
Bermalam di rumah sakit, Risna yang di liputi rasa cemas dan khawatir dengan sabarnya menunggu kabar dari dokter yang sudah beberapa jam belum saja keluar dari ruang ICU. Tak sedikit Risna meneteskan air matanya, tak ada bahu untuknya bersandar, ia hanyalah seorang gadis remaja yang masih membutuhkan kasih sayang, Risna berharap dokter keluar dengan memberi pernyataan kabar baik karena ia belum siap jika harus kehilangan Bu Sinta sekalipun beliau bukan ibu kandungnya.
"Aku mohon selamatkanlah Ibu, aku tahu kalau aku banyak salah selama ini pada Ibu, selalu membentaknya bila Ibu tidak memberi tahuku di mana keberadaan kedua orang tuaku, aku menyesal ..." Risna benar-benar menangis di penuhi rasa penyesalan yang ia ungkapkan.
"Menangislah sebanyak yang kau inginkan, Risna ..." Kata Winx melalui Hexa-Voice.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang, Winx ?" Risna benar-benar bingung.
"Jauhkanlah pikiran-pikiran yang buruk untuk sekarang, kamu tidak sendiri Risna ..." Winx mencoba menenangkan Risna.
Tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan ICU, Risna pun langsung menanyakan segala hal pada sang dokter.
"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok ? Apa masih bisa terselamatkan ?" Tanya Risna.
"Kondisinya benar-benar dalam fase kritis, sekujur tubuhnya benar-benar terbakar, untuk saat ini Ibu mu belum sadarkan diri, kita hanya bisa menunggu keajaiban tiba ... Saat keajaiban itu datang, kita akan segera mengoperasinya" Pernyataan sang Dokter.
"Apa tidak bisa di operasi sekarang saja, Dok ?" Tanya kembali Risna.
"Akan sangat rawan jika harus di operasi sekarang, kondisinya harus sedang stabil ..."
"Kalau begitu, apakah saya boleh menunggunya di dalam Dok ?" Pinta Risna.
"Silahkan" Jawab sang Dokter mengangguk kecil.
Setelah mendapat izin dari dokter, Risna langsung saja memasuki ruangan ICU. Saat melihatnya terbujur kaku dengan sekujur tubuh yang di penuhi perban, Risna langsung menangis menghampiri dan memeluknya.
"Huwaaa ... Ibuuu !!! Sadarlah, Bu !!" Risna menangis histeris.
"Tenanglah, Risna ..." Kata Winx mencoba menenangkan.
"Seandainya ... Aku tidak menunda-nunda, semua ini tidak akan terjadi, bodohnya diriku !!" Risna memukul-mukul kepalanya menyalahkan dirinya.
"Ini semua bukan salahmu Risna, berhentilah menyalahkan dirimu, semua ini perlu waktu" Kata Winx terus menenangkannya.
Risna hanya bisa menangis di dekatnya, tanpa sadar ia pun terlelap dan hari menjelang malam.
Tiba-tiba secara ajaib lengan Bu Sinta terlihat bergerak, dan berusaha menggapai kepala Risna yang tertidur lelap di dekatnya, setelahnya Bu Sinta mengelus-elus rambut Risna yang lembut itu.
" ... Ehmmhhh ..." Risna yang merasa terusik menjadi terbangun karenanya.
"Aaa !! Ibu ... Ibu sudah sadar ? Ibu sudah sadarkan diri ?! Dokter !!" Risna terkejut sekaligus girang melihatnya sehingga ia langsung mencoba memanggil Dokter.
"Risna ..." Bu Sinta menggapai tangan Risna dan menggelengkan kepalanya memberi tahu sesuatu.
"Kenapa ??" Tanya Risna.
"Ini tidak akan lama ..." Ucapnya dengan nada yang lemah dan volume suara yang sangat pelan.
"Maksud ??" Risna semakin kebingungan dengan perkataan Bu Sinta yang ambigu.
"Besok, saat fajar masih terlelap, cepatlah tinggalkan kota ini dan pergi ke kota kecil Cyanzour, kota itu jarang sekali kedatangan orang asing dari luar ..." Titah Bu Sinta.
"Kenapa ? Bagaimana dengan Ibu ?"
"Mafia-mafia yang lainnya mulai bergerak mengincarmu, pergilah sejauh mungkin, ayahmu memberikan amanah kepada Ibu untuk menjagamu, di kota ini sudah tidak aman --" Bu Sinta memaparkan alasannya.
"Tapi --" Belum selesai bicara, Bu Sinta memotong pembicaraannya.
