Hexamon : The Beginning

Hexamon : The Beginning
Chap 17 : I'm so scared


__ADS_3

Terik matahari yang cukup menyengat menemani perjalanan seorang Fino yang sedang mengemban misi untuk menyelamatkan ayahnya yang terjebak di kota Tank-Go-Rank. Seperti yang kita ketahui sekelompok mafia bersama dengan Hexamonnya sedang melakukan aksi pemberontakan di kota tersebut, Tank-Go-Rank adalah kota di mana pasukan militer mula dari angkatan darat, air sampai Udara berlatih dan menetap, sehingga kota itu di kenal sebagai kota militer. Karena, hanya sekitar 40% penduduk biasa yang menetap di kota ini dan sisanya adalah para pasukan militer, bisa di sebut kota ini adalah markasnya.


Sebab jarak tempuh yang cukup jauh, akhirnya tanpa tersadar Fino terlelap dalam perjalanannya. Namun, beberapa saat Fino terbangun kembali dan berusaha untuk tetap terjaga.


"Nak, apakah tujuanmu adalah ke kota Tank-Go-Rank ??" Tanya sang supir Bus.


"Benar, Pak" Jawab Fino.


"Untuk apa kamu ke sana ? Apa kamu tidak tahu di sana sedang tidak aman ?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Saya ... ingin menyelamatkan Ayah saya yang terjebak di sana ..." Jawab Fino sedikit ragu.


"Lebih baik urungkan saja niatmu itu, nak. Di sana terlalu berbahaya untukmu" Sahut salah satu penumpang pria mencoba melarangnya.


Mendengar perkataan itu, hati Fino yang awalnya sudah bertekad menjadi sedikit gentar.


"Euhmm ... Tidak apa-apa, aku punya teman yang bisa di andalkan" Fino mencoba menetapkan tekadnya supaya tidak goyah.


"Kalau begitu, maaf Nak. Saya hanya bisa mengantarnya sampai di sini, karena sangat berbahaya untuk masuk ke dalam kota" Kata supir Bus hanya bisa mengantar Fino sampai ke perbatasan kota.


"Iya, tidak apa-apa Pak, terima kasih ..." Balas Fino penuh terima kasih.


"Semoga perjalananmu ini di lancarkan, Nak ..." Kata seorang nenek mendoakannya.


Fino tersenyum membalasnya, kemudian ia segera turun dari Bus dan tepat di hadapannya sekarang berdiri megah gapura yang menjadi perbatasan kota sekaligus pintu masuk menuju kota Tank-Go-Rank.


"Apa kita sudah sampai, Fino ??" Tanya Biru melalui Hexa-Voice.


"Sepertinya, iya. Mengerikan sekali, kota ini benar-benar hancur, para mafia itu tidak sedang main-main ..." Fino yang tak menyangka saat melihat kondisi yang sebenarnya dengan mata kepalanya sendiri.


"Coba keluarkan aku Fino, kita mulai waspada dari sekarang, barangkali kita tidak pernah tahu jikalau kemungkinan nanti ada serangan dadakan" Analisis Biru.


"Baiklah, HEXAMON BATTLE, GOO !!" Fino berteriak mengeluarkan Biru dari hexapetsnya.


Keluarlah Biru dari wadah hexapetsnya, bersiap siaga barangkali ada serangan dadakan dari musuh. Mereka berdua pun perlahan memasuki kawasan kota, melangkah dengan penuh hati-hati.


"Di mana keberadaan ayahmu, Fino ??" Tanya Biru.


"Entahlah, kota ini sangat luas, akan sangat sulit menemukannya, yang pasti Ayahku bekerja di markas utama bagian administrasi" Jawab Fino beritahu.


"Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang ya ~" Kata Biru.


"ELECTRIC SHOCK !!"


"Awas, Fino !!!!" Teriak Biru.


"DUARRRR !!!!" Suara ledakan dari serangan yang muncul secara tiba-tiba.


Fino dan Biru tidak sempat menghindar dari serangan tersebut, membuatnya terhempas karena ledakannya yang cukup besar.


Terjadi kepulan asap ledakan akibat dari serangan yang tiba-tiba muncul itu. Nampak, terlihat siluet seseorang yang sedang berdiri dengan gagahnya di sebalik kepulan asap yang cukup pekat.


