
Beberapa Minggu berlalu semenjak kejadian hari itu terjadi, di sebuah kota kecil bernama 'Cyanzour' kini Raka beserta kawannya kembali menjalanj kehidupan normalnya, beraktivitas rutin kembali sebagai seorang pelajar. Kepopulerannya sebagai pahlawan kota saat itu menjadikannya buah bibir yang hanya berlangsung kurang lebih 2 Minggu, namun bukan berarti jasa Raka dan kawan-kawan terlupakan begitu saja, jasanya telah tercatat dan tetap di kenang terutama di kalangan para penggemar Hexamon.
Suasana pagi yang sangat sejuk nan damai memberikan aura semangat untuk menjalani hari, Raka dan kawan-kawan tiba lebih pagi ke sekolahnya. Meski, sebenarnya karena hari ini bagian mereka piket kelas sih, jadi wajar datangnya pagi. Masih duduk di bangku kelas 8 SMP, membuatnya harus lebih meningkatkan semangat belajarnya supaya dapat mencapai nilai yang di tentukan dan lulus dengan hasil yang memuaskan.
"Fin, kamu PR MTK Minggu kemarin udah belum ??" Tanya Deri sembari menyapu ruangan kelas.
"Udah dong, gak kayak kamu, pasti belom" Fino sedikit sombong sambil mengelap jendela.
"Abis kamu tiap malem main VR mulu sih sama si Gamoru, gak kapok udah di marahin berapa kali juga" Lanjut Raka ikut bicara.
"Ahh, kalian, kalo gak mau ngasih contekanmah sih bilang aja, gak usah ngomong ini itu" Gumam Deri agak kesal.
Satu per satu siswa yang lainnya pun mulai berdatangan, seisi kelas mulai ramai. Tiba-tiba beberapa siswa entah mengapa berlarian menuju lantai bawah. Karena merasa sangat penasaran, Raka dan yang lainnya pun ikut melihat ke lantai bawah, karena kelas Raka berada di lantai atas.
"Ada apa sihh, ribut-ribut begini ?" Tanya Deri penasaran.
"Gatau, kita lihat aja deh" Jawab Raka sambil berlari menuju lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, kerumunan berasal dari arah gerbang sekolah, nampak seorang siswa berawakan subur yang baru saja turun dari mobil sport super mahal, berjalan dengan penuh gayanya memasuki kawasan sekolah.
"Ternyata si anak sombong itu" Gumam Deri agak tidak suka.
"Ternyata dia baru pulang ya dari liburannya" Ucap Raka.
"Ehh, liat deh di pergelangan kirinya, dia kayak punya Hexamon gak sih ? Soalnya itu jelas Hexawatch, bukan jam tangan biasa" Mata elang Fino mengetahui sesuatu.
Anak sombong yang di sebut oleh Deri itu bernama, Rafael. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika banyaknya pasang sorot mata mengarah padanya.
"Denger-denger katanya di sini ada yang punya Hexamon yaa ? Pahlawan kota juga sih katanya ?!" Rafael menyindir Raka dan kawan-kawannya.
"Dia nyindir kita !" Deri mulai tersulut emosi, berniat akan melabraknya.
"Lihat ?!!" Rafael menunjukkan Hexamon miliknya, dengan mengangkat lengannya ke atas.
"Hexamon milikku ini adalah edisi keluaran kloter pertama, dan yang pasti langsung dari negara terciptanya saat aku keluar negeri, mumpung kalian semua ada di sini, lihatlah kehebatan Hexamon ku yang tidak ada bandingannya ini !! HEXAMON BATTLE, GOO !!" Rafael terus menyombongkan diri kemudian mengeluarkan Hexamonnya.
Saat Hexamonnya di keluarkan langsung terasa hawa yang sangat dingin menyelimuti area sekitar, di balik hawa dingin yang menyelimuti, ternyata Hexamon yang di keluarkannya berwujud Beruang kutub beserta dengan elemen es yang di milikinya.
"Kalian merasakannya kan ? Hawa dingin yang sangat pekat, begitulah kekuatannya juga yang sangat hebat, biar ku tunjukkan, Blash, buat mereka terpukau !!" Rafael memberi instruksi kepada Hexamonnya yang bernama 'Blash'.
"ICE FREEZE !!!" Serangan yang di lancarkannya, membekukan satu pohon rindang yang berada di sekitaran sekolah.
Para siswa-siswi di buat takjub melihatnya, kekuatan es yang bukan main dari Hexamon milik Rafael.
"Bagaimana ? Masih belum cukup, tunjukkan sekali lagi, BLASH !!" Rafael tiada hentinya memamerkan skill Hexamon miliknya.
