bisa mengganjal rasa lapar Ibu dan anak Ibu di pagi hari ini, supaya berjualannya bisa lebih semangat" Risna memberikan 2 bungkus roti yang di dapatkannya kepada si Ibu.
"Terima kasih, nak ... Semoga kelak rezekimu bisa lebih daripada ini" Doa si Ibu sambil menerimanya.
"Terima kasih, Bu" Risna tersenyum.
"Parasmu ... Cantik sekali, apakah kamu reinkarnasi seorang putri kerajaan ?" Kata si Ibu itu sambil mengelus rambutnya yang tergerai.
Risna hanya merunduk dan tersenyum meresponnya.
"Kenapa gadis secantik dirimu bisa ada di sini ?" Tanya sang Ibu.
"Sebenarnya saya tersesat di sini, saya tidak tahu arah jalan untuk pulang dan tidak memiliki uang juga ..." Ungkap Risna
"Di mana rumahmu ?"
"Di Perumahan White Garden"
Si Ibu tercengang mendengarnya, pasalnya Perumahan White Garden adalah komplek perumahan orang-orang kaya.
"Kalau boleh Ibu kasih saran, di dekat sini ada pasar, di sana selalu ada mobil yang mendistribusikan bahan makanan ke kota lain, kebetulan Perumahan White Garden pun terlewati ... Jadi, kamu bisa ikut menumpang untuk sampai ke sana" Beritahu si Ibu.
"Cepat pulang ya nak, siapa tahu orang tua mu menunggumu"
" ... Saya ... Tinggal sendiri di rumah, sudah bertahun-tahun saya tidak bertemu dengan kedua orang tua saya" Wajah Risna yang asalnya sumringah berubah menjadi murung kembali.
"Maaf nak, Ibu tidak mengetahuinya" Kata si Ibu merasa tidak enak.
"Gapapa Bu, seperti kata Ibu, warna warni pelangi pasti selalu ada di balik hujan kan ? Saya yakin suatu hari nanti bisa bertemu kedua orang tua ku kembali" Risna menunjukkan senyumnya kembali.
Si Ibu itu tersenyum melihatnya.
"Kalau begitu, saya pergi dulu ya Bu, sebelumnya boleh saya memeluk Ibu ?" Izin Risna.
Angguk kecil si Ibu, lantas Risna pun langsung memeluknya, Risna benar-benar rindu akan sosok kedua orang tuanya.
"Selamat tinggal, Bu. Terima kasih atas pembelajaran hidup yang bermaknanya" Lambai Risna sambil terus melangkah menjauh dari si Ibu.
"Semoga kamu bisa bertemu kedua orang tuamu lagi !" Teriak si Ibu itu sambil melambaikan tangan juga.
Langkah Risna yang penuh pengharapan menuju pasar yang tidak jauh berada di sana. Ternyata benar, nampak di ujung sana masih saja ada pasar tradisional di zaman seperti ini, membantu memenuhi kebutuhan orang-orang yang ekonominya tidak terlalu memumpuni. Sambil berjalan, ia tak sengaja mendengar sebuah percakapan.
"Pak, tolong bantu saya untuk menyebrang ke sana" Ucap minta tolong seorang pria tunanetra.
Namun, tak ada seorang pun yang menggubris permintaan tolongnya, termasuk Risna yang mendengarnya.
"Pak, Bu, tolong bantu saya sebentar, saya hanya ingin ke seberang sana" Pria itu terus berusaha meminta pertolongan.
Nampak, orang-orang acuh tak mempedulikan pria tunanetra itu, mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa menyempatkan waktu sebentar untuk memberikan pertolongan, Risna pun terus saja berjalan karena takut mobil yang akan mendistribusikan bahan makanan itu segera berangkat. Akhirnya, si pria tunanetra itu memilih untuk mencoba menyeberang seorang diri tanpa ada uluran tangan membantunya, ia menyeberang hanya memanfaatkan nalurinya yang pada dasarnya itu sangat berbahaya, namun akhirnya pria itu nekat menyeberang seorang diri. Kakinya mulai melangkah, dengan tongkatnya yang terus ia antuk-antukan, tanpa tahu di ujung sana terdapat sebuah mobil yang sedang melaju kencang.
"BEEEPPPPPPP" Suara klakson panjang dari mobil yang sedang melaju kencang.
Sontak, semua yang berada di sana terkejut mendengarnya, namun mereka semua hanya menontonnya saja dengan mimik wajah yang terkejut. Berbeda dengan Risna, saat melihatnya ia langsung sigap berlari menghampirinya meskipun sebenarnya kondisinya sudah tidak memungkinkan karena jarak mobil yang sudah hampir dekat siap menabraknya.
Sang pengemudi mobil pun berusaha untuk memberhentikan laju kendaraannya dengan menginjak pedal rem, namun sulit untuk menghentikannya karena mobil sedang melaju cukup kencang.
"**BBEEEEEEPPPPPPPPP**" Suara klakson itu yang makin panjang, siap menabrak sesuatu yang berada di hadapannya.
__ADS_1
Akhirnya, Risna melompat menggapai si pria itu sekuat tenaga, lalu membantingkan dirinya dengan si pria itu ke seberang jalan meski harus mengalami sedikit benturan. Di saat yang bersamaan mobil pun berhasil berhenti dari lajunya yang sangat kencang.
"Arghh" Meringisnya karena membentur bahu jalan.
"Nona, apa nona baik-baik saja ?" Tanya cemas si pria tunanetra itu tanpa bisa melihat parasnya.