"Siapa kau berani memasuki kawasan ini ?" Tanya seorang wanita dengan rambut berwarna blonde tergerai dengan kacamata di pakainya.


"Hati-hati Fino, dia sepertinya bukan orang baik-baik" Bisik Biru pada Fino.


"Anu ... Aku datang ke sini ... Euhmm, hanya untuk menemui seseorang di kota ini .." Jawab Fino dengan kakinya yang gemetaran.


"Kami tidak sedang menerima tamu, Beep seranglah !!" Perintah wanita tersebut pada Hexamonnya yang berwujud lebah berelemen petir bernama Beep.


"ELECTRIC SHOCK !!" Beep si lebah itu mengeluarkan skill di mana ia melancarkan serangan bola-bola yang berisi muatan petir dengan daya ledak yang lumayan besar.


"Lari, Biruu !!!" Teriak Fino.


Fino dan Biru berlari sejauh mungkin untuk menghindari serangan si lebah yang sangat mematikan, dan berusaha menjauh dari perempuan si pemilik Hexamon lebah itu. Kali ini, mereka bisa menghindari serangan yang sebelumnya mengenai mereka tanpa sempat menghindar.


"Jangan biarkan penyusup itu kabur, Beep !" Titah si perempuan berkacamata itu.


"LIGHTNING MOVE !!" Beep terbang melaju secepat kilat dan tiba-tiba berada di hadapan Fino dan Biru.


" !!!!! " Fino dan Biru terbelalak melihatnya yang secara tiba-tiba berada di hadapannya.


"Jangan coba-coba kalian lari, ELECTRIC SHOCK !!!" Beep kembali melancarkan serangan yang sama seperti sebelumnya. Kini, jarak antara mereka benar-benar dekat.


"Menyingkirlah Fino, BUBBLE WATER !!" Biru mendorong Fino supaya tidak terkena serangan tersebut dan mengeluarkan balon airnya guna menetralisir serangan lawan.


Namun ternyata, skill balon airnya kini tidak berdampak sama sekali malah membuat serangannya menjadi lebih kuat dengan daya ledak yang lumayan dahsyat, tanpa sempat menghindar serangan itu mengenai Biru secara mentah-mentah membuatnya terhempas lumayan jauh.


"BIRUUU !!!" Teriak Fino


"Aku gegabah, serangan airku memicu serangannya menjadi lebih kuat ..." Gumam Biru sembari meringis kesakitan.


"Siapa suruh kalian dengan beraninya datang ke sini ? Habisi saja Beep" Kata si perempuan berkacamata.


"LIGHTNING AREA !!" Beep menancapkan sengatnya ke permukaan, membentuk sebuah area yang di dalam areanya terdapat petir yang menyengat-nyengat.


Biru yang berada dalam area tersebut, lantas terkena serangan yang membuatnya cukup kewalahan dan mematikan. Biru seperti ikan yang kehabisan nafas saat dirinya di bawa ke daratan, menggelepar-gelepar.


"Final, THUNDER STING !!" Kali ini Beep melancarkan serangan sengatan petir menggunakan sengatnya.


Namun, tanpa pikir panjang, Fino langsung berlari ke arah Biru lalu melompat menggulingkan dirinya untuk meraih Biru, membuatnya menghindar dari serangan Beep si lebah. Alhasil, karena serangannya yang meleset, sengatnya menancap kuat pada permukaan.


"Jangan biarkan dia lolos, Beep !" Titah si perempuan berkacamata.


Fino yang memeluk Biru berada di dekapannya berusaha lari secepat mungkin, jantungnya berdebar dengan sangat kencang merasakan ketakutan yang amat sangat, bahkan karena beberapa serangan saja kini Health bar milik Biru telah tersisa 40%.


"Fino ... Maafkan aku ..." Kata Biru tak berdaya.


Fino tidak menggubris perkataan Biru, ia terus berlari meski kini langkahnya mulai tertatih-tatih dan wajahnya yang meringis ketakutan.


"Fino ... dia, benar-benar merasa takut sekarang, dekapannya ini bergetar, aku bisa merasakan jantungnya yang berdebar sangat kencang" Kata Biru dalam hati.