"ICE SURFACE !!" Serangannya kali ini membuat permukaan menjadi es yang licin dan dingin.
Semua yang berada di kawasan sekitar di buat terkejut oleh skill Blash. Karena, permukaan yang di pijaknya berubah menjadi es yang licin, sehingga tak sedikit siswa yang terpeleset karenanya.
"Skill nya bukan main, jangkauan area nya sangat luas" Gumam Fino menganalisisnya.
"Jadi, buat yang katanya pahlawan kota, bolehlah kita coba tanding, ye kann ? Ngebuktiin apa Hexamon gratisannya itu bener-benet kuat atau abal-abal karena gratisan haha" Rafael menyindir keras Raka dan kawan-kawan.
"Keterlaluan, Apa yang kau maksud itu kami ?!!" Deri sudah habis kesabaran.
"Aduhh, Derii, bakal runyam deh" Fino tepuk jidat.
"Ups, sepertinya ada yang ke sindir nihh, tapi kalau emang bener kalian gimana ?" Rafael semakin berani.
Deri melangkah menghampiri Rafael dengan penuh rasa kesal, Raka dan Fino tidak mencoba menghalanginya karena mereka yakin Deri tak akan melakukan hal yang macam-macam dan gegabah.
"Oke, mari kita battle" Deri menerima tantangannya.
Sontak pernyataan Deri membuat semuanya terkejut.
"Hohoo, anak miskin mulai berani ya, jadi 3 lawan 1 nihh ?" Ucapnya sambil menghinanya.
"Tidak, cukup lawan aku, aku tidak ingin mereka ikut campur dalam hal seperti ini, cukup aku yang akan buang-buang tenaga hanya untuk memberimu pelajaran !" Deri mempertegas perkataannya.
"Hahh, oke, di mana kita akan bertanding ?"
"Di lahan kosong belakang sekolah, nanti sepulang sekolah" Beritahu Deri waktu dan tempat tanding.
"Oke, buat kalian semua, tolong nanti sepulang sekolah untuk ikut menyaksikan pertandingan ini, sebagai saksi mata, siapkan mental yaa, awas kalah nangis haha" Rafael merasa sangat percaya diri.
"Tch, kita lihat saja" Deri pun tak kalah percaya diri.
"Siapa yang buat semuanya jadi bekuu ginii ?!!! Ada apa berkerumun seperti ini, BUBARR ?!! Bel masuk sebentar lagi berbunyi, BUBARR !!" Teriak seorang pria paruh baya dengan amat marah menghampiri kerumunan yang seketika membubarkan massa.
Seketika kerumunan siswa-siswi di bubarkan dengan tegasnya oleh guru BK, bel masuk pun terdengar dengan sangat nyaring. Semua siswa memasuki kelasnya masing-masing, pembelajaran di jam pertama pun segera di mulai. Suasana kelas yang kembali menjadi ramai, para siswa menyiapkan alat tulisnya.
"Der, apa kau yakin untuk nanti pulang sekolah" Bisik Raka pada Deri merasa sedikit risau.
"Tenang gapapa kok, ku sumpel tu mulut biar gak kelewat sombong" Deri benar-benar jengkel dengan sikap sombongnya Rafael.
__ADS_1
3 jam pembelajaran telah berakhir, bel istirahat pertama pun berbunyi, di saat Fino dan Deri bergegas langsung menuju ke kantin, Raka masih berdiam diri di dalam kelas untuk menyelesaikan beberapa hal. Sebenarnya, alasannya karena uang jajan yang di bawa Raka tidak cukup untuk membeli makanan serta jajanan di kantin, membuatnya berfikir dua kali untuk ke sana. Tapi, akhirnya Raka memutuskan untuk pergi ke kantin hanya untuk menemui mereka. Namun, saat akan menuju ke kantin, Raka mendengar suara dari arah kamar mandi, karena penasaran tanpa pikir panjang Raka menelusuri arah suara tersebut. Sampai di sana, Raka melihat hal yang tidak mengenakkan, nampak dari kamar mandi yang paling ujung seorang siswi sedang di bully habis-habisan oleh 3 orang kakak kelas. Merasa kasihan, Raka tidak tinggal diam dan langsung melakukan penyerangan, menendang salah satu kakak kelas dari belakang.
"Sialann !! Berani-beraninya Lo nendang gw" Ucapnya sambil memegang bekas tendangan dari Raka.
"Kelas berapa si Lo, hahh ?!!" Ucap salah satu kakak kelas sambil melihat ke arah bet kelasnya.