"Ini perintah, turuti perkataan Ibu jika suatu hari nanti kau ingin bertemu dengan kedua orang tuamu" Bu Sinta menegaskan perkataannya.
"Ba-baiklah ... Bu ..." Jawab Risna merunduk terpaksa.
Akhirnya, Risna menggunakan waktunya sebaik mungkin sebelum esok ia akan berpisah dengan Bu Sinta. Ia memberitahukan tentang bagaimana kondisinya yang harus segera menjalani operasi, setelah Dokter mengetahui bahwa Bu Sinta telah sadarkan diri, telah di putuskan kalau esok operasi akan segera di laksanakan.
~ Keesokan harinya.
Sekitar pukul 03.47 dini hari Risna pulang ke rumahnya untuk membereskan segala persiapannya sebelum berangkat. Tak sangka, Risna harus meninggalkan kota ini, kota yang penuh kenangan manis, pahit, sedih semua pernah di alaminya. Saat ia sedang berbenah pakaiannya di kamar, tak sengaja ia melihat bingkai foto dirinya yang sedang sumringah menggenggam piala bersama Bu Sinta di sampingnya setelah memenangkan suatu perlombaan, lantas beberapa titik air mata mulai turun membasahi wajahnya.
Setelah semuanya telah siap, dengan tas kecil yang di selempangkannya dan koper besar yang di bawanya, Risna menunggu pesanan taksi online nya tiba.
"Dengan, Nona Risna ?" Tanya sang supir sembari mengecek ponselnya.
"Iya, benar" Jawab Risna, kemudian memasuki mobil.
Taksi online yang di pesannya, membawanya melaju menuju tujuan. Namun, sebelumnya Risna meminta kepada sang supir untuk singgah terlebih dahulu ke rumahnya Bu Sinta untuk mengambil beberapa barang yang tersisa.
"Semoga hari ini operasinya berjalan lancar Bu, aku akan sering-sering bermain ke sini .." Gumam Risna melihat ruangan yang hening.
Risna benar-benar tak kuasa menahan tangis, setiap sudut di rumah ini memiliki kenangan yang berarti baginya, karena di rumah inilah Risna tumbuh, di didik serta di latih mula dari bakat, akademik, dan moral.
"Mari kita berangkat, Pak" Risna menyapu air mata di wajahnya mulai meninggalkan rumah Bu Sinta.
Sekarang mobil membawanya melaju ke terminal Bus dengan tujuan yang akan Risna tuju, yaitu menuju ke terminal yang akan membawanya ke kota kecil Cyanzour.
"Terima kasih, Pak" Ucap terima kasih Risna karena telah di antarkan sampai ke tujuan.
Setelah sampai di terminal Bus, Risna duduk sejenak di bangku panjang yang tersedia di sana, tak ada keceriaan sedikit yang terpasang di wajahnya, ia hanya murung dan terus bersedih.
__ADS_1
"Risna, apakah kota Cyanzour itu jauh ?" Tanya Winx basa-basi melalui Hexa-Voice supaya Risna tidak terlarut dalam sedihnya.
"Aku juga belum tahu sih, selama aku mengikuti lomba di luar kota ... Aku belum pernah mengikuti lomba yang di adakan di kota itu" Jawab Risna dengan nada yang biasa saja.
"Sepertinya kota itu memang kurang di kenal ya" Balas Winx.
Tak lama kemudian Bus yang mereka tunggu pun tiba, sekitar pukul 06.14 mereka mulai berangkat menuju kota kecil Cyanzour. Bersama dengan penumpang yang lainnya, ini adalah kali pertamanya Risna bepergian sendirian tanpa ada seseorang menemaninya, bahkan untuk menetap di kota yang sangat asing baginya.
"Good bye, Beecasy" Gumamnya sambil memandang jendela yang mulai perlahan meninggalkan kota.
Bus melaju meninggalkan kota Beecasy, meski kota ini bukanlah tanah kelahirannya, namun kota ini adalah kota di mana Risna tumbuh mula dari ia masih sangat belia dan menjadi gadis remaja sampai sekarang, tak mudah untuknya bisa berada di posisi seperti sekarang, Risna berjanji akan lebih sering mengunjungi Bu Sinta suatu hari nanti.
Sekitar satu jam setengah berlalu, akhirnya Risna sampai di kota Cyanzour. Ia turun dari Bus, lalu meninggalkan terminal Bus Cyanzour, namun tanpa ia sadari, Risna berpapasan dengan sosok yang pasti kita kenal, Fino. Risna berpapasan dengan Fino, tentu saja mereka masih belum saling mengenal, Risna tiba di kota Cyanzour dan Fino akan segera meninggalkan kota Cyanzour. Pertemuannya itupun hanya sekedar berpapasan saja dan mereka berpisah di terminal.