__ADS_1


Beep yang sedang berusaha melepaskan sengatnya yang menancap pada permukaan, kini ia berhasil melepaskannya dan langsung kembali bergerak.


"LIGHTNING MOVE !!" Secepat kilat, Beep langsung berada di hadapan Fino dan Biru kembali.


" !!!! " Fino dan Biru kembali terbelalak.


"Menyerahlah, ELECTRIC SHOCK !!" Untuk yang kesekian kalinya Beep melancarkan skill tersebut.


Karena keadaan yang terdesak, Fino langsung saja melempar Biru ke pinggir dan mengorbankan dirinya yang terkena serangan dari Beep.


"Tidak, FINOO !!!" Teriak Biru sambil terlempar.


"RAINBOW SHIELD !!!"


Fino yang sudah memalingkan wajahnya dengan mata yang terpejam, di buat kaget saat ia melihat di hadapannya terdapat sosok yang menahan serangan dari Beep si lebah. Sosok yang menahan serangan itu adalah seekor hewan mamalia laut yang sering mendapat julukan hewan terbesar di lautan, yaitu paus dengan jenis Narwhal atau biasa disebut paus bertanduk. Tentu saja, paus itu juga tak lain dan tak bukan adalah sebuah Hexamon. Akhirnya serangan bola-bola petir milik Beep dapat di tangkis dengan mudahnya.


"RAINBOW VULCAN !!!" Tanduknya melesat menyerang Beep yang berada tepat di hadapannya.


Tanpa sempat menghindar, Beep terkena mentah-mentah serangan dari si paus Narwhal itu. Tanduknya kembali menancap pada kepalanya, Beep si lebah pun terhempas terkena serangan.


"Cepat, ambil kembali si Lumba-lumba ke dekapanmu !!" Titah si paus Narwhal.


"Aaa ... Euhmm, baik !" Fino langsung kembali memeluk Biru yang tak berdaya pada dekapannya.


"Peganglah ekorku !" Titah kembali si paus Narwhal


Tanpa banyak bertanya, Fino langsung menuruti apa yang di perintahkan si paus Narwhal tersebut.


"Keparat, dia mengganggu lagi, jangan biarkan mereka lolos, Beep !!" Kata si perempuan berkacamata dengan nada yang mulai kesal.


"Bersiaplah, LIGHTSPEED RAINBOW !!" Paus Narwhal itu membawa Fino dan Biru melesat dengan kecepatan cahayanya.


Alhasil, karena telat beberapa detik saja, Beep telah kehilangan jejaknya karena skill kecepatan cahaya yang di miliki oleh si paus Narwhal itu membuatnya hilang dalam sekejap.


"Kita kehilangan jejaknya, maafkan saya Nona" Beep yang meminta maaf karena gagal menghalaunya.


"Tidak apa-apa, Beep. Namun, lain kali jangan sampai biarkan mereka lolos kembali" Tegas si perempuan berkacamata.


Berhasil lolos dari si perempuan berkacamata dengan lebahhnya, paus Narwhal itu membawa Fino dan Biru melaju sangat cepat dengan kecepatan cahayanya. Membawa mereka ke suatu tempat, entah kemana.


"Hosh ... Hosh ... Di mana kita ini ?" Kata Fino sambil terengah-engah memegang kedua lututnya.


"Kau bukan salah satu teman perempuan dan lebah tadi kan ?!" Tanya Biru penuh kewaspadaan.


"Haha, jika aku salah satu teman si lebah tadi, seharusnya aku sudah menghabisi mu di sana" Jawab si paus Narwhal sambil tertawa.


"Mengerikan sekali ..." Gumam Fino bernada kecil.


"Kalian tidak perlu takut, aku menyuruh Hexamon ku untuk menyelamatkan kalian" Datang seorang pria dengan rambutnya yang berwarna pelangi dengan senyum merekah terpancar.


Si paus Narwhal itu membawa Fino dan Biru bersembunyi di bawah jembatan, supaya keberadaannya tidak di ketahui oleh para mafia yang selalu berpatroli.


"Kamu tidak perlu gemetaran seperti itu, aku orang baik kok hehe" Jawabnya dengan sangat ramah sembari menggaruk kepalanya.


"Namaku Ikkarciel, panggil saja Ikka. Dan ini Hexamonku, namannya Nawha tapi biasa ku panggil 'Nai' " Pria berambut pelangi itu memperkenalkan dirinya.