"Masih kelas 8, berani-beraninya ngelawan kita, jangan sampe Lo menyesal ya karena udah berurusan sama kita" Ancam si kakak kelas.
"Kalian sebagai kakak kelas harusnya memberi contoh yang baik, bukannya malah ngelakuin aksi bully kayak gini" Raka berani mempertegas dirinya, dengan lengan sebelah kanannya memberi kode kepada siswi itu untuk berlindung di belakangnya.
"Wahh, ngajak ribut ni anak songong" Si kakak kelas merasa terhina.
"Hajar ajalah" Mereka sepakat untuk memukuli Raka.
Saat para kakak kelas itu hendak memukuli Raka, tiba-tiba saja bunyi bel masuk telah berbunyi kembali yang berarti 30 menit telah berlalu, membuat para kakak kelas mengurungkan niatnya untuk memukuli Raka.
"Sekarang udah gapapa, lain kali kalo ada yang ngebully gitu lawan aja, kalo gak bisa ngelawan cukup teriak aja sekerasnya biar nanti datang orang yang nolong kamu" Raka berbalik, memegang kedua bahunya lalu menenangkannya.
"Te ... Terima kasih, kak" Ucapnya sembari merunduk.
"Kamu anak baru di kelas 7 ya ? Kakak gak pernah liat kamu" Tanya Raka
"Iya ... Aku siswi pindahan dari kota lain" Jawabnya sambil memberanikan diri melihat wajah Raka.
"Pantes kalo gitu, ya udah cepet masuk kelas gih, soalnya bel masuk udah bunyi, kakak duluan ya, sampai jumpa kembali" Raka pergi terlebih dahulu meninggalkan siswi tersebut.
"Kakak itu baik sekali" Ucapnya dalam hati, dengan senyum manis terukir di wajahnya.
Raka bergegas kembali ke ruang kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi, terlihat dari jendela kalau semua temannya telah kembali memasuki kelas, beruntung guru mata pelajaran belum tiba di kelas.
"Raka, tadi kamu kemana aja sih ? Kita udah nungguin loh di kantin" Bisik Deri bertanya pada Raka.
"Heem, kita udah pesenin Burger padahal tadi, jadi di makan deh sama si Deri" Lanjut Fino.
"Yaa, daripada mubazir kan, hehe" Katanya tanpa merasa bersalah.
"Gapapa, lagian aku juga tadi ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dulu" Ucap Raka dengan tenang.
...***...
Bel pada jam pembelajaran terakhir telah berbunyi, tanda bahwa kegiatan sekolah hari ini telah usai. Sesuai dengan janji yang di buatnya, sepulang sekolah Deri langsung menuju ke lahan kosong di belakang sekolah di temani oleh Raka dan Fino. Sama-sama masih duduk di bangku kelas 8, Raka dan kawannya pun belum bisa leluasa untuk dapat berinteraksi dengan Hexamonnya di kawasan sekolah, karena hanya Raka, Fino, Deri dan Rafael yang mempunyai Hexamon di sekolah, semua ini dilakukan untuk meminimalisir prasangka buruk dari teman-temannya kepada Raka dan yang lainnya.
Cukup lama menunggu, akhirnya Rafael datang di ikuti dengan banyaknya siswa-siswi di belakangnya, hendak menonton gelaran pertandingan antara Deri melawan Rafael. Para siswa siswi secara otomatis membentuk lingkaran layaknya sebuah arena dengan Deri dan Rafael yang saling berhadapan di tengahnya.
"Apa semua ini akan baik-baik saja, Raka ?" Tanya Fino sedikit risau.
Kedua pasang sorot mata saling menatap tajam antara Deri dan Rafael, tak sedikit dari banyaknya siswa yang menonton bersiap merekam berlangsungnya pertandingan tersebut dengan melakukan siaran live.
Kuda-kuda di pasang keduanya, lengan kanan bersiap memutar Hexapets dari Hexawatch-nya.
"HEXAMON BATTLE, GOO !!!" Teriak keduanya menyuarakan kode suara untuk memanggil Hexamonnya masing-masing.
Di lemparkannya Hexapets sampai membanting pada sebuah permukaan, kedua Hexamon muncul bersiap untuk menentukan siapa pemenang di antara keduanya.
"Akhirnya, keluar juga, aku sudah tidak tahan ingin menghajar dia, kesombongannya membuatku geram" Gamoru bahkan menahan rasa geram nya selama berada dalam Hexapets.
"Sekarang, tidak usah segan Moru, kita habisi beruang itu" Deri menyatukan tekadnya dengan Gamoru.
Keduanya berlari untuk sama-sama melakukan penyerangan.
