
Ketiga sahabat
***
"Kapan aku punya waktu?" Tanya Andrian kepada Alex yang mengatur jadwalnya. "Anda punya waktu setelah makan siang." Kata Alex.
Andrian memikirkan kejadian semalam saat Bila menamparnya. Niatnya menyuruh anak buahnya memecat Bila adalah untuk memperkerjakannya disini, tapi malah rencananya gagal total. Siapa sangka kalau Bila tak pernah lulus SMA?
Alex bersikap biasa kepadanya, jadi Bila tak menceritakan apapun kan? Melihat Alex yang beranjak keluar, Andrian segera menghentikanya. "Tunggu,"
Alex berhenti dan membalikkan badanya kembali kearahnya. Andrian berdehem. "Aku hanya mau tanya, dimana Bila lulus sekolah?" Tanya Andrian dengan dengan hati hati. Ya, lebih baik menanyakan ke pada Alex dari pada dia bingung seperti ini.
Alex terkejut, menanyakan adiknya? Tapi adiknya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMA nya...
Alex tak mau Bila di pandang rendah oleh Andrian, jadi dengan tersenyum, Alex mengatakan, "Dia lulus di sekolah yang sama denganku, karena dia pintar, jadi dia mendapat gelar lulusan terbaik," Kata Alex dengan senyum.
Andrian menyergit dengan kedua perbedaan narasi Alex dan pernyataan Bila. Tapi Andrian tahu, disini Alex yang berbohong. Ekspresi Alex tidak terbaca, namun dengan senyum kecilnya, Andrian bisa tahu. Lewat senyumnya, semua sudah terbaca, Alex tidak Suka senyum kalian ingat? Jadi saat dia tersenyum, itu jelas kalau ia sedang menutupi kebohongan.
[Tapi dengan Karin, Alex selalu tersenyum haha]
"Jangan berbohong, aku sudah tahu kalau Bila tidak menyelesaikan pendidikanya,..." Kata Andrian yang membuat Alex terhenyak.
"... Bila yang memberitahuku," Lanjut Andrian.
Wajah Alex kembali datar, tak mengerti kenapa Bila menceritakan itu kepada Andrian. Apakah mereka sudah dekat?
"Kalau dia memberitahumu, jadi tanyakan saja kepadanya, aku tidak mau menjadi batu sandunganmu untuk mendekati Bila." Ucap Alex. Mereka tidak sedang membicarakan pekerjaan, jadi tak apa tidak sopan.
Andrian melihat Alex yang keluar dari ruanganya tak bisa membantah. Pikiranya kini melayang dengan poin penting, "KENAPA?"
Kalau benar Denis bukan anaknya melainkan anak Alex, alasan dikeluarkan dari sekolah pasti salah. Jadi kenapa dia putus sekolah?
Andrian melihat jam, sebentar lagi makan siang. Ia harus berusaha mencari tahu tentang itu.
Drt.. Drtt.. Drttt..
Ponsel Andrian bergetar di atas meja, membuat getarannya sampai pada tangan Andrian yang ada di meja.
"Ya?" Tanya Andrian kepada Tian yang menelepon.
"Nanti malam kau bisa datang kerumahku?" Tanya Tian di sebrang sana.
"Tidak, nanti malam aku ada acara." Tolak Andrian.
"Acara? Padahal kita bisa berkumpul. Adit ada disini untuk mengunjungiku,"
__ADS_1
Andrian mendengus. Ia ingin berkumpul dengan mereka, tapi nanti malam ia datang ke acara pernikahan Davian.
"Kau tahu Davian? Dia menikah hari ini."
Tian disana mengangguk walaupun tak dapat Andrian lihat. "Oh, Davian temanmu saat kuliah? Kau akan kesana dengan siapa? Tak mungkin sendiri bukan?" Tanya Tian dengan tertawa membahana.
Andrian menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Aku akan membawa istrimu!" Geramnya.
Tian berhenti tertawa, ia mengendurkan kalimatnya, "Jangan main main, jangan bawa bawa istriku ok?" Kata Tian dengan suara kesal.
"Cih, Dasar posesif,"
"Aku memang posesif. Dan itu, aku beruntung karna punya seseorang yang bisa aku cap dan aku batasi. Tidak seperti kau yang tak punya siapapun di sisimu." Tian sebenarnya mengatakan itu hanya niat bercanda. Tak ada setitikpun rasa untuk mencaci atau memaki Andrian.
"Heooo, kau sangat sombong," Jawab Andrian. Andrian tertawa karena lelucan Tian. Tapi di dalam hatinya, perasaan was was dengan apa yang di katakan Tian tentu saja ada.
Kencan buta? Mencari badan gitar? Melihat pasar bunga?
Tidak! Dia hanya memakai cara kencan buta. Hanya mendengar kata wanita saja ia sudah muak. Sekarang, yang ia butuhkan adalah calon istri, bukan wanita yang di cintai ataupun sekedar nafsunya. Itu tidak ada dalam kamus Andrian. Ia hanya ingin segera mendapatkan istri, lalu setelah itu mencari tentang perasaan cintanya yang tak pernah ada.