"Fyuhh, akhirnya kita sampai terminal" Fino yang langsung duduk di bangku panjang sembari menghela nafasnya.
"Semoga misi kita ini berjalan dengan lancar ya, Fino" Kata Biru penuh pengharapan melalui Hexa-Voice.
"Tapi, tetap saja ... Aku merasa sangat takut, Biru .." Ungkap Fino.
"Mana tekadmu yang kemarin Fino ?! Kau sendiri kan yang sudah yakin untuk pergi ..." Biru sedikit memarahinya.
"Iyasih, tapi --" Belum selesai bicara, pembicaraan Fino di potong oleh Biru.
"Kau tidak perlu takut Fino, ada aku di sini mendampingimu !" Biru terus meyakinkan Fino.
"Heumm~ yaa, sepertinya memang tidak ada yang harus di khawatirkan untuk sekarang" Fino menghela nafas menenangkan dirinya.
Nampak Bus dengan tujuan yang akan ia tuju telah tiba, sampai di terminal.
"Akhirnya, Busnya datang" Fino langsung melangkahkan kaki menaiki Bus itu.
Dengan naiknya Fino ke dalam Bus, artinya ia telah membulatkan tekadnya untuk pergi menjemput Ayahnya di kota Tank-Go-Rank, yang di mana kita semua tahu bahwa di kota itu sedang terjadi pemberontakan para Mafia. Fino harus berpikir panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya membulatkan tekad seperti ini, butuh waktu untuknya memikirkannya karena banyak pertimbangan termasuk dirinya yang sangat penakut menjadi salah satu penghambat dirinya untuk bertekad. Hari kemarin adalah hari di mana Fino harus berpikir keras, di rundung rasa cemas dan gelisah.
~Flashback hari kemarin.
Pagi hari semenjak hari kemarin ia dan Ibunya melihat berita terjadinya pemberontakan, Ibunya Fino kembali menelpon Ayahnya berharap sudah ada kabar hari ini. Namun hasilnya masih tetap sama, ponselnya masih tidak dapat di hubungi, Fino yang mengintipnya di sebalik dinding langsung menghampirinya.
"Masih belum ada kabar, Bun ?" Tanya Fino.
Angguk kecil Ibunya Risna dengan senyum tipis berusaha menutupi rasa cemasnya.
"Sudah cepat pergi ke sekolah, nanti kamu terlambat Lo, jangan lupa di bawa ya bekalnya" Titah Ibunya berusaha mengalihkan topik dengan menyuruh Fino segera berangkat.
"Sudah, Bun. Bekalnya sudah aku masukan, aku akan segera berangkat ..." Fino salam terlebih dahulu kepada Ibunya sebelum berangkat.
".… Kondisi di kota ini masih sangat kisruh, seluruh penduduk kota di bawa ke pengungsian yang telah di sediakan, para pasukan militer sedang berusaha menjaga keamanan kota tersebut, karena di ketahui akan terjadi penyerangan gelombang ke-2 ..." Sang Reporter menyampaikan berita.
Setelah melihat berita tersebut, Ibu Fino langsung terbelalak semakin cemas dan khawatir dengan keadaan suaminya di sana. Tak dapat di bohongi, matanya sangat berkaca-kaca sekarang.
"Bun ..." Fino yang turut ikut cemas sekaligus merasakan rasa takut yang Ibunya rasakan.
"Cepat pergi ke sekolah sekarang, Fino. Sebentar lagi sekolah akan segera masuk" Titah Ibunya Fino sambil tersenyum menutupi rasa takutnya meskipun mata tak bisa di bohongi.
"Ba-baik ... Bun .."
Fino beranjak berangkat ke sekolah menuruti apa yang di katakan Ibunya, meski sebenarnya ia juga mengkhawatirkan kondisi Ibunya di rumah.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Fino ? Apa kita hanya akan berdiam diri saja ?" Tanya Biru pada Fino.
"Entahlah, Biru. Aku benar-benar bingung sekarang .." Kata Fino sambil merunduk dan terus berjalan.
"Jika kau bertekad untuk pergi ke sana, aku siap bertarung !" Biru yang dengan percaya diri yakin kepada dirinya.