"Halo, namaku Nawha, panggil saja aku Nai" Si paus Narwhal itu memperkenalkan dirinya.


"Kamu sendiri, siapa dan darimana ?" Tanya si pria berambut pelangi dengan senyum yang selalu terpasang.


"Euhmm, anu ... namaku Fino, dan Hexamonku ini bernama Biru ... Aku dari kota Cyanzour, datang ke sini untuk menyelamatkan ayahku " Jawab Fino gugup karena takut.


"Apa ayahmu menjadi tawanan para mafia ??" Tanya Ikka.


"Aku tidak tahu, maka dari itu aku sedang berusaha mencari keberadaannya, ayahku bekerja di markas utama bagian administrasi" Jawab Fino mulai agak tenang.


"Kalau boleh bertanya, apakah wanita yang menyerang kita tadi itu juga adalah seorang mafia ??" Tanya Biru penasaran.


"Ouhh, dia. Perempuan itu namanya Sheila, dia cuma utusan si bos mafia untuk menjaga perbatasan barangkali ada bala bantuan yang datang dari luar, kekuatan Hexamonnya bukan main, daya ledak serangannya dapat meluluh lantakkan 1 pasukan secara bersamaan ..." Jawab Ikka memberitahu.


"Benar, serangannya sangat mengerikan, itu baru satu Hexamon, bagaimana kalau kita bertemu dengan para mafia itu serta Hexamonnya" Balas Biru menyetujuinya.


Fino yang mendengar percakapan tersebut, menelan ludahnya karena sangat ketakutan.


"A-apa kau mengenalnya ??" Tanya Fino agak gugup kembali.


"Aku tidak kenal dekat dengannya, tapi setidaknya aku mengenalnya, pertama kali aku bertemu dengannya di jalanan, dia adalah seorang pengamen jalanan dan aku seorang pelukis jalanan ..." Ikka menceritakan awal mula ia mengenal si perempuan berkacamata.


Fino dan Biru mendengarkannya dengan seksama.


"... Ada yang bilang, ia membuat sebuah kesepakatan dengan bos mafia, di mana ia akan menuruti segala perintah sang bos mafia itu dan mendapatkan Hexamon secara percuma maka sebagai balasannya kehidupan ekonominya akan terpenuhi, dia mempunyai adik yang masih sangat kecil ... Dan, dia adalah seorang yatim piatu" Lanjut Ikka menceritakannya.


Fino terkejut saat mendengar latar belakang perempuan berkacamata itu yang sebenarnya.


"Jadi, sebenarnya ia melakukan ini semua bukan karena keinginan pribadinya ?" Tanya Fino.


"Yaa, bisa di bilang seperti itu hehe" Jawabnya sambil tertawa.


"Kalau kamu sendiri, apa tujuanmu berada di sini ?" Tanya Fino kembali.


"Aku ... Aku ingin melukis kembali senyuman di wajah para penduduk di kota ini, terutama anak-anak" Jawabnya dengan muka serius.


"Maksudmu, membantu para pasukan militer mengalahkan para mafia ? Itu tidak mungkin untuk kau yang seorang diri !" Fino merasa itu hal yang sangat mustahil.


"Memang, maka dari itu aku menunggu seseorang yang bersedia bekerja sama denganku, pertama-tama aku akan membawa Sheila ke jalan yang benar kembali ..." Ikka mengungkapkan ambisinya sambil tersenyum.


"Pandangan matanya tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun" Gumam Fino dalam hati.


"DUARRRR !!!" Suara ledakan yang sangat besar terdengar sangat jelas.


"Sudah di mulai, penyerangan gelombang ke 3 !!" Kata Nai si paus Narwhal.

__ADS_1


"Ayooo !!" Ikka menarik lengan Fino untuk lari dari sana karena tempatnya yang rawan.


Ikka membawa Fino berlari sejauh mungkin dari tempat di ikuti Biru dan Nai yang mengikutinya dari belakang, mencari tempat persembunyian yang lebih aman.


"Serangannya mengerikan sekali, bahkan tank sekalipun bisa di hancurkan dengan mudahnya" Kata Fino saat melihat dengan mata kepalanya sendiri dari tempat persembunyian.


