
Seperti Itu.
***
"Apapun yang kau lakukan sebelumnya, aku masih mentolerirmu. Tapi kali ini kau sudah melewati batas! Kau membuatku di pecat dari tempat kerja! Kau tak pantas ikut campur dengan urusanku! PAHAM?!"
Bila berteriak sampai nadi pada leher dan pelipisnya mencuat. Zian yang masih berdiri di depan pintu tidak bisa mengatupkan mulutnya, "Oh My God"
Ini pertama kalinya dalam sejarah seorang wanita menyentuh kakaknya, bahkan bukan hanya menyentuh tapi menampar!
"Apa maksudmu," Yang paling membuat Zian terkejut adalah Andrian yang tidak membalas wanita itu. Marah? Tentu Zian bisa melihat jejak kemarahan di wajahnya. Tapi siapapun itu, wanita atau pria, ia tidak akan ragu memukul atau paling tidak menampar dan menyambak perempuan.
Zian tahu kekasaran Andrian saat Andrian melihat Zian digoda oleh seorang Jal*ng tua di Bar. Saat itu Zian sedang mabuk, kakaknya menjemputnya karena ibu bilang padanya kalau Zian belum pulang.
Ibu ataupun ayah tidak ada yang tahu kalau Zian sering ke Bar. Hanya Andrian yang tahu. Makanya Andrian langsung mencarinya ke Bar.
Andrian menarik rambut wanita itu dengan kencang sampai sang wanita menjerit kesakitan. Andrian tidak peduli, ia bahkan menumpahkan wine ke muka wanita itu. Dan bilang agar tak menyentuh Zian. Setelahnya, jangan tanya. Zian dikurung selama tiga hari dan diawasi selama dua minggu.
"Apa maksudku? Kau tanya seperti itu? Kau pikir aku tak tahu akal bulusmu?" Tanya Bila menunjuk ke arah Andrian.
Dengan tas slempang seperti biasa, Bila memakai jeans dan kaos berlengan panjang. Membuat kaki jenjang dan badan rampingnya terlihat walaupun baju itu tidak terbuka sedikitpun.
Andrian berpikir sebentar. Ah! Benar. Ia menyuruh anak buahnya untuk membuat Bila berhenti bekerja di tempat itu. Kenapa ia sampai lupa.
"Ya, aku yang membuatmu dipecat." Kata Andrian sombong.
"Hah!" Bila tertawa sarkas. Begitu saja? Ia mati matian datang secepat ini untuk menapar Andrian dengan tanganya sendiri dan hanya ini respon Andrian?
Bila merasa seperti sampah.
"Andrian!" Bentak Bila.
Andrian sedikit terkesiap. Tapi tetap dengan tampang dinginnya seperti biasa.
"Apa? Aku bernaksud membuatmu bekerja di salah satu perusahaanku." Kata Andrian duduk kembali. Merapikan bajunya yang kusut, lalu menepuk tempat disebelahnya menatap Bila.
"Setelah membuatku kehilangan pekerjaan sebagai pelayan, kau ingin membuatku bekerja sebagai Office Girl? Kau hebat!" Ucap Bila dengan mendepak bantar sofa yang jatuh disekitar kakinya.
"Tidak. Karena posisi sekretaris sudah ada pada Alex, dan aku tak bisa memecatnya, jadi kau akan menjadi menejer di perusahaan yang ku kelola." Ucap Andrian dengan dagu terangkat tinggi.
__ADS_1
"ADRIAN!" Sekali lagi Bila berteriak. "Aku bahkan tidak punya ijazah SMA. Pekerjaan sebagai pelayan sudah cukup bagus untukku!" Bentak Bila.
Andrian tertegun. Tidak punya ijazah SMA? Bukankah Denis bukan anaknya, yang berarti Bila pindah sekolah saat itu. Jadi alasan apa yang membuatnya tidak mempuanyai ijazah bahkan SMA?
Andrian tak mampu berucap dengan benar. Ia tak mampu berkata kata.
Bila tersenyum miris. Menatap Andrian yang bengong.
"Jadi kau tak usah mencapuri urusanku mulai sekarang. Berhenti bertindak seoalah kau yang paling benar," Kata Bila.
Bila berjak pergi dengan kaki yang dihentak lirih. Andrian cepat dan menangkap tangan Bila.
"Tunggu! Kau bilang Denis bukan anakmu," Kata Andrian.
Bila tersenyum sinis. "Memang benar," Katanya.
Andrian mencengkram erat tangan Bila yang ada di genggamannya. Lalu sedikit melonggarkan saat ia sadar.
"Jadi kenapa kau tak punya Ijazah?" Andrian bertanya seperti orang linglung dan ekspresi menyedihkan. Tangan kirinya yang tak memegang apapun menggenggam dengan erat.
