HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 11


__ADS_3

pernikahan


***


Andrian, Andrian. Kadang mulutmu busuk.


Andrian, kadang sesuatu butuh sebuah pengakuan. Kamu bisa menginjak bumi, kamu bisa membakarnya. Tapi kamu tidak bisa membelahnya.


Kamu bilang penganganmu adalah masa depan. Tapi kamu bahkan menatap masa lalu dari pada masa depan.


Sekarang, lihatlah jalan dirimu. Jika mungkin, jangan pernah menyamakan puncak dengan jejak. Hanya ada satu persamaan, terlalu banyak perbedaan


***


Kini Andrian kesulitan menaiki mobil miliknya, kakinya terasa melayang dengan otak kosong berkebul hitam.


"Aku tidak jahat, aku tidak jahat!" Rapalnya setiap saat ia bernafas.


Hal yang ia benci kini ia lakukan. Sefrustasi itukah kamu Andrian?


Dari pintu mobil, tak sekalipun usahanya selangkah atau dua langkah dia sandingkan. Sudah kubilang kaki Andrian seperti melayang, dalam khayalan Andrian.


Kaki berbalut sepatu berjuta itu sudah dikrontol oleh otaknya untuk bergerak. Tapi aneh! Kenapa sekalipun tak ada langkah.


Pelayan bar yang dari tadi memperhatikanya tak tega, untuk sampai ke parkiran saja pelayan ini yang mengantarkannya.


Kini mata pelayan itu malah melihat pria idiot sedang menggerak gerakkan tangannya dengan mulut mengucap "Aku tidak jahat!".


Ayolah pergi ke kantor polisi dengan pengacaramu jika kamu tidak jahat.


Untung saja tampan - pikirnya.


"Perlu aku panggilkan taksi tuan?" Tanya pelayan itu ramah. Pemuda itu tampak seusia dengan Zian, tapi mungkin lebih dewasa mengingat pekerjaan pemuda itu.


"Tidak perlu, kau lihat mobilku? Ini mobilku. Kenapa harus memanggil taksi." Jawab Andrian masih dengan tangan yang mencoba membuka pintu. Dan menunjuk mobilnya.


Bagaimana ia akan menyetir jika begitu?.


"Lebih baik aku panggilkan taksi" Jawab pemuda itu pada dirinya sendiri tanpa persetujuan Andrian.


Ia menyetop taksi yang lewat, lalu mengambil kunci mobil dari tangan Andrian, menguncinya, selepas itu meletakkan ke saku jas Andrian.


Ia menggotong Andrian ke taksi. Lalu mengambil uang di dompet Andrian sembari mengucap "maaf," Dan menyerahkannya ke sopir taksi.


Andrian yang tengah mabuk tidak merasakan apa apa.


"Dimana rumahmu?" Tanya pemuda itu, dengan mata terpejam Andrian menjawab.


Sang sopir melihat Andrian, ia tahu orang ini, sebagai anak pemilik perusahaan yang ia tahu. Jadi tak masalah dengan mengantarkannya yang notabenenya orang mabuk.


Kalian tahu kan orang mabuk itu susah? Susah dalam segalanya.

__ADS_1


Seperti sekarang, sopir itu menunggu Andrian yang masih tertidur lelap di kursi penumpang.


Ia sudah memanggil dari tadi. Tapi sepertinya suaranya tak sampai ke alam mimpi. Jadi sia sia saja.


Membangunkan dengan suara kencangpun sang sopir tak berani. Itu akan mengagetkannya, membuatnya marah, lalu apa yang terjadi selanjutnya?.


Beberapa menit kemudian, mata Andrian mulai membuka secara perlahan. Bulu matanya bergetar dengan erangan lirih khas bangun tidur.


Pusing masih mendera kepalanya, tak mengindahkan semua itu, Andrian mengucap terimakasih kepada sang supir. Tanpa mendengarkan jawabannya, Andrian sudah empat langkah jauhnya.


Di apartemen, Andrian melenggang menuju kamar, menubrukkan badannya dengan kasur kingsize miliknya seorang.


Telfon yang tadi ia letakkan di nakas berbunyi. Sebuah panggilan, ia tak tahu siapa yang memanggil. Matanya kabur efek minuman itu.


"Halo"


"Gue sama Gita direstuin Dri. Lo harus kasih selamet buat kita. Lo tahu? Bulan depan gue bakal nikah!"


"Tian?" Andrian melepas kaos kakinya, sepatunya. Kerah yang tadi rapi ia turunkan dua kancing. Dasinya entah kemana.


"Yups. Gue. Kenapa? ga anggep gue temen lagi lo?" Disana Andrian bisa mendengar sedikit suara Gita.


Tian akan menikah. Andrian merasa dicuragi. Kenapa saat ia patah hati sahabatnya ini malah memilih ke jenjang pernikahan? Sebeda itukah nasib setiap orang?.