"Apa kau baik-baik saja, Fino ??" Tanya Biru melihat Fino yang langsung gemetaran.


"Nama kau Fino kan ?? Aku akan membantumu menyelamatkan Ayahmu ..." Secara tiba-tiba Ikka berkata seperti itu.


"Maksudmu ?" Tanya Fino terheran.


"Sudah jelas kan, aku akan memulainya darimu, melukis kembali senyuman dari wajahmu" Ucapnya sembari tersenyum.


Fino yang tersenyum mendengar kata-katanya.


"Kita akan mulai merancang rencana malam ini" Kata Ikka tersenyum dengan memberikan jempolnya.


Ikka membawa Fino ke tempat persembunyiannya yang jauh dari keramaian kota, di pinggiran kota lebih tepatnya. Karena jarak tempuh yang cukup jauh, membuat mereka sampai ke tempat yang di tuju pada malam hari. Nampak sebuah gubuk kecil, di sanalah Ikka menetap selama ia berada di sini.


"Hosh ... Hoshh ... Cape banget ~" Fino yang merasa sangat kelelahan karena berjalan cukup jauh.


"Haha, maaf yaa, duduklah di sana aku akan mengambilkan minuman terlebih dahulu" Titah Ikka.


"Heem, terima kasih" Fino duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu.


Sambil menunggu, Fino melihat-lihat sekitarnya, gubuk ini memang sangatlah kecil, banyak sekali nyamuk, dan tempatnya agak pengap. Namun, Fino tak mempedulikan hal itu, setidaknya ada tempatnya bermalam untuk malam ini, kemudian mata Fino tertarik pada lukisan-lukisan yang menempel di dinding, sebuah mahakarya yang sangat luar biasa dan bernilai tinggi.


"Apa semua lukisan ini adalah hasil karyamu ?" Tanya Fino dengan penuh rasa takjub.


"Aaa, iyaa hehe. Itu semua adalah contoh lukisan yang selalu aku bawa saat melukis di jalanan ..." Jawab Ikka sembari menyuguhkan minuman kepada Fino.


"Berarti, pasti laku keras ya, secara gambaranmu sangat bagus" Fino memuji hasil lukisan Ikka.


"Tidak seperti yang kau bayangkan, justru sebaliknya. Di zaman yang sangat modern seperti ini, sudah tersedia banyak peralatan canggih ... Salah satunya, jika seseorang ingin dirinya seperti sebuah lukisan, ada aplikasi di mana kita tinggal memotret diri kita sendiri lalu memakai filter khususnya" Ungkap Ikka keluh kesahnya.


"Aaa, anu maaf, aku gak bermaksud ... padahal lukisan seperti ini kan yang lebih memiliki nilai seni" Fino meminta maaf merasa tidak enak.


"Haha, gapapa, lagipun melukis adalah duniaku, sekalipun dunia memaksaku berhenti, aku akan terus memberikan warna pada hidupku, itu juga alasanku datang ke sini ... Melukis kembali warna di kota ini yang telah pudar" Katanya dengan tersenyum berpegang teguh pada prinsipnya.


"Tidak ada rasa takut sedikitpun terlihat dari dirinya, berbeda denganku ..." Gumam Fino dalam hati membandingkan dirinya dengan Ikka.


"Ouh, ya untuk rencana besok, ada kemungkinan akan terjadi lagi serangan gelombang ke 4 ... Jadi, kita harus mulai bergerak pagi-pagi buta, aku yakin markas utama sudah hancur karena tempat itulah sasaran utamanya, jadi ada kemungkinan ayahmu kini berada di pengungsian bersama dengan penduduk yang lainnya ..." Ikka mulai merencanakan sebuah rencana dengan Fino.


Fino dengan seksama mendengarkannya.


"... Ada jalan yang lebih cepat dari sini untuk sampai ke pengungsian, yaitu berlari melalui jalan pinggiran kota dan aku akan berusaha mengalihkan perhatian Sheila si perempuan berkacamata itu ..." Ikka memaparkan rancangan strateginya.


"Jadi, kamu tidak akan ikut ke pengungsian ?" Tanya Fino.


"Heem, soalnya selain menjaga perbatasan, Sheila juga berpatroli di setiap pinggiran kota, jadi aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya" Ikka memberikan sebuah alasannya.


