HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 4


__ADS_3

Laper? makan nasi goreng aja


****


Andrian menyandarkan kepalanya di kursi mobil yang membawanya ke sebuah restoran. Hari yang penat, tak membuatnya melupakan bekas rasa sakit yang tak kunjung hilang.


Matanya menyusuri jalanan dari jendela mobil. Sesekali terpejam untuk menenangkan pikiran.


Di pinggiran jalan, anak berbaju lusuh bermata panda menggiring kakinya menyusuri lampu merah dengan plastik di tangannya sebagai penampung uang receh.


Betapa tak adilnya dunia. Kadang bahagia sangat rumit. Dia, (Andrian) merasa sangat beruntung. Memiliki kedua orang tua yang lengkap, memiliki keluarga yang harmonis, adik yang sangat ia sayangi, dan materi yang lebih dari cukup.


Namun jika di telaah di hati yang terkecil, masih ada satu sisi terkecil dihatinya yang kosong, membuat semua kebahagiaan yang ia dapatkan seakan semu.


Sedangkan anak itu, Andrian tahu ia membutuhkan kasih sayang orang tua, dan kehidupan yang layak.


Apa yang ia tunggu di kehidupan? Tidak ada masa depan yang mapan untuk di perjuangkan. Bersanding dengan manusia munfik di balik nyanyian jalanannya, tak mungkin bisa lolos dari kehidupan jalanan itu.


Kalaupun bisa, Apa yang ia tuju? Panti asuhan atau mencari orang tua yang tak pernah di ketahui keberadaannya, yang mungkin tak ada lagi di dunia ini.


Anak itu menyanyi pada mobil di depan mobil Andrian. Lalu menuju mobilnya dengan nyanyian balonku khas anak kecil.


"Turunkan kaca depan biar aku melihatnya."


perintah Andrian ke Alex yang mengemudi. Sedangkan ia di kursi belakang.


Alex menurunkan kaca mobil membuat Andrian bisa melihat wajah anak itu tanpa anak itu bisa melihatnya.


Wajahnya mengingatkan Andrian pada Zian saat berusia 9 tahun.


"Berikan ini"


Andrian mengulurkan uang seratus rubuan pada Alex.


Alex yang melihat lampu sudah hijau cepat cepat memberikan uang itu.


Alex lebih tua dari Andrian, tapi ia tak pernah tersinggung sedikitpun kepadanya.


***


"Maaf telat tn. Surya. Tadi ada urusan mendadak, dan kami tak bisa menundannya." Kata Alex yang mencoba mencari alasan untuk keterlambatannya.


"Tidak apa, silahkan duduk" ramahnya.


Andrian duduk bersama Alex, didepannya duduk seorang gadis yang tak asing bagi Andrian.


"Ini anakku, namanya Indah kau sudah kenal bukan? Anakku bilang kalian pernah satu kelas."

__ADS_1


Oh ya benar, si ratu gosip. Indah.


"Kau masih ingat denganku kan?" Tanya Indah dengan senyum yang menawan.


Bukan lagi remaja berkucir kuda dengan senyum manisnya, kini ia menjelma menjadi gadis cantik yang anggun. Sungguh banyak perubahan sehingga Andrian tampak tak mengenali.


"Tentu saja." Jawab Andrian.


"Anakku baru saja menyelesaikan pendidikannya di new zealand tahun kemarin. Biasanya ia akan tinggal di Manhattan untuk mengurusi bisnis kecil kuennya. Tapi tahun ini ia pulang untuk menghadiri pernikahan sepupunya."


Kata Tn. Surya nampak bangga.


"Benarkah?" Sanggah Andrian.


"Ya," jawabnya


"Aku tak peduli" Andrian membatin.


"kau juga di hadirkan dalam pernikahan Devan?" Tanya Indah.


Devan?


"Jadi kau sepupunya Devan?" Tanya Andrian.


Indah tertawa ia pikir ini lucu, tapi menurut Andrian ini tak lucu.


Sambil meminum minumannya Indah menjawab dengan senyuman.


"Dia sepupuku, Devan bilang kau temannya apakah dia tak pernah cerita tentangku?"


"Jikapun ia, aku tak merasa itu begitu penting." Gumam Andrian. Yang hanya bisa di dengar oleh Alex disampingnya.