"Blash, buat dia terdesak !" Intruksi dari Rafael.
"Terima ini, ICE TRUCE !! " Blash mengeluarkan gencatan serangan es layaknya senjata 'machine gun'.
"Buat pertahanan, MORUU !!" Teriaknya.
"EARTH WALL !! " Dengan sigapnya Gamoru langsung membuat dinding tanah sebagai pertahanannya.
Tapi, ternyata dinding tanah yang di buatnya tidak cukup kuat untuk menahan serangan milik Blash, membuat dinding tersebut membeku seutuhnya.
"Dindingnya, BEKUU ?!!" Gamoru tercengang.
Di balik dinding yang sudah membeku itu muncul serangan berupa pukulan dari Blash yang dengan mudah membuat hancur dinding tersebut layaknya memecahkan cermin kaca. Tak ingin membuang kesempatan, Rafael memanfaatkan kondisi sekarang untuk melancarkan serangan balik.
"Tunjukkan lagi skillmu, Blash !!" Rafael terus membuat Gamoru dan Deri terdesak oleh serangannya.
"COLD BREATH, FYUHHHHH !!!" Serangan Blash kali ini adalah mengeluarkan nafas dinginnya, membuat lawan menjadi kedinginan dan menggigil.
"Gamoruu ?!!" Teriak Deri.
"Tubuhku sangat dingin, Deri ... " Ucap Gamoru sambil menggigil kedinginan.
"Masih untung kau hanya ku buat dingin bukan di bekukan, terima ini ... BLASH, FREEZE CLAW !!" Memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyerang, Blash menyerang kembali Gamoru dengan cakaran es nya.
Tampak, Health-Bar yang milik Gamoru terkuras dengan sangat cepatnya, pertahanannya pun semakin menipis.
__ADS_1
"Jangan mau kalah, Gamoru !! Kita harus bisa kalahkan dia !!" Deri masih memaksakan Gamoru dengan kondisinya yang sudah tak memungkinkan.
"Tch, masih belum menyerah ternyata, buat dia kapok Blash !" Rafael pun semakin menyombongkan dirinya.
Karena perintah, Gamoru pun tidak bisa menyerah begitu saja dalam pertarungan, ia harus tetap mematuhi apa yang di katakan partnernya.
"Terima serangan ini, GROUND SPIKE !!" Gamoru memukul permukaan sekerasnya, mengeluarkan serangan lonjakan tanah yang beruntun.
"Bekukan saja, Blash" Dengan santainya Rafael berkata.
"ICE FREEZE !!" Lonjakan tanah besar yang siap menghadangnya, dengan mudahnya di bekukan oleh Blash membuat laju serangannya pun terhenti.
"Apaa ??!!!" Gamoru tercengang di buatnya.
Di pukulnya lonjakan tanah yang membeku itu, seperti menghancurkan gelas-gelas kaca.
"Bagaimana dengan ini, GROUND GRIP!!" Tak menyerah, Gamoru melancarkan kembali serangan dengan mencengkeram kedua kaki Blash dengan tanahnya.
"Kau pikir trik murahan ini bisa mempan padaku, FREEZE BREATH" Jika serangan sebelumnya hanyalah nafas dingin, sekarang Blash menggunakan skill nafas bekunya untuk membekukan tanah yang mencengkeramnya.
Dengan mudahnya lagi, Blash dapat lepas dari cengkeraman kuat milik Gamoru.
"Tidak mungkin ... " Gamoru tak bisa berkata-kata.
"Dia ... Kuat sekali" Deri pun terdiam di buatnya.
"Membosankan, akhiri saja Blash ! Pertandingannya membosankan ... Jangan lupa, akhiri dengan tragis ... " Rafael benar-benar tidak main-main dalam melawan Gamoru.
"Raka ... " Ucap Fino, melirik ke arah Raka dengan penuh rasa khawatir.
"Semoga tidak terjadi apa-apa" Raka pun tak dapat membohongi dirinya, kalau sebenarnya ia pun turut khawatir melihatnya.
"Apa ... Kita ... Akan tetap lanjut, Deri ?" Tanya Gamoru dengan keadaannya yang sudah tak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan.
"Ya, kita akan tetap lanjut, aku sudah muak dengan kesombongan anak itu" Deri bersikeras untuk melanjutkan pertandingan, tanpa memperhatikan kondisi Gamoru.
"Selesai drama nya ? Serang sekarang saja Blash" Intruksi penyerangan dari Rafael.
"Siap membuat pertahanan, Gamoru" Ucap Deri.