"Apa kau gila ? Di sana banyak mafia, dan menggunakan kekuatan Hexamon untuk memberontak ... Itu sama saja kita cari mati, Biru !" Fino yang tidak terima pada penawaran Biru.
"Tapi, kita kan bisa mengajak Raka dan Deri bersama Kero dan Gamorunya ?" Biru memicu perdebatan dengan Fino.
"Aku tidak ingin menyeret mereka ke dalam hal berbahaya seperti ini, lagipun aku bukan seorang Deri yang berani menantang bahaya seperti itu ... Ini menyangkut nyawa, Biru" Fino mulai merasa kesal.
"Kau tidak perlu menjadi Deri untuk menjadi berani, cukup bulatkan tekadmu dan singkirkan rasa penakutmu" Biru terus saja berbicara tanpa tahu Fino mulai merasa kesal.
"Penakut ?! Kenapa, sekarang kau malah menasehatiku dan bukannya menyemangatiku ?! Bisa tidak untuk seharian ini kau diam !" Fino yang benar-benar marah, emosinya kini sedang tidak stabil.
"Baik, maafkan aku Fino" Biru yang langsung meminta maaf setelahnya.
Fino hampir saja terlambat sampai ke sekolah, beruntung gerbangnya masih di buka sehingga Fino masih bisa masuk. Saat Fino memasuki ruangan kelas tentu pasti sudah banyak siswa yang datang, Raka dan Deri pun heran karena tidak biasanya Fino terlambat datang ke sekolah hari ini, biasanya ia selalu datang paling pagi.
Seharian ini pun Fino terus murung di sekolah tanpa terukir senyuman di wajahnya sedikitpun.
"Fin, ke kantin, yok !" Ajak Deri penuh semangat.
"Heem, gak biasanya dari pagi kamu murung begini ?" Tanya Raka merasa heran.
"Gapapa kok, kalian duluan aja, aku hanya sedang sedikit tidak enak badan" Fino beralasan supaya Raka dan Deri meninggalkannya sendirian di kelas.
Biru ingin mencoba menghiburnya, tapi ia takut Fino marah kembali seperti tadi pagi, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk mencoba menghibur Fino.
__ADS_1
Sampai pulangnya ia dari sekolah, Fino terus murung dan menyendiri bahkan menutup dirinya dari teman-temannya tanpa menceritakan sedikitpun keluh kesahnya, akhirnya ia sampai di rumah. Fino melihat Ibunya yang sedang memasak dengan wajah yang datar tak seperti biasanya, yang selalu ceria saat akan menghidangkan makanan untuk makan keluarganya. Fino menaruh tasnya ke kamar, malam pun tiba.
"Biru ... Apa kau marah padaku ?" Tanya Fino merasa kesepian.
Tak ada respon sedikitpun terdengar.
"Kau seharian ini tidak bicara, Aku minta maaf untuk kejadian tadi pagi" Fino meminta maaf mengakui kalau dirinya bersalah.
"Tidak apa-apa Fino, aku hanya takut salah kembali dalam berkata dan membuatmu marah ..." Biru yang merasa takut dengan amarahnya Fino.
"Maafkan aku, Biru. Emosiku hanya sedang tidak stabil, karena aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan ..." Ungkap Fino.
Biru ingin memberinya saran, tapi ia takut Fino tidak menerima sarannya kembali.
"Sepertinya ... Aku memang harus pergi ke sana !" Tiba-tiba saja Fino berkata seperti itu.
"A-apa ... Kau serius ?" Tanya Biru terkejut mendengarnya.
"Aku memang takut sebenarnya, namun bukannya sekarang aku memilikimu hehe. Lagipun kau sendiri yang bilang kan aku tidak perlu menjadi Deri untuk menjadi berani, aku hanya perlu bertekad kan ..." Kata Fino memperlihatkan senyumnya setelah seharian terus murung.
"Tapi ... Bagaimana dengan Ibumu ?" Tanya Biru.
"Tentu, aku akan meminta izinnya terlebih dahulu, dan berusaha meyakinkannya ... Aku berniat melakukan ini pun demi Ibuku, supaya tidak terus berlarut dalam sedihnya, sekalipun aku tahu ini akan beresiko" Fino memaparkan alasannya.
"FINOO !! AYO, CEPAT KE SINI MAKAN MALAM !!" Teriak Ibu Fino memanggilnya untuk segera makan malam.
"IYAAA, BUNN !!" Jawab Fino.
Fino segera menuju ruang makan dan makan malam bersama Ibunya, menyantap hidangan yang telah di sediakan. Menunggu waktu yang tepat, akhirnya Fino mencoba memberanikan dirinya untuk meminta izin.
