HIDDEN STEPS

HIDDEN STEPS
BAB 27


__ADS_3

Kecelakaan kecil


***


"AWASSS!!!" Teriak Andrian.


Andrian berlari dengan sangat kencang. Tapi karena jarak yang lumayan jauh, ia tidak akan sampai tepat waktu. Tetap saja Andrian tidak memikirkan itu, yang Andrian pikirkan hanya berlari kearah anak itu.


Anak itu mendengar jeritan Andrian langsung berhenti berlari. Ia mematung sembari menengok ke samping, ada mobil yang melaju kearahnya.


Ia tak bisa bergerak, ia pikir, seharusnya ia lari agar tidak tertabrak, tapi kakinya seperti jelly yang lunak dan susah digerakan. Hingga mobil itu sangat dekat kearahnya, tubuhnya direngkuh dan di dorong menjauh. Tapi kakinya sudah menyerempet mobil. Ada luka darah disitu yang bisa anak itu rasakan.


Andrian yang melihat anak itu ditolong oleh seorang pengendara motor yang berhenti, hatinya merasa lega. Tidak terjadi apa apa kepada anak itu.


Mobil yang hampir menabrak itu akhirnya menabrak pembatas jalan.


Andrian menghampiri anak itu, "Kau tak apa apa? Syujurlah." Ucap Andrian.


Andrian melihat pengendara motor yang menolong anak itu memiliki luka di pelipisnya yang terbentur aspal. Ia sangat berterima kasih kepada pengendara motor itu.


"Apa kau tidak apa apa?" Tanya Andrian pada pengendara motor. Ia tersenyum, "Tidak apa apa," Katanya.


Andrian tersenyum kepada pengendara itu dengan tangan yang memengang anak jalanan. "Terima kasih telah menolongnya." Pengendara itu menjawab, "Tidak masalah,"


Andrian mendudukan anak itu yang sudah ditrotoar. Banyak orang berkumpul disitu. Lalu ia menghampiri mobil yang hampir menabrak. Ia menggedor kaca mobil dengan brutal. Tak ada sahutan ataupun tanda tanda keberadaan.


Andrian marah. Ditendangnya mobil itu dengan sekuat tenaga. Jika mobil itu sangat mahal dan ia merusaknya, ia tak peduli. Andrian bahkan bisa menghancurkan mobil itu atau membakarnya jika orang itu tidak keluar. Jika pemilik mobil menuntutnya, ia akan menuntutnya balik dan melemparkan uang ganti rugi mobil ke wajahnya


Akhirnya, keluarlah seorang wanita dengan penampilan yang acak acakan. Wanita itu mabuk dan berdiri dengan gontai di depan Andrian.


"Ada apa?" Tanya wanita itu. Andrian meradang, "Ada apa? Kau hampir menbrak seorang anak dan kau bilang ada apa?" Andrian bisa melihat luka lebam di dahi wanita itu. Mungkin itu luka saat ia mengerem secara mendadak.


Ia membuat tampang bersedih, "Ah, benarkah? Maafkan aku." Katanya. Andrian hampir saja memukul orang itu, tetapi ia masih punya akal untuk tidak memukul seorang wanita, apa lagi di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


Andrian kembali ke arah anak itu dan sang pengendara, yang duduk dipinggir jalan. Mereka sudah pindah ke parkiran tempat Andrian memarkirkan mobilnya.


Andrian tersenyum simpul saat mendekat. Lalu matanya melihat pada kaki anak itu yang terluka. Matanya melebar, "kau terluka?" Katanya. Lalu matanya juga beralih pada kaki sang pengendara yang memiliki luka, tapi lebih besar dari pada anak itu.


"Kau juga terluka, Ayo kita ke Rumah Sakit." Katanya. Andrian menuntun anak itu ke mobilnya, membukakan pintu untuk sang anak. Tapi pengendara itu tak masuk, jadi ia bertanya, "Kau tidak masuk?"


"Ah, tidak usah, ini hanya luka kecil. Lagi pula aku membawa motor." Andrian menepuk dahinya, "Baiklah, biar aku suruh anak buahku untuk mengambilnya. Sekarang kita obati dulu lukamu." Tawar Andrian. Andrian sangat berhutang budi pada orang ini. Jadi bagaimana mungkin Andrian bisa melepaskanya begitu saja?


Tapi Andrian lupa, atas dasar apa Andrian berhutang budi pada orang ini? Jika itu karna ia menolong anak itu, anak itu bukanlah siapa siapanya. Jadi kenapa?


"Tidak, aku benar benar tidak apa apa." Orang itu menolak lagi. Andrian tak bisa memaksa, jadi ia mengeluarkan cek, mengisinya, dan menandatanganinya. Ia menyerahkan cek itu kepada pengendara. "Ini, ambil untuk membeli obat," Ucap Andrian.