Bila terusik dengan wajah yang Andrian buat. Untuk apa Andrian seperti seorang yang menyedihkan seperti ini? Bukanya harusnya dia senang karena ada banyak sekali bahan yang bisa digunakan untuk menindas Bila?
"Oh! Aku takut jika aku memberitahukanya padamu kau akan kecewa, atau senang karena penderitaanku yang tidak ada akhirnya?"
Setelah mengatakan itu Bila bisa melepas tanganya karena cengkraman Andrian melonggar.
Bila meneruskan keinginanya untuk pergi. Di pintu saat berhadapan dengan Zian, ia berbalik dan mengepalkan tanganya. "Sekali lagi ku ulangi, jangan mencapuri urusanku."
Andrian yang mulai mendekat ke arah pintu menatap ke punggung belakang Bila.
Andrian berpikir dan berpikir. Bagaiamana bisa? Itulah sebabnya Alex bekerja di pekerjaan yang kayak sementara Bila hanya menjadi pelayan cafe? Kenapa nasib Bila seperti ini.
Sejenak, Andrian merasa kasihan dengan Bila. Bila itu termasuk anak yang pintar. Hal seperti apa yang membuatnya sampai ijazah SMApun tak ia dapatkan?
Tapi Andrian tak terlalu khawatir dengan kehidupan gadis itu. Alex pasti akan menanggung biaya hidup adiknya.
Ngomong ngomng, berbalik tanya ke dirinya sendiri, Kenapa harus khawatir? Itu bukan urusannya. Andrian kembali duduk dan mengabaikan perasaan bersalah dan tak tenangnya.
Zian akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia menutup pintu dan berjalan kearah kakaknya. Melihat Andrian yang memejamkan matanya tidak membuat Zian menunda pertanyaanya.
__ADS_1
"Tadi siapa kak?" Kata Zian.
Andrian tidak membuka matanya, "Bukan siapa siapa." Katanya.
Zian memiringkan wajahnya.
Andrian membuka matanya dan bertanya, "Kenapa?"
"Tidak, tadi itu sangat keren. Dia satu satunya wanita yang aku pernah kulihat menyentuhmu bahkan menamparmu. Sangat keren," Zian bertepuk tangan untuk merayakannya.
"Tidak ada wanita yang keren dengan bertindak kasar." Jawab Andrian.
Zian tidak suka pendapat kakaknya. Wanita itu sepertinya ada dalam batas normal yang membuatnya begitu marah. "Tidak, dia tetap keren. Hanya dia yang bisa melakukan itu pada kakak." Ucap Zian dengan mengacungkan jempol ke pada Andrian.
Andrian mwngacuhkan Zian. Ia kembali memejamkan mata. Zian memegang dagu dan memutar matanya berpikir.
"Aku pikir pernah bertemu dengannya tapi dimana?" Tanya Zian kepada dirinya sendiri dan didengar Andrian.
Andrian melihat Zian yang dengan gaya berpikir. "Dimana?" Tanya Andrian. Zian berpikr lagi.
"Aku tidak tahu. Aku lupa, tapi aku banar benar pernah melihatnya." Ucap Zian membuat Andrian jengkel.
"Ya, Dimana?" Tanya Andrian mengukang.
Zian menurunkan bahunya, "Aku bilang aku lupa." Kata Zian dengan marah. Lalu mentutup mulutnya saat Andrian menatapnya.
Andrian tidak marah sebenarnya, tapi Zian merasa takut. Andrian menhela nafasnya. "Otakmu kecil, aku tidak menyalahkanmu." Ucap Andrian.
Zian merengutkan bibinya. Lalu saat otaknya berputar, ia teringat sebuah adegan. "Aku ingat, dia wanita yang pernah hampir tertabrak oleh pak Hamid karena menyebrang dengan lambat saat itu matanya bengkak dan rambutnya kusut. Jika bukan karena wajahnya, aku pikir dia orang gila. Ia sepertinya sedang menangis saat itu."
Andrian menatapa tajam Zian dengan dua kalimat terakhir. Tapi Zian tak menyadarinya karena sibuk beragumen.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Andrian.
Zian menutup mulutnya dan menggeleng rusuh, "Tidak tidak."
Wanita itu berani menampar Andrian dan bisa keluar tanpa luka sedikitpun. Berarti wanita itu cukup berharga bagi Andrian. Zian telah salah mengatakanya wanita gila.
Zian menyampingkan wajahnya dan berucap, "Aku dengar kakak membicarakan sesuatu seperti anak dan hamil." Mata Zian melotot dengan dramatis, lalu melanjutkan, "Jangan jangan kakak pernah menghamili wanita tadi?!"
__ADS_1