"Anu, Bun ..." Fino merasa takut untuk meminta izin kepada Ibunya.
"Iya, Nak ?" Jawab Ibunya Fino dengan senyum palsu menutupi rasa sedihnya.
"Aku .. aku ... Meminta izin untuk pergi ke kota Tank-Go-Rank besok ..." Fino memberanikan dirinya.
"APAA ?!!" Ibunya Fino memukul meja sekerasnya.
"Untuk apa kamu ke sana, kamu sendiri tahu kan di sana sedang kisruh, kehancuran di mana-mana, untuk apa kamu pergi ke sana ?" Ibunya Fino melarang keras dirinya.
"Ta .. tapi ... Aku ke sana untuk menolong Ayah, Bun" Fino memberikan alasan.
"Kau hanya anak SMP Fino, lihat ... Bahkan para militer pun di buat takluk oleh para mafia itu, apalagi kamu ..." Ibu Fino tetap berusaha melarangnya.
Fino terdiam dan merunduk saat mendengar perkataannya. Lalu, Ibunya Fino menghampirinya.
"Bunda tahu, kamu juga mengkhawatirkan Ayahmu, tapi kita juga tidak boleh gegabah Fino, Bunda tidak ingin kehilangan kamu, kamu adalah anak semata wayang Bunda yang sangat Bunda sayangi, cuma kamu satu-satunya hal berharga yang tersisa ..." Ibunya Fino memeluk erat Fino sambil mengucurkan air matanya.
Fino menjadi tak tega untuk meninggalkan Ibunya.
"Bunda, Bunda tidak perlu takut, anakmu ini sudah besar, aku sekarang juga punya teman yang kuat, yaitu Biru ... Iyakan, Biru" Kata Fino dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, Bunda ... Haloo, aku Biru !" Sahut Biru melalui Hexa-Voice.
"... Lagipun, aku ke sana bukan untuk ikut melawan para mafia itu, aku ke sana hanya untuk menyelamatkan Ayah dan membawanya kembali pulang ke sini, semisal aku bertemu dengan para mafia itu, Biru akan menolongku dan jika ada kesempatan berlari maka kita akan segera berlari ..." Ucap Fino meyakinkan Ibunya.
"Itu akan sangat berat bagimu, Fino" Ibunya Fino tetap saja mengkhawatirkannya.
"Tenang, Bunda. Fino tidak berjuang sendirian, aku akan selalu berada di sisinya" Bantu Biru meyakinkannya.
"Aku berjanji, akan pulang ke rumah dengan selamat bersama dengan Ayah" Kata Fino sambil tersenyum.
"Baiklah ... Bunda mengizinkanmu, asalkan jaga dirimu baik-baik ya, Bunda akan bantu mempersiapkan segalanya, selalu beri kabar bunda setiap saat" Akhirnya Bunda pun mengizinkannya
"Terima kasih, Bunda. Aku mohon rahasiakan ini dari teman-teman dan izinkan aku untuk absen beberapa hari dari sekolah" Fino dengan permohonannya.
Akhirnya, setelah di yakinkan sepenuh hati oleh Fino dan juga Biru, Bunda mengizinkan Fino untuk pergi ke kota Tank-Go-Rank dengan misi penyelamatan ayahnya.
"Fino, aku akan berjuang sepenuh hati denganmu ! Kita akan berjuang bersama !!" Kata Biru dengan penuh semangat.
"Ya, mohon bantuannya, Biru !!" Fino pun bersemangat dengan tekadnya yang sudah bulat.
~ Kembali lagi ke hari ini.
Seperti itulah kejadian hari kemarin, butuh pikir panjang untuk Fino dapat membulatkan tekadnya supaya bisa memberanikan dirinya pergi ke kota Tank-Go-Rank. Hari ini, Fino sudah mulai berangkat dalam misi untuk menyelamatkan ayahnya dan membawanya kembali pulang. Bus sedang melaju membawanya ke sana, butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan untuknya dapat sampai ke sana karena jarak yang cukup jauh, jika tekadnya sudah bulat berarti Fino sudah siap dengan segala halangan yang nanti akan menghadangnya, ini akan menjadi perjalanan yang berat dan menegangkan untuk seorang Fino yang pada dasarnya penakut.
BERSAMBUNG.
Yuk, yang mau tahu info lebih lanjut
perihal "Hexamon" mula dari bagaimana
wujud karakter & monsternya, dll.
Bisa langsung cek ke :
Instagram : @hexamon_
__ADS_1