Ha.. Ha.. Konyol. Orang lain akan mencari cinta lalu menikah dengan orang yang mereka cintai. Tapi Andrian malah sebaliknya. Apa ada yang salah dengan itak Andrian? Kurasa tidak. Tapi hatinya yang salah.
"Baiklah, kalau tidak bisa..." Kata Tian sebelum mengakhiri telepon.
"Benarkah? Kau harus menepati janjimu itu," Kata Tian dengan senang. Jarang sekali mereka bertiga berkumpul hanya untuk bersenang senang. Jadi hari ini tidak boleh terlewatkan.
"Aku tidak janji," Kata Andrian.
"Terserah saja! Tapi kau harus datang. Ini bukan janji, permintaan atau apa, ini adalah perintah dari seorang Tian yang harus kau turuti. Paham?!"
Andrian memutar matanya malas. Sangat bosan jika Tian sudah bertingkah seperti itu. Andrian tidak menjawab, tapi ia mematikan telepon. Membuat Tian kesal karena tak di respon.
"Dasar!" Ucap Tian sambil melihat ke arah teleponnya yang mati. Namun setelahnya ia tersenyum. Tian tahu, kalau Andrian pasti datang. Ia akan datang sesuai perkataannya.
Dulu, saat Andrian masih canggung bertemu dengan Adit, Tianlah yang menjadi penengah dengan mengakrabkan mereka berdua lagi.
Saat itu Andrian masih kuliah, begitu juga Adit dan Tian. Ia belum memegang perusahaan ayahnya seperti sekarang.
Andrian sudah pindah, dan Tian juga berlibur kesana. Jadi mereka sering bertemu. Itu membuat Adit juga ingin ikut serta
Adit merasa ditinggal oleh kedua temannya, ingin sekali menyusul mereka. Sampai pada akhirnya dia berhasil menyusul mereka berdua. Dan tinggal bersama Tian.
Disinilah peran Tian sangat dominan diantara mereka bertiga. Ia yang merayu Andrian agar mau berkumpul.
Sebenarnya Andrian tak marah kepada Adit, juga tidak ada sangkut pautnya dengan Adit antara masalah SMA. Tapi Andrian juga masih memikirkan insiden berciumannya Adit dan Bila saat ditaman. Ia masih canggung jika bertemu Adit, apa lagi setelah sekian lama tidak bertemu.
__ADS_1
Adit tak tahu apa apa. Yang ia tahu, ia ke sini menyusul teman temannya agar ia tak kesepian tak ada teman main. Ia tak tahu kalau pada saat itu, Andrian tidak mau bertemu dengannya. Karna saat SMA, saat Andrian bilang ingin pindah sampai ia benar benar pindahpun tak ada masalah yang Adit tahu. Jadi ia tak tahu apa apa dengan perjuangan Tian yang seolah menjadi titik penengah.
[Gaje banget jelasinnya:v]
***
Andrian memasuki aula dengan tangan kosong. Ia tak menggandeng siapapun, biarlah orang berkata apa. Ia sudah memantapkan muka sekuat baja.
Andrian tak berhenti pada siapapun gadis yang tersenyum kepadanya saat ia berjalan. Ia berjalan lurus dan berhenti untuk menegak wine.
Seorang pelayan menghentikannya saat ia akan meminum gelas kedua. "Permisi, apakah anda Tuan Andrian?"
Tanyanya dengan nada yang sangat sopan.
"Ya," Jawab Andrian. Ia agak bingung saat tiba tiba ada pelayan yang menghentikannya.
"Ah, Tuan Davian berpesan kalau anda harus menemuinya." Katanya. Lalu dia mengulurkan tangan kesamping dengan kedua tangannya. "Silahkan saya antar,"
Andrian mengikuti payalan itu ke tempat Davian. Sama sepeti yang Andrian lihat di pernikahan Tian dan Gita.. Masih sama dengan kedua orang tua belah pihak yang menyelami kebersamaan dengan anak mereka untuk yang terakhir kalinya.
Tapi, itu hanya Christin. Andrian melihat Davian yang bersama teman temannya yang lain. Hanya ada teman temannya di kubu Davian. Orang tuanya telah lama meninggal. Ia sudah yatim piatu saat masih pertengahan kuliah karena sebuah kecelakaan.
Itulah mengapa Davian mengumpulkan teman temanya di sisinya saat ini. Untuk menjadi pengganti orang tauanya yang sudah tidak ada.
"Andrian?"
Andrian menoleh mendapati seorang gadis bergaun putih gading dengan rambut bergelombang yang tersenyum padanya lebar.
****
.
.
.
.
aku ga bosen bosen buat promosiin cerita aku😂
Rebirth of GREAT MAN
mampir yahhh
Btw ada yang tahu apa itu badan gitar sama pasar bunga?
__ADS_1