Lagi dan lagi, orang itu menolak, dan mendorong balik cek yang Andrian berikan. "Benar benar tidak usah, aku biasa terluka. Luka semacam ini kecil untukku." Ucapnya.


Andrian tak tahu lagi harus bagaimana, jadi dengan mata yang tajam dan mengintimidasi, ia memaksa orang itu menerimanya. "Terima!" Ucap Andrian.


Pengendara merasakan perbedaan aura yang sangat kontras tak bisa untuk tidak bergidik dan menuruti apa yang Andrian katakan. Ia mengambil cek itu dan melihatnya. Mulut dan matanya melebar terkejut.


Dengan tergesa gesa memasukannya dalam kantong dan pergi. Andrian tersenyum lalu memutari mobilnya untuk membuka kemudi.


Andrian menyergit. "Kau tak dengar tadi kita akan ke Rumah Sakit?" Tanya Andrian yang masih dalam mode kesal itu lupa kalau ia sedang berbicara dengan siapa.


Ia melihat ke samping, anak itu sedikit tersentak dan kaget, karena nada Andrian yang terdengar tidak bersahabat.


Andrian berdehem, "Kita ke Rumah Sakit, lalu setelah itu kita makan." Kata Andrian. Anak itu tersenyum, Andrian sudah menjadi Andrian yang biasa.


Anak itu tidak tahu saja kalau yang ia lihat sebelumnya adalah sifat keseharianya.


***


"Tidak ada luka serius, hanya luka yang terlihat saja." Ucap dokter pada Andrian yang duduk tak jauh dari anak itu.


Luka yang anak itu punya sudah di obati oleh dokter. Hanya luka kecil, tapi Andrian takut kalau sampai ada luka dalam yang diketahui, seperti terkilir misalnya.

__ADS_1


Andrian mengangguk, "Terima kasih." Ucap Andrian.


Mereka pergi, membayar biaya pengobatan dan kembali ke mobil. Berencana untuk makan, karena Andrian tahu kalau anak itu lapar.


Di dalam mobil, anak itu masih seperti biasa, melihat seluruh sudut mobil dengan pandangan kagum.


Sebenarnya dari saat mereka akan ke Rumah Sakit, anak itu sudah memperhatikan pemutar musik, ingin menyentuhnya dan menyetel musik. Tapi ia takut.


Andrian meperhatikan anak itu yang selalu menatap pemutar musik. Jadi ia berkata, "Kau ingin mendengarkan musik?" Tanya Andrian.


Anak itu menggangguk lalu Andrian menyetelak musik. Yang mengalun adalah lagu dari Adele berjudul Sky Fall. Andrian menjukan bagaiamana cara menjalankanya, "kalau kau ingin menggantinya, tekan yang ini." Ucapnya.


Tapi anak itu tidak menggerakan tanganya, mungkin dia nyaman dengan lagu itu. Andrian hanya tersenyum tipis melihat anak itu yang sepertinya menikmati lagunya walau tidak tahu apa isinya.


Mereka sampai di di sebuah restoran yang pernah mereka datangi. Andrian tidak menanyakan apa yang ingin dia makan ke pada anak itu. Ia hanya memesankan anak itu beberapa makanan.


Sambil menunggu pelayan yang mengantarkan makanan, Andrian merasa ia butuh ke toilet, jadi ia berpesan kepada anak itu, "Aku akan ke toiket dahulu, kau disini. Jika pelayan datang membawa makanan saat aku belum datang, kau boleh makan dulu." Katanya.


Anak itu mengangguk dan mengangguk. Terhitung dia mengangguk sebanyak tiga kali seperti anak kucing yang ditinggalkan.


Andrian tersenyum, lalu kakinya melangkah ke toilet.


Anak itu ditinggal sendiri menjadi lebih berkecil hati. Dengan pakaian yang seperti ini, membuatnya merasa tak nyaman. Semua orang yang disini memakai pakaian yang bagus, hanya dirinya orang miskin disini. Ia menundukan kepalanya.


Pelayan datang dan menaruh makanan yang dipesan di meja. Anak itu berbinar, dari tampilan makanan itu benar benar enak. Ia ingin segera makan.


Walaupun Andrian bilang kalau dia boleh makan dulu, tapi anak itu ingin menunggu Andrian untuk makan bersama.


Lalu matanya melihat ke meja di depan, ada dompet Andrian yang tertinggal. Ia melihat dompet itu sangat bagus dan tebal. Dengan ragu, anak itu mengambil dompet Andrian.


Di bukanya dompet itu dengan pelan, ia tersenyum. Ia mengambil sesuatu dalam dompet itu. Menutupnya kembali dan meletakannya seperti semula. Duduk diam sambil menunggu Andrian.


***

__ADS_1


Ada yang tahu nama pemutar musik? kalau tahu komen ya, biar aku ganti. soalnya aku ga tahu yang kayak gituan:v


punya mobil aja engga:V


__ADS_2