"Apa kau yakin tidak apa-apa ?" Tanya Fino agak khawatir.


"Tenang saja, aku bisa menanganinya. Aku punya teman yang bisa ku andalkan, yaitu Nai" Jawabnya sambil tersenyum.


Hasil akhirnya, Fino menyepakati strategi yang di rancang oleh Ikka untuk besok. Karena, malam yang semakin larut mereka beranjak untuk pergi tidur, Ikka mempersilahkan Fino sebagai tamu untuk tidur di ruangan kamarnya, meskipun awalnya menolak, namun Ikka menghargai kedatangannya lalu Ikka tidur di ruang tengah tepatnya di bangku panjang yang terbuat dari bambu. Saat Fino memasuki ruangan kamarnya, kondisinya sangat memprihatinkan, hanya terdapat ranjang kasur yang terbuat dari bambu yang sudah mulai rapuh dan bantal yang sudah sangat lepek. Terpaksa, Fino menyaman-nyamankan dirinya untuk bisa tertidur di sana, meskipun nyamuk banyak mengganggunya.


"Biru .." Panggil Fino pada Biru sambil terbaring.


"Iyaa, Fino ?" Jawab Biru melalui Hexa-Voice.


"Aku tidak yakin untuk hari esok ..." Ungkapnya.


"Loh, kenapa Fino ?" Tanya Biru merasa heran.


"Aku ... Benar-benar merasa takut Biru" Alasannya.


"Apa kau ragu dengan kekuatan yang aku miliki Fino ? Karena, aku tidak cukup kuat ??" Tanya kembali Biru.


"Bukan begitu, Biru. Aku hanya merasa tidak cukup berani untuk melakukan hal ini, terlebih lagi aku melihat kehancurannya dengan mata kepalaku sendiri, itu sangat menakutkan" Ungkap Fino.


"Untuk kali ini, aku tidak akan membantahnya, karena aku juga merasa tidak cukup kuat, Fino" Bahkan sekarang Biru juga merasa ragu dengan kekuatannya sendiri.


"Saat aku melihat Ikka, saat ia menceritakan tentang ambisinya tak ada ketakutan terpancar dari matanya, dia ... Dia benar-benar sangat berani, padahal tujuannya menyelamatkan penduduk kota ini, sedangkan aku yang memiliki tujuan hanya menyelamatkan ayahku ... Rasa takutku sudah setengah mati seperti ini" Fino mencurahkan hatinya kepada Biru.


"Itu hal yang manusiawi Fino, lalu apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan membatalkan strategi ini ..." Tanya Biru.


"Akupun bingung, tapi ... Tapi kita jalani saja ini dulu, semoga esok akan baik-baik saja" Kata Fino sambil menghela nafasnya gemetaran.


"Heem, tenang Fino. Seberapa kuat musuh yang menghadang, aku akan tetap berada di hadapanmu" Biru yang tetap bertekad melindungi Fino.


"Terima kasih, Biru. Saat ini aku benar-benar hanya bisa mengandalkanmu" Ucap Fino.


"Serahkan padaku, Fino. Cepatlah tidur, malam sudah mulai larut, esok kondisimu harus dalam keadaan fit" Kata Biru memperhatikan kondisinya.


"Heem" Fino mengangguk kecil meresponnya.


Malam ini Fino terlelap di kota yang benar-benar asing baginya, bahkan rasa takut pun terus dan semakin menghantuinya. Setelah merasakan bertarung dengan Beep si lebah Hexamon milik Sheila perempuan berkacamata, Biru merasa dirinya masih kurang kuat bahkan kekuatannya masih terlampau jauh berada di bawahnya, hal itu yang membuat Biru juga merasa takut dan pesimis jika harus berhadapan lagi dengannya, namun prinsipnya untuk melindungi Fino sebagai partnernya tak akan goyah, sekalipun musuh yang di hadangnya terlalu kuat, Biru akan tetap pasang badan berada di hadapannya. Hari esok, adalah hari di mana Fino dan Biru harus berjuang lebih keras daripada hari ini.


BERSAMBUNG.


Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut


perihal "Hexamon" mula dari bagaimana


wujud karakter & monsternya, dll.


Bisa langsung cek ke :


Instagram : @hexamon_

__ADS_1


__ADS_2