HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 20


__ADS_3

Menjenguk Dewi.


***


Zian mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada kertas di meja, lalu mengambilnya dan membolak balikanya. "Ehh, ini undangan?" Tanya Zian pada Andrian di sebelahnya.


Laki laki dewasa itu menggerakan tanganya meraih undangan itu. Itu undangan, tapi ia lupa siapa yang mengirimnya. Di bagian depan undangan terdapat tulisan "Davin&Christin".


Memang Davin menikah bulan ini. Karena jadwal dan pelaksanaanya sudah direncanakan, itu sudah dipersiapkan sejak lama. Tidak terkesan terburu buru seperti Tian dan Gita. Itulah alasan mengapa saat mereka bilang akan menikah, yang terpikir di otak Andrian adalah hamil di luar nikah.


Karna tidak mungkin melakukan pernikahan tanpa persiapan. Dan persiapan biasanya memerlukan waktu setidaknya dua bulan. Itu menurut Andrian.


Lagi lagi undangan pernikahan. Andrian menghela nafas. Kalau seperti ini terus yang terjadi adalah dia yang akan menjadi perjaka tua. Memang masih muda untuknya menikah, tapi tambatan hatinya bahkan sangat bias. Andrian berpikir, hatinya dirancang tidak untuk mencintai.


Tapi Andrian lupa, bahwasanya kalau hatinya dan otaknya selalu berputar pada satu nama, dan itu tidaklah bias. Hanya Andrian saja yang tidak terlalu peka.


Zian tertawa, melihat ekspresi kakaknya yang masam. Ya, undangan tidak akan membuatnya mempunyai undangan juga.


Sebelumnya Andrian berpikir kalau hidupnya akan baik baik saja tanpa pendamping. Semuanya akan dia urus dengan sendiri. Melihat Tian menikah, Andrian tidak keberatan. Melihat Davin menikah, Andrian masih berpikir positif. Tapi ia tak akan pernah tau kebimbangan hatinya kalau Adit sampai menikah bahkan saat ia belum mempunyai orang yang dicintai.


Tapi Andrian memikirkan ini belum terlambat, ia masih punya waktu untuk memperbaiki niatnya. Walaupun sekuat apapun ia, hatinya masihlah manusia yang bisa merasakan tidak tenang.


Mulai besok, Andrian ingin mencoba kencan buta. Tak susah susah sebenarnya memiliki orang yang akan dengan suka rela di sampingnya, tapi sekali lagi, ia tidak akan memiliki ketertarikan dan merasa tidak nyaman dengan wanita wanita itu.

__ADS_1


***


Pelepasan nafas yang kasar dan terkesan putus asa membuat semua orang memalingkan wajahnya ke Zian. Anak itu tidak sadar bahwa sesisi kelas memperhatikanya. Di depan, guru yang mengajar sudah tahu kalau Zian adalah adik dari penyuntik dana sekolah ini. Akan jadi aksi bunuh diri saat ia menghukum anak itu dengan masalah sepele ini. Ia melanjutkan kegiatan menghapus papan tulis dan mulai menulis materi.


Zian kesal, seharusnya hari ini adalah pelajaran musik di kelasnya, tapi Dewi tidak datang. Ia sakit. Zian tidak tahu ia sakit apa, saat Zian masuk ke ruang guru untuk menemuinya, guru di sebelah meja Dewi bilang kalau Dewi sedang sakit.


Hatinya ingin melihatnya, ingin menjenguknya, tapi saat ini tak mungkin. Zian tidak tahu dimana rumah Dewi. Tidak mungkin juga untuk menanyakanya pada kepala sekolah. Guru guru lainya juga pasti tidak tahu, mengingat Dewi tak terlalu akrab dengan guru lain. Pasti sangat sulit untuknya.


"Perhatian, perhatian," Ketua kelas berdiri di depan dan menepuk tanganya untuk meminta perhatian. Semua orang diam, menatap ke arah ketua kelas itu dengan berbagai ekspresi.


Ketua kelas tersenyum sebentar, berdehem untuk menyelaraskan suaranya yang membuatnya sangat narsis.


"Aku dengar, mulai minggu depan wali kelas kita akan diganti menjadi bu Dewi. Kalian tahu dia hanya guru musik jadi punya waktu luang yang banyak dibandingkan pak Eko."