"Kau bilang apa?" Tanya Indah.


"Tidak." Jawab Andrian.


Semua pekerjaan selesai dengan cepat, tanpa berbelat belit walau Indah dan ayahnya sepertinya selalu mengulur pertemuan dengan pertanyaan pertanyaan konyol yang tidak ada sangkutanya sama sekali dengan pekerjaan.


Namun Alex selalu mengembalikan keadaan saat ia melihat wajah Andrian mulai masam.


Alex mengembuka email yang masuk, sambil tanganya mengetuk ngetuk pahanya, menyelaraskan dengan lagu yang sedang di putar.


"Zian bagaimana?" Tanyanya pada Alex.


Alex melirik pada kaca, melihat Andrian tanpa sadar melirik juga kearahnya.


"Dirumah temannya. Dia teman sekelas Zian, Dan sepertinya di anak baik baik bukan yang pernah datang ke bar dengan Zian tempo lalu." Balasnya dengan fokus yang tak berkurang.

__ADS_1


"Baguslah"


"Mau di jemput sekalian tuan?"


"Tidak usah nanti juga paling dia nginep disana. jangan panggil Tuan, ini bukan di kantor." Andrian melepaskan handphone nya lalu menyandarkan kepalanya. Kantuk mulai menyerang.


Saat ia bangun Andrian sudah di depan apartemennya. Alex sepertinya tidak berani membangunkannya.


"Kenapa tidak kau bangunkan" tanyanya dengan parau.


Ia tertawa canggung. Lalu berkata "Kita baru saja sampai,"


"Ohh"


Di luar mobil Andrian mengetuk kaca mobil dan Alex menurunkannya.


"Kau bawa saja mobil ini kerumahmu, biar mobilmu ditinggal di kantor. Ini sudah malam." Katanya melihat jam tanganya.


Saat pergi tadi Andrian dan Alex menggunakan mobil kantor, mobil Andrian masih di kantor begitupun dengan Alex. Dan ini sudah terlalu malam untuk mengambil mobilnya dan mengembalikan mobil perusahaan.


Alex tersenyum menanggapi. Lalu perlahan mobil itu menghilang dari pandangn Andrian yang masih berdiri di tempat yang sama. Dia melirik kanan dan kiri, dirasanya sepi tanpa ada tanda tanda orang lewat, Andrian menyebrang jalan menyusuri jalan yang sudah ia pahal di luar kepala.


Dia duduk di tempat duduk yang di sediakan warung nasi goreng yang sudah beberapa kali ia datangi.


Masih dengan jas yang masih di kenakannya dari pagi, ia memesan satu porsi nasi goreng. Warung ini sepi hanya ada Andrian, penjual, dan satu orang remaja laki laki yang menunggu pesanannya dengan terkantuk kantuk. Mungkin dia seumuran dengan Zian.


Setelah yang ia pesan jadi, tanpa basa basi ia langsung menyantap nasi goreng itu. Menurutnya nasi goreng di warung ini enak, sama seperti masakan ibunya yang mungkin lebih enak nasi goreng ini sedikit.


Rasa lapar yang sedaritadi mengobrak abrik perutnya sudah hilang hanya dengan bantuan satu porsi nasi goreng.


***


Zian menggeram tak suka saat Edi, tuan rumah yang sudah mengijinkan untuknya menginap satu malam mengalahkannya dalam game yang satu tahun terakhir sudah tak dimainkannya.


"Masa gue kalah mulu si" gumamnya kesal.


"Tidur aja yok gue ngantuk. Besok kita lanjut lagi." Kata Edi dengan suara serak, matanya sudah merem melek sejak tadi. Tanganya juga sudah pegal main dari tadi.


"Nggak.. nggak.. satu kali lagi gue pasti bisa ngalahin lo!" Saut Zian dengan raut ngeyel yang sangat menyebalkan. Dasar anak manja.


"Tapi udah malem Zi..." kata Edi berusaha membujuknya. Ia harap anak ini peka.


"Tapi gue ga ngantuk. Gue ga bakal nyerah sampe gue menang." katanya ngeyel.


"Tapi gue ngantuk"


"Gue ga peduli!"

__ADS_1


Edi memutar matanya malas. Seharusnya ia tak mengijinkan Zian tidur disini saja kalau tahu begini....


__ADS_2