"Tidak apa-apa Pak, yang penting bapak selamat" Padahal sebenarnya tanganya terkena luka goresan.
Orang-orang yang berada di sekitarnya langsung menolong Risna dan pria itu untuk kembali bangun serta menanyakan kondisinya.
"Aku terlalu egois, sampai tidak mempedulikan orang yang membutuhkan bantuan di dekatku, masih beruntung aku bisa menyelamatkannya, setidaknya aku tidak terlalu menyesal dan belajar dari kejadian ini" Ucap Risna dalam hati sambil terus memegang luka goresannya.
"RISNAA !!" Terdengar suara wanita yang berteriak padanya.
" !!!!! " Mata Risna terbelalak melihatnya.
Wanita itu berlari menghampiri Risna dan langsung memeluknya, tak lain dan tak bukan wanita itu adalah Bu Sinta.
"Akhirnya ibu menemukan kamu di sini, kamu tahu tidak ibu khawatir setengah mati" Ungkapnya sambil mengucurkan air mata.
"Maaf, Buu" Jawab Risna juga mengucurkan air matanya.
Akhirnya, setelah Risna bertemu kembali dengan Bu Sinta yang selama ini sudah di anggap Ibu olehnya, Bu Sinta membawanya pulang ke rumahnya, sepanjang perjalanan Risna menceritakan kejadian yang telah menimpanya serta Winx yang tiba-tiba menghilang. Mendengar cerita tersebut, Bu Sinta merasa bersalah karena ia merasa lalai dalam menjaga sebuah amanah.
"Istirahatlah terlebih dahulu, mandi, makan, obati lukamu itu, lalu di lemari juga ada beberapa pakaianmu yang waktu itu kamu sempat menginap di sini" Kata Bu Sinta langsung melayaninya sesampai di rumah.
Setelah seharian Risna berjuang melewati berbagai rintangan, akhirnya ia bisa rehat sejenak, mandi menyegarkan diri serta pikirannya, makan dengan layak, dan kini dirinya pun kembali segar berseri.
"Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa ku petik hari ini, ternyata banyak hal yang tidak ku ketahui, banyak orang di sana berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi dan menjalani hidup" Ucap Risna dalam hati memandang cermin sembari menyisir rambutnya.
"ARGHHHH !!!"
"IBU ?!!" Risna mendengar Bu Sinta berteriak dari arah dapur.
Langsung saja ia menyegerakan dirinya untuk langsung keluar dari kamar menuju ruangan dapur, ia kembali melihat hal yang tidak mengenakkan, si Hexamon cabai itu kembali dan terlihat sedang mencekik Bu Sinta dengan lengannya yang penuh hawa panas sampai membuatnya tak sadarkan diri.
"**IBUUUU** !!!" Teriak Risna seakan tak percaya, leher Bu Sinta nampak sangat merah bekas cekikan si Hexamon cabai.
"CHILI SEEDS SHOT !!" Chilla sang Hexamon cabai itu mengeluarkan skill-nya untuk menghadang Risna.
Risna yang berusaha melindungi dirinya, menjauh sementara dari tempat, dan si Hexamon cabai itu menyeret Bu Sinta dengan sadisnya keluar rumah. Risna pun langsung ikut mengejarnya.
"Halo, Tuan putri" Ternyata di luar rumah, telah berdiri Venn sang mafia si pemilik Hexamon cabai.
"Kalian lagi, lepaskan Ibu ku !!" Teriak Risna menegaskan.
"Maaf, tapi dia sanderaku sekarang, kecuali kau mau menukarnya dengan dirimu" Venn sang mafia memberikan Risna sebuah pilihan.
Risna di buat terkejut oleh negosiasi yang di ajukan oleh Venn.
"Sudah ku duga kau tidak akan berani, ambillah ini ... Aku sudah tidak membutuhkannya" Venn melemparkan Hexapets yang tak lain itu adalah Hexapetsnya Winx.
"Apa ini Winx ?" Tanya Risna.
"Siapa lagi kalau bukan si Itik yang hilang arah, aku sudah cukup memanggangnya semalaman"
Risna langsung memasang wajah terkejut mendengarnya. Venn mengeluarkan gadgetnya lalu menekan semacam aplikasi yang kemudian mengeluarkan sinar yang terang layaknya senter.
"Selamat tinggal, aku akan bereksperimen kembali dengan wanita paruh baya ini, ayo Chilla" Venn melangkah memasuki sinar itu, membawanya pergi ke suatu tempat.
"Kembalikan, Ibuku !!" Teriaknya, namun percuma karena teriakannya tak akan di gubris.
Venn menghilang kembali bersama dengan si Hexamon cabainya, kini ia berhasil menyandera Bu Sinta. Namun, kini Winx bisa kembali kepada genggaman Risna. Risna tak kuasa menahan dirinya, ia merasa lemah dan tak berdaya sampai tanpa sadar air matanya kembali berderai membasahi wajahnya. Tapi, mengingat hari ini ia mendapatkan banyak sekali pembelajaran hidup, Risna mengingat perkataan si Ibu penjual surat kabar ' ... Meskipun hidup ini keras, berusahalah, karena yakin di balik turunnya hujan deras, pasti ada warna warni pelangi yang indah setelahnya ... ', Risna mengusap air matanya, dengan semangat yang kembali membara, Risna menggenggam Hexapets dengan penuh harapan dan keyakinan.
BERSAMBUNG.
Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut
perihal "Hexamon" mula dari bagaimana
wujud karakter & monsternya, dll.
Bisa langsung cek ke :
Instagram : @hexamon_
__ADS_1