"Jangan lengah, ICE STORM !!!" Kekuatan yang tidak terduga, Blash mengeluarkan badai es yang sangat besar dengan jangkauan area yang sangat luas.
"Deri, aku tidak bisa melihat dengan jelas" Pandangan Gamoru menjadi kabur karena skill badai es milik Blash.
"Begitupun aku, tak bisa mengetahui darimana arah datangnya musuh ?!!" Deri pun kesulitan di buatnya.
"Gilaaa, dingin bangett !!!" Fino benar-benar merasa kedinginan karena dampak skill milik Blash.
"Sudah ku bilang jangan lengah, ICE TRUCE !!!" Menggunakan kesempatan sebaik mungkin karena penglihatan Gamoru sedang kabur, Blash melompat ke udara untuk melihat di mana posisi Gamoru kemudian meluncurkan kembali serangan gencatan es.
"GAMORUUU ?!!!" Teriak Deri.
Karena tak dapat mengetahui arah datangnya serangan, Gamoru terkena serangan gencatan es mentah-mentah milik Blash, membuatnya menguras Health-Bar sangat banyak dan tampak Health-Bar nya sekarang benar-benar kritis karena serangan gencatan es sebelumnya.
Badai es yang pekat masih menyelimuti area pertandingan, Gamoru yang sudah tak berdaya memilih pasrah, Deri pun tak dapat melihat di mana keberadaan Gamoru apalagi serangan musuh. Ia hanya bisa mendengar rintihan Gamoru kesakitan yang terkena serangan milik Blash.
"Eksekusi terakhir, BLASH, FREEZE CLAW !!!!" Memanfaatkan kesempatan terakhirnya sebelum badai menghilang, Blash berlari ke arah Gamoru bak beruang yang bersedia menerkam mangsanya, Blash Melompat ke arah Gamoru kemudian melancarkan serangan cakar es miliknya.
"ARGHHH !!!" Gamoru yang sudah tak berdaya, terkena serangan yang sangat tragis dari Blash.
Akhirnya badai es yang menyelimuti pun telah sepenuhnya menghilang, bertepatan saat Blash menyerang Gamoru dengan cakarnya, seluruh mata melihat momen itu termasuk Deri sendiri.
"GAMORUUUU ??!!!!!!" Teriak histeris Deri melihat Gamoru yang sudah tak berdaya di serang oleh Blash.
Karena sudah melebihi batas maksimal bahkan Health-Bar nya pun sudah sepenuhnya 0%, dengan tragisnya Gamoru kembali menjadi kepingan Hexapets, nampak Hexapets-nya pun sedikit mengeluarkan asap kecil setelahnya. Deri langsung berlari, mengambil kepingan itu sambil sedikit meneteskan air mata.
Sontak, semuanya pun langsung heboh, para siswa yang lain tak menyangka kalau Deri yang di cap sebagai pahlawan kota dapat di kalahkan dengan mudah begitu saja. Perkembangan teknologi sudah semakin pesat, video yang di rekam oleh banyaknya siswa akan mudah tersebar sehingga kemungkinan besar akan kembali menjadi buah bibir hangat terutama di kalangan Hexalovers.
"Bagaimana ini Raka ?! Deri bakal di cibir, di bully, di maki habis-habisan sama netizen" Fino merasa sangat bimbang.
"Kita hanya bisa terima kenyataan" Raka pun turut putus asa.
"Menyedihkan sekali, lihat bahkan tidak dapat menyentuh Hexamon ku sama sekali, kayaknya emang tuh Hexamon di kasih gratisan ya karena abal-abal dan kemenangan kalian kemarin ngelawan para mafia cuma sebuah keberuntungan, ku tunggu kau di pertandingan selanjutnya pecundang .... Ku harap, skill mu bisa lebih dari ini, HEXA-IN !!" Tiada hentinya Rafael terus mencibir dan memaki Deri atas kemenangannya.
Deri yang merasa kesal pun tak bisa berbuat apa-apa sekarang, ia hanya bisa merunduk meratapi kekalahan, menggenggam erat Hexapets di genggaman kanannya, kamera pun tiada hentinya merekam kekalahan Deri yang sangat tragis hari ini. Rafael pergi dengan sombongnya, ia mengharapkan pertandingan selanjutnya dengan Deri dapat lebih memenuhi ekspektasinya jauh lebih baik dari hari ini, ternyata anak sultan yang sombong itu tidak dapat dengan mudah di remehkan begitu saja.
BERSAMBUNG.
Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut
perihal "Hexamon" mula dari bagaimana
wujud karakter & monsternya, dll.
Bisa langsung cek ke :
__ADS_1
Instagram : @hexamon_