
Pernikahan
***
"Andrian?"
Andrian menoleh mendapati seorang gadis bergaun putih gading dengan rambut bergelombang yang tersenyum padanya lebar.
Andrian berpikir sejenak, ia merasa kenal dengan perempuan ini. Tapi sapa? Lalu ingatanya berputar pada kenangan SMA dan terakhir kali pertemuannya dengan Tuan Surya. Indah.
Andrian melihat Indah berjalanan dengan hils setinggi bolpoin dengan ujung yang runcing. Andrian pikir, kalau ujung sepatu itu menginjak kakinya, maka sudahlah kehidupan nyaman kakinya yang sekarang mundur, tak mau berdekatan dengan kaki beralas senjata.
Indah tertawa, ia menertawakan wajah Andrian yang melamun memandangi kakinya dengan mundur. Indah sangat terhibur dengan itu. "Ada apa? Kenapa kau mundur?" Tanya Indah.
Andrian mengalihkan tatapannya ke wajah cantik Indah. Wajah itu dirias dengan seksama membuat pancaran kecantikan menggunung menembus udara.
Andrian tidak terpesona tentu saja. Ia hanya mengakui bahwa ia cantik. Kalau ada yang mengatakan Indah jelek, pasti orang itu rabun.
Andrian berhenti mundur dan memasukan tangannya ke saku jas yang paling hangat. "Tidak," Ucap Andrian.
Indah hanya mengangguk tanpa menanyakan hal hal lain. Andrian tak mengajaknya mengobrol walaupun ia sudah dengan bermurah hati mendatanginya. Jadi, ia juga sungkan untuk memulai obrolan. Lebih baik berdiam diri seperti ini.
Akan lebih baik jika mereka duduk, tapi mereka hanya berdiri di situ tanpa melakukan apapun. Mereka menatap calon mempelai tanpa berkedip seperti orang konyol.
Sampai pada akhirnya Davian menemukan Andrian dan memanggilnya untuk bergabung dengan teman teman Davian, Andrian hanya tahu, tapi tidak akrab. Ia memandangi Davian dan teman temannya yang berbincang tanpa menggandeng pembicaraan dengan dirinya.
"Aku sangat gugup sebenarnya. Tapi jika ku pikirkan ini pernikahanku dengan Christin, membuat jiwaku seperti meledak dan bersemangat kembali." Ucap Davian yang di selingi gelegar tawa dari teman temannya. Andrian tersenyum sedikit melihat temannya yang kelihatan sangat senang.
"Kau semangat bukan untuk apapun, aku jamin kau hanya memikirkan manisnya persik." Lelucon seorang di samping Andrian. Davian tersenyum culas. Ia memandang satu persatu satu orang. "Aku pikir aku bebas sekarang, yang harus kalian pikirkan itu kalian sendiri.. Bagaimana kalian makan kalau istri saja tidak punya?" Ejek Davian dengan menggaruk hidungnya.
Semua tertawa dengan dengan kata kata Davian. Lalu seorang lagi menjawab, "Hei, kau pikir dirimu saja yang bisa? Jaman sekarang hanya mencari patner itu gampang. Apa lagi jika kau pria kaya, mapan, dan tampan." Katanya dengan menaik turunkan alisnya.
Lalu serempak mereka semua memandang Andrian yang berada disamping Davian. Andrian menaikan alisnya tanda tanya.
"Aku pikir aku mengerti mengapa temanmu, Andrian ini belum juga menikah.." Gumam seorang berturut turut mengatakan dua kalimat dalam beberapa kata terkahir.
__ADS_1
Andrian melipat dahinya. "Ah, aku tidak seperti itu.." Kata Andrian dengan canggung. Ia tidak terlalu akrab dengan mereka, jadi jika mereka yang jumlahnya banyak menyalurkan perhatian mata mereka hanya berpusat pada satu objek yaitu Andrian, membuat Andrian risih dengan tatapan mereka.
Seorang lagi berkata, "Yah, kau mapan, kaya, tampan. Sangat tidak wajar kalau kau tak pernah menggandeng gadis sekalipun. Tapi sepertinya kau memang tak pernah ingin terlibat hubungan, sehingga kau tidak pernah mepublikasikan teman 'kencanmu'. Aku benarkan?" Tanya orang itu.
Andrian tak menjawab, ia hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Mereka melanjutkan percakapan sampai pada akhirnya Andrian berbalik dan menemukan Indah yang bersama ayahnya.
Andrian baru sadar, pada saat Davian memanggil namanya, dia meninggalkan Indah sendirian tanpa mengajak atau berpamitan. Ia pikir kalau yang dilakukannyaa sudah tidak sopan, tapi ia tak menyesal sedikitpun. Maaf.
Andrian kembali ke aula dengan langkah malas. Sesudah melihat acara pernikahan ini, ia akan langsung tancap gas pergi ke rumah Tian.
Acara berlangsung dengan lancar dan meriah. Tamu tamu sudah mulai pulang, hanya ada beberapa orang yang masih disini, termasuk Andrian. Ia melangkahkan kaki untuk memberi selamat pada kedua pasangan itu dan pergi.
Andrian berpikir untuk mengabarkan kepada Tian kalau dia sudah selesai, tapi pikiran itu langsung di tepisnya karena ia ingin memberi kejutan kepada mereka.
Andrian menjalankan mobilnya menuju ke rumah Tian. Ini masih hari yang sama saat Bila menamparnya, dan ini juga masih hari yang sama saat Andrian melihat Bila sedang menangis di jembatan yang Andrian lewati.
Andrian tak begitu yakin kalau itu adalah Bila.. Mana mungkin perempuan itu ada di sana? Sedang apa memangnya?
Andrian yang memelankan mobilnya hanya untuk memeriksa seseorang yang membelakanginya dan mulai percaya bahwa itu Bila. Pakaian yang dikenakan masih sama saat dia datang ke apartemen Andrian.
"Apa? Tanya Andrian.
Disana, Tian mendengus tak sabar, "Kapan kau selesai?" Tanyanya. Andrian memutar matanya malas. Kejutan yang dia pikirkan tadi lenyap. Dia dengan jelas mengatakan, "Aku sedang dalam perjalanan," Lalu setelah itu Andrian memutuskan telwpon secara sepihak.
Andrian kembali melihat wanita yang ada di jemabatan itu. Rambutnya agak berantakan dan pundak yang naik turun. Mungkin sedang menangis.
Karna Andrian sedang terburu buru, pikiranya seolah mengatakan bukan hanya satu orang wanita yang punya pakaian seperti itu. Itu sebenarnya hanya penyangkalan dirinya, karena dia tidak ingin bertemu dengannya sekarang. Jadi di dalam pikiranya, dia membuat alibi sendiri untuk membuat hatinya setuju untuk pergi.
Akhirnya Andrian pergi dari situ. Memegang setir dengan tangan yang mencengkram erat.
***
"Hujan tidak akan mungkin reda, kau menginap disini saja," Ucap Karin yang membuat Alex memalingkan wajah terkejutnya ke arah Karin.
"A-apa?" Tanya Alex melongo. Mana mungkin ada perempuan tak tahu malu seperti ini. Dia perempuan, meminta Alex untuk menginap di tempatnya? Bagaimna itu tidak disalah artikan?
__ADS_1
"Kau jangan mengada ngada, aku pulang sekarang," Ucap Alex dengan salah tingkah. Huft, remaja ini sangat berbakat membuat hati orang lain berdebar debar. Alex masih memakai raut wajah datar andalannya, tapi siapun juga tahu kalau sekarang Akex sangat gerogi sampai dengan tergesa gesa ia keluar dari tempat itu.
"Kenapa buru buru sekali? Kau tak lihat kalau hujan masih deras?" Tanya Karin yang tak di pedulikan oleh Alex. Ia sibuk menyiapkan badannya untuk pergi. Sampai Karin akhirnya menarik tangannya untuk berhenti. Alex berbalik dan menatap Karin dengan pandangan "Apa?"
Karin berdehem untuk menghilangkan canggung. Lalu ia mengambil sekuntum mawar merah yang ada di vas bunganya. Memberikan pada Alex dengan senyum menawan.
Alex tak akan bertanya lagi, kenapa dan kenapa.. Ia sudah hafal betul kebiasaan mereka berdua, memberi dan menerima. Sayangnya dalam hubungan ini, Alex berperan sebagai penerima. Bunga maksudku.. Ha.. Ha..
Benar kata Karin, kalau jalanan di sekitar apartemennya ini sangat gelap dan licin. Untungnya dia bisa keluar dengan mudah. Sudah jauh dari tempat Karin, pemandangan yang Alex lihat adalah terang. Tidak ada hujan ataupun apa. Hujan lokal?
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tapi saat melewati sebuah jembatan, Alex berhenti karena ia melihat sosok Bila sedang berdiri. Alex menghentikan mobilnya lalu keluar dan memanggilnya.
"Bila?" Tanya Alex.
Sosok dengan kantung mata, bibir bergetar dan rambut yang berantakan segera mengarungi mata kelamnya. Alex sedikit terkejut dengan itu.
Bila melihat kakaknya beridiri di depannya tak bisa memendam tangisnya lebih dalam. Dari yang terisak, kini ia menyuarakan tangisnya lebih keras. Dia berlari dan memeluk Alex.
"Kakak..."
.
.
.
.
***
"Seperti pion yang tak bisa melindungi rajanya, begitu pula kerajaan akan hancur."
***
Di bagian Davian dan teman temannya mengobrol..., kata kata yang nyeleneh/kalian tidak paham itu hanya untuk memperhalus maksud asli ya..
__ADS_1