"Kok bisa?" Tanya Andrian sedikit culas.


"Pokoknya kalo ketemu gue cerita. Sekarang gue mao ngasih undangan dulu ke lo. Jangan lupa dateng ya, sama gebetan lo - eh lupa lo kan ngga punya gebetan. Sekalian orang tua lo ajak juga. Zian jangab lupa, anak gemez itu pasti seneng denger gue nikah."


"Seneng banget lu mo nikah" Jawab Andrian.


Andrian mentap ponsel itu dengan tatapan tak tentu. Mengendurkan saraf saraf wajahnya, tanpa menekan lembut hidung bangirnya.


Biarkan saja yang terjadi hari ini. Besok ia yakin akan ada yang lebih baik. Hari esok akan lebih baik dari pada hari ini.


Cih! Ini seperti dia sedang mencuci pikiranya dengan aura aura postif di setiap kenegatifan. Dasar!


*****


Tok tok


Pintu kantor Andrian terbuka begitu sahutan masuk ia layangkan.


Di depannya berdiri Alex yang memegang dokumen. Kecanggungan masih terasa bagi Andrian.


Tapi sepertinya tidak berlaku untuk Alex, entah karena profesionalisme nya, menimbun kebencian ke pada Andrian mungkin lebih baik.


Sekarang Andrian yang seperti dilema, seperti apa harusnya ia kini bersikap. Seperti biasakah? Atau memperlakukan Alex seperti kakak ipar?


Bodoh Andrian. Apa yang ada dipikiranmu? Kakak ipar? Siapa yang kau nikahi?


"Nanti ada pertemuan dengan tuan surya." Katanya menatap lurus Andrian. Gelar Datar sangat pantas untuknya.

__ADS_1


Bukan Dingin, seorang yang dingin tak akan bisa membuat suasana yang hangat dan auranya akan selalu mengintimidasi.


Tapi orang yang datar walaupun ia berkata ramah penuh sopan seorang masih tak bisa menagkap ekspresi di wajahnya, tak ada permusuhan kebencian atau apapun itu yang menimbulkan sesorang merasa terancam. Semua sama.


"Tuan Surya lagi? Mau apa dia bukannya semua urusan kerja sama sudah selesai?" Tanya Andrian mengingat pertemuan beberapa hari lalu begitu membosankan.


Bukan membosankan dalam konteks monoton, tapi karena orang itu selalu berbicara tentang keluarganya tak terkecuali putrinya.


Ia lebih senang jika diajak berbincang seputar pekerjaan. Masuk akal.


"Tidak ada, tapi mereka mengundang anda untuk makan bersama sebagai perayaan kerjasama antar dua perusahaan." Alex menaikan kacamata yang sedari tadi mengganggunya karena posisi yang tidak pas.


"Kapan itu?"


Diletakkannya dokumen yang sedari tadi dipegangnya. Dokumen itu memang harus diantarkan ke Andrian. Lalu membuka jadwal hari ini


"Jam tujuh malam, lebih tepatnya makan malam di tempat pertama kali bertemu."


Andrian menyentuh dagunya, matanya menyipit dan menggelengkan wajahnya.


"Tolak! Bilang kalau aku akan pulang kerumah orang tuaku jadi tidak bisa."


Alex mengangguk lalu tangganya hendak memutar knop kalau saja Andrian tidak menghentikannya.


"Untuk yang kemarin, maaf. Maaf telah mencari keributan di rumahmu." Kata Andrian dengan wajah menyesal.


Alex tahu itu ucapan yang tulus, selama ia bekerja dengan Andrian, belum sekalipun ia mendengar kata maaf terlontar dari bibir Andrian. Jadi rasanya kata keramat itu menyentuh hatinya.


"Maaf, tapi bukan kepadaku harusnya kau meminta maaf." Jawab Alex.


Andrian hanya diam tak menjawabnya. Alex yang menunggu jawabanpun akhirnya hilang dengan pintu yang menutup.


Alex benar ia harusnya minta maaf. Tapi bukan Andrian yang salah disini. Kenapa mereka harus membiarkan Andrian salah paham?


Tidak bisakah mereka menjelaskan dengan detil kepadanya.


Andrian menatap gusar pada komputernya. Pikiranya kesana kemari dengan topik yang sama membuat otaknya memproses satu nama yang muncul dihatinya.


 


***


 


Saat kamu lahir di dunia.


Kamu adalah orang yang menandatangani kontrak.


Kamu bisa hidup tenang di dunia ini.


Kamu bisa meninjak bumi, kamu bahkan bisa menggigitnya.

__ADS_1


Tapi kamu tidak bisa menunjuknya dengan mulut busuk dan mata nyalangmu.


Kamu tahu? Kamu mungkin membutuhkannya suatu saat nanti.


__ADS_2