Zian tak suka kalimat terakhir anak itu. Ia pikir siapa dia berani merendahkan Dewinya? Tapi kalimat selanjutnya membuat Zian merasa senang,


Ketua kelas melambaikan tanganya ke bendahara, mengintruksinya untuk bertindak, bendahara berdiri dan mengitari anak satu per satu untuk menarik iuran.


"Iuran di perlukan untuk membeli buah dan makanan ringan lainya yang sehat. Untuk kendaraan, kita bisa meminjam dari sekolah karna hanya beberapa anak yang tidak berkendara sendiri."


Zian merogoh sakunya menemukan uang sebesar seratusribu disana, harusnya itu adalah uang jajanya hari ini, tapi karena saat istirahat tadi ia tidak ke kantin, maka uangnga masih utuh. Dompetnya tidak ia bawa, jadi hanya ada uang yang diberikan ayahnya tadi pagi.


"Iuranya sepuluh ribu per anak," Ucap bendahara saat ia memasukan uang ke topi pramukanya. "Gunakan untuk membeli beberapa buah buahan yang sehat." Ujar Zian. Bendahara hanya menyergit bingung, tanpa membantah.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka bersiap untuk menjenguk secara rombongan. Tepat jam terakhir seharusnya jam musik. Jadi kepala sekolah mengijinkan untuk langsung menjenguk Dewi.


Zian membiarkan sopirnya untuk pulang, ia tidak ingin diantar dengan sopir, kunci mobil ia ambil dari sopir itu dan menyuruh sopinya pulang dengan taksi.


Mecapai beberapa menit perjalanan, Zian menjumpai jalan yang sangat sepi dilalui. Jika Dewi setiap hari melewati jalan ini, maka harusnya tidak ada apa apa dengan jalan ini. Tapi Zian tetap tidak bisa merasa tenang. Ia ingin semua yang Dewi lakukan, dilakukanya dengan aman.


Sepuluh menit kemudian, mobil sekolah berhenti sebuah rumah bergaya minimalis. Hanya ada beberapa rumah disini. Dihitung saat Zian melewatinya, hanya ada enam rumah yang bisa Zian lihat. Lainya hanyalah jalanan yang sepi.


Andrian memarkirkan mobilnya pada pinggir jalan. Berjalanan dengan semangat menuju ke rombongan. Tidak ada guru yang mendampingi, pengemudi mobil sekolah sendiri adalah ketua kelas yang sudah berusia delapan belas tahun. Zian tidak tahu kenapa ketua kelasnya sangat tua untuk ukuran anak kelas sebelas, Tapi tentu tak mungkin jika alasanya adalah tidak naik kelas.


Ketua kelas mengetok pintu bercat coklat itu. Ada suara batuk dari dalam. Zian ingin segera membuka pintu dan melihat keadaan, tapi ia tak melakukanya.


Pintu dibuka, semua orang bisa melihat seorang perempuan memakai kaos lengan pendek dengan celana jersey yang kusut. Rambutnya ia ikat dengan asal. Zian kesal, bukan kesal karena penampilanya yang tidak enak dipandang, tapi kesal karena orang itu menggunakan celana pendek untuk memamerkan kaki jenjang nan putih itu.


Dewi tidak tahu kalau ia akan dijenguk, bahkan ia belum mandi karena demam. Batuk menyerangnya baru beberapa saat lalu.


Dengan lemas, ia mempersilahkan anak didiknya untuk masuk. Membuka pintu lebar lebar dan merentangkan tangan.


Hampir semua orang masuk saat seorang anak hanya berdiri di ambang pintu menatapnya dengan mata tajam.


"Kau tak mau masuk?" Tanya Dewi dengam lemah. Usahanya untuk berjalan bahkan berdiri lama sudah menguras banyak energinya. Sekarang anak ini ingin apa?


Zian masuk melewati Dewi yang menopang badanya pada pintu. Lalu dengan badan yang melewatinya, Dewi bisa mendengar Zian mengatakan "Ganti pakainmu dengan celana panjang!" Dengan suara yang pelan. Nyaris bergumam.

__ADS_1


Zian memasuki ruangan dan duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Tapi saat matanya memindai teman temanya, ada satu orang yang bukan berasal dari ia berasal (sekolah).


Orang itu berbincang dengan ketua kelas, ia seorang pria dewasa yang punya kumis tipis di atas bibirnya. Hanya beberapa tampilan, Zian bisa mengatakan kalau ia adalah pria yang mapan